Memaknai Tangis dan Tawa dalam Perayaan Idul Fitri

0 19

Idul fitri, lebih dikenal hari lebaran atau hari raya kecil bagi umat Islam adalah suatu peristiwa dimana umat Islam sedunia kembali menjadi bayi. Idul fitri adalah hari di mana umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan. Idul fitri sekaligus menjadi fenomena ekspektasi umat Islam se duania dalam memaknainya.

Fenomena pekmaknaan idul fitri, berimplikasi pada aktivitas idul fitri itu sendiri. Penulis memahaminya dengan cara memberi makna atas esensi makna bayi.

Fenomena Umat dalam Menyambut Ramadhan

Untuk mencoba memahami idul fitri, fenomena awal akan terlihat dari ragam aktivitas dalam perayaan umat. Pertama, ada yang bersuka cita menyambut kedatangan hari raya ini. Suka cita dimaksud ditampilkan dalam bentuk canda tawa, tentunya setelah melaksanakan presesi ma’af-ma’afan. Dalam fenomena lain, terlihat juga bagaimana umat berkunjung ke sanak saudara, handay taulan atau dengan sesama umat Islam dimanapun bertemu sebagai saudara seagama.

Kedua, ada yang menangis tersedu-sedan ketika mengetahui hari raya idul fitri sudah dekat. Mereka bukan tidak bahagia menyambut kedatangannya, namun lebih besar yang ada dalam hati mereka adalah merasa akan kehilangan momen ramadhan yang semakin menyusut. Ia tergantikan oleh kedatangan idul fitri.

Mereka sedih dan bahkan tidak sedikit yang menangis karena tidak sanggup harus berpisah derngan bulan ramadhan; yang penuh berkah, penuh pengampunan dan bulan di mana umat Islam, tentu yang cinta ramdhan, mendapatkan grasi yang membebaskan dirinya  dari derita panas api neraka. Itulah manifestasi dari kandungan ” Allah humma barrik lana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna ramadhana”.

Menangis dan Tertawa tetap Bermakna Positif

Fenomena lain dari datangnya idul fitri, akan terlihat dari: Pertama, mereka yang bersuka cita menyambut kedatangan hari raya idul fitri dalam bentuk canda dan tawa. Kegembiraan ini lahir karena mereka merasa telah terlahir kembali sebagai manusia baru. Manusia dengan jiwa dan raga baru.

Rasa kegembiraan ini, akan menjadikannya sebagai ekspekstasi perilaku hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini akan ditandai dengan wataknya yang lebih tenang. Ia pandai menatap kehidupan masa depan dan cara lebih rileks.

Gaya yang demikian terlahir karena mereka begitu bahagia. Apa yang dilakukannya pada bulan puasa itu, bukan karena merasa sebagai hasil karya pribadinya semata. Namun ada rasa dan semangat bahwa semua perilakunya itu terdapat campur tangan dari Yang Maha Kuasa. Itulah Allah. Wujud Yang Mencipta langit dan bumi serta segala isinya.  Termasuk tentu hitungan bulan di dalamnya. Itulah makna bayi menurut mereka yang merasa bergembira saat idul fitri tiba.

Kedua, mereka yang sedih bahkan menangis di hari raya idul fitri karena tidak sanggup harus berpisah dengan bulan ramadhan. Mereka akan selalu terkesan dan lebih berhati-hati (untuk tidak mengatakan takut) dalam menjalani hidupnya.

Mereka dengan tipikal ini, tidak rela jika hakikat kebayiannya terkontaminasi berbagai unsur negatif. Itulah makna bayi yang tidak memiliki apa-apa kecuali kesuciannya. Itulah manifestasi dari kandungan ” Kullu mauludin yuladu ‘ala al fitrah”.


Tentang Penulis :

Deden 

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.