Inspirasi Tanpa Batas

Mekanisme Pengembangan Pendidikan Karakter

0 512

MEKANISME Pengembangan Pendidikan Karakter. Guru bukan hanya sekedar pengajar materi pelajaran yang diampunya dan dilakukan secara rutinitas dalam kegiatan sehari-hari, melaikan peran guru sebagai pengembangan kurikulum (curriculum developer) di kelasnya. Hamalik (2007: 52) menjelaskan setiap guru mengemban tanggungjawab secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengadministrasian, dan perubahan kurikulum. Sejauh manakah keterlibatan guru akan turut menentukan keberhasilan pengajaran di sekolah. Kemudian Hamalik (2007: 52) mengemukakan betapapun bangus dan indahnya kurikulum, keberhasilan kurikulum tersebut pada akhirnya bergantung pada masing-masing guru.

Peran Guru dalam Pembentukan Karakter

Atas dasar ungkapan ini, peran guru selain menentukan keberhasilan pendidikan peserta didik juga memiliki peran penting sebagai desainer (perancang) kurikulum menjadi bermakna bagi pengembangan potensi peserta didik sebagai generasi berkualitas. Potensi (kemampuan) peserta didik yang masih berupa benih-benih atau masih berupa kuncup, mekar atau tidak potensi tersebut, peran guru sebagai desainer kurikulum sangat menentukan.

Oleh karena itu, pengembangan kurikulum yang dilakukan guru selain berorientasi mengembangkan potensi peserta didik, seleksi dan relevansi memilih bahan ajar (content) kurikulum disesuaikan minat, bakat, dan kebutuhan psikologis peserta didik. Secara psikologis usia peserta didik SMP termasuk remaja awal, kondisi spiritual, emosional, moral maupun sosial mereka termasuk inkonsisten (labil). Bahkan menurut Hurlock (1978) emosional anak remaja seperti badai.

Dengan demikian, guru sebelum medesain RPP bukan mendahulukan bahan ajar apa (what) yang akan diajarkan kepada peserta didik, melainkan yang lebih penting bagaimana memprediksi kebutuhan masa depan peserta didik, juga  bagaimana mengembangkan karakter baik peseserta didik (how), sebab karakter selain fondasi pembentukan kepribadian, watak, tabiat juga menentukan standar akademik. Bahkan Masaong (2012) mengatakan bahwa karakter merupakan sikap dan kepribadian seseorang yang diyakininya dan berwujud dalam tingkah lakunya sebagai pribadi yang menjadikannya mempunya reputasi sebagai orang baik.

Rancangan Kurikulum

Rancangan kurikulum selain berdasarkan seleksi dan relevansi  juga guru perlu melakukan dipersivikasi (pengembangan) kurikulum/bahan ajar (content) terkait dengan pengembangan pendidikan karakter mencakup: moral knowing, moral feeling dan moral action. Dipersivikasi bahan ajar (kurikulum sebagai bahan ajar) meminjam istilah Depdiknas (2006) mengikuti filosofi “alam takambang jadi guru”.

Artinya, fenomena yang tergelar di alam ini sebagai kurikulum (bahan ajar) yang berguna bagi tercapainya pendidikan peserta didik. Filosofi ini menggambarkan bahwa bahan ajar sangat luas bukan hanya buku-buku yang ada di perpustakaan, dan internet, melainkan fenomena sosial (kehidupan sosial manusia), dan fenomena alam (natural) yang ada di alam ini sebagai bahan ajar (kurikulum) yang perlu dikembangkan oleh guru sebagai bahan ajar yang aktual.

Dengan demikian, rujukan bahan ajar agama Islam sebagai alat untuk mngembangkan karakter peserta didik tidak sekedar yang ada pada buku paket (text book) melainkan bahan ajar terliput di dalam lingkungan/alam sekitar yang tidak terbatas. Misalnya, perkembangan teknologi seperti alat komunikasi, transfortasi, nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat (adat, tradisi, nilai-nilai, norma sosial, moral, seni, hasil karya), pluralisme keberagamaan, sikap toleransi yang tumbuh di lingkungan masyarakat, dan kearifan lokal.

Media Pengembangan

Media pedidikan karakter terutama untuk peserta didik SMP yang sudah mampuh berpikir formal operasional sebagaimana Sukmadinata (2005: 50) menyatakan bahwa perserta didik usi ini mampu berpikir deduktif dan induktif, mampu menganalisis, sintesis, mampu berpikir abstrak, reflektif serta mampu memecahkan berbagai masalah, bukan dengan cara lisan (informatif) dan pesan-pesan normatif (anjuran, perintah dan larangan), melaikan  media yang relevan adalah media visual (empirik). Misalnya, video animasi, OHP, power point, t.v. dan yang sejeninya. Berbagai pesan nilai-nilai karakter yang ditampilkan pada media tersebut dapat digunakan untuk melatih berpikir kritis, analisis, dialogis, dan evaluatif. Selain itu, isi pesan nilai-nilai karakter disampaikan secara teknologis materi pelajaran lebih tahan lama diingat, dan bahkan menghingkangkan verbalisme.

Metode Pengembangan

Metode pengembangan pendidikan karakter belum cukup menggunakan metode dokrin, lisan, dan ceramah, melainkan metode yang dipandang relevan yang bersifat empirik (nyata). Metode ini, menurut Kemendiknas (2011: 15) adalah metode “keteladanan”. Misalnya, keteladanan sikap guru, tenaga kependidikan dan peserta didik dalam memberikan contoh melalui tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik lain. Misalnya nilai disiplin (kehadiran guru yang lebih awal dengan peserta didik), kebersihan, kerapihan, kasih sayang, kesopanan, perhatian, jujur, dan kerja keras dan percaya diri.

Proses Pengembangan Pendidikan

Proses pengembangan pendidikan karakter, bisa dilakuka secara pragmatis sesuai konteks kurikulum mutual adaptif. Pendekatan pragmatis dapat diterapkan pada berbagai strategi pendidikan termasuk pengembangan pendidikan karakter yang penting tujuan pendidikan karakter tercapai. Artinya, proses pengembangan karakter dapat didekati secara psikologis,  pedagogik, sosiokultural, dan sebagainya.

Pengembangan karakter berdasarkan pendekatan psikologis Kemendiknas (2011: 9) mengutif pendapat Bloom, et.al (2001) proses pengembangan pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan pskomotor). Gestalt menyatakan bahawa anak belajar dilakukan seluruh tubuh: pikiran, perasaan, dan tindakan fisik (Olson, 2008: 289). Sepadan dengan Bloom dan Gestalt, pakar pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara mengagas tentang potensi anak misalnya, cipta = kognitif, rasa = afektif, dan karsa = konatif dan atau psikomotor.

Lickona (1999) menekankan pengembangan karakter mencakup Moral knowing: moral awerness, knowing moral values, perspective –taking, moral reasoning, decesion-making, self-knowing. Moral feeling: concienceself-esteem, empaty, loving the good, self-control, humanity. Moral action: competence, will dan habit.

Kegiatan pembelajaran dalam kerangka pengembangan karakter peserta didik. Baik nilai-nilai moral knowing, moral feeling dan moral action dapat menggunkan pendekatan belajar aktif. Seperti pendekatan belajar kontekstul, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran pelayanan, pembelajaran berbasis kerja, dan ICARE (Introduction, Connection, Application, Reflection, Extension) dapat digunakan untuk pendidikan karakter (Kemendiknas, 2011: 15).

Selain itu, model pembelaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan karakter peserta didik secara utuh. Seperti bermain peran (role playing), sandiwara, dan belajar sambil melakukan (learning by doing). Model pembelajaran ini, mampu mengaktifkan pikiran, emosional, dan nilai-nilai sosial (Joyce dan Well, 2000: 57).

Kegiatan Pengembangan

Kegiatan pengembangan pendidikan karakter peserta didik dapat dilakukan berdasarkan pedagogik humanistik, indikatornya tercermin pada gagasan Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar mengutarakan langkah-langkah mengembangkan karakter peserta didik dengan cara:

Ing ngarso sung tulodo; Ing madyo mangun karso; dan Tuwuri Handayani (Purwanto, 2000: 16). Ing ngarso sung tolodo, orang tua di rumah, tenaga kependidikan di sekolah. Dan tokoh masyarakat sebagai pendidik karakter peserta didik menampilkan berbagai perilaku terpuji (akhlak mulia) yang dapat diteladani oleh peserta didik.

Ing madyo mangun karso, seluruh personal yang ada di lembaga pendidikan informal, formal, dan non formal seperti: keluarga, tenaga kependidikan. Tokoh masayarakat di tengah-tengah mengembangkan karsa/kemauan (willing) peserta didik berkarya secara kereatif dan inovatif.

Tut wurihandayani orang tua, tenaga kependidikan berserta tokoh masyarakat memberikan motivasi. Atau dorongan dari belakang kepada peserta didik untuk melakukan berbagai aktivitas sesuai nilai-nilai karakter ke arah yang baik, dan terpuji. Misalnya, berlaku ramah, sopan, jujur, bertanggungjawab, peduli, tidak melakukan perilaku anarkhis, toleransi menjalankan perih agama, dan sebaganya.

Sebagai wahan pengembangan pendidikan karakter peserta didik Kemendiknas (2011: 15) menjelaskan sekolah penting melakukan pengkondisian pendidikan karakter. Pengkondisian yaitu penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter. Misalnya, sekolah menyediakan tempat shalat, tempat pembuangan sampah, toilet yang bersih, halaman/lingkungan yang hijau dengan pepohonan. Poster kata-kata bijak misalnya, buang sampah pada tempatnya, shalatlah sebelum dishalatkan, dan sebagainya.

Penilaian pengembangan karakter peserta didik sesuai karakteristik kurikulum mutual adaptif dapat dilakukan secara paragmatis. Artinya, penilaian karakter bisa dilakukan dengan berbagai cara yang penting keterukuran karakter tercapai. Misalnya tes objektif, essay, observasi, wawancara, kuesioner, portopolio, dan sebagainya. Keuntugan penilaian karakter secara pragmatis guru mampu menilai karakter yang ditampilkan peserta didik secara utuh. Dr. H. Anda Juanda, M.Pd

Komentar
Memuat...