Take a fresh look at your lifestyle.

Memahami Makna Estetik | Kajian Nilai Part – 1

0 61

Makna Estetik. Hampir tidak ada kaum terdidik yang tidak pernah mengenal atau mendengar kata estetik. Meski mungkin tidak semua orang mampu memahami maknanya secara utuh. Namun sekedar mendengar dan melafalkannya, saya kira akan sangat untuk menyebut tidak pernah.

Misalnya, estetika sering diidentikkan dengan makna kecantikan, keindahan dan kenikmatan. Atau diidentikkan dengan sesuatu yang layak disebut cantik, indah dan nikmat. Apa benar begitu? Ternyata tidak dan bukan demikian! Estetika adalah ilmu. Dalam makna lain harus diterjemahkan sebagai studi kritis terhadap apa yang disebut cantuk, indah dan nikmat.

Misalnya, ada seorang anak remaja, katakan namanya Andi Permana. Suatu waktu dia melihat ada seorang wanita yang yang badannya tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, matanya berbinar, bibirya sensual dan rambutnya terurai. Menurutnya, wanita semacam itu disebut estetik. Penilaian terhadap sesuatu yang disebut berestetik tadi, tampaknya dipengaruhi pikirannya dalam pendekatan yang sensual fisik dan cenderung materialistik.

Pertanyaannya, apakah penilaian Andi Permana mewakili seluruh laki-laki yang menyimpulkan hal sama, terhadap sosok yang disebutnya cantik? Ternyata tidak! Banyak laki-laki lain yang akan mengasumsikan hal dimaksud dalam makna lain, atau bahkan dalam makna sebaliknya.

Pertanyaan lainnya, apakah penilaian Andi Permana salah? Tidak juga! Fakta memang banyak wanita yang diasumsikan cantik, sebagaimana Andi Permana memahaminya. Tetapi, apakah semua wanita dalam frem tertentu, yang disebut cantik itu harus seperti apa yang dipersepsikan Andi Permana? Ternyata tidak dan bukan. Buktinya, penilaian saudara Andi terhadap sesuatu yang disebut estetik itu, berbeda dengan teman saya yang lain. Estetik dalam perpektif Saudara Andi cenderung fisik. Kalau mengikuti nalar filosof, cenderung Aristotalian.

Esensialitas Kecantikan

Sebut misalnya, apa yang diasumsukan Ruslan Abdul Ghani dan Shohib Muslim. Kedua sosok ini berasumsi, bahwa yang estetik atau cantik itu bukan pada sesuatu yang bersipat fisik yang ditimbulkan atau dipancarkan tubuh dan wajah wanita. Dua orang ini lebih memilih pada aura yang ditampilkan wanita itu. Sifat kecantikannya menjadi demikian metafisik. Tidak tampak sekaligus tidak sensual. Estetika dalam perpektif dua insan ini sesungguhnya terletak pada dimensi metafisik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam persepsi terakhir ini, meski mungkin sulit diperoleh bukan berarti wanita jenis demikian tidak ada di muka bumi. Rupanya, penilaian semacam itu lahir karena sejumlah faktor dan aktor yang mempengaruhinya. Menjadi wajar memang, jika pada akhirnya, meski usia mereka sudah mulai menua dan gadis remaja tidak lagi enjoy melihatnya, keduanya baru melangsungkan pernikahan. Pikirannya menjadi demikian Stoik atau bahkan Socratian sebagai lawan dari pikiran Aristotalian.

Bagi yang lain, sebut misalnya Maskun Kuncoro Jakti, ternyata lain lagi. la menyatakan bahwa yang estetik dari seorang wanita itu, ya yang cantik dari sisi fisik dan cantik dari sisi metafisik. Auranya bagus, imannya bagus dan secara fisik juga bagus. Wanita jenis ini, meski sulit diperoleh, tetapi, bukan tidak mungkin ditemukan di alam yang fana ini.

Itu semua, menurutnya, akan sangat tergantung pada penilaian yang mampu diberikan pemberi nilai kepada objek yang dia nilai. Pikiran terakhir ini, menjadi demikian dualistik seperti pernah diperagakan Plato, murid Socrates di abad ke IV sebelum Maseh.

Analisa Estetik

Tiga wacana di atas, persis mewakili tiga arus besar pemikiran kefilsafatan sejak dibangun di Yunani, sampai sekarang, berkaitan dengan ilmu dan substansi yang henciak ditelanjangi ilmu. Sampai sekarang persoalan ini terus berkelindan dan mungkin akan bertahan hingga alam dunia berakhir.

Bagi saya sendiri, terus terang tiga aliran tadi telah mengingatkan pada perdebatan sengit beberapa tahun belakangan yang lalu. Pemerintah didesak kebanyakan masyarakat Muslim untuk mengundangkan Rancangan Undang-undang (RUU) Pomografi dan Pomoaksi di Indonesia. Sebagian orang menganggap bahwa dunia seni di Indonesia tidak membatasi wilayah geraknya pada sesuatu yang esensial bernilai.

Karena itu, menurut kelompok ini, seni harus dibatasi oleh nilai ketuhanan yang berbasis pada landasan agama. Sebab jika tidak, maka seni akan mendorong timbulnya keresahan dan kondisi absurd dalam tata sistem kehidupan umat manusia khususnya masyarakat Indonesia yang mentahbiskan diri sebagai masyarakat yang beragama.

Di sisi lain, ada juga yang menyatakan bahwa RUU tersebut hanya akan membatasi ruang bebas seni yang telah menjadi ciri dan sifat hakiki dunia kesenian yang bebas nilai. Seni dalam anggapan kelompok kedua ini, hams dipahami sebagai sistem yang relative. Kelompok ini misalnya, menyebut contoh fenomena buka- bukaan yang lazim diperagaman para sineas Indonesia.

Cantik dalam Kesusilaan

Menurut kelompok terakhir ini, perilaku pakaian wanita yang terbuka mungkin dianggap tidak bersusila untuk masyarakat tertentu, tetapi menjadi demikian biasa bagi masyarakat pada umumnya. Masyarakat lain, seperti misalnya masyarakat Bali yang terbiasa menggunakan pakaian terbuka, buka-bukaan seperti lazim dipereontohkan para artis dan sineas Indonesia, akan dianggap sebagai hal yang lumrah, sesuatu yang biasa dan wajar dalam kehidupan manusia. Ia tidak dianggap sebagai perilaku yang melanggar etika sosial dan etika agama. Karena itu, perilaku “buka-bukaan” tidak dapat disebut sebagai pelanggaran norma etik kemasyarakatan.

Nilai estetik akhimya menjadi demikian subjektif selain tentu bersifat lokaly, Peilaian terhadap sesuatu yang dianggap berestetik itu, hanya berlaku dalam ruang lingkup, waktu, tempat dan jaman yang mengitari setiap persoalan yang melingkupinya.

Contoh lain adalah perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain. Sulit dibayangkan bagaimana kalau tradisi masyarakat Arab yang bangga jika janggutnya dielus diterapkan dalam konteks masyarakat Indonesia. Tidak mungkin bagi masyarakat Arab disebut tidak sopan ketika ada seorang anak memegang janggut orang tua.

Konsep beretika sekaligus berestetika bagi masyarakat Arab menjadi sangat berbeda dengan konsep etik estetik yang berlaku di masyarakat Indonesia. Inilah soal esensial pentignya pengkajian terhadap nilai baik pada aspek etik -sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya — maupun pada aspek estetik yang sedang dikaji di bab ini.

Estetik di Dunia Seni

Karena itu, jika muncul asumsi yang menyebut ada seni atau film yang dianggap meninggalkan nilai susila, sebenamya belum tentu benar-benar tidak bersusila. Atau sebaliknya, jika ada seni yang diasumsikan mengandung nilai susila, belum tentu benar- benar bersusila. Bisa jadi film dimaksud, justru mengandung nilai asusila yang sangat buruk dampaknya bagi kehidupan manusia.

Asumsi yang menyebutkan bahwa film dan kesenian pada umumnya hampir mengabaikan ciri khas nilai kemanusiaan, dalamkasus tertentu, dengan demikian, mungkin perlu dipertajam kembali analisisnya. Sebab pada akhirnya, manusia tidak mungkin mau dibuat seolah menjadi objek yang diproduksi manusia sendiri dalam wujud ekspresi dunia seni yang mengabaikan sisi terdalam yang terdapat dalam diri manusia sendiri.

Jikapun ada seni yang tidak mampu membuat manusia menjadi manusia, maka perlawanan pun bukan hanya akan datang dari kaum agamawan, tetapi sangat mungkin dari para seniman sendiri. Seni yang mengabaikan dimensi kemanusiaan, akan anggap menurunkan nilai-nilai dan martabat kemanusiaan itu sendiri, dan itu menyinggung semua unsur manusia. Tanpa kelas dan tanpa batas. Konstruk keindahan tidak lagi menjunjung tinggi makna keindahan itu sendiri yang sumber dasamya adalah Tuhan-Ilahi sebagai kreatov sekaligus koreografer tertinggi di seluruh alam jagat raya ini.

Pada kasus tarian dan goyang Inul Daratista yang sempat heboh dalam beberapa tahun terakhir, dapat menjadi contoh. Mayoritas bangsa ini masih cukup peka mengkaji dan menganalisis soal demikian yang umumnya meragukan untuk memposisikan Inul sebagai Diva Seni Musik di Indonesia. Penolakan dimaksud temyata bukan hanya datang dari kaum agamawanm tetapi dari mereka yang meyebut diri sebagai ahli seni, sama meragukan kualitas kesenian yang ditampilkan Inul.

Dalam formula itulah, lahir apa yang disebut dengan keharusan melakukan rekonstruksi terhadap sesuatu yang disebut estetika. Estetika akan menjadi disiplin ilmu yang bertugas mempertanyakan hakikat keindahan. Kajian tentang nilai estetika ini, dalam ruang filsafat ilmu kemudian diberi nama askiologi yang cabangya selain estetika tersebut adalah etika. Tentu penyebutan ini masih sangat subjektif selain debatable di kalangan para ahli. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar