Memahami Makna Masjid

Hampir tidak ada negara di dunia yang tidak memiliki Masjid. Itulah tempat di mana umat Islam, dan bahkan pengikut agama-agama Ibrahim, melaksanakan shalat. Secara teoretik, terlepas dari bagaimana masing-masing agama mengekspresikan shalat,  yang pasti, semuanya mengajarkan tentang pentingnya shalat. Shalat menjadi rukun keberagamaan masing-masing agama. 
0 178

Makna Masjid.Ai??Hampir tidak ada negara di dunia yang tidak memiliki Masjid. Itulah tempat di mana umat Islam, dan bahkan pengikut agama-agama Ibrahim, melaksanakan shalat. Secara teoretik, terlepas dari bagaimana masing-masing agama mengekspresikan shalat, Ai??yang pasti, semuanya mengajarkan tentang pentingnya shalat. Shalat menjadi rukun keberagamaan masing-masing agama.

Tempat shalat dimaksud, hari ini, bagi umat Islam sering disebut dengan Masjid. Meski secara bahasa mungkin lebih tepat disebut dengan mushala, tetapi, umumnya tempat shalat dimaksud, populer dengan sebutan masjid.

Bagaimana struktur bahasa dari kata Masjid? Ditinjau dari pendekatan ilmu sharaf, masjid sebenarnya berasal dari kata sajada [fiai??i??il madiai??i??], yasjudu [fiai??i??il modere], sajdan [masdar]. Kata sajdanAi??adalah masdar biasa atau marrah. Dilihat dari sudut ilmu ini, umumnya sering difahami para ahli bahasa, sebagai bilangan. Kata masjid dengan demikian dapat diartikan, satu kali sujudan.

Kata Masjid, dalam struktur sharaf tadi, seharusnya masjadan. Penyebutan dimaksud, tentu jika kita mengacu kepada perubahan struktur kata tadi.Ai??Ai??Kata Masjid menjadi masdar mim karena diawali huruf mim.Ai?? Tetapi untuk keprluan atas makna Masjid, dalam ilmu bahasa tadi, tidak berkedudukan sebagai masdar [biasa dan masdar mim]. Masjid justru lebih tepat menjadi isim makan.

Dalam bahasa Inggris, kata semacam ini sering disebut sebagai gerund. Untuk mengingatkan saja bahwa Ai??gerund adalah kata yang dibentuk dari verb [kata kerja] ditambah suffix ai??i??ing. Ia berfungsi sebagai noun. Jika dikembalikan lagi kepada kata Masjid, maka, ia berarti tempat bersujud.

Kata Masjid, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai simaai??i??i atau “kelatahan”.Ai??Ai??Ungkapan yang biasa dilafalkan orang Arab yang mampu didengar mereka yang bukan Arab. Padahal dilihat dari struktur bahasa tadi, seharusnya memang disebut masjad. Lepas dari perdebatan tadi, Masjid berarti mengandung makna tempat sujud.

Sedikit tentang Bahasa Arab

Jika kita mengkaji ilmu bahasa Arab, maka, kita memang disuguhkan dengan kekayaan kata. Salah satu kelebihan bahasa, justru terletak di sini. Untuk keperluan dimaksud, ilmuan bahasa [Arab] setidaknya memperkenalkan tiga kajian dalam mendalami bahasa Arab. Ketiga kajian dimaksud adalah: Ilmu Nahwu, ilmu sharaf dan ilmu balaghah.

Nahwu, sering diterjemahkan sebagai ilmu yang mengkaji tentang hukum-hukum huruf, kata dan kalimat. Selain tentu, ilmu ini mengkaji tentang bagaimana bunyi akhir sebuah kata yang diucapkan atau dituliskan seorang pembicara atau penulis. Misalnya, untuk mengatakan Masjidi, Masjidu atau Masjida. Penyebutan tiga kata terakhir ini, dikaji dalam ilmu nahwu.

Nahwu tentu saja berbeda dengan sharaf. Sharaf adalah ilmu yang mengkaji tentang perubahan bentuk suatu kata kerja, mulai dari fiai??i??il madiai??i?? [past tence], modere [present] dan amr atau perintah. Selain itu, sharaf juga mengkaji tentang perubahan bentuk kata kerja ke kata benda turunan. Perubahan bentuk kata kerja sesuai pelaku dari suatu perbuatan, juga dikaji dalam ilmu sharaf.

Balaghah adalah ilmu yang dianggap mereka yang belajar bahasa Arab, sebagai disiplin yang paling rumit. Balaghah mengkaji tentang keindahan [estetik] bahasa dengan alat analisa sastra. Emha Ainun Nadjib, menyebut bahwa ada satu lagi kajian dalam bahasa Arab, yakni uslub bahasa. Kedudukannya jauh lebih halus, mendalam maknanya dan memerlukan perenungan untuk menangkap maknanya. Usulub hasasa bahkan akan lebih rumit, pun jika harus dibandingkan dengan kajian balaghah [sastra]. Prof. Cecep Sumarna –bersambung ke Sejarah Masjid–

Komentar
Memuat...