Manusia Tanpa Desa | Kritik atas Sains Modern Part – 1

Manusia Tanpa Desa Kritik atas Sains Modern Part - 1
0 124

Sains dan teknologi yang saat ini berkembang, tampaknya sudah berada di puncak, meski perkembangannya tampaknya akan terus melaju dengan kencang. Entah sampai di mana titik akhirnya, tidak ada yang tahu! Sains dan Teknologi, malah seperti akan dengan segera meninggalkan manusia sebagai produsennya. Sains dan teknology terus berkembang secara dinamis dengan tingkat kecenderungan yang sangat massif. Keduanya telah membuat dunia menjadi hampir tanpa tapal batas dan tanpa dinding yang sulit ditembus.

Manusia, sebagai pemilik syah penghuni bumi, kini akhirnya hidup di dunia [dalam perspektifnya], dalam rumpun masyarakat tanpa desa di masa lalu. Desa-desa di masa lalu kini telah hilang. Kini, manusia hidup di alam bebas. Menikmati hidup di desa seperti masa lalu, hanya menjadi fantasi penuh impian dan hanya disenandungkan dalam lagu-lagu penuh kenangan.

Perkembangan sains dan teknologi modern, telah membuat dinding-dinding itu runtuh dan membuat segalanya menjadi terbuka. Manusia sendiri, sebagai pencipta sains, tentu saja, belakangan seolah kelelahan mengikuti dinamika yang dituntut produknya. Tanpa lelah, sains terus meminta manusia untuk mendorongnya maju dan berkembang ke arah yang tidak bertepi.

Harus diakui bahwa perkembangan sain telah berhasil memberi berbagai kemudahan dan kemakmuran yang luar biasa kepada umat manusia. Manusia bukan saja dapat bekerja secara efektif dari sisi waktu, tetapi menjadi lebih efisien dari sisi anggaran. Fungsi kerja manusia beralih dari otot ke otak. Manusia kuat seperti Samson dalam lakon masyarakat Betawi di masa lalu, tidak lagi dapat menjadi motor kemakmuran hidup seseorang. Makmur dan tidaknya hidup seseorang, akan ditentukan oleh sejauhmana, manusia mampu mengakses dan menguasai teknologi.

Teknologi Tranportasi

Teknologi tranportasi misalnya, telah membuat dunia yang sebelumnya tampak luas atau tampak jauh, menjadi tampak sempit dan tampak pendek. Perjalanan yang dulu dirasa sangat melelahkan karena dianggap jauh, kini menjadi terasa sangat sebentar dan terasa menyenangkan. Jangankan jenis transportasi udara, transportasi darat seperti mobilpun, kini didesain dengan kecepatan tertentu, melebihi ratusan kecepatan kuda.

Melalui transfortasi modern, manusia dibuatAi??enjoy dalam menikmati hidup. Orang Kanada dan Amerika bukan saja dapat menikmati liburan di Texas dan Hawai, tetapi dengan mudah dapat menikmati Pantai Sanur [Bali], atau Pasir Putih [Pangandaran]. Perjalanan di belahan dunia yang tampak jauh itu, belakangan tidak lagi dibatasi Jarak.

Begitupun orang Bali. Mereka bukan saja dapat menikmati keindahan Pantai Sanur, tetapi, dalam hitungan jam mereka dapat menikmati hidup di Pataya, Thailand atau bahkan Texas dan Hawai. Jenis transportasi juga menjadi demikian banyak. Mulai dari sepeda, motor, mobil dengan sejumkah ragamnya, pesawat dengan persaingan kecepatan dan kenyamanan.

Kereta Api dan kapal-kapal di Lautan yang berisi manusia dan berbagai keperluan Produksi juga terus melesat dengan cepat. Mereka mampu menembus tempat-tempat termisteri sekalipun. Dijangkau dan digali dengan sejumlah kekuatan teknologi yang dibangunnnya.

Teknologi Informasi

Teknologi informasi juga sama. Ia mampu menyuguhkan sesuatu secara singkat dan cepat. Sebut misalnya, berbagai kejadian dalam dunia hari ini. Semua menjadi terasa sangat dekat dengan diri kita.

Sebut misalnya, kejadian apapun yang terjadi di tempat paling pojok di bumi, mengutif Soedjatmoko [1991] dapat dengan mudah diakses manusia yang berada di pojok dunia lain. Jangankan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di suatu negara, kasus pemukulan seorang guru oleh muridnya di Kampung Madura, dalam hitungan detik, informasi itu, bukan saja dapat diketahui di ujung Timur Indonesia, tetapi, dalam waktu yang sama informasi itu, dapat juga diakses manusia di negeri lain. Jarak tempuh informasi yang mungkin jutaan mil dari tempat suatu kejadian, dapat dengan mudah masuk ke berbagai belahan di dunia. Mereka masuk tanpa pernah minta permisi kepada kita semua.

Hal ini, tentu berbeda dengan penemuan Benua Amerika abad ke 15 Masehi oleh Kolumbus misalnya. Informasi tentang penemuan Benua dimaksud, menurut I. Bambang Sugiharto [1996], baru setelah 12 hari dapat diakses di Benua Eropa.Ai?? Mungkin ke Indonesia belum sampai sebulan kemudian di waktu itu. Jarak antara Eropa dan Barat terasa begitu jauh. Hari ini? Mereka dalam benak kita mungkin seperti sebuah tetangga rumah yang layak dan biasa kita saksikan di era masa lalu.

Tidak hanya itu, teknologi informasi saat ini, telah membuat manusia modern dapat bercakap-cakap secara langsung dalam jarak yang sangat jauh. Percakapan itu, bukan saja dapat dilangsungkan melalui hubungan telepon yang bersipat audio, tetapi, juga melalui teleconference [audio visual].Ai??Setiap orang hari ini, dapat saling berhadapan dan saling bercakap-cakap, meski hanya melalui layar kaca televisi.

Sulit dibayangkan untuk saat ini, jika ada remaja yang masih mengirimkan surat kepada kekasihnya melalui pos atau melalui “penglayar”nya. Hari ini, mereka dapat dengan mudah menyampaikan keinginannya kepada kekasihnya, tanpa harus menunggu tukang pos datang.

Desa hilang karena semua kondisi desapun dibikin perkotaan. Yang masih tampak asli tetap disebut kampungan. Pertukaran sosial budaya menjadi demikian marak, sehingga hampir sulit menemukan sebuah konsep dalam apa yang disebut dengan budaya lokal. Semua menjadi global, karena dunia kehilangan desanya. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Komentar
Memuat...