Take a fresh look at your lifestyle.

Masyarakat Adalah Media Pendidikan

0 71

Masyarakat Adalah Media Pendidikan: Pada hakekatnya, pendidikan adalah strategi manusia untuk mempertahankan sifat kemanusiannnya. Manusia adalah makhluk yang dapat didik sesuai dengan tujuan pendidikannya. Dengan kesempurnaannya manusia mampu dipersiapkan sejak dini untuk menjadi manusia yang seutuhnya melalui proses pendidikan. Masyarakat adalah sebuah komunitas manusia yang berinteraksi satu sama lain. Masyarakatlah sebagai tempat mendidik manusia seutuhnya.

Pendidikan masyarakat adalah pendidikan yang tidak mengenal kurikulum dan tidak mengenal waktu. Hanya kultur masyarakatlah yang akan mendidik manusia. Rasa gotong royong, toleran, duka cita, suka cita ataupun jiwa kemanusiaan akan tumbuh dan berkembang secara praktis dalam kehidupan masyarakat. Terlebih lagi ditunjang teori- teori tentang hal tersebut yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan.

Masyarakat akan menuntut lebih terhadap mereka. Mengapa? karena mereka tergolong dalam masyarakat yang terpelajar. Mereka mempunyai intelektual yang lebih ketimbang orangtua atau masyarakat lain yang tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan. Eksistensi mereka akan sangat dihargai. Terlebih nanti ketika mereka besar dan mampu memberikan suri tauladan di dalam masyarakat.

Penguatan intelektualisme yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan akan lebih kuat didukung oleh interaksinya/ keaktifannya di masyarakat. Mereka tidak akan canggung bergaul dengan masyarakat. Mereka akan terbiasa dengan kehidupan dimana mereka tinggal. Banyak lembaga atau sekolah- sekolah mulai menanamkan teori sosial dan gotong royong dengan membawa siswanya terjun dimasyarakat. Entah itu dalam bentuk kegiatan bakti sosial atau santunan bagi orang- orang yang kurang mampu.

Bahkan ada beberapa sekolah yang memprogramkan dengan bentuk pengabdian masyarakat. Mereka menerjunkan siswanya untuk beberapa waktu tinggal di sutu desa. Mengabdikan diri dengan berbagai kegiatan di masyarakat. Bentuk inilah yang dapat meningkatkan karakter siswa untuk lebih mengenal secara dekat tentang teori kemasyarakatan sebagai bekal untuk mereka dimasa datang.

Masyarakat adalah Media Pendidikan

Peran dan fungsi masyarakat dalam pendidikan bukan hanya sebagai balancing atau sebatas quality control terhadap pendidikan. Mereka ikut berperan sebagai media atau tempat pendidikan yang nonformal. Kita tahu bahwa aktualisasi hasil pendidikan di sekolah atau Universitas adalah masyarakat dan dunia kerja. Dunia pendidikan menuntut peran serta masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Masyarakat berperan sebagai media pendidikan karena masyarakat adalah tempat ketiga bagi seorang pelajar berinteraksi setelah di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, baru di lingkungan masyarakat mereka bergaul. Di masyarakat pula mereka bisa belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Berinteraksi satu dengan yang lain, menumbuhkan rasa toleran, gotong royong, persatuan, kesatuan, kekompakan dan saling melindungi. Inilah media yang paling efektif yang mampu membangun karakter mereka sesuai dengan lingkungannnya. Karena pengaruh besar inilah perkembangan karakteristik mereka cepat. Mereka cenderungan meniru kebiasaan masyarakat. Harapannya adalah mereka mampu memfilter hal- hal yang positif yang bisa diambil dan dipelajarinya.

Budaya dan religi yang ada di masyarakat sangatlah dominan dalam membangun karakteristik mereka. Dasar agama yang kuatlah yang dapat memfilter; membedakan mana yang baik dan mana yang jelek; mana yang patut ditiru dan mana yang tidak. Kekuatan dasar agama biasanya di tanamkan sejak dini oleh orangtua dengan pendidikan non-formal yang ada dilingkungan masyarakat. Kekuatan inilah yang paling diharapkan oleh para orangtua. Jika sudah mempunyai dasar agama yang kuat, orang tua tidak akan hawatir terhadap anaknya.

Perubahan Paradigma Masyarakat Tentang Pendidikan

Perubahan zaman telah merubah paradigma masyarakat tentang pendidikan. Mereka cenderung menilai keberhasilan proses pendidikan dari out put-nya. Masyarakat sehatusnya menjadi fasilitator bagi kelancaran pendidikan. Hal ini dapat di lakukan dengan memberikan dukungan dan sokongan, baik moril maupun materil. Dalam konsep pendidikan di Indonesia, peran dan fungsi masyarakat terhadap pendidikan telah ada, berupa komite sekolah yang dulunya disebut BP3.

Namun dalam tataran praktis mereka kurang berfungsi dengan baik. Bahkan kadang timbul konflik antara pengurus sekolah dengan masyarakat (BP3 atau Komite Sekolah). Kadang pengurus sekolah tidak mengajak mereka untuk merumuskan atau memusyawarahkan kemajuan sekolah. Mereka cenderung diajak musyawarah hanya ketika menyangkut finansial. Dan kadang kemampuan mereka juga kurang ditunjang oleh pengetahuan dan pengalaman. Sehingga mereka hanya sebatas numpang nama dalam struktur sekolah.

Pembelajaran Aplikatif di Masyarakat

Kembali kepada kontek masyarakat sebagai media pendidikan, dimana peran lembaga pendidikan untuk mengarahkan siswanya bisa berinteraksi dan bersosialisai dengan lingkungan mereka tinggal. Arahan tersebut bukan hanya sebatas teori dalam bentuk pembelajaran di kelas saja, tetapi pihak sekolah bisa memantau langsung aktifitas mereka di masyarakat. Pihak sekolah bisa menilai siswa ketika berada di lingkungan masyarakat. Baik dan buruknya perilaku siswa di lingkungan masyarakat akan menjadi pertimbangan sekolah, untuk mengarahkan mereka lebih lanjut. Artinya, ada tindak lanjut setelah penilaian  tersebut.

Media inilah yang menjadi media efektif bagi proses pembelajaran kontekstual. Siswa tidak hanya menguasai secara teori atau keilmuan tapi lebih cenderung kepada praktek. Berikut beberapa contoh pembelajaran yang aplikatif di masyarakat:

  1. Ilmu sosial (Ilmu Pendidikan Sosial, Sosiologi) tergantung jenjang pendidikannya. Dimana diajarkan tentang teori kerukunan, gotong royong dan lain- lain yang mana itu semua lebih ke arak aplikatif di lingkungan masyarakat.
  2. Ilmu Alam (IPA, Biologi, Fisika, Kimia). Ilmu ini mengajarkan tentang alam. Siswa bisa mengetahui tentang isi alam ini, mempunyai rasa cinta terhadap alam, dan menjaganya sebagai titipan sang pencipta.
  3. Ilmu Agama. Peran serta siswa dalam menjalankan ibadah atau kegiatan- kegiatan agama bisa menjadi salah satu bentuk pembelajaran nyata yang mampu menjadi pembiasaan atau bentuk kebutuhan bagi dirinya.
  4. Bahasa. Ranah penggunaan bahasa yang baik dan benar ketika mereka berkomunikasi dengan masyarakat baik dengan menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Bahkan di lingkungan tertentu tidak menutup kemungkinan menggunakan bahasa Asing. Contoh di lingkungan pariwisata yang banyak dikunjungi turis asing, interaksi mereka dengan turis kemungkinan bisa terjadi. ***Wawan Ahmad Ridwan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar