Memadu Kasih di Atrium | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 15

0 137

Memadu Kasih di Atrium: Ketika Allent tampak sangat gelisah atas pernyataan Mell yang mengatakan sebentar lagi dia akan menikah, Mell, segera menggusur tangan Allent dan mengajaknya duduk di sebuah tempat. Allent setuju dan memintanya untuk mengunjungi salah satu capetaria dalam Atrium di lantai tiga, Ibu Kota Indonesia, Jakarta.

Mell kepada ajudannya berkata: Kamu tunggu di sini ya, jangan ke mana-mana sebelum aku datang. Aku, mau mengajak Sang Pangeran untuk makan dulu. Allent mencubit bahu Mell dan mengatakan, Mell, bagaimana kalau dia bilang kepada calon suami kamu bahwa kamu dengan mesra berjalan dengan seorang laki-laki.  Nanti kamu repot lho … Mell melirik Allent dengan hanya disambut dengan senyum yang hangat.

Tanpa disadari, tangan Mell mengandeng tangan Allent dengan erat. Saat itu, Allent bukan hanya terperanjat, tetapi juga seperti merasa terbang di angkasa. Ia merasa berada dalam ruang hampa dan membebaskan dirinya dari segenap pikiran subjektif orang lain. Hanya Bathin Allent heran, mengapa saat di pesawat, dia begitu cekatan menggeserkan tangannya saat bersentuhan dengan tanganku. Sementara di sini, dialah yang justru memegang tangan dan bahuku. Sambil memeluk, Mell berkata sangat pelan.

Sejak detik ini, sejak di mana aku kembali bertemu kamu, tampaknya pernikahanku akan lebih cepat dilangsungkan dibandingkan tadi pagi sebelum aku ketemu kamu. Allent makin heran, meski ia mulai membaca gejala bahwa yang dimaksud dengan calon suaminya itu, berkemungkinan dirinya sendiri. Dalam hati, Allent berkata: “Tuhan idzinkan aku memiliki Mell. Jadikanlah dia sebagai pendampingku”. Aku lelah.

Di tengah segenap lamunannya, Mell kembali bertanya: Hai kenapa kamu melamun. Jangan-jangan kamu yang takut ketahuan lho jalan sama cewek? Sambil mesem, Allent berkata: Ah kamu … tidak ada-lah. Sejak kematian istriku, harus aku katakan ….. tiba-tiba Mell ngajak duduk karena sudah sampai ke Capetaria yang dituju. Sambil duduk yu ngobrolnya, ajak Mell kepada Allent penuh semangat.

Mereka akhirnya duduk. Pelayan Capetaria datang membawa daftar menu makan. Kau mau makan apa Mell, Tanya Allent dengan sangat syahdu. Aku ikut saja kata Mell. Tidak lah kata Allent. Kau dokter, aku ingin tahu makanan apa yang sehat menurut dokter terbaik Indonesia ini. Ach kamu bisa saja. Dalam hati, Mell berkata: Allent kau sangat terdidik. Kamulah tipe-ku. Suamiku yang dulu memang sangat mencintai aku. Tetapi, ia tidak memiliki nalar cukup baik untuk menjadi laki-laki yang hangat.

Akhirnya, Mell dan Allent duduk dengan pesan makanan yang jauh dari lemak. Termasuk sedikit mengandung karbohidrat. Mereka banyak makan, makanan yang banyak mengandung serat. Mereka memilih memesan makanan khas Jepang. Kita makan khas Jepang aja ya, kata Mell. Okelah kata Allent. Ini juga dapat dijadikan moment merayakan pertemuan kedua kita, setelah pertemuan pertama di Jepang. Kamu tahu nggak Mell, menurut Deddy Dukun, pertemuan kedua, biasanya lebih hangat dan lebih mesra dibandingkan dengan pertemuan yang pertama. Ah kamu biasa aja lent, kata Mell sambil mncubit tangan Allent dengan lembut

Oooh ya, tadi sebelum duduk, kamu mau ngomong apa Lent. Sorry tadi kepotong. Habis kamu kayak tidak tahu jalan, bahwa tempat duduk sudah ada di depan kita. Iya … Mell. Begini ya, setelah kematian istriku, aku tak memiliki daya dan hasyrat untuk memilih perempuan lain. Harus saya katakan. Di tengah kehampaan segenap rasa, harus juga saya katakan bahwa kadang-kadang kau hadir dalam segenap khayalan dan imaginasi kreatifku sebagai laki-laki.

Waduch, menggangu dong aku. Tapi kalau boleh tahu, seperti apa sih imaginasinya. Aku jadi penasaran, pinta Mell penuh semangat. Begini ya … Mell. Aku beberapa kali ingin menemui kamu atau hanya sekedar ngontak kamu. Tapi, sayang, kamu kan tidak memberi alamat apa-apa sama aku. Apalagi nomor kontak kamu. Terus, jujur nich harus aku katakan, saat kamu masih menangis dengan keras, aku, kan salaman sama seorang ibu separuh baya, wajahnya mirip sama kamu. Ia memperkenalkan namanya Santi. Dan ternyata mama kamu. Mama kamu Santi kan. Dia memandang aku dalam pandangan khusus, yang seolah mengenal aku. Aku juga geer waktu itu, karena, seolah-olah ibu kami memiliki chemistri tertentu.

Yang lebih aku tidak mengerti dan suka mengganggu pikiranku, kadang bapak aku, namanya Alberta, suka nanyain kamu. Dia bilang begini. Kamu suka ketemu Mellissa Claudhya nggak? Dalam semingga serendahnya, khususnya kalau malam minggu, setidaknya ia bertanya kepadaku. Sewaktu-waktu aku guyon, bagaimana caranya aku ketemu dia pah. Dia menjawab, jika itu takdirmu, suatu waktu, kamu pasti ketemu.

Seumur-umum bapakku, nanya masalah perempuan. Ia paling bertanya bagaimana kondisi perusahaan? Berapa hutang dan berapa tagihan yang bisa ditarik. Lalu sampai di mana kerjasama A sampai dengan Z anda lakukan. Heran saya. Tentang kamu … dia suka nanyain terus. Ia seolah-olah sudah tahu, siapa kamu, di mana kamu berada dan profesi apa yang kamu jalani.

Saat Allent bercerita, Mell justru meneteskan air mata. Ia bukan hanya sekedar haru, tetapi, sesungguhnya itulah bagian lain yang juga menjadi pertanyaan ibuku. Mamiku suka bilang: Hai Mell, itu laki-laki yang ngantar kamu, orangnya sopan, ganteng lagi. Kali-kali diundang ke sini ya …. banyak hal Lent … suatu waktu dan jika waktu ini panjang kita jalani, aku akan cerita banyak kepada kamu.

Tetapi, lepas dari soal sikap pandang ibuku sama kamu, sejujurnya, sejak pertama aku bertemu kamu di Jepang dan melanjutkan omongan di Osaka dan di pesawat GIA, aku sesungguhnya, entah di mana dan bagaimana aku bisa turut larut dalam pikiranku sendiri. Aku sesungguhnya sejak saat itu, bukan hanya sekedar mengimaginasi kamu, tetapi, ada sesuatu yang aku harapkan dari kamu. Tetapi entahlah, apa itu namanya.

Apa yang dikatakan Mamih kepadamu tentang aku? Ya dia cerita bahwa, orang yang mengantar kamu ke Bandung, pasti baik. Hatiku kata mamih adalah hati seorang perempuan. Ia begitu tulus mencintai dan menyayangi kamu. Dan jujur kata ibuku, sewaktu kamu berjalan di altar rumah sakit, sekalipun kamu menangis, hatiku mengatakan, bahwa kamu, Mell sesungguhnya sangat senang berjalan beriringan bersama dirinya. Hanya karena waktu itu sedang dalam keadaan duka, mamih tak sanggup menyampaikannya.

Jika papih kamu hanya menyampaikan dalam seminggu sekali, setelah kejadian itu, mamihku selalu bertanya kepadaku tentang kamu, setidaknya tiga kali. Terpikir olehku untuk ngontak kamu. Hanya itu tidak mungkin. Kamu kan punya istri dan terbayang olehku betapa sibuknya kamu. Tetapi, di hati dan dibenakku sudah yakin bahwa aku akan menjadi pendampingmu.

Sejujurnya, dengan atau tanpa kematian suamiku, hatiku sudah terpaut dengan begitu kuat kepadamu. Aku tidak banyak berharap kamu dapat mencintai dan mengagumiku. Tetapi, ketika tadi kamu mengatakan istri kamu sudah meninggal, aku yakin, sebentar lagi masa kelajanganku akan berakhir.

Mell … jika benar kamu merasakan hal yang sama seperti aku merasakannya tentang kamu, boleh dong aku meminta nomor HP kamu. Sewaktu-waktu, barangkali ada waktu, aku ingin study banding ke poliklinik kamu. By. Charli Siera — Bersambung. Allent dan Mellisa bercerita kepada orang tuanya

Edisi Sebelumnya:

  1. Misteri Sang Ksatria Cinta. Part 1
  2. Dalam Sebuah Mihrab 
  3. Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu 
  4. Membunuh Rindu 
  5. My Endless Love
  6. Bertemu di Forum Budaya
  7. Kematian Tak Mengakhiri Cinta 
  8. Cinta dalam Dua Keluarga
  9. Selalu Misteri
  10. Love in the Sky 
  11. Diam Seribu Bahasa 
  12. Sosok Mellisa Claudhya
  13. Duka Allent ditinggal Mati Istri 
  14. Atrium Mengawal Cinta
Komentar
Memuat...