Memahami Etika, Moral dan Agama

1 616

Persoalan etika berkaitan dengan eksistensi manusia dalam segala aspeknya, baik dalam berhubungan dengan Tuhan, alam, sesamanya  dan dengan diri manusia sendiri, baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama. Etika dapat dipandang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang fundamental, yaitu  bagaimana manusia harus bertindak dalam kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan yang fundamental tersebut akan dijawab secara aksiologis  yang diupayakan oleh tindakan manusia yang dikenal dengan nilai.

Sebagai makhluk hidup yang bertubuh, berbudi, berjiwa, dan berruh, manusia tidak hanya terkurung dalam tubuhnya sendiri. Ia mampu bertransendensi atas diri dan lingkungan hidupnya. Seperti  sebagai subjek moral, sebagai makhluk menyejarah,dan sebagai totalitas.  Etika timbul dari kepentingan sosial yang tecermin dalam adat dan kebiasaan individu.

Jika setiap individu berbuat untuk memuaskan seleranya masing-masing,   maka masyarakat tidak dapat berdiri.  Oleh karena itu, setiap individu harus bersedia melepaskan sebagian dari kepentingannya. Dengan kepercayaan yang tulus dan pikiran yang logis, manusia harus menggambarkan dirinya sebagai hidup “di bawah pengawasan Tuhan,” dengan  meneladani pada;  sifat etis Tuhan, sikap etis manusia terhadap Tuhan,  sikap etis manusia terhadap sesamanya.  Dari ketiga dasar etika di atas, menunjukkan  bahwa pandangan al-Qur’an terhadap alam secara esensial bersifat teosentris.

Etika adalah cabang filsafat yang mencari hakikat nilai baik dan jahat. Etika juga disebut filsafat moral, yaitu cabang disiplin aksiologi yang berbicara dan berusaha mendapatkan kesimpulan tentang norma tindakan, serta pencarian ke dalam watak moralitas atau tindakan-tindakan moral. Dalam konteks ini etika menganalisis  konsep-konsep seperti keharusan, kemestian, tugas, aturan-aturan moral, benar, salah, tanggung jawab dan lain-lain. (Baca: Teori TentangEtika)

Secara etis, makna “baik” mengarah pada persetujuan, anjuran, keunggulan, kekaguman dan keselarasan. Aspek-aspek tersebut bermaksud untuk menyampaikan sesuatu yang ramah, menguntungkan, disukai, jujur dan terpuji. Sementara “kejahatan” bermakna sebaliknya, yaitu sebagai sesuatu yang secara moral jelek atau tidak dapat diterima. Unsur utama dari kejahatan pada dasarnya terletak pada prosesnya yaitu menunda atau menolak tercapainya tujuan ideal, kebahagiaan dan kesejahteraan, baik individu maupun sosial.

Etika berkaitan dengan perbuatan dan tindakan seseorang, yang dilakukan dengan penuh kesadaran berdasarkan pertimbangan pemikirannya. Persoalan etika berkaitan dengan eksistensi manusia dalam segala aspeknya, baik dalam berhubungan dengan Tuhan, alam, sesamanya  dan dengan diri manusia sendiri, dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama. Meskipun etika membahas bidang dan masalah-masalah tersebut, tetapi tugas utama filosof etika bukan memberikan petunjuk praktis secara detail terhadap aturan-aturan etis, melainkan memberikan orientasi dan pengetahuan yang fundamental, krusial terhadap dilema yang menyangkut masalah kualitas baik dan buruk. ** Drs. Ahmad Munir

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Aldi Nurcahya berkata

    Etika, etis atau yg sering saya sebut sebagai adat istiadat.. di kampung saya disebut tatakrama sebagai dasar penilaian bagi setiap individu tentang baik buruk nya seseorang.
    Orang berilmu jika tidak memiliki etika yag baik, akan dipandang kurang baik
    Semestara itu, orang yang kurang dalam pengetahuan, tatapi ia meiliki etika yg baik.. mereka akan memandangnya baik…
    So, etika dan pengetahui seharusnya berjalan lurus.. dimana semakin tinggi orang ilmunya, sudah sepatutnya etika pun bertambah baik.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.