Inspirasi Tanpa Batas

Memahami Syukur Melalui Penela’ahan Tasydid dalam Ayat al Qur’an

Memahami Syukur Melalui Penela'ahan Tasydid dalam Ayat al Qur'an
0 511

Memahami Syukur melalui Penela’ahan Tasydid dalam huruf Nun Ayat al Qur’an. TasydidAi??itu apa? Mengapa dalam bacaan al Qur’an terdapat banyak tasydid? Apa makna di balik segenap bacaan ayat al Qur’an yang memiliki tasydid. Tulisan singkat ini mendeskripsi tasydid dalam surat Ibrahim [14]: 7 yang menjelaskan tentang pentingnya umat Islam untuk melaksanakan syukur.

Makna Tasydid

Tasydid adalah tanda baca atau dikenal dengan sebutan harakat. Ia berbentuk seperti kepala huruf sin [ O?] dalam bahasa Arab atau mirip dengan w dalam bahasa Indonesia. Mengapa perlu ada tasydid.Ai??Tasydid ternyata menjadi simbol yang memberi tekanan dalam konsonan [ganda]. Bisa juga diterjemahkan dengan adanya pertemuan [pengulangan] dari suatu huruf hijaiyah yang sama dalam waktu yang sama juga. Ketika bertemu dengan tasydid, umumnya qari membaca lebih lama, minimal dua harakat atau satu alif. Bacaan ini akan lebih panjang jika masuk ke dalam hurup yang qalqalah kubra [qalqalah yang berhenti karena ada wakaf]

Ayat al Qur’an surat Ibrahim [14]: 7 yang mengandung tasydid yang fungsinya sebagaimana dijelaskan di atas. Ayat itu berbunyi:

“Waid taaddanna rabbukum, lain syakartum la azidannakum, walain kafartum, inna adabii lasyadiid.” Dan ingatlah ketika Tuhan kamu semua berjanji, bahwa jika kamu semua bersyukur terhadap nikmat-Ku, maka, aku pasti-pasti dan pasti akan melipatgandakan nikmat yang telah Aku berikan kepadamu. Tetapi, jika kamu semua ingkar [berpaling] atas nikmat yang telah aku berikan kepadamu, maka, Aku pasti-pasti dan pasti akan menyiksamu dengan siksaan yang sangat pedih.

Nun yang bertasydid dalam ayat di atas, sebenarnya berasal dari 2 huruf nun. Huruf nun yang pertama sukun dan yang kedua berharakat. Nun yang pertama dimasukkan [gunnah] ke dalam nun yang kedua. Maka perpaduan itu menghasilkan tasydid.

Makna Syukur dalam Nalar Filosofi

Menurut saya, ayat di atas mengandung teoriAi??simetri segi tiga sama siku. Karena ia mengandung simetri segi tiga sama siku, kalau diterjemahkan mengandung makna bahwa kalau kita hari ini merasa belum kaya, maka, pasti karena kita belum mampu menjadi manusia yang bersyukur. Karena itu, bersyukur bukan kebutuhan Tuhan. Bersyukur adalah kebutuhan kita sebagai manusia yang selalu dan pasti lemah.

Ketika saya menayangkan sebuah tulisan sebagaimana ditulis dalam paragraf di atas, banyak sekali komentar masuk. Di antara yang menggelitik untuk ditulis di sini misalnya suatu pernyataan yang menyebut bahwa kaya hati lebih baik dibandingkan dengan kaya harta, tetapi hatinya tidak kaya. Yang membuat orang bahagia adalah karena kekayaan bathin dan bukan karena kekayaan harta. Kaya harta yang tidak disyukuri justru akan membuat manusia malah semakin menjauh dari Tuhannya.

Terhadap pertanyaan semacam ini, saya hanya mampu mengatakan bahwa, mereka yang merasa tidak kaya dan tidak sempurna, itulah ciri bahwa dirinya belum menjadi manusia yang bersyukur. Bagi manusia yang bersyukur, apapun posisi dan kedudukan serta capaian yang diperolehnya, akan selalu diterima dengan baik dan bahagia. Kemenerimaan yang baik dan bahagia inilah yang membuat dirinya dapat memperoleh capaian kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Mereka yang selalu menerima keadaan yang dimilikinya, maka, ia akan selalu merasa ringan menjalani hidup. Mereka yang merasa ringan menjalani hidup, ia akan dengan mudah memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya. Karena itu, mereka yang bersyukur, salah satunya akan dicirikan dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya. Semoga demikian. Amiin … By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...