Masjid Al Aqsha Dibakar Bukan Oleh Orang Israel

0 299

Menurut wikipedia bangunan utama masjid Al Aqsha adalah Masjid Al Qibli. Terdapat disebelah selatan kompleks Masjid Al Aqsha dengan ciri khas kubah timahnya yang berwarna biru keabu-abuan. Bangunan ini sering disalahartikan dengan Masjid Al Aqsha itu sendiri. Sebenarnya Masjid Al Aqsha itu adalah nama yang merujuk kepada keseluruhan kompleks yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan penting, seperti Jami’ Al Aqsha itu sendiri dan Kubah Shakhrah.

Masjid Al Aqsha Dibakar

Pada tanggal 21 Agustus 1969, () terjadi kebakaran di dalam Masjid Al Aqsha yang memusnahkan bangunan bagian tenggara masjid. Mimbar Salahuddin adalah termasuk di antara barang-barang yang rusak terbakar. Orang-orang Palestina awalnya menyalahkan otoritas Israel atas kebakaran tersebut, dan beberapa orang Israel menyalahkan Fatah dan menganggap bahwa mereka yang menyulut sendiri apinya, agar dapat menyalahkan Israel dan memancing permusuhan.

Namun kemudian terbukti bahwa kebakaran itu bukan disebabkan oleh Fatah maupun Israel, melainkan oleh seorang turis Australia bernama Denis Michael Rohan. Rohan adalah anggota dari sekte evangelis Kristen Worldwide Church of God. Ia berharap bahwa dengan membakar Jami’ Al Aqsha, dapat mempercepat Kedatangan Kedua Yesus. Dengan cara mempermudah dibangunnya kembali Bait Suci Yahudi di kompleks Masjid Al Aqsha.

Rohan dirawat di lembaga perawatan mental, didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan, dan akhirnya dideportasi. Serangan terhadap Al Aqsha disebut-sebut sebagai salah satu penyebab dibentuknya Organisasi Konferensi Islam pada tahun 1971, yang merupakan organisasi dari 57 negara yang banyak berpenduduk Islam.

Kubah Jami’ Al Aqsha adalah salah satu dari sedikit masjid dengan kubah yang dibangun di depan mihrab selama periode Umayyah dan Abbasiyah, contoh lainnya adalah Masjid Umayyah di Damaskus (715) dan Masjid Besar Sousse (850). Interior kubah dicat menurut dekorasi era abad ke-14. Pada kebakaran tahun 1969, cat dekoratif itu rusak dan sempat dianggap sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Namun dengan menggunakan teknik trateggio, yaitu sebuah metode yang menggunakan garis-garis vertikal halus untuk membedakan daerah yang direkonstruksi dengan daerah yang asli, akhirnya dapat diperbaiki kembali dengan sempurna.

Masjid Al Aqsha yang Sebenarnya

Dilansir dari republika.co.id (21/08) Sejarawan Kristen, Lambert Dolphin. Ia enuturkan, Masjid al-Aqsha yang oleh sebagian kalangan Yahudi dan Nasrani sekarang dianggap sebagai Haikal Sulaiman rampung dibangun pada 953 SM.  Untuk merayakan momen tersebut, Nabi Sulaiman A.S pun memerintahkan rakyatnya untuk menyembelih (berkurban) 22 ribu ekor sapi dan 120 ribu domba sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

“Dalam Perjanjian Lama (kitab suci Kristen) disebutkan, Sulaiman mengadakan pesta besar untuk merayakan pembangunan Kuil Sulaiman. Seluruh penduduk Kerajaan Israil mengikuti perayaan itu selama tujuh hari,” ujar Dolphin.

Rabbi Yahudi asal AS, Joseph Telushkin. Ia mengatakan, kurban menjadi ritual umum di Haikal Sulaiman sampai bangunan itu dihancurkan oleh bangsa Babilonia sekitar empat abad kemudian atau tepatnya pada 586 SM. Menurut Bibel, kuil yang dibangun Raja Sulaiman memiliki panjang 55 meter, lebar 27 meter, dan tinggi 15 meter. “Namun, titik tertinggi kuil itu sebenarnya 120 hasta atau sekitar 63 meter,” ungkap Telushkin dalam karyanya, “Jewish Literacy”.

Selama berabad-abad, kata Telushkin lagi, kaum Muslimin mengambil alih Yerusalem dan kemudian membangun dua buah masjid di bekas lokasi Haikal Sulaiman. Dia pun menuduh praktik semacam itu sudah menjadi semacam tradisi dalam Islam. “Ini bukan sebuah kebetulan, tapi memang sudah menjadi kebiasaan umum dalam Islam untuk membangun masjid di atas situs suci orang lain,” katanya.

Klaim rabbi Yahudi tersebut diatas dibantah para sejarawan Muslim, termasuk al-Kalby. Menurut dia, sejak Raja Nebukadnezar (634-562) dari Babilonia menghancurkan Bait Allah yang dibangun Sulaiman, bangsa Israil kembali jatuh ke dalam sistem perbudakan. Kali ini, mereka diperbudak oleh para penduduk yang menghuni wilayah antara Sungai Nil dan Eufrat.

Setelah 70 tahun mengalami perbudakan di Babilonia, bangsa Israil akhirnya mendapatkan kemerdekaannya kembai setelah Raja Cyrus dari Persia (yang hidup antara 576-530 SM) membebaskan mereka. “Pada saat itu, sedikit sekali orang Israil yang mau kembali ke Palestina dan merawat Beteyel atau Masjid al-Aqsha,” kata al-Kalby.

Masjid Al Aqsha Dihancurkan

Enam abad berikutnya (70 Masehi), orang-orang Romawi menghancurkan Masjid al-Aqsha dan mengubahnya menjadi tempat penyembahan berhala. Ketika Kaisar Konstantin memutuskan memeluk agama Kristen pada 315, penghargaan masyarakat Romawi terhadap Beteyel sangatlah buruk. Penduduk Yerusalem, termasuk orang-orang Yahudi sendiri, bahkan membuang sampah mereka ke rumah Allah tersebut.

“Orang-orang Yahudi tidak lagi menganggap Beteyel sebagai tempat kudus. Sampai datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, barulah Masjid al-Aqsha itu memperoleh ‘kehormatannya’ kembali,” tutur al-Kalby.

Editor: Acep M Lutfi
Sumber: Wikipedia dan republika.co.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.