Matinya Rasa Empati | Refleksi Sosial Part – 3

0 74

Matinya Rasa Empati dalam Refleksi Sosial. Aku terkejut, saat informasi mantan seorang Rektor kampus negeri meninggal. Terkejut bukan karena kematiannya. Tetapi lebih pada sepinya pengunjung saat kematian itu benar-benar menjemputnya. Ia meninggal setelah 15 tahun berhenti sebagai rektor dan empat tahun setelah pensiun dari kedinasannya sebagai seorang ASN.

Beberapa minggu sebelumnya, telah tersiar juga kabar bahwa dia meninggal. Tetapi, ternyata tidak. Berita itu hanya Hoax. Tetapi kali ini, informasi itu benar-benar nyata. Ia memang meninggal. Benar-benar meninggal dengan tidak meninggalkan jejak sekalipun.

Cukup misterius memang. Ia bukan hanya meninggalkan kampus yang pernah dipimpinnya, tetapi, juga rumah megah yang dimilikinya. Ia balik kampung dan menikahi seorang janda di kampungnya itu. Sebuah kampung yang sangat pedalaman dan jauh dari hiruk pikuk masyarakat Kota. Butuh perjuangan untuk bisa sampai ke rumah baru di masa tuanya, kecuali mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam membawa kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Ia memiliki alasan kuat untuk balik kampung dan menikah lagi. Maklum istrinya meninggalkan dia terlebih dahulu. Ia kesepian dan kerinduan untuk berkumpul dengan kawan-kawan segenarasinya di kampus sudah pada tidak ada. Mereka rata-rata sama. Pensiun dan pulang ke kampung mereka masing-masing.  Ditambah lagi, susana kampus yang dulu sempat menjadi kebanggaannya itu, terasa membuat dia semakin hari semakin terasing atau diasingkan. Pulanglah dia dengan sisa-sisa nafas dan penghasilan kecilnya sebagai seorang pensiunan.

Kematian Mengakhiri Segalanya

Jejak perjalanannya sebagai mantan seorang pimpinan Perguruan Tinggi Negeri, berakhir sudah. Ia hampir terlupakan atau dilupakan untuk kepentingan jaman yang mengitarinya. Ia terhuyung dalam kesendirian sampai ketika ajal menjemputnya. Dia dalam kesendirian dan hanya ditemani istri kedua yang baru dinikahi beberapa bulan sebelumnya.

Aku dan beberapa teman setianya, tentu sedih mendengar kewafatannya. Kamipun beringsut berangkat mencari dan menghampiri rumah kediaman masa tuanya. Warga Kampus yang pernah dia pimpin-pun, terlihat satu mobil pick up berangkat menuju rumahnya. Ditambah kami yang jumlahnya hanya kurang lebih delapan orang.

Kami mencari rumah itu, sampai kurang lebih enam jam. Rumah duka itu, tidak kami temukan. Jalan terjal, berkelok, kecil dan alam mulai malam, membuat kami akhirnya balik kanan. Sang Rektor-pun terkubur dengan tanah kelahirannya, tak mampu kami saksikan tanah merah urugan kuburannya.

Siang hari sebelum berangkat, kampus itu tetap ramai. Mereka kebanyakan asing mendengar nama mantan rektor itu, meski hanya beberapa tahun saja ia baru meninggalkan kampus dimaksud. Asing bukan karena mereka tidak kenal, tetapi, lebih karena tampaknya mereka sudah merasa tidak lagi memiliki kepentingan atasnya. Matilah rasa empati dan simpati kepada suatu sosok yang dulu tampak sangat gagah. Selamat Jalan Jenderal … Semoga Tuhan mengampuni kami yang dengan atau tidak disengaja, kami melupakanmu sampai baru kami sadar, bahwa kau telah benar-benar pulang. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.