Memahami al Rahman dalam Basmallah |Refleksi Eknomi Dalam Tafsir Qur’ani-2

Memahami al Rahman dalam Basmallah |Refleksi Eknomi Dalam Tafsir Qur’ani-2
0 105

Memahami al Rahman dalam Basmallah. Al Rahman adalah satu dari 99 asma [ nama atau panggilan] Allah. Kata ini sekaligus mengandung makna sifat Allah. Sifat dan nama Allah inilah, yang pertama kali disebut al Qur’an. Kata ini terdapat pada kalimat “Bismillahirrahmanirrahiim. [Atas nama Allah Yang Maha pengasih [al rahman] dan Maha Penyayang [al rahiem].

Kata al Rahman, juga menjadi salah satu nama dari 114 surat dalam al Qur’an. Suatu surat al Qur’an yang memuat 78 ayat. Surat ini, termasuk surat yang ke 55 dalam posisi sebagai surat Makiyah. Kita tahu bahwa al Qur’an turun dalam dua kondisi, yakni Makiyah dan Madaniyah.

Kumpulan surat Makiyah, umumnya memuat tentang persoalan-persoalan akidah dan tata laku kehidupan manusia berhadapan dengan ketunggalan Tuhan. Inilah surat yang sebagian besar ayatnya menerangkan tentang kemurahan Allah. Ia adalah Dzat yang memberi nikmat kepada seluruh makhluk-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, Nabi Muhammad bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat al Rahman, maka, Allah akan menyayangi kelemahan dan meridlai nikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Al Rahman dalam Tata Lakon Kehidupan Manusia di Bumi

Kembali kepada persoalan al Rahman, maka, konsekwensinya adalah bagaimana kita sebagai makhluk yang menyembah-Nya itu, mampu mengimplementasikan rasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kita dituntut menumbuhkan semangat kasih sayang, sekalipun terhadap mereka yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan kita semua.

Jika kita sedikit reflektif, bukankah Allah tahu siapa di antara  makhluknya itu, yang mengakui dan menyembah-Nya. Siapa juga yang tidak mengakui dan tidak menyembah-Nya. Adalah mudah bagi Allah untuk hanya memberi rezeki kepada mereka yang mengakui dan menyembah-Nya dan tidak memberi sedikitpun rezeki bagi mereka yang tidak mengakui dan menyembah-Nya. Fakta bahwa yang mengakui dan tidak mengakui-Nya, atau kepada yang menyembah dan tidak menyembah-Nya, Allah tetap memberi rezeki.

Apa makna di balik semua pernyataan ini? Bagi mereka yang merasa telah menyembah Allah, persoalan penting yang segera mesti dilakukan adalah mengakui dan memberi kedudukan yang sama kepada semua makhluk Allah. Kita sebagai manusia yang beriman tidak patut jika manusia dibelah dalam belahan-belahan politik, ideologi, ras, etnik, budaya, bahasa dan bahkan agama. Jika kita tidak mampu memberi ruang kepada mereka yang berbeda dengan kita, maka, konsekwensinya, kita tidak termasuk di antara makhluk Allah yang mengimplementasikan kata bismillahirrahmanirrahiim. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...