Memahami Makna Ahl al Bayt dan Syi’ah

0 87

Ahl al Bayt, itulah awalnya. Kalimat inilah yang menjadi perdebatan sengit dan melahirkan ragam tafsir teologis dengan tingkat perbedaan yang beragam. Karena perbedaan dalam menafsirkan kata itu pula, dunia Islam terbelah. Belahan dimaksud, salah satunya adalah Syi’ah dan mereka yang bukan syi’ah.

Syi’ah diketahui bersama adalah kelompok yang melegitimasi dirinya sebagai pecinta dan pelindung ahl bayt. Mereka merasa bahwa, setelah kewafatan Rasul Muhammad, ahl al bayt tidak banyak dilibatkan dalam kancah politik dunia Islam. Bahkan ada kesan, keluarga besar Nabi disingkirkan dan dijauhkan dari hirarki kekuasaan. Padahal, menurut mereka, seharusnya, keluarga Nabi itulah yang menjadi penerus [estafeta] kepemimpinan pasca kewafatan Rasul dimaksud.

Lebih dari itu, pasca kewafatanAi?? Muhammad, kekuasaanAi?? Islam yang baru bertumbuh di Mekkah belasan tahun itu, dalam anggapan mereka, kembali berada dalam pangkuan keluarga Umayah dan kroni-kroninya. Mereka disebutnya sebagai sejatinya musuh Islam. Pemimpin Umayah, yang salah satunya direfresentasikan Abu Sufyan, baru masuk Islam ketika terjadi futuh Mekkah, beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan sebelum Nabi meninggal.

Karena itu, menurut kami, memahami kata ahl al bayt ini menjadi penting. Sebab jika dalam nalar kita menyebut bahwa ahl al bayt ini terbatas misalnya apda Fatimah/Ali dan keturunannya, maka, tak pelak jika ada asumsi yang menyebut bahwa seharusnya memang Ali yang menjadi khalifah. Namun demikian, jika, makna ahl al bayt ini sedikit dilebarkan, maka, apa yang direfresentasikan Abu Bakar, Umar dan Usman, adalah bagian dari ahl al bayt juga.

Makna Ahl al Bayt

Kata ahl al bayt, terambil dari suku kata yakni ahl dan al bayt. Kata ahl berarti menghuni atau penghuni. Misalnya, jika anda menyebut ahl al makkah atau ahl al Qoryat, maka, artinya adalah mereka yang tinggal di Mekkah atau mereka yang tinggal di sebuah kampung. Ahl al Islam dapat pula diterjemahkan dengan mereka yang memeluk agama Islam.

Ahl al bayt secara bahasa berarti penghuni rumah. Namun demikian, kata ahl al bayt, memperoleh penyempitan makna, menjadi ahl al bayt al Nabi. Artinya, keluarga Nabi Muhammad yang terdiri dari para isrti, anak-anak Nabi, khususnya anak perempuannya yakni Fatimah dan kerabatnya Yakni Ali dan anak-anaknya yang dilahirkan dari Fatimah, khususnya keluarga Hasan bin Ali dan Husein Bin Ali. Inilah tafsir yang dipakai mereka yang selama ini menjadi pecinta ahl al bayt [syi’ah]

Dalam makna yang lebih luas, ahl al bayt sering diterjemahkan sebagai keluarga Nabi Shallallahu ai???alaihi wa sallam. Mereka adalah kelompok manusia yang diharamkan memakan zakat dan shadaqah. Ai??Siapa mereka itu? Menurut banyak catatan, yang disebut ahl al bayt adalah Keluarga Ali, keluarga Jaai??i??far, keluarga Aqil, keluarga Abbas, Ai??keluarga bani Harist bin Abdul Muthalib, serta para istri beliau dan anak anak yang dilahirkannya. Inilah tafsir yang selama ini digunakan mereka yang menyatakan diri bukan sebagai kelompok syi’ah.

Mana yang benar? Kita tidak tahu! Masing-masing memiliki argumentasi yang menurut mereka sama-sama kuat. Namun yang pasti bahwa mencintai ahl al bayt [keluarga Nabi], sebenarnya adalah bagian ciri seseorang disebut sebagai manusia beriman. Mencintai ahl al bait merupakan pilar kesempurnaan iman seorang muslim. Pernyataan cinta terhadap keluarga dimaksud, seharusnya bukan hanya milik syiai??i??ah, tetapi juga milik semua pengikut Nabi Muhammad.

Apakah Istri Nabi Ahl al Bayt?

Menurut saya, shalawatan adalah salah satu ciri bahwa seseorang layak disebut mencintai keluarga Nabi, tentu apalagi terhadap Nabinya. Jadi soal cinta terhadap Nabi dan keluarganya, akan menjadi demikian kompleks maknanya, sebab, shalawat tidak hanya berbicara soal do’a kepada Nabi, tetapi, juga pengakuan do’a atas seluruh keluarga Nabi. Jika ukurannya ini, maka, Muslim Indonesia, mayoritas adalah Sy’ah?

Apa betul? Tentu tidak! Terlampau banyak argumentasi yang menyuguhkan suatu nalar bahwa sy’ah tidak semata-mata soal cinta atau apalagi soal shalawat atas Nabi dan keluarganya.

Khusus menyangkut istri Nabi, terjadi perdebatan di kalangan para ulama Islam. Ada yang mengatakan istri-istri Rasul termasuk ahl al bayt, meski tidak sedikit yang meragukan atau bahkan menolaknya. Namun, jika kita membaca Tafsir Ibnu Katsir terhadap surat al al ahzab [33: 33], yang artinya:

ai???Dan taatlah kalian kepada Allah dan rasulNya,sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan rijs dari kalian wahai ahlul bait dan memberbersihkan kalian sebersih-bersihnya.

Menurut Ibnu Katsir, orang mukmin yang memahami Al Quran, tidak akan pernah ragu untuk menyebut bahwa istri-istri Nabi Muhammad masuk ke dalam kategori Ahl al bayt. Ai??Ayat tadi, menurutnya, telah menunjukkan dengan jelas bahwa para istri Nabi termasuk ahl bayt. Jika mereka tidak termasuk, maka, menurut Ibnu Katsir, tidak ada faidahnya mereka disebutkan dalam ayat tadi.

Hal ini diperkuat juga oleh sabda Nabi Muhammad yang menjelaskan dalam salah satu periwayatan, yakni Imam Bukhari. Beliau bersabda : ai???Ya Allah berilah keselamatan atas muhammad dan istri-istrinya serta anak keturunannya. Inilah nalar yang dipakai mereka yang bukan syi’ah yang menyebutkan akhirnya, bahwa Abu Bakar, Umar dan Usman adalah ahl al bayt juga. Karena itu, dalam nalar ini, mereka tidak tepat untuk disebut sebagai perampas hak Ali atas klaim kekuasaan yang disandingkan para pendukung setianya. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.