Memahami Ilmu Pengetahuan| Filsafat Ilmu Part – 9

Memahami Ilmu Pengetahuan
0 2.146

Kata Ilmu (B. Ind) berasal dari bahasa Arab, a’lama, artinya pengetahuan. Kata ini sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris yang merupakan serapan dari Bahasa Latin, scio, scire yang arti dasarnya, menurut Sidi Ghazalba (1973) berarti  pengetahuan.

Ada juga yang menyebut bahwa science berasal dari Bahasa Latin sciere dan scientin yang artinya pengetahuan dan aktivitas mengetahui. M. Quraish Shihab (1992) berpendapat bahwa ilmu berasal dari bahasa Arab, Ilm. Arti dasarnya adalah kejelasan atau sesuatu yang sudah jelas.

Karena itu, segala bentuk kata yang terambil dari akar kata ‘ilm seperti kata ‘ulmat (bibir sumbing), ‘alam (gunung-gunung) dan ‘alamat selalu mengandung objek pengetahuan. Ilmu dengan demikian dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Memahami Ilmu dan Pengetahuan Perspektif Filsafat.

Persamaan dan Perbedaan Ilmu dan Pengetahuan

Pengetahuan sendiri, semakna dengan kata knowledge (B. Inggris) yang sering diartikan dengan sejumlah informasi yang diperoleh manusia melalui pengamatan, pengalaman (empiri) dan penalaran (rasio). Pengetahuan tentu berbeda dengan ilmu, terutama dalam pemakaiannya.

Ilmu lebih menitikberatkan pada aspek teoretis —yang pasti mensyaratkan proses teoretisasi— dari sejumlah pengetahuan yang diperoleh dan dimiliki manusia. Itu pula yang menyebabkan saya, harus mengatakan bahwa Ilmu sama dengan teori. Sedangkan pengetahuan tidak mensyaratkan adanya teoretisasi dan pengujian.

Kebenaran ilmu menuntut generalisasi. Ia didiperoleh melalui sejumlah penelitian dan pembuktian dari hanya sekedar pembenaran rasio. Sedangkan pengetahuan belum dapat digunakan untuk proses generalisasi. la tidak menuntut penelitian dan pengkajian lebih lanjut.

Setiap jenis pengetahuan, pada prinsipnya selalu berguna untuk memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang muncul dalam diri seseorang. Pengetahuan selalu memberi rasa puas dengan menangkap tanpa ragu terhadap sesuatu. Pengertian pengetahuan seperti itu telah membedakannya dengan ilmu yang selalu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari hanya sekedar dituntut pengetahuan (Mundiri, 2000). Kesan yang muncul atas definisi di atas adalah pengetahuan berbeda dengan ilmu. Pengetahuan adalah sejumlah informasi yang menjadi landasan awal bagi lahirnya ilmu. Tanpa didahului oleh pengetahuan, ilmu tidak akan pernah ada dan mungkin tidak akan pernah lahir.

Al-Ghazali (tt: 7-12) mengartikan pengetahuan sebagai hasil aktivitas mengetahui, yakni: tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya. Menurut al-Ghazali, jiwa yang tidak ragu terhadap apa yangdiketahui menjadi syarat mutlak diterimanya pengetahuan.

Misalnya, seseorang mengetahui dan meyakini bahwa ada sepuluh Malaikat yang wajib diketahui. Pengetahan tentang sejumlah Malaikat yang sepuluh dan wajib diketahui itu, tetap dipertahankannya meskipun ada guru atau kaum cerdik cendikiawan lain menyatakan bahwa bukan sepuluh, jumlah Malaikat yang wajib diketahui, melainkan hanya ada lima. Pengetahuan yang dibarengi dengan keyakinan seperti itu, disebut al-Ghazali sebagai pengetahuan.

Ahmad Tafsir (1992) berpendapat bahwa pengetahuan berlangsung dalam dua bentuk dasar dan fungsi yang berbeda. Pertama, pengetahuan berfungsi untuk dinikmati dan memberikan kepuasan kepada hati manusia seperti terdapat dalam kajian mistik dan filsafat, dan; Kedua, pengetahuan yang patut digunakan atau diterapkan dalam menjawab kebutuhan praktis kebutuhan manusia seperti yang terdapat dalam sains. Masing-masing jenis dan fungsi pengetahuan kemudian memiliki objek, pradigma, metode dan ukurannya sendiri-sendiri, yang satu sama lain sangat berbeda.

Kajian terhadap pengetahuan, ilmu dan dasar-dasar yang mengitarinya, akan coba dijawab di bab ini. Bab ini menjelaskan dasar-dasar pengetahuan yang meliputi penalaran logika dan kriteria kebenaran. Kemampuan seseorang dalam meletakkan dasar-dasar ini, akan menyebabkan dirinya berkemampuan untuk mengembangkan pengetahuan yang menjadi rahasia kekuasaan Tuhan, dan sekaligus dalam perspektif teologi keislaman dapat menjadi semacam penguat akan fungsinya sebagai khalifat fi al-ard (penguasa di bumi, penjaga di bumi dan pengganti “Tuhan” di bumi) untuk mengurusi alam sesuai dengan kepentingan manusia. Tentu perjalanan manusia yang demikian itu didasarkan atas apa yang “dikehendaki” Tuhan. Dalam bahasa yang agak filsofis, rantaian pemahaman ini akan mendorong orang untuk berkemampuan membaca qudrat, iradat dan rnasy’at Tuhan.

Ilmu Beda dengan Pengetahuan

Athur Thomson mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta, pengalaman secara lengkap dan konsisten meski dalam perwujudan istilah yang sederhana. S. Hornby (1996: 307) mengartikan ilmu, “Science is organized knowledge obtained by observation and testing of fact” (ilmu adalah susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta). Kamus Bahasa Indonesia, menerjemahkan ilmu sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menu-rut metode-metode tertentu, sarana dan alat tertentu pula.

Jika perangkat pengetahuan itu mampu dikonstruk dan digunakan, maka sekaligus ia dapat menerangkan gejala-gejala tertentu pula. Kamus ini juga menerangkan bahwa ilmu dapat diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, lahir batin.

Poincare (1975: 272) menyebutkan bahwa ilmu berisi kaidah-kaidah dalam arti definisi yang bersembunyi (science consist entirely of convention in the sence of disguised definitions). Pengertian dan kandungan ilmu yang dicoba ditawarkan Poincare ini, harus pula diakui memperoleh penolakan dari sebagian ahli. Bahkan ada anggapan yang menyatakan bahwa pikiran Poincare ini merupakan kesalahan besar.

M Le Ray seolah menjadi antitesis dari pemikiran Poincare. Le Ray misalnya menyatakan bahwa “Science it consis only of conventions and it is solely to this circumstance that it owes its apparent certaintly”. Le Ray juga menyatakan bahwa science can’t teach us the truth, it’s can serve us only as a rule of action (ilmu tidak mengerjakan tentang kebenaran, ia dapat menyajikan sejumlah kaidah dalam berbuat). Dari beberapa definisi ilmu di atas, maka, kandungan ilmu berisi tentang; hipotesa, teori, dalil dan hukum.

Hakikat ilmu bersifat koherensi sistematik. Artinya, ilmu harus terbuka kepada siapa saja yang mencarinya. Ilmu berbeda dengan pengetahuan. Ilmu tidak pernah mengartikan kepingan-kepingan pengetahuan berdasarkan satu putusan tersendiri. Ilmu justru menandakan adanya satu keseluruhan ide yang mengacu kepada objek atau alam objek yang sama dan saling berkaitan secara objektif. Setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya.

Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing-masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang sepenuhnya belum dimanfaatkan. Ilmu membutuhkan metodologi, sebab dan kaitan logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berfikir metodik. Alat Bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmu adalah termionologi ilmiah.

Kategorisasi Ilmu

Dilihat dari kategorinya, ilmu dibagi menjadi beberapa bagian. Syed M. Naquib al-Attas (2003), menyebut bahwa ilmu dapat dibagi menjadi dua kategori. Iluminasi atau ilmu rnn’rint dan ilmu sains. Ilmu ma’rifat menurut al-Attas adalah ilmu yang langsung diberikan Allah kepada manusia berupa wahyu, ilham dan irhas. Ilmu ini diberikan Allah kepada mereka yang taat menjalankan ibadah dengan tulus namun dibarengi pengetahuan yang luas melalui berbagai pendekatan,

Ilmu ma’rifat dapat disebut sebagai makanan jiwa manusia. Sedangkan sains dianggap al-Attas sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fisik dan objek-objek yang berhubungan dengan aspek-aspek fisik tadi. Ilmu kedua ini dianggap al-Attas dapat dicapai oleh manusia melalui penggunaan daya intelektual dan jasmaniah. Ilmu pengetahuan ini bersifat acak dan pencapaiannya menempuh jalan yang bertingkat-tingkat. S. Nasution, mengkategorikan ilmu menjadi dua bagian. Kedua bagian ilmu itu adalah: ilmu murni (teoritis) dan ilmu terapan (praksis). Ilmu murni menghasilkan prinsip umurn yang dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah praktis yang dihadapi umat manusia. Sedangkan ilmu terapan mengungkapkan fakta-fakta baru yang mendukung teori atau yang menguji kemampuan teori.

Sidi Ghazalba (1973) mengkategorikan ilmu dalam kategori yang agak luas dibandingkan dengan tokoh-tokoh tadi. la mengkategorikan ilmu menjadi enam  Keenam kategori ilmu yang digagas Sidi Ghazalba itu adalah:

  1. Ilmu Praktis. Ilmu dengan kategori ini hanya sampai pada hukum umum atau abstrak. Namun demikian, kategori ilmu ini tidak hanya berhenti pada teori, tetapi ia berjalan menuju dunia nyata, kategori ilmu ini mempelajari hubungan sebab akibat untuk ditetapkan dalam alam nyata. Rumusan kategori ilmu yang demikian berpijak pada siklus alam yang berubah secara dinamik dan teratur.
  2. Ilmu praktis Nonuatif Kategori ini sudah memberi ukuran (krikteria) dan norma-norma.
  3. Ilmu Praktis Positif. Ilmu ini diberikan ukuran atau norma- norma yang lebih khusus daripada ilmu praktis normatif. Norma yang dikaji adalah bagaimana membuat suatu tindakan yang harus dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu.
  4. Ilmu Spekulasi-Ideografis. Kategori ilmu ini tujuannya untuk menguji kebenaran objek dalam wujud nyata dalam ruang dan waktu tertentu.
  5. Ilmu Spekulasi-Nometetis. Kategori ilmu ini tujuannya untuk mendapatkan hukum umum atau generalisasi substantive.
  6. Ilmu Spekulasi-Teoritis. Kategori ilmu ini bertujuan memahami kualitas kejadian untuk memperoleh kebenaran dari suatu keadaan atau peristiwa tertentu. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna
Komentar
Memuat...