Melacak Jejak Ilahi dalam Gerakan 411 dan 212 | Membela Kebenaran Part 5

1 41

MEMBELA Kebenaran – Aksi Bela Islam 411 dan gerakan do’a massal 212 yang dilakukan masyarakat Muslim Nusantara di Jakarta, atas apa yang disangkakan adanya penodaan agama, melalui cuitan Ahok atas al-Quran Surat al-Maidah 51, ternyata terus bergulir kencang. Apa yang sebelumnya tampak sederhana, kini telah memicu pergolakan masal masyarakat Muslim, yang hampir mengabaikan saran dan bahkan intimidasi atas larangan terjadinya gerakan ini. Inilah pergolakan terhisteris sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia.

Gerakan ini Layak Masuk dalam Rekor MURI

Gerakan ini, menilik skala dan kompleksitas masalahnya, bahkan sangat mungkin layak masuk dalam Rekor MURI Karena berhasil memecahkan rekor dunia sebagai aksi terbesar dan termegah, jauh dari prediksi siapa pun termasuk saya yakin oleh Ahok dan komunitasnya sendiri, yang dalam hal ini dapat dipandang sebagai pemicu pertama.

Sangat masuk akal, bila kemudian muncul pertanyaan, apakah kasus penodaan serta dinamika perkembangan situasi berantai yg ditimbulkannya merupakan fenomena biasa saja seperti pada banyak kasus negara-bangsa yang sedang mengalami transisi demokrasi. Atau akankah berdampak signifikan bagi terbentuknya tatanan masyarakat baru.? Atau lebih jauh lagi, adakah isyarat dan tanda-tanda penting bahwa kita sebenarnya sedang berada di ambang batas titik balik peradaban?

Aksi hari jum’at 212 telah juga menguatkan dan mengokohkan umat Islam pada aksi 411 sebelumnya. Aksi ini telah menarik perhatian hampir seluruh kalangan, berbagai sisi analisis dan sudut pandang dari beragam keahlian dan profesi berupaya membedah aksi besar itu. Namun masih menyisakan sejumlah pertanyaan bahkan mungkin misteri.

Peta Analisa Gerakan

Bila dipetakan, Analisa atas gerakan 411 dan 212 dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Kedua kelompok analis dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, mereka yang memandangnya dari perspektif keilmuan murni, dan kedua tidak sedikit pula yang memandangnya dari perspektif filosofis-kosmologis. Bagi kelompok pertama, aksi 411 dan 212 tidak lebih dari fenomena biasa yang datar2 saja seperti sudah banyak presedennya, misalnya yang kasusnya hampir bersamaan apa yang terjadi di Myanmar yang sedang mengalami masa transisi dari Junta Militer, sehingga perspektif transisi demokrasi masih relevan untuk digunakan sebagai kerangka analisis guna memahami aksi 411 dan 212 itu.

Posisi ini misalnya, tampak dari tajuk yang dipilih Lemhannas ketika menjelang hari Guru Nasional ke-71 tangal 25 Nopember lalu mengadakan Saresehan tentang. “Transisi Demokrasi: Dampak Negatif Media Sosial”. Postingan Didin S. Damanhuri pada 24 Nopember di akun fb-nya, yang menjadi salah seorang Narasumbernya, sangat jelas mewakili perspektif itu; bagi mereka, adalah absurd menghubungkan aksi 411dan 212 sebagai sebuah fenomena yang mengandung dimensi teologis-filosofis.

Di pihak lain, mereka ada yang melihat aksi 411 dan 212 sebagai fenomena yang kental dengan dimensi teologis-kosmologis. Yang mengandung potensi terjadinya turbulensi yang sebagian besarnya sulit diprediksi. Sehingga menggunakan kerangka analisis konvensional seperti transisi demokrasi. Karena itu, untuk memahami fenomena aksi 411 dan 212 adalah naif, jika kerangka yang dipakai hanya menggunakan nalar yang pertama.

Saya lebih memilih suatu sikap. Sebagaimana misalnya, adindaku Cecep Sumarna yang menulis di akun FB-nya dengan mengatakan: “akhirnya aku tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata, menyaksikan jutaan umat Islam berkumpul untuk menunjukkan sikap dan pembelaan terhadap suatu keyakinan keagamaan yang dianutnya. Tak ada kata yang tepat kecuali kita, umat Islam, dan bahkan bangsa Indonesia. Red– mesti kembali belajar akan fenomena ini. Misalnya, kita kembali bertanya: Apa sesungguhnya yang telah kita persembahkan untuk bangsa ini.? **


Penulis  : Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd
Editor    : Team Lyceum

  1. lyceum
    lyceum berkata

    Gerakan 411 dan 212, adalah gerakan nurani yang bukan hanya telah membuat umat Islam sadar akan eksistensinya, namun, juga dibuat tak berdaya bagi mereka yang menolaknya …

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.