Memahami Metode Berpikir Ilmiah

0 782

Kapan metode Berpikir Ilmiah Ini Ada dan Digunakan Manusia? Tampaknya, sejak “bapak pertama manusia” (Adam) “turun” ke bumi, rumusan dasar metodis ini sudah digunakan, meski mungkin belum diteorikan. Asumsi saya ini muncul dengan menggunakan pendekatan bahwa, ketika Adam turun ke bumi, ia sudah dihadapkan pada -problem yang sama sekali belum pernah dihadapi sebelumnya -khususnya ketika mereka ada di Syurga —. Terlebih adanya asumsi bahwa Syurga adalah tempat yang serba menjanjikan, serba meng-enakan dan membahagiakan.

Berbagai hal tentang kebutuhan manusia — lahir dan bathin— dapat dengan mudah didapatkan tanpa harus mengeluarkan energi kemanusiaan. Berbagai kenikmatan syurgawy tadi, ternyata diberontak Adam. Adam merasa bahwa kondisi Syurgawi yang non-adiragawiy, seolah bukan taqdirya. Ia berontak atas nama kemanusiaan dan memilih hidup dalam literatur kemanusiaan yang ragawiy. Karena itu, dimakannya buah khuldi, dapat difahami sebagai pilihan kemanusiaan Adam yang bercita-cita menaklukan kesemestaan tanpa harus banyak tunduk atas taqdir butanya yang langsung diberikan Tuhan berupa berbagai kenikmatan hidup di Syurga.

Metode Berpikir Ilmiah Adam

Ketika Adam hidup di bumi, tiba-tiba perutnya lapar sementara makanan “tersaji” seperti di Syurga tidak lagi diperoleh. Ia dituntut segera mengisi perutnya. Tetapi dengan apa ia mengisi perut? Adam belum dapat menjawabnya. Ketika diketahui benda atau barang tertentu yang dapat mengenyangkan perutnya, taruh misalnya jagung dan padi, Adam tidak mengetahui bagaimana cara memperolehnya. Ia dituntut mempertahankan barang atau benda yang dapat mengenyangkan. Ia pun terus dituntut mengembangkan apa yang didapatnya. Rantaian perjalanan Adam dan keturunannya seperti tergambar tadi, disadari atau tidak, telah melahirkan kemampuan manusia dalam mengelola sistem pertanian, Itulah manusia. Makhluk kecil, sekaligus kreator ilmu Tuhan yang memiliki missi besar menaklukan alam untuk mempertahankan eksistensinya di bumi. Ia tidak lagi mudah mendapatka makanan seperti ia peroleh di Syurga.

Andaikan di dunia ini manusia bisa hidup seperti dalam “dongeng Aladin”, tentu manusia tidak dituntut memiliki dan melahirkan pengetahuan. Atau andaikan Adam “tidak ceroboh” atau tidak tergoda syeitan untuk mendekati buah Khuldi di Syurga, tentu manusia tidak lelah menghadapi berbagai tantangan. Tetapi jika itu benar-benar terjadi, siapa yang menjadi khnlifnh Tuhan di bumi? Bukanlah manusia memang diciptakan untuk menjadi pengganti-Nya yang karenanya berfungsi untuk menjadi pemimpin atas makhluk- makhluk Tuhan yang lain?

Manusia sebagai pengganti Tuhan dan pemimpin bumi, tentu dituntut arif untuk memecahkan berbagai soal yang dihadapinya. Kemampuan manusia dalam memecahkan soal- soal yang melingkupi dirinya, akan menjadi starting point, pengekalan eksistensi manusia. Eksisensi dan kemajuan manusia, dengan demikian, akan bergantung pada tekad manusia untuk menjawab dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Kecenderungan untuk terus meningkatkan tarap hidup itu, hanya milik manusia. Kecenderungan- kecenderungan tadi, dalam bahasa yang populer, di kalangan kaum terdidik, diselesaikan dengan metode ilmiah.

Makna Metode Berfikir Ilmiah

Metode berfikir ilmiah adalah prosedur, cara dan teknik memperoleh pengetahuan. Meski, tidak semua pengetahuan didapatkan melalui metode atau pendekatan ilmiah, tetapi untuk memperoleh apa yang disebut dengan ilmu, harus didapatkan melalui pendekatan atau metode ilmiah. Dalam kaidah filsafat ilmu, bahkan disebut bahwa suatu pengetahuan, baru dapat disebut sebagai ilmu, apabila cara perolehannya dilakukan melalui kerangka kerja ilmiah. Salah satu cara kerja ilmiah dimaksud adalah metode ilmiah.

Metode ilmiah adalah The Prosedures used by scientific in the systematic pursuit of new knowledge and the reexamination of exiting knowledge. (Sebuah prosedur yang digunakan ilmuan dalam pencarian kebenaran baru). Pencarian dimaksud dilakukan dengan cara sistematis -pada pengetahuan baru — dan melakukan peninjauan kembali kepada pengetahuan yang telah ada).

Tujuan Dari Penggunaan Metode Ilmiah

Tujuan dari penggunaan metode ilmiah, tentu jelas. Yakni tuntutan agar ilmu berkembang dan tetap eksis serta mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi. Ilmu juga tetap dituntut up to date. Kebenaran dan ketercocokan sebuah kajian ilmiah akan terbatas pada ruang, waktu, tempat dan kondisi tertentu. Benarnya kaidah keilmuan, lebih secara metodis ia patut dianggap benar. Pendapat semacam ini dapat ditelusuri dari pemikiran Sri Soeprapto (2003) yang menyatakan bahwa metode ilmiah adalah suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pemi-kiran, pola kerja, car a, teknis dan tata langkah dalam memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada.

Secara etimologis, metode berasal dari kata Yunani, yakni kata meta (sesudah atau di balik sesuatu) dan hodos (jalan yang harus ditempuh). Jadi, metode berarti langkah-langkah (cara dan teknis) yang diambil, menurut urutan (sistematika) tertentu, untuk mencapai pengetahuan tertentu. Metode berarti suatu tata cara, teknik atau jalan yang ditempuh dan dipakai dalam suatu proses untuk memperoleh pengetahuan; pengeta-huan social humanistict, historict ataupun pengetahuan filsafat.

Dictionary of Behavioral Science memberi definisi tentang metode sebagai teknik-teknik dan prosedur-prosedur pengamatan dan percobaan yang bersistem dalam menyelidiki alam. Teknik-teknik dan prosedur-prosedur dimaksud, dipergunakan ilmuan untuk mengolah fa.kta-fakta, data-data dan penafsirannya sesuai dengan asas-asas atau aturan-aturan tertenhi yang sebelumnya telah disepakati ilmuan. George F. Kneller (1964) lebih lanjut menyatakan bahwa metode ilmiah adalah struktur rasional dalam melakukan penyelidikan ilmiah. Dari di situ, maka pangkal-pangkal dugaan disusun (hipotesis) dan kemudian diuji untuk dibuktikan.

Dalam bahasa sederhana, dapat disebut bahwa metode ilmiah adalah suatu prosedur atau tata cara tertentu untuk membuktikan benar salahnya suatu hipotesis (dugaan sementara) yang ditentukan sebelumnya. Anturo Resemblueth yang dikutip Kneller mendefinisikan metode ilmiah sebagaii procedure and cricteria used by scientist in the contraction and depelopement of their spesifice discipline”.

Unsur yang Mempengaruhi

Metode ilmiah dipengaruhi unsur alam yang berubah dan bergerak secara dinamik dan teratur. Kondisi alam yang demikian, diduga para filosof karena adanya asas tunggal atau hukum alam (natural law). Karena sifat yang demikian itu, maka manusia dianggap mampu melakukan proses generalisasi dan sekaligus melakukan eksplanasi. Lahirnya proses generalisasi itu, dalam kaidah filsafat ilmu disebabkan karena ada sebuah metode yang disebut metode ilmiah.

Filosof yakin bahwa natural law telah menjadi salah satu sebab adanya ketertibtan alam. Almarhum Nurcholish Madjid (1992) menyebut kondisi alam yang demikian, dengan istilah teleleologis. Alam berjalan dalam ritme dinamis dan tertib. Titus, Smith dan Nolan menyebut alam yang demikian teratur itu sebagai motor (penggerak) bagi lahirnya kajian kekefilsafatan yang ujungnya melahirkan ilmu. Filsafat dan ilmu dianggap Titus, Smith dan Nolan (1984) sama-sama berupaya mencapai kebenaran melalui keteraturan alam. Tidak salah juga jika dikatakan bahwa penelitian ilmiah pada awalnya cenderung sangat cosmosentris. Ketertiban alam dianggap dan harus diletakkan sebagai objek ukuran dalam menentukan kebenaran.

Corak-corak metodis yang sandaranya pada kondisi alam yang dinamik dan teratur, harus diakui telah menyebabkan lahirnya ilmu pengetahuan dengan sifat dan kecenderungan yang positivistik. Kondisi ini disebut Kuntowijoyo (1991) dan Noeng Muhadjir (2004) telah menyebabkan bebasnya manusia dari pikiran etis, ke pemikiran determinis (berdasarkan pada hukum kausalitas) dan evolusionistik (melihat sejarah sebagai dasar dalam menentukan objek yang diteliti). Ilmu selalu lurus berkembang dalam ukuran-ukuran yang konkret dengan model dan pendekatan serta eksperimen dan observasi.

Gugatan Model dan Cara Berfikir

Dalam perkembangan selanjutnya, model dan cara berfikir demikian telah memperoleh gugatan. Alasannya, karena tidak sernua ilmu dapat didekati dengan model yang sama. Di kasus tertentu, kondisi ini dianggap menyebabkan keringnya ilmu pengetahuan dari nilai etik kemanusiaan. Apalagi nilai etik ketuhanan. Sebab suirvber kebenaran terbatas hanya pada aspek- aspek yang bersifat konkret dan rasional murni.

Ditemukannya metode berfikir ilmiah, secara langsung telah menyebabkan terjadinya ledakan kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Manusia bukan saja dianggap daapat hidup dalam ritmis modernisme yang serba mudah dan menjanjikan. Lebih dari itu, manusia, dapat menggapai sesuatu yang sebelumnya seolah tidak mungkin digapai. Manusia perlahan dapat “mengganti” sebagian peran Tuhan dalam menentukan “taqdirya”. Manusia tidak lagi berpangku tangan terhadap apa yang menjadi kehendak alam.

kita kita tau Metode Berpikir Ilmiah lalu Mengapa Harus Menggunakan Metode Berfikir Ilmiah? Inilah Jawabanya.

Oleh : Prof. Dr. H, Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...