Masyarakat Cirebon Lebih Memilih Tontonan Ketimbang Tuntunan

0 17

MASYARAKAT Cirebon – Menurut tokoh seniman Cirebon H. Askadi Sastra Suganda (85) sebenarnya perubahan “tuntunan” menjadi “tontonan” itu disebabkan dari penonton itu sendiri. Bukan disebabkan dari faktor komersilnya saja, melainkan dari permintaan penonton. Pada wayang kulit hiburan yang dikeluarkan, jika “anak putu Semar” sudah keluar. “Tapi sekarang baru pentas beberapa jam penonton sudah minta dangdutannya”,  katanya. “Sebenarnya dalam setiap pergelaran seni seperti wayang, sintren dan tari topeng, ada filosofi yang harus dipertahankan para pelaku seni, seperti filosofi yang disampaikan para dalang”.

Untuk saat ini sepertinya masyarakat lebih menyukai tontonannya ketimbang tuntunannya. Ini karena mayarakat lebih memilih tontonan yang dapat menghibur di hati ketimbang tuntunan yang disampaikan sang dalang. Contoh lain, kata H. Askadi, jika ada ulama atau ustaz yang menyampaikan ceramah keagamaan, namun tidak menyelipkan nada humor yang menghibur, banyak jamaah yang merasa kesal.

Sebenarnya harus ada upaya yang harus dilakukan pemerintah di daerah dan masyarakat agar tontonan dapat kembali lagi ke tuntunan yang baik dan sehat. Jika masyarakat dan pemerintah tidak cepat berupaya mengubah, maka tuntunan dari sebuah seni lambat laun akan hilang oleh waktu.

Sedangkan menurut Insan S. Adjib yang juga putra dari sang maestro tarling almarhum H. Abdul Adjib, sekarang setiap ada pertunjukan pasti disuguhkan irama dangdut. Hal ini disebabkan, karena masyarakat yang sedang demam dangdut.

Dalam penelitian Cohen, memang sebagian besar dalang Cirebon berasal dari keluarga dalang, dan keterampilan serta peralatan yang ditularkan secara bergenerasi. Salah satu gaya paling terkenal saat ini adalah gaya Gegesik, terkait dengan kota agraris Gegesik.

Macam – Macam Budaya Cirebon

Kota kecil ini memiliki 12 rombongan profesional yang aktif, termasuk beberapa yang paling terkenal di Cirebon. Musisi yang terkenal karena derajat mereka yang tinggi profesionalisme. Gaya lain yang terkenal dari daerah “kidul” (berpatokan dari Gegesik), terkait dengan bagian barat daya Kabupaten Cirebon, di sekitar kota industri Palimanan.

Gaya ini dibedakan dalam penggunaan gamelan sesuai untuk skala (pelog) heptatonik, hampir semua gaya wayang kulit lainnya menggunakan pentatonik (prawa) tala secara eksklusif. Dalang dari daerah “kidul” ini sering melakukan lakon yang berkaitan dengan ajaran Islam, seperti “Semar Lunga Kaji”.

Dalam kaitan ini Semar – salah seorang punakawan – berniat berangkat ibadah haji ke Mekah, tapi ditentang oleh saudara Hindunya, Dewa Guru (Siwa untuk sebutan di wilayah Asia Selatan). Desa cenderung memiliki preferensi untuk gaya daerah tertentu atas orang lain. ** (Nurdi M Noer)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.