Memahami kata al Hamdulillah dalam al Fatihah |Refleksi Eknomi dalam Tafsir Qur’ani-4

Memahami kata al Hamdulillah dalam al Fatihah |Refleksi Eknomi dalam Tafsir Qur’ani-4
0 262

Kata al hamdulillah, setidaknya digunakan dalam enam ayat. Dari keenam ayat dimaksud, kalimat tersebut setidaknya menjadi awal surat di lima surat al Qur’an. Kelima surat yang diawali dengan kalimat al hamdulillah itu adalah sebagai berikut:

Surat al Fatihah [1]: 2 dengan kalimat: Segala Puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. [2]. Surat al An’am [6: 1] yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah Menciptakan langit dan bumi.” [3]. Al Kahfi [18: 1] yang artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah Menurunkan Kitab (al-Quran) kepada hamba-Nya”. [4]. Surat Saba’ [34: 1] artinya: “Segala puji bagi Allah yang Memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”, dan; [5]. Surat Fathir [35: 1] yang artinya: ““Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi”.

Sedangkan kata al hamdulillah yang digunakan selain di awal surat tersebut, masih juga terdapat dalam surat al Isra [17: 111]. Dalam ayat dimaksud, berfirman: “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”

Segala Puji Hanya Milik Allah

Mengapa kata hamdalah diawali dengan huruf alif dan lam? Secara bahasa, hal ini mengandung makna bahwa pujian itu hanya milik Allah. Sifatnya makrifah [khusus] bukan nakirah [umum]. Selain Tuhan, termasuk Nabi sekalipun, tidak diberi kewenangan untuk memiliki sipat pujian. Mengapa? Karena Allah itu tunggal dan yang layak untuk dipuji tentu harus wujud yang juga tunggal, yakni Allah.

Hal ini juga menimpa kepada salah satu sahabat, dalam suatu periwayatan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Nasa’i. Pada hadits dimaksud disebutkan bahwa: Seorang sahabat bernama al-Aswad bin Sari, tiba-tiba bekata: “Ya Rasulullah, maukah engkau aku puji dengan berbagai pujian seperti yang aku sampaikan untuk Rabb-ku. Yakni Allah Tabaraka wa Ta’ala. Di luar dugaan sahabat tersebut, Rasul bersabda: Sesungguhnya Rabb-mu menyukai pujian (al-hamdu). Artinya, Nabi Muhammad sendiri menolak pujian karena ia sadar bahwa yang layak dipuji hanya Allah.

Pertanyaannya, mengapa pujian itu hanya milik Allah? Sebab tidak mungkin ada satu makhluk-pun yang mampu memberi sesuatu sebagaimana Allah memberinya. Karena kita menjadi maklum, apa yang dikatakan Bisyr bin Imarah yang meriwayatkan hadits dengan sumber Abu Rauq dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas. Di hadits tersebut dijelaskan bahwa: “Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Artinya, segala puji bagi Allah pemilik seluruh makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi. Apa yang ada di antara langit dan bumi, juga adalah kepunyaan Allah. Kepunyaan Allah di langit dan di bumi serta di seluruh tata surya lainnya, yang dapat diketahui, ada juga yang tidak dapat diketahui. 

Membangunkan Kesadaran Sosial

Apa makna di balik berbagai pernyataan di atas dalam konteks penataan bisnis? Saya melihat bahwa sebetapapun manusia kaya, atau memiliki kekayaan yang sangat luar biasa menurut ukuran manusia, ia tetap tidak mungkin sebanding dengan kekuasaan dan kepunyaan Allah. Karena itu, tidak patut jika kita harus merasa sombong atas apa yang kita miliki.

Harus dicatatkan bahwa karena Tuhan menjadi pemilik dan penjaga seluruh kekayaan-Nya, maka, Dia memiliki cara untuk memberi atau mengambilnya. Kapanpun sesuka-suka Tuhan Dia bisa mengambil atau memberinya kepada siapapun yang Dia suka. Hanya hamba Tuhan yang selalu bersyukur, dicirikan dengan memuji Tuhan salah satunya, yang bakal kemungkinan dijaga kekayaannya oleh Tuhan.

Secara teori perbisnisan, mereka yang tidak sombong pula yang bakal mampu mempertahankan bisnis dan usahanya. Yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan rasa tawadlu itu, dialah yang bakal mengalami kebangkrutan. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...