Maung Putih dalam Simbol dan Legenda Siliwangi

2 852

Saya pernah menulis tentang MEMAHAMI SIMBOL dan mengapa symbol dibutuhkan manusia. Mengapa sesuatu yang bersipat transenden dan beyond harus disimbolisasi dalam lokus manusia yang empiris? Tentu saja, mengapa masyarakat Pasundan misalnya menempatkan Maung Putih sebagai suatu symbol penting dalam institusi-institusi di Jawa Barat.

Misalnya, nama Komando Daerah Militer (Kodam) Jawa barat diberi nama Siliwangi. Group sepak bola disebut dengan Persib Bandung dengan sebutan maung Bandung. Nama seperti Universitas Negeri di Tasikmalaya bernama Siliwangi. Simbolnya pasti Maung Putih. Mengapa dan apa dengan symbol Maung Putih ini?

Tulisan ini mengupas symbol Maung Putih dalam tradisi masyarakat Pasundan. Mengapa masyarakat Jawa Barat memilih symbol dengan jenis binatang yang dalam trend tertentu sering disebut ganas dan berbau hutan. Apa relasinya Maung Putih dengan Legenda Siliwangi

Teori tentang Simbol

Secara akademik, teori tentang symbol, dapat dibaca misalnya dari pikiran George Herbert Mead. Ia lahir tahun 1863 Masehi di Amerika Serikat. Ia adalah pemikir yang menolak keras teori dogma agama dan beralih menjadi penganut teori social pragmatis. Padahal bapaknya adalah seorang Pendeta tersohor. Mead, merumuskan sebuah konsep yang dia sebut dengan interaksi symbolik. Melalui teori ini, Mead menyatakan bahwa komunikasi manusia selalu berlangsung melalui pertukaran symbol serta pemaknaan atas symbol.

Tulisan lain tentang teori simbol, dapat juga dibaca tulisan Clifford Geertz. Buku berjudul Religion of Java (1992), menelusuri tradisi keagamaan Mojokerto. Tradisi ini kemudian diintrodusir sebagai karakter keagamaan masyarakat Jawa. Dalam tulisan itu, dia menyatakan: system symbol dapat merefleksikan kebudayaan tertentu.

Melalui dua teori itu, penulis hendak mencoba mengupas, mengapa masyarakat Jawa Barat menggunakan symbol Maung Putih. Apa maknanya. Tetapi, ini bukan sesuatu yang pasti. Ini hanya merupakan satu wacana yang tingkat kebenarannya perlu diuji lebih jauh.

Siliwangi dan Maung Putih

Dengan nalar teori di atas, dihubungkan dengan symbol Maung Putih, dapat digunakan sebagai alat untuk memelihara alam dan hutan. Diketahui bersama bahwa Jawa Barat, kebanyakan terletak di daerah Pegunungan yang oleh Raffles sering disebut sebagai The Paris Van Java. Mayarakat ini dikenal sangat santun terhadap alam. Mereka bercita-cita untuk mempertahankan alam sebagai sesuatu yang sangat nature. Mengapa? Karena alam memiliki dimensi ruhiyah secara langsung dengan Tuhan mereka.

Pemeliharaan terhadap hutan, dapat dikorelasikan dengan pemikiran Eyang Prabu Siliwangi. Salah satunya ia mengajarkan bahwa Hutan adalah makhluk hidup. Karena ia hidup, maka, manusia harus hidup secara berdampingan dengan manusia. Manusia harus mampu mendinamisasi alam.

Coba kita lihat bagaimana masyarakat Baduy di Banten dan Masyarakat  Kampung Naga di Garut. Menurut catatan sejarah selalu disebut sebagai pengikut setia ajaran Eyang Prabu Siliwangi. Dengan melihat fenomena ini, maka, akan diperoleh pembenaran historisnya. Bangunan-bangunan rumah yang didiami dua kelompok manusia di dua daerah ini, tetap mempertahankan kostur tanah sesuai dengan watak tanah. Mereka membiarkan gunung-gunung tetap hijau dengan julangan pohon yang sangat tinggi.

Analisa kedua, terkait dengan symbol ini adalah apa yang pernah dikatakan Eyang Prabu Siliwangi. Saat dia mau hyang bersama para pengikutnya. Ia menyatakan: “Lamun aing geus euweuh mareungan sia, tuh deuleu tingkah pola maung”. (Kalau saya sudah tidak lagi menemani kamu, maka, lihatlah perilaku maung)”.

Inilah yang disebut dengan wangsit Siliwangi. Satu tuturan Bahasa asli Sunda yang kesannya kasar untuk diucapkan seorang raja. Ia menuturkan kalimat dimaksud. Namun harus dicatatkan bahwa sebelum kekuasaan Mataram berkembang sampai ke wilayah Padjajaran, dalam sejarah Basa Sunda, kelompok masyarakat ini tidak mengenal feodalisme Bahasa. Hal ini terlihat dari penuturan Eyang Prabu di atas.

Teori lain adalah, apa yang ditemukan peneliti Belanda bernama Scipio. Ia meluncurkan suatu teorisaat pemerintahan VOC Belanda dipimpin Joanes Camphuijs. Kekuasan ini berlangsung tahun 1687, ketika ia meneliti kerajaan Padjajaran di kawasan Pakuan Bogor. Ia, menemukan tempat duduk raja, “mungkin tempat Eyang Prabu Siliwangi bertakhta”. Tempat duduk ini, tidak mampu didekati karena diselimuti awan tebal dan dihuni sejumlah Harimau Besar. Salah satu anggota tim Scipio diberitakan mati diterkam Maung dimaksud.

Cerita ini terus beredar hingga saat ini. Itu juga yang menyebabkan gunung dimaksud, sampai saat ini dianggap mistis dan sulit dijangkau manusia biasa. Gunung ini kemudian sering disandingkan dengan nama gunung Sancang. Posisi Siliwangi sendiri, dalam konteks ini dianggap telah bermeta morposisi menjadi Maung setelah melakukan tetapa sampai mati. Ia dianggap bertapa di gunung ini.

Nalar Simbol

Dengan nalar semacam ini, maka, maung putih adalah simbol. Simbol masyarakat Pasundan yang dapat diterjemahkan sebagai salah satu media membaca karakter Pasundan yang memiliki tata nilai harmonis dengan alam. Masyarakat ini dituntut memiliki relasi ekologis yang tinggi. Dua relasi ini secara langsung akan mampu membangun keseimbangan ekosistem agar tetap terpelihara dengan baik.

Inilah mungkin apa yang dikatakan Clifford Geertz, symbol selalu akan membentuk tiga unsur penting. Yakni: Sistem symbol, system nilai dan system pengetahuan. Gabungan dari ketiga unsur itu adalah system of meaning. Salah satu tugasnya adalah menangkap system nilai dan system pengetahuan yang berlaku di masyakarat Jawa Barat.

Soal apakah Siliwangi benar-benar menjadi Maung Putih atau Tidak, biarlah itu tetap menjadi misteri. Tetapi secara empiris, jika pembaca berada dalam ranah dan pemikiran serta memiliki genetis yang patut diduga memiliki relevansi dengan keluarga Padjajaran, asumsi untuk menolak pikiran mistik atas apa yang dilakukan Eyang Prabu, agak sulit juga dihindari. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. Kosim. lagi nyantri di pasca cirebon PAI/B berkata

    Maung Putih sering saya lihat saat melintas Cirebon dari arah Tegal. tulisan ini memahamkan saya atas makna simbol tersebut. makasih pak Prof. kalo boleh komen: “Maung Putih” bagi masyarakat Jawa Barat merupakan simbol yang bisa dimaknai “ada pesan leluhur” yang mesti diwujudkan, bukan sekedar simbol tanpa makna.

  2. Lyceum Indonesia
    Lyceum Indonesia berkata

    Kata Prof Cecep Sumarna “Ketika disebut kata simbol, tentu banyak orang memahami sekaligus mamaklumi makna yang dikandung, meski bukan berarti otomatis benar. Simbol, suatu kata sederhana dan mudah diingat meski membutuhkan energy untuk memahami simbol secara utuh”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.