Memahami Bahasa | Filsafat Bahasa-Part – 2

1 336

Memahami Bahasa. Setiap komunikasi, pasti membutuhkan dan menggunakan bahasa. Bahasa adalah alat sekaligus sarana berpikir. Inilah takdir terbesar kedua manusia setelah akalnya. Bahasa sebagai sarana dan alat komunikasi, ternyata memang hanya dimiliki manusia. Bahasa dalam pengertian ini, berfungsi sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan jalan pikiran seseorang kepada orang lain. Tidak ada struktur komunikasi terbaik yang dimiliki makhluk Tuhan lain, selain struktur komunikasi manusia, yang kemudian disebut bahasa.

Bahasa dapat membuat manusia berfikir secara sistemik. Aldous Huxley (1962) menyebut, tanpa bahasa, manusia mungkin sama dengan anjing atau kera. Ia menjadi makhluk yang kurang memiliki makna, seperti umumnya makhluk lain.

Bahasa dalam konteks filsafat, memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Sebab dengan bahasa, manusia mampu melakukan abstraksi sekaligus simbolisasi dari realitas faktual empiris ke dalam dunia ide. Jhon Lyon (1981) mengatakan bahwa: “a language is a system of arbritary vocal symbol’s by means of which a social group co-operates” (Bahasa adalah lambang di mana rangkaian bunyi suatu arti tertentu disimbolisasi).

Bahasa, dengan kata lain, dapat disebut sebagai proses simbolisasi realitas empiris dari pikiran manusia. Melalui simbolisasi ini, manusia dapat mentransformasi pengalaman, sekaligus dapat mengabadikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kemampuan sejenis ini, sekali lagi, hanya milik dan takdir buta manusia. Bukan milik makhluk Tuhan lain.

Fungsi Bahasa

Secara fungsional, bahasa dapat mendorong manusia melakukan proses transformasi ide atau gagasan. Melalui bahasa, manusia dapat melakukan proses berfikir dengan cara menarik realitas faktual ke dalam dunia ide, meski objek-objek faktual dimaksud tidak lagi faktual-empiris atau tidak lagi berada dihadapannya. Objek faktual itu, telah berada di luar jangkauan dirinya, Melalui bahasa, manusia dapat melakukan komunikasi apa saja dari satu subjek kepada objek lain atau dari satu subjek kepada subjek lain.

Menurut Louis O. Kattsof, bahasa dapat berguna untuk: Pertama. Mengkomunikasikan apa yang dipikirkan seseorang kepada orang lain. Misalnya, tiba-tiba saya memikirkan eksistensi kecantikan. Apa yang saya bayangkan tentang sesuatu yang disebut cantik, dapat saya komunikasikan melalui bahasa dalam bentuk yang ilmiah atau yang non ilmiah. Jadi ketika saya, maaf ditawari seorang gadis, saya telah memiliki tipologi sendiri tentang wanita cantik. Bisa sama, bisa juga tidak sama dengan orang yang membawa perempuan kepada saya itu. Yang akhirnya, diterima atau ditolak tawaran dimaksud.

Kedua. Bahasa dapat mengkomunikasikan objek yang kongkret kepada sesuatu yang abstrak. Simbol-simbol objek yang semula faktual, ditransformasi melalui symbol abstrak dalam bentuk bahasa, meskipun objek dari simbol dimaksud tidak lagi berada di tempat di mana komunikasi tersebut dilangsungkan. Misalnya, ketika saya suatu waktu, menyaksikan ada dua motor bertabrakan. Dari kejadian tadi, pengendara motor mengeluarkan darah dengan banyak. Lalu orang yang menumpangi motor tadi mati. Kejadian ini, dapat saya komunikasikan kepada orang lain di waktu yang berbeda — dengan simbol-simbol bahasa— meski predikat yang sampaikan kepada objek bicara saya, tidak lagi empiris-faktual karena yang saya bicarakan telah berada di kuburan.

Penggolongan Bahasa

Bahasa dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yakni: Bahasa alami (bahasa sehari-hari yang biasa digunakan manusia) dan bahasa buatan. Masing-masing penggolongan ini, memiliki cabangnya sendiri secara berbeda satu sama lain.

Bahasa alami dibagi dua bagian, yaitu bahasa isyarat dan bahasa biasa. Bahasa isyarat dibagi menjadi dua, yakni: bahasa isyarat biasa (berlaku umum) dan bahasa isyarat buatan (berlaku khusus). Mengangguk adalah bahasa isyarat biasa dan berlaku umum. Artinya isyarat itu dapat difahami bersama, yakni menyetujui suatu rumusan yang dimintakan persetujuan kepadanya dari seseorang yang menjadi mitra bicaranya. Menggeleng juga sama. Ia adalah bahasa isyarat biasa yang berlaku umum. Yakni, tidak menyetujui apa yang dimintakan persetujuan kepada orang yang menggeleng itu dari objek bicara yang berlangsung secara alami.

Bahasa isyarat buatan (berlaku khusus) dan hanya untuk orang khusus. Bahasa dan simbol yang digunakan juga berlaku khusus dan hanya berlaku untuk orang-orang khusus. Misalnya, bahasa yang digunakan untuk orang-orang bisu, hanya berlaku untuk orang bisu. Atau misalnya, simbol-simbol tertentu yang biasa digunakan para intelegen negara, biasanya digunakan dan hanya berlaku untuk para intelegen juga.

Bahasa biasa, secara umum biasanya digunakan untuk alat komunikasi harian. Simbol sebagai pengandung arti dalam suatu bahasa, disebut kata. Arti yang dikandungnya disebut makna.

Memahami Makna Kata

Makna kata dalam bahasa biasa, dapat dibedakan dalam dua jenis. Kedua jenis dimaksud adalah: pertama. Kata tertentu, untuk arti tertentu. Kata dimaksud dalam bahasa Indonesia disebut dengan denotasi. Ia tidak memiliki makna lain kecuali yang dikandung dari makna kata itu sendiri.

Misalnya, puncak, digunakan untuk menunjukkan batas tertinggi sebuah gunung. Rumusan kalimat berikut dapat menjadi contoh: Puncak gunung Ciremai mengandung es. Di puncak gunung tadi mengandung muatan larva dan genus pohon yang khusus. Kata puncak untuk kalimat gunung tadi, disebut denotatif.

Kedua, kata tertentu untuk sesuatu yang berbeda atau memiliki makna lain dari makna yang dikandung oleh kata tertentu. Kata puncak tadi, dapat berarti lain, ketika kalimat yang disusun menjadi: “Soeharto adalah puncak kejayaan Ekonomi Republik Indonesia, di zaman Orde Baru”. Kata puncak untuk kalimat yang kedua, tidak lagi disebut denotatif. Ia telah berubah menjadi kata yang konotatif karena maknanya bukan ujung sebuah gunung, tetapi, ia menjadi Presiden -sebagai puncak pemerintahan— yang “berhasil”.

Bahasa Buatan

Bahasa buatan berbeda dengan semua yang ada dan telah diterangkan di atas. Bahasa buatan disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan akal semata. Kata yang terkandung dari jenis ini disebut istilah. Arti yang dikandungnya disebut konsep.

Bahasa buatan dapat dibagi menjadi dua. Bahasa istilahi dan bahasa artifisial. Bahasa istilahi rumusannya diambil dari bahasa biasa dan sering memunculkan kekaburan makna jika tidak diberi penjelasan sesuai dengan bidang keilmuwan yang tercakup dari bahasa dimaksud.

Misalnya, kata demokrasi. Kata ini dapat melahirkan kekaburan makna jika tidak dijelaskan oleh mereka yang kompeten di bidang ilmu politik, ahli di bidang pendidikan kewargaan dan bahkan mungkin mereka yang menjadi praktisi politik kenegaraan.

Bahasa buatan yang bersipat artifisial adalah murni bahasa buatan. Bahasa jenis ini sering pula disebut sebagai bahasa simbolik. Bahasa ini umumnya digunakan untuk logika matematik dan logika statistik. Misalnya, 4 x 4 = 16. Atau 34 x 20 = 680. Simbol-simbol bahasa ini, disebut dengan bahasa artifisial (logika matematika). Dalam logika statistik, dapat pula dirumuskan ([a = b] A [b = c] = [b = c] atau = [a = c]). **| Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Aldi Nurcahya / PPI 1 berkata

    Seluruh mahluk di bumi ini saya fikir memiliki bahasa,mereka berinteraksi atau berkomunikasi dengan cara mereka masing – masing sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya di alam ini. Sebagai contoh ayam kecil selalu ribut ketika hendak lapar atau akan makan. Itulah bahasa mereka.
    Jika saya simpulkan, bahasa iti ada yang berbentuk oral communication, written dan ada pula gesture.
    But, the most important things, bahasa itu yg paling penting “Kamu paham, saya paham”
    Ygpentint antara communican dan communicator salibg memahami atau ada kesepatan antara keduanya.
    Thanks

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.