Manusia Sebagai Pelaku dan Target Pendidikan

Manusia Sebagai Pelaku dan Target Pendidikan
0 144

Membahas masalah pendidikan, tidak dapat lepas dari pembahasan tentang manusia.  Pembahasan terhadap manusia dalam kaitannya dengan pendidikan meliputi berbagai aspek, seperti biologis, antropologis, dan psikologis, untuk mencari jawaban tentang; siapa, dari mana dan akan kemana manusia (Mastuhu: 1999: 4). Pembahasan tentang manusia dalam konteks ini, meliputi posisi manusia sebgai pelaku pendidikan sekaligus sebagai target dari pendidikan itu sendiri.Manusia Sebagai Pelaku dan Target Pendidikan.

Al-Qur’an ketika berbicara masalah alam riel maupun alam ghaib, semuanya dalam koredor hubungan manusia dengan alam, manusia sesama manusia dan manusia dengan Penciptanya. Oleh karena itu al-Qur’an dikatagorikan sebagai kitab manusia, karena seluruh kandungannya berbicara tentang dan dengan sesuatu yang berkorelasi dengan manusia. Manusia sebagai  pelaku dan sekaligus sutradara yang menyusun jalan ceritanya di atas panggung. Manusia akan menjadi sumber sejarah yang bergerak menuju suatu tujuan, dan tujuan tersebut berada di  dalam benaknya. Benak inilah yang dikatagorikan idiologi, dan idiologi adalah weltanchaung yang dapat menjelaskan realitas dan cara pandang dalam perspektif tertentu. (Fazlur Rahman: 80: 43)

Ada tiga istilah yang digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk manusia, yaitu kata insân (إنسان), yang menunjuk aspek psikologis, kata   basyar (بَشَرٌ) yang menunjuk aspek biologis dan kata  al-Nâs (النّاس) yang menunjuk aspek sosiologis. Ketika manusia berkedudukan sebagai basyar yang erat dengan unsur materi, manusia  harus tunduk pada sunnatullah di alam sebagaimana ketundukan makhluk lain  yang berpredikat musayyar. Tetapi ketika berposisi sebagai insân  atau al-nâs yang berkaitan dengan nilai rabbany, maka ia diikat  dengan aturan, yang diberi kebebasan  untuk tunduk atau menolak, sehingga ia berpredikat mukhayyar yang dituntut tanggung jawab (amânah). Manusia dituntut tanggung jawab, karena pada dirinya berkumpul dua predisposisi yaitu predisposisi positif dan predisposisi negatif. Manusia harus memenangkan predisposisi positif atas negatif. Upaya tersebut akan terjadi jika manusia konsisten dengan amânah yang dipikul. Dalam kondisi ini, al-Qur’an merupakan rambu yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya.

Proses Penciptaan Manusia, Pertimbangan Pendekatan Pendidikan

 Al-Qur’an memandang bahwa proses penciptaan manusia dalam konteks  biologis adalah sebagaimana makhluk lain.[1] Proses dan fase penciptaan tersebut dikehendaki untuk menyentuh perasaan manusia agar menyadari keberadaan pencipta dan ciptaan-Nya (Allah). Al-Qur’an memaparkan kisah penciptaan manusia diharapkan dapat memberikan nilai pendidikan terhdap manusia itu sendiri. Pengetahuan tentang kejadian manusia sangat penting untuk merumuskan tujuan pendidikan, dari asal kejadian ini dijadikan acuan dalam menetapkan pandangan hidupnya. Dalam perkembangannya, manusia senantiasa dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungannya. (Al-Nahlawy: 1996: 33) Dalam pendidikan dikenal tiga teori perkembangan/perubahan subjek didik yaitu:

  1. Empirisme atau  tabula rasa yang dipelopori oleh  John Locke (1632-1704) yang memandang bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih, kosong tanpa pembawaan baik dan buruk. Perkembangan selanjutnya sangat tergantung pada pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diperoleh.
  2. Nativisme atau enfoldment atau faculty yang dipelopori oleh Schopenhauer (1788-1880) yang mengasumsikan bahwa jika seseorang lahir dengan pembawaan atau potensinya yang baik, maka ia akan berkembang dengan baik dan sebaliknya. Pendidikan dan lingkungan tidak mempunyai pengaruh terhadap perkembangan seseorang.
  3. Konvergensi yang dikembangkan oleh William Stern (1871-1937) yang mencoba untuk mensintesakan antara dua teori yang kontradiktif di atas. Menurut aliran ini perkembangan seseorang dipengaruhi oleh pembawaan sejak lahir dan lingkungan. Pembawaan sejak lahir dan lingkungan sama-sama mempunyai andil dalam menentukan perkembangan seseorang (Zahra: 1995: 5).

Dari ketiga teori tersebut, Islam menjelaskan bahwa embrio manusia bukan sekadar kosong dan netral, tetapi berpotensi yang disebut dengan fithrah. Lingkungan yang melingkupi embrio mempunyai pengaruh dalam pembentukan masa depannya. Sementara menurut sebagian teori di atas, embrio hanya bersifat netral. Pengaruh tersebut akan terjadi pada aspek jasmani, akal   dan ruhani. Aspek jasmani dipengaruhi alam fisik, aspek akal dipengaruhi lingkungan dan budaya, dan aspek ruhani dipengaruhi oleh kedua lingkungan tersebut, dan baru berakhir setelah kematian. Kadar pengaruh tersebut berbeda antara seorang dengan orang lain, sesuai dengan pertumbuhan, umur dan fase perkembangan masing-masing. (Ahmad Tafsir: 1994: 35)

Untuk menciptakan kondisi yang kondusif, pendidikan dilaksanakan secara demokratis, terbuka dan dialogis, dengan penghargaan terhadap potensi kreatif anak. Demokratisasi pendidikan perlu dilakukan, karena manusia memiliki fithrah kebebasan, yakni kebebasan berkehendak. Menentukan pilihan sesuai dengan potensinya. Kebebasan ini merupakan nilai esensial bagi kehidupan, bahkan dianggap sebagai hak asasi manusiawi. Oleh karena itu,  proses pendidikan terhadap manusia  dapat diimplikasikan sebagai berikut:

  1. Pendidikan adalah media untuk memberikan stimulan bagi pertumbuhan dan perkembangan fithrah manusia.
  2. Proses pendidikan harus mengacu pada cita rasa ketuhanan yang telah tertanam pada diri manusia. (Fadlil Jamali: 1993: 16)

Oleh : Dr. Ahmad Munir, M.Ag


[1] Lihat Q.S. Al-Mukminûn/23: 12-15)

Komentar
Memuat...