Inspirasi Tanpa Batas

SPONSOR

SPONSOR

Memahami Watak Entrepreuner dan Kekasih Tuhan

1 9

Konten Sponsor

Hidup itu adalah pilihan. Pada setiap apapun yang dipilih, pasti di situ terdapat resiko. Tidak ada yang gratis dan tidak ada yang mudah. Semakin gratis semakin tidak bernilai. Semakin seseorang sering bertemu dengan apa yang disebut dengan kesulitan, di situ ia pasti akan bertemu dengan ruang baru yang lebih dinamis dan lebih menjanjikan. Sebaliknya, semakin seseorang sering bertemu dengan kemudahan, ia semakin juah dari kemungkinan sukses yang tak tertandingi.

Dengan demikian, kemampuan seseorang beradaftasi dengan sesuatu yang disebut sulit dan rumit yang bersipat kompleks, maka, ia akan teruji jati diri dan eksistensinya sebagai manusia yang handal. Manusia yang tidak rela hidup dalam ruang dinamis yang kompleks, maka, ia tidak pantas untuk diebut sebagai manusia yang utuh. Kesulitan karena itu, dapat mendorong manusia untuk dapat lebih mampu berpikir kreatif dan adaftif terhadap segala dinamika yang ada. Karakter itu, lebih cocok disandingkan dengan para entrepreneur.

Tidak ada manusia yang terkenal, yang hebat dan yang dalam kacamata tertentu disebut sebagai manusia berhasil tanpa pernah berhadapan dengan apa yang disebutnya sebagai kesulitan dan masalah rumit yang dihadapi. Mereka yang demikian, adalah kelompok manusia yang selalu rela menunda keuntungan dan menunda kesenangan untuk dipetiknya di kemudian hari.

Watak Entrepreneur

Jika jiwa di atas diletakkan kepada entrepreneur, maka, seorang individu atau sekelompok manusia yang rela disebut rugi hanya untuk waktu sementara. Menunda kesenangannya untuk mendapatkan apa yang disebutnya sebagai keuntungan di masa depan, maka itulah para entrepreneur. Inilah yang dalam bahasa al Qur’an disebut sebagai ciri mukmin yang selalu menempatkan hari akhir sebagai lebih baik dan lebih abadi. Kebalikan dari posisi manusia yang demikian adalah kelompok pragmatis yang dalam kasus tertentu tidak layak disebut sebagai kelompok beriman.

Kelompok ini adalah mereka yang tidak rela menunda kesenangan dan kebahagiaan meski hanya sesaat. Kelompok kedua ini adalah mereka yang selalu menunda kerugian karena mereka selalu ingin menikmati apapun dan pada apapun yang ada dihadapannya hari ini dan saat ini. Inilah yang dalam bahasa ilmu sosial disebut sebagai kelompok sosialita.

Dalam praktik sehari-hari, jenis manusia pertama sering disebut sebagai investor yang selalu rela mengorbankan sesuatu untuk dipetiknya di masa depan. Ia memiliki ciri yang relatif sama dengan manusia mukmin yang selalu menunda kesenangan, kebahagiaan dan keuntungan untuk dipetiknya di masa yang akan datang. Bercermin dari prolog tadi, maka, seorang investor sejatinya telah memiliki sebagian ciri sebagai seorang mukmin.

Seorang investor adalah mereka yang rela sepatu, celana dan pakaiannya basah kuyup serta kotor oleh tanah dan debu, bermuka hitam terbakar matahari dan lusuh karena lelah untuk di kemudian hari mereka akan menggantinya dengan sepatu dan pakaian yang selalu bersih dan rapih dengan muka yang cerah. Mereka adalah sekelompok manusia yang selalu tersenyum di masa tuanya dan selalu mengenang perjalanan pahitnya di masa lalu sebagai sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. Diaz Ayu Sudwiarrum berkata

    Diaz Ayu Sudwiarrum
    1415104029
    Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial A/3
    IAIN Syekh Nurjati Cirebon

    Seperti hal nya mahasiswa yang rela menghabiskan tenaga, fikiran dan materi untuk memetik hasil di masa depan. Disaat yang lain memilih untuk bekerja, mengahsilkan uang, membeli ini itu dengan uang hasil kerja, memberi orang tua sebagian dari uang gaji mereka. Kami disini masih meminta pada orang tua untuk membayar kuliah, membayar kost, ongkos kuliah, makan dan kebutuhan lainnya. Semoga kelak kita dapat membanggakan orang tua yang telah menginvestasikan anaknya melalui pendidikan tinggi.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar