Memahami Simbol|Filsafat Ilmu Part – 12

Memahami Simbol Filsafat Ilmu Part - 12
0 746

Ketika disebut kata simbol, tentu banyak orang memahami sekaligus mamaklumi makna yang dikandung, meski bukan berarti otomatis benar. Simbol, suatu kata sederhana dan mudah diingat meski membutuhkan energy untuk memahami simbol secara utuh.

Secara Bahasa, kata symbol berakar dari symbol (Inggris), symbolicum (Latin), symbolon atau symballo (Yunani). Kata tadi, secara esensial mengandung makna menarik. Pertanyaannya untuk apa symbol dibuat dan mengapa manusia memerlukan simbol. Inilah yang akan penulis ulas.

Fungsi Simbol

Dalam analisa saya, symbol umumnya digunakan untuk dua keperluan. Pertama, symbol dibuat untuk melakukan kongkretisasi terhadap sesuatu yang abstrak dari sesuatu yang dianggap transenden. Dalam pengertian ini, symbol harus dianggap sebagai pancaran dari suatu realitas ideal yang transenden. Dalam Bahasa agama, yang transenden itu, umumnya diperkenalkan dengan nama Allah (Muslim), Alah (Kristen), Yahwe (Yahudi) atau Sanghyanwidi (Hindu-Budha). Dalam pengertian ini, symbol diperlukan mengefektivitaskan sesuatu agar yang abstrak mampu dikongkretisasi.

Kedua, symbol digunakan untuk membuat tanda akan sesuatu yang bersipat logika; baik logika matematika maupun logika statistika. Simbol dalam pengertian yang kedua ini, dipakai untuk memberi tanda akan sesuatu yang abstrak. Misalnya penyebutan angka 1, 2, 3 dan seterusnya –tidak mnggunakan kalimat satu, dua, tiga dan seterusnya– dengan maksud untuk mempermudah dan menyederhanakan. Fakta, manusia lebih mudah menghapal symbol, dibandingkan kata atau kalimat.

Peran Simbol dalam Agama

Ka’bah adalah salah satu symbol agama. Ia menjadi makna ketuhanan bagi masyarakat Muslim. Tentu dalam pengertian ini, symbol bukan berarti Tuhan bersemayam didalamnya, atau apalagi ia menjadi Tuhan. Ka’bah akan hanya menjadi manuskrip aneka ragam historis tentang bagaimana manusia mencari Tuhan yang sebenarnya Tuhan. Dengan Bahasa lain, Ka’bah secara manuskrip dapat menjadi saksi perjalanan ketuhanan manusia. Tuhannya sendiri, tentu saja tidak ada didalamnya. Tuhan tetap abstrak dan Ka’bah tetap saja menjadi batu.

Di kalangan masyarakat Nasrani juga sama. Salib atau bahkan Isa dan Maryam yang sering disebut ibu dan anak Tuhan, sejatinya bukan Tuhan. Ia merupakan simbolisasi dari artepak ketuhanan yang mampu dielaborasi berdasarkan nalar ketuhanan masyarakat Kristiani. Tuhan tidak melekat dengan salib. Jadi, jika salib itu terbuat dari kayu, maka, salib itu tetap saja menjadi kayu. Ia tidak akan berubah menjadi Tuhan.

Di kalangan masyarakat Hindu juga sama. Apa yang disebut dengan Dewa-dewa itu, sejatinya bukan Tuhan. Ia merupakan benda yang dikreasi manusia atas nalar ketuhanan yang didasarkan atas ukuran reason manusia di waktu dan di tempat di mana symbolisasi itu dilakukan. Atau kalau kita melihat bagaimana Patung Budha demikian disakralkan, bukan berarti Budha menjadi Tuhan. Tetapi, itulah upaya kongkretisasi dari apa yang disebut Tuhan dalam premis masyarakat Budha tadi. Dalam agama dan ajaran yang patut disebut agama lain juga sama.

Simbol itu multi makna

Memaknai symbol, karena itu, umumnya lebih rumit dibandingkan dengan memahami kata atau kalimat –meski kata dan kalimat itupun butuh pemaknaan– Mengapa? Sebab simbol akan menjadi tanda atau isyarat untuk mengganti suatu gagasan dan ide suatu subjek yang sebelumnya abstrak kepada sesuatu yang baru, yang bersipat kongkret. Untuk memahami hal semacam itu, tentu dibutuhkan kesepakatan dalam memahami arti yang sesungguhnya. ** |Prof. Dr. H. Cecep Sumarna| **

Komentar
Memuat...