Memahami Huruf Ba dalam Basmallah | Refleksi Eknomi dalam Tafsir Qur’ani – Part 1

Memahami Huruf Ba dalam Basmallah
0 246

Memahami Huruf Ba dalam Basmallah. Ketika masih duduk di kelas IV SD, secara non program, saya suka mengikuti pengajian tafsir. Tafsir yang suka di sorog santri-santri di Pesantren Miftahul Jannah, Tasikmalaya Selatan. Tempat di mana saya dilahirkan dan dibesarkan. Tasir dimaksud bernama Jalalain.

Keikutsertaan saya dalam kajian dimaksud, tentu dilakukan dengan segenap ketidakmengertian. Maklum hanya sekelas anak ingusan yang tidak dituntut memahami apapun, kecuali mendengarkannya dengan tekun. Untuk dan karena itu, kadang saya hanya mampu mengenal dan mengingat apa yang disampaikan kyai. Tidak mampu memikirkan apa sesungguhnya yang sedang dipelajari. Apalagi jika harus dikorelasikan dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari. Itulah masa lalu yang telah tersimpan di kortex otak kanan saya.

Salah satu yang masih teringat akan pengajian tafsir itu adalah, ketika Kyai Haji Kholid menerangkan tentang intisari al Qur’an. Intisari yang mampu difahami para mufassir al Qur’an atas berbagai kandungan ayat yang terdapat didalam-Nya. Salah satu pernyataannya itu adalah bahwa al Qur’an secara substantif terdapat dalam surat al Fatihah. Karena itu, al fatihah sering disebut dengan um al Qur’an.

Lebih dari, Sang kyai melanjutkan lagi. Ia menyatakan bahwa Al Fatihah sendiri secara sublimatif masih dapat disimplikasi dalam basmalah. Karena itu, menurutnya, di masa lalu banyak orang sakti hanya dengan membaca basmallah. Substansi al Qur’an terdapat pada ayat atau surat Basamalah. Ternyata tidak hanya sampai di situ. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa basmallah masih dipersempit lagi, yakni bahwa simplikasi ayat atau surat dimaksud terdapat pada huruf ba. Ba dari kata bismillahirrahmanirrahiim ….

Bagaimana memahami al Qur’an yang memuat 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat itu, hanya terdapat pada huruf ba di dalam surat sekaligus ayat bismillahirrahmanirrahiim. Sekali lagi sangat sulit difahami anak usia kecil. Pernyataan itu sering diulang kyai ketika saya sendiri dewasa dan mengenyam pendidikan pesantren di tempat lain.

Saya mungkin baru dapat menyadari makna huruf ba dalam ayat dimaksud, ketika umur sudah menginjak lebih dari 40 tahun. Itupun belum tentu benar karena saya tidak memiliki otoritas ilmiah dalam kajian tafsir. Namun secara redaksional, saya mencoba menafsirkannya dengan mengartikan kata bismillah dimaksud bukan dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tetapi, saya lebih memilih untuk menerjemahkannya dengan: Atas nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Apa beda makna dari kata dengan menyebut dan atas nama Allah. Jika mengartikan Dengan Nama Allah, maka, konsekwensinya kita hanya menjadi penyerta dalam segenap tindakan yang dilakukan. Sementara jika diterjemahkan dengan menyebut atas nama Allah, maka, kita bukanlah penyerta, tetapi, semua tindakan kita akan dan harus mewakili Tuhan. Karena mewakili Tuhan, maka, semua harus mencerminkan karakter Tuhan.

Makna Kehidupan

Jika diterjemahkan dengan atas nama Allah, maka,  semua tindakan yang membaca al Qur’an adalah harus dapat dipertanggungjawabkan.  Sementara, kalau diterjemahkan dengan menyebut dengan nama Allah, maka, tindakan yang dilakukan manusia adalah bersipat antara dan tidak mencakup makna pertanggungjawaban personal. Mari kita perhatikan ayat al Qur’an berikut dalam al Qur’an surat al Naml [27]: 27-31 berikut ini:

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Atas nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri .

Dari situ dapat dimaknai, bahwa apa yang dilakukan Sulaiman itu, mewakili Allah. Seluruh tindakan yang dilakukan Sulaiman ketika mengajak Ratu Balqis untuk memeluk ajaran Allah sekalipun, merupakan ejawantah dari keharusan dirinya sebagai wakil Allah. Konsekwensi dari posisinya sebagai wakil Allah itu, maka, tindakannya harus mencerminkan sipat Allah itu sendiri. Inilah mengapa bismillahirrahmanirrahiim,  menjadi magma penting dalam membangun hidup manusia yang mengimani-Nya. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...