Manusia Sebagai Pelaku dan Target Pendidikan

0 495

Manusia, Pelaku dan Target Pendidikan: Berbicara tentang pendidikan, tidak dapat dipisahkan dari berbicara masalah manusia. Antara keduanya memiliki hubungan fungsional dalam arti bahwa pendidikan berfungsi untuk mengarahkan, membentuk dan menyempurnakan manusia. Pembahasan tentang hakekat manusia, telah menjadi bagian dari tema sentral kajian terhadap pendidikan yang belum  terjawab secara tuntas. Pembahasan tentang manusia dalam perspektif pendidikan, setidaknya meliputi tiga aspek, yaitu aspek biologis, aspek psikologis dan aspek sosiologis.

Sementara dalam perspektif antropoligis, pembahasan tentang manusia dapat disederhanakan menjadi tiga aspek yaitu; aspek fisik yang dikenal dengan antropologi fisik, aspek budaya yang disebut dengan antropologi budaya, dan aspek hakekat manusia yang disebut antropologi filsafat. Kajian yang meliputi multi aspek tersebut, dikehendaki  untuk mencari jawaban yang memuaskan dari pertanyaan tentang; siapa, dari mana dan akan kemana manusia.

Al-Qur’an dapat dikategorikan sebagai kitab manusia, karena seluruh kandungannya berbicara tentang dan dengan sesuatu yang berkorelasi dengan manusia. Jika dunia diibaratkan sebagai panggung, maka manusialah  pelaku dan sekaligus sutradara yang menyusun jalan ceritanya. Seluruh kandungan al-Qur’an, baik yang berbicara masalah alam riel maupun alam ghaib, semuanya dalam koredor hubungan manusia dengan alam, manusia sesama manusia dan manusia dengan Tuhannya.

Manusia akan menjadi sumber sejarah yang bergerak dan menuju suatu tujuan yang berada di hadapannya. Tujuan dan masa depan manusia harus tergambar dalam benaknya, dan benak inilah yang dikatagorikan idiologi, dan idiologi adalah weltanchaung yang dapat menjelaskan realitas dan cara pandang dalam perspektif tertentu  yang salah satu dari inti kodratnya adalah amanah.

Pemahaman Pendidikan

Banyak ahli telah membahas definisi “pendidikan”, tetapi  mengalami kesulitan dalam mencari keselarasan  yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti; banyaknya jenis kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai kegiatan pendidikan, luasnya aspek jangkauan pendidikan serta   pendidikan terkait erat dengan aspek psikologis. Akhirnya perumusan definisi pendidikan berpengaruh dengan subyektifitas masing-masing.

Pendidikan adalah; seluruh aktivitas atau upaya secara sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik terhadap semua aspek perkembangan kepribadian, baik jasmani maupun ruhani, secara formal, informal maupun non formal yang berjalan terus menerus untuk mencapai kebahagiaan dan nilai yang tinggi, baik nilai insaniyah maupun ilahiyah pada diri manusia. Dalam hal ini, kegiatan pendidikan dapat dilakukan oleh tiga kelompok yaitu; diri sendiri, lingkungan (alam) dan orang lain. Jangkauannya mencakup tiga wilayah; yaitu jasmani, akal dan hati. Sementara  tempatnya juga mencakup tiga wilayah yaitu; rumah, sekolah dan lingkungan.

Dalam konteks di atas, pendidikan berarti upaya menumbuhkan kepribadian serta menanamkan rasa tanggung jawab. Fungsi pendidikan terhadap diri manusia laksana makanan yang berfungsi memberi kekuatan, kesehatan dan pertumbuhan, sebagai persiapan untuk mencapai tujuan hidup secara efektif dan efesien”. Oleh karenanya, sistem dan tujuan pendidikan bagi suatu masyarakat tidak dapat diimpor atau diekspor dari atau ke suatu masyarakat. Pendidikan harus timbul dari dalam masyarakat itu sendiri, ia seperti halnya pakaian yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan bentuk dan ukuran pemakainya. Ia berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai yang ada pada masyarakat itu sendiri.

Manusia: Pelaku dan Target Pendidikan

Berbicara tentang manusia, langkah awal yang harus dilakukan adalah mencari kata kunci  tentang manusia dengan segala bentuk semantiknya. Dalam hal ini ada tiga kata kunci yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk manusia yaitu:

Al-Qur’an menggunakan kata basyar untuk menunjuk identitas biologis manusia  (Alu ‘Imrân: 47), seperti makan, minum, seks, berjalan di pasar dan lain-lain. Oleh karena itu, ungkapan بشر مثلكم إنّى  tidaklah identik dalam berperilaku berbuat dosa, karena hal tersebut tidak termasuk dalam kategori biologis, tetapi bersifat psikologis.

Kata insân, terambil dari kata uns, yang berarti jinak, harmonis dan tumpah, ada  yang berpendapat bahwa kata tersebut  berasal dari kata nasiya (lupa) atau nâsa-yanûsu (guncang). Di dalam al-Qur’an, kata ini dengan berbagai derivasinya dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori:

  • Dihubungkan dengan kata khalîfah (pemikul amanah).

Keistimewaan manusia sebagai wujud, berbeda dengan hewan. Ia makhluk yang diberi ilmu, diajari dengan pena, diajari sesuatu yang tidak diketahui (Al-‘Alaq: 4-5),  dan juga diajari  al-Qur’an dan al-bayân (Al-Rahmân: 1-3). Dalam hal ini, kata insân kadang-kadang juga dikaitkan dengan kata nazhar (mengamati ), baik terhadap perbuatannya,  karyanya maupun ciptaan Tuhannya (Al-Thâriq: 5),  dan juga dikaitkan dengan penerima amanah (Al-Ahzâb: 72).

Ketika manusia telah mengetahui nama-nama (Al-Baqarah: 35), ia harus menggunakan inisiatif moral insaninya untuk menciptakan tatanan yang baik. Dengan demikian  amânah merupakan predisposisi (isti’dâd) untuk beriman dan mentaati ilahi sebagai manifestasi ke-khilâfahannya.

Dalam konteks di atas, kata insân  diarahkan pada sikap tanggung jawab (Al-Qiyâmah: 36) dan berbuat baik (Al-Ankabût: 8), karena perbuatannya akan dipertanggung-jawabkan (Al-Qiyâmah: 12).

  • Dihubungkan dengan predisposisi  negatif.

Menurut al-Qur’an, manusia memiliki kecenderungan  kepada kezhaliman dan  kekufuran (Al-Hajj: 66), tergesa-gesa (Al-Isrâ’: 11), bakhil (Al-Isrâ’: 100), bodoh (Al-Ahzâb: 72), membantah (Al-Kahfi: 54), resah, gelisah dan enggan menolong (Al-Ma’ârij: 19-210), tidak berterima kasih (Al-‘Adiyât: 6), melampaui batas (Al-‘Alaq: 6) dan meragukan hari akhir (Maryam: 66).

Dihubungkan dengan proses penciptaannya, di mana manusia diciptakan dari tanah liat, saripati tanah dan tanah (Al-Mukminûn: 12). Proses kejadian ini sama dengan basyar (makhluk lain), yang di dalamnya terpadu unsur basyari dan insâni yang seimbang dan proporsional. Secara umum kata insân menunjuk manusia dari aspek psikologis dan spiritual.

  • Menggunakan Istilah Al-Nâs.

Di dalam al-Qur’an, kata al-Nâs  menunjuk manusia  sebagai makhluk sosial dengan berbagai stratifikasinya. Kepada kelompok ini al-Qur’an diturunkan. Karakteristik dari ketiga kata kunci di atas, al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial.  Ketika manusia berkedudukan sebagai basyar yang erat dengan unsur materi, ia harus tunduk pada sunnatullah di alam. Ketundukan manusia sama dengan ketundukan makhluk lain  yang berpredikat musayyar. Tetapi ketika manusia berposisi sebagai insân  atau al-nâs yang berkaitan dengan nilai rabbâny, ia diikat  dengan aturan yang diberi kebebasan  untuk tunduk atau menolak, sehingga ia berpredikat mukhayyar yang dituntut tanggung jawab.

Tanggung jawab manusia dituntut, karena pada dirinya berkumpul dua predisposisi yaitu predisposisi positif dan predisposisi negatif, tetapi ia harus memenangkan predisposisi positif atas negatif. Upaya tersebut akan terjadi jika manusia konsisten dengan amanah yang dipikul. Al-Qur’an merupakan rambu yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya.

Al-Qur’an telah  menemui masyarakat yang memiliki nilai yang yang diikuti, tetapi nilai tersebut  bersifat kekinian  yang bersifat  sektoral dan temporal, yang menyebabkan kemandegan sehingga orang akan bertindak sewenang-wenang untuk mempertahankannya. Al-Qur’an juga mematahkan tiran yang berusaha mempertahankan kebiasaan demi kelanggengannya, yang disimbulkan al-Qur’an dengan kisah Fir’aun yang merupakan metaforika pelanggaran moral.

Ketika proses akulturasi antara kode etik lama (jahiliyah) dan kode etik baru (Islam), Islam menyikapinya secara antagonis dari satu sisi, seperti syirik, kufr, zhulm dan lain-lain, karena secara esensi bertolak belakang dengan prinsip moral Islam yang bersifat monotheis (muwahhid), sementara pada sisi lain Islam menanggapinya secara akomodatif, selektif dan kritis dengan memodifikasi  bentuk  yang hasil akhirnya kadang-kadang menjadi  ide moral yang digabung dengan moral yang baru.

Acuan Penetapan Etika dalam Al-Quran

Ada tiga  acuan penetapan etika dalam al-Qur’an:

  • Sikap etis Tuhan yang tersusun  dalam asmâ al-husnâ (nama-nama Allah yang tercakup nilai etis dan estetis).
  • Sikap etis manusia kepada Tuhan yang bersifat fundamental. Kelompok kedua, berlandaskan konsep pertama di mana Tuhan adalah sumber etika. Ia bertindak etis kepada manusia, dan manusia diharapkan menanggapinya secara etis juga. Sikap manusia terhadap perbuatan Tuhan inilah dalam pandangan al-Qur’an disebut dengan agama atau etika agama.
  • Sikap etis dasar manusia terhadap sesamanya dalam komunitas. Dalam hal ini kehidupan sosial dan individu selalu diatur oleh seperangkat prinsip-prinsip moral tertentu yang disebut dengan etika sosial.

Dari ketiga konsep sikap etis tersebut, antara  etika yang satu dengan yang lain pada prinsipnya tidaklah berseberangan, bahkan sangat erat. Hal ini berangkat dari paradigma bahwa pandangan al-Qur’an terhadap etika secara esensial bersifat teosentris, di mana citra Tuhan meliputi segala aspek, sehingga tidak ada satu etika-pun yang  keluar dari  konsep ini. Dari kedua kelompok yang akhir ini dapat direduksikan menjadi dua konsep dasar yaitu kepercayaan yang mutlak kepada Allah, dan ketaatan yang shâlih  kepada-Nya.

Oleh Ahmad Munir

Komentar
Memuat...