Inspirasi Tanpa Batas

Memaafkan Tuhan | Cara Keluar dari Krisis Diri – Part 1

Memaafkan Tuhan | Cara Keluar dari Krisis Diri – Part 1
0 20

“Lyceum Indonesia dalam sebulan ke depan, akan menghadirkan tulisan tentang pengalaman pribadi Prof. Cecep Sumarna dalam menghadapi krisis kepercayaan diri atas berbagai ujian yang dihadiahkan Tuhan kepadanya. Dalam analisa kami, tulisan-tulisan singkat di X Filenya, menarik untuk dibaca. Kalau tidak percaya, coba saja ikuti”

Memaafkan Tuhan. Pernahkah anda merasa tidak mengerti, mengapa Tuhan menguji sesuatu yang dirasa sangat berat. Tentu dan pasti! Semua manusia pernah merasa diuji Tuhan dengan sesuatu yang kadang bahkan sulit dirasionalkan.

Kalau kita menganggap bahwa setiap ujian berasal dari Tuhan, maka, cara penyelesaian atas ujian dimaksud adalah dengan memaafkan Wujud yang memberi ujian itu sendiri. Siapa? Ya Tuhan kita. Tuhan yang menciptakan dan memberi segenap kebaikan terhadap diri kita.

Apa mungkin makhluk memaafkan khalik? Tentu hal itu salah dan tidak mungkin, terlebih jika yang digunakan sebagai alat analisanya menggunakan paradigma teology. Tetapi, jika paradigma yang digunakan mistik falsafi, maka, bukan soal salah dan benar. Tetapi, soal sikap pasrah atas apa yang dihadiahkan Tuhan.

Yang pasti… memaafkan Tuhan berarti menghadirkan segenap kebaikan dan ketulusan-Nya. Kita mesti percaya bahwa pada setiap beban yang diberikan Tuhan kepada kita, pasti bersamanya, akan hadir hadiah-hadiah indah dari-Nya yang tidak mungkin mampu dipikirkan sebelumnya.

Kalau Anda Yakin, Jalani

Pernah suatu hari, tepatnya saat saya masih menjadi siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di kelas satu, tiba-tiba, dari lubang dubur saya, memuncratkan darah yang sangat banyak. Volumenya mungkin lebih dari 5 liter dalam satu jam itu. Banyak orang menjerit histeris atas apa yang dialami. Tidak sedikit yang membaca kalimah-kalimah sakti serta bacaan keramat lain.

Saya diam dan tidak mengerti. Maklum masih sangat kecil untuk mampu memahami sesuatu yang sangat rumit. Sementara ibu dan bapak lagi sangat jauh. Sehingga mereka tidak pernah menyaksikan langsung atas apa dialami. Saya justru takut saat banyak orang menonton dan mendo’akan. Dari raut muka mereka terpancar suatu kegelisahan sekaligus keraguan kalau saya mampu mempertahankan nyawa agar tetap melekat dengan tubuh.

Lalu entah karena dorongan apa, saya justru pasrah. Kalimat yang ke luar dari hati terdalamku, mengatakan: Ya Allah … aku pasrah jika Kau menjemputku saat ini. Sesaat kemudian, datang seorang Manteri desa yang sangat senior. Ia mengambil jarum suntik, lalu memasukan cairan ke dalam pantatku. Entahlah…. darah justru langsung berhenti. By. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...