Realitas Kehidupan: Membangun Gerakan Komunitas Janda

0 65

Gerakan Komunitas Janda: Banyak orang Islam  yang memahami bahwa dakwah dan pelaksanaan agama telah dianggap selesai dengan berkhutbah dari mimbar ke mimbar dengan materi amar ma’ruf dan nahi munkar. Keberhasilan dakwah juga diukur dengan banyaknya orang yang mendengarkan ceramah, tidak pada aksi riel perubahan dari yang diceramahkan. Banyak tokoh agama yang merasa puas ketika musabaqah tilawah al-Qur’an dapat terselenggara secara meriah. Meskipun menelan biaya yang tidak sedikit.

Padahal dalam waktu yang sama banyak gubuk-gubuk reot yang sudah tidak layak dihuni oleh manusia. Banyak orang hidup yang hanya mampu mencukupi sebagian kebutuhan dasarnya dan menelantarkan kebutuhan dasar yang lain yang lebih penting (baca: pendidikan, kesehatan, dan standar kamnusiaan). Di sana banyak wanita yang menjual kehormatannya untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya setelah mereka tidak mendapati sesuatu yang dapat difungsikan.

Dalam diskursus fungsi pewahyuan, Tuhan menurunkan risalah melalui Rasul-Nya setidaknya mengemban tiga misi; Pertama, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Kedua, menjelaskan yang positif dan yang negatif. Ketiga melepaskan dan membebaskan manusia dari beban penderitaan.  Tugas yang pertama dan kedua tidak asing bagi ummat Islam, dan bahkan hampir menjadi ritual formal, sementara tugas yang ketiga sering  kurang diperhatikan.

Akselerasi Islam untuk menerobos berbagai stratifikasi masyarakat, bukan karena kehebatan intelektual dan kekayaan para pemeluknya. Akan tetapi karena Islam mampu menawarkan konsep jasa untuk membebaskan manusia yang berada dalam perangkap dan dekapan jeratan problem kehidupan. Akselerasi tersebut juga bukan karena keberhasilan dalam mobilisasi pendukungnya untuk menampilkan sebuah aksi promosi.

Janda Dalam Perspektif Al-Qur’an

Penyebutan al-Qur’an terhadap sesuatu, merupakan respon terhadap problem yang dihadapi. Dalam hal ini, penyebutan al-Qur’an terhadap kelompok tertentu adakalanya secara langsung dan adakalanya melalui instrument yang ada pada kelompok tersebut. Ketika aL-Qur’an menyebut kelompok lemah, kadang-kadang menggunakan term yang spesifik, dan kadang-kadang dengan term yang bersifat umum. Term secara spesifik seperti fuqara, masakin, yatama dan lain-lain. Sementara term yang bersifat umum seperti kalimat mustadl’afin atau dlu’afa. Kata ini berasal dari kata dla’fun yang berarti lemah, dan mustadl’afun atau mustadl’afin berarti orang yang dilemahkan atau orang yang dibuat tidak berdaya. Sementara dlu’afa’ adalah orang yang lemah dengan apa adanya. Dengan demikian, orang kaya tidak termasuk dalam istilah dlu’afa’ tetapi bisa jadi sebagain meraka juga masuk dalam istilah mustadl’afin. Salah satu kelompok yang dikategorikan mustadl’afin adalah kelompok wanita. Karena dalam berbagai masyarakat, wanita selalu ditempatkan dalam posisi yang tersudut.

Menurut bahasa Indonesia, kata “janda” berarti wanita yang tidak bersuami lagi, baik karena cerai maupun karena ditinggal mati oleh suaminya. Istilah ini di dalam al-Qur’an disebut dengan term tsayyib yang berasal dari kata tsaba-yatsibu-tsayyib, yang berarti kembali dan term ayama yang merupakan bentuk jama’ dari kata ayyim yang berarti perempuan yang tidak memiliki pasangan. Kata tsayyib berarti wanita yang telah menikah, kemudian ia pada status kesendiriannya karena berpisah dengan suaminya setelah dikumpuli, baik  berpisah karena dicerai maupun karena ditinggal mati.

Kedua kata tersebut pada umumnya hanya dipakai untuk menunjuk status kekeluargaan bagi kaum wanita, dan tidak pada pria. Akan tetapi, pada hakikatnya status tersebut mengikat pada kaum pria dan wanita. Oleh karena itu, Ibnu Mandzur dalam mendefinisikan kedua kata tersebut dengan memberikan ciri utamanya yaitu telah berkumpul yang disebabkan oleh pernikahan. Pria maupun wanita yang telah menikah dan telah bercampur kemudian berpisah, baik disebabkan karena perceraian maupun kematian adalah berstautus sama. Hanya karena frame budaya bahasa yang memberikan kekuasaan kepada pria atas wanita. Oleh karena itu, kedua kata tersebut lebih banyak dipakai untuk menunjuk status kaum wanita.

Kata al-ayama disebut satu kali di dalam al-Qur’an (Q.S. Al-Nur/24: 32).  Dalam ayat tersebut, kata al-ayama hanya digunakan untuk para janda yang tidak memiliki pasangan, kemudian meluas yang mencakup para gadis yang tidak ada yang mau mengawininya dan juga pria yang hidup membujang, baik ia belum kawin maupun duda yang tidak beristeri kembali. Kata tersebut memiliki spesifikasi penunjukannya yaitu kondisi bujang tidak berpasangan yang disebabkan karena suatu hal. Kata tersebut juga dipakai untuk pria dan wanita baik yang pernah berkeluarga maupun yang belum pernah sekalipun, termasuk wanita tuna susila yang asusilanya dikarenakan terhalang oleh pelaksanaan perkawinan.

Kata tsayyib di dalam al-Qur’an disebut satu kali yang digabungkan dengan antonimnya, yaitu kata abkar   yang berarti orang yang belum berumah tangga yang didasarkan pada akad pernikahan yang sah, baik untuk kaum pria maupun wanita (Q.S. Al-Tahrim/66: 5). Al-Qurthubi memberikan ulasan bahwa, janda disebut dengan kata tsayyib yang memiliki makna dasar “kembali”, karena wanita yang telah berpisah dari suaminya, baik karena pisah kematian maupun karena putusan pengadilan (cerai), ia akan kembali kepada orang tuanya, atau akan kembali kepada laki-laki bekas suaminya jika mereka rujuk kembali, atau kembali di bawah naungan laki-laki lain yang mengawininya. Sementara kata bikr diartikan dengan kondisi awal status seseorang dalam kesendiriannya sebagaimana ketika ia dilahirkan.

Al-Qur’an menyebut janda dengan menggunakan dua istilah di atas, menunjuk pada kondisi kesendirian seseorang tanpa bersuami atau beristeri setelah lazimnya mereka itu hidup berpasangan suami isteri. Akan tetapi kondisi tersebut ada proses dan penyebabnya yang disebut oleh al-Qur’an dengan istilah thalaq dengan berbagai derivasinya yang berarti pemisahan atau melepaskan dari keterikatan menjadi bebas tanpa ikatan.  Dengan demikian, lepasnya ikatan wanita terhadap suami bisa jadi karena putusan pengadilan maupun karena putusnya hubungan kehidupan (mati).

Visi dan Misi Keberdayaan Komunitas Janda

Keberdayaan komunitas janda, diilhami oleh pembacaan realitas kehidupan komunitas tersebut bahwa mayoritas perjalanan kehidupan kaum wanita akan mengalami status janda. Dalam status ini, mereka berasal dari berbagai latar belakang status sosial yang ada. Bagi mereka yang berasal dari kelompok non karir, mereka sibuk mengurus dan melayani suaminya ketika suami masih aktif dan produktif, maka ketika suami purna tugas dan usia tentunya kesibukan tersebut telah berakhir. Bagi mereka yang berasal dari wanita karir, setelah purna tugasnya dan purna usia suaminya, mereka telah kehilangan kegiatan dan kesibukan. Kondisi ini mayoritas dialami oleh mayoritas kaum perempuan.

Pembacaan realitas tersebut menghasilkan tiga asumsi; Perama, ketika suami masih ada, para janda berkewajiban mengabdi dan membantu suami. Ketika suami telah tiada, apa yang akan mereka lakukan? Kdua, sebagian mereka berasal dari orang yang potensial, akankah potensi tersebut dibiarkan purna dan usang? Ketiga, jumlah kaum wanita yang berstatus janda ternyata tidak sedikit,  bukankah ini sebagai potensi jika dikelola, diorganissir, diberdayakan dan dioptimalkan?

Untuk memberdayakan komunitas ini perlu dimunculkan semangat yang diakomulasikan dalam sebuah pertanyaan yang menjadi epistemologinya yaitu; “mau apa yang dilakukan setelah suami meninggal?” Pertanyaan tersebut dirumuskan sebuah jawaban yaitu; “menyusul suami” Untuk hal ini, maka dengan sisa umur, tenaga dan kemampuan yang ada, harus dimanfaatkan dan difungsikan untuk melakukan sesuatu yang terbaik, untuk dirinya dan orang lain yang senasib. Gagasan untuk mengkoordinir komunitas kaum janda ini, untuk memberdayakan mereka yang telah kehilangan patner hidupnya. Bagi mereka yang mampu, baik tenaga, potensi dan materi, diharapkan mampu menolong dan memberdayakan janda lain yang senasib yang tidak berdaya setelah ditinggal mati suaminya.

Dari latar belakang keberdayaan komunitas janda di atas, dirumuskan dalam visi dan misi komunitas janda yaitu “Tampilnya Komunitas Janda Dalam Dakwah dan Amal Sosial”. Visi tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan teologis, di antaranya adalah:

  1. Pentingnya peranan wanita dalam melaksanakan tugas, baik terhadap diri, keluarga maupun terhadap Tuhan sebagai pengabdian untuk mencari ridla-Nya.
  2. Wanita muslimah perlu ikut berperan dalam mendidik dan membimbing kader-kader ummat masa depan.
  3. Perlunya bimbingan agama (al-Qur’an dan Hadis yang harus dipegangi) dalam kehidupan, melalui bimbingan, nasihat dan pembinaan-pembinaan.
  4. Mengingat firman Allah dalam beberapa ayat yang mengingatkan bahwa:  (a). Amal kebajikan tidak pernah berpihak dan diklaim oleh jenis kelamin tertentu, tetapi untuk semua manusia, laki-laki dan perempuan.(Q.S. Al-Nahl: 97). (b).Kematian tidak dapat dihindari oleh setiap yang hidup. Para suami yang telah meninggal, adalah pelajaran utama  untuk meyakinkan bahwa akhir perjalanan kehidupan akan mengalami peristiwa yang sama sebagaimana yang dialami oleh pendahulunya. (Q.S. al-A’raf: 34). (c). Makin tambah umur, seharusnya semakin tambah kesadaran dalam beragama. Kematian suami yang lebih awal, memberikan pelajaran dan keyakinan bahwa isteri juga akan menyusul. Jika kedatangan kematian telah diyakini dan tidak dapat dielakkan, tidak ada jalan lain kecuali mencari bekal amal shalih untuk menghadapinya. (Q.S. Al-Nisa’: 78). (d). Untuk memahami dan melaksanakan tuntunan ajaran agama, perlua adanya himpunan yang mampu mentransformasikan ajaran tersebut kepada sesamanya.
  5. Wanita yang telah ditinggal oleh suaminya, diharapkan tetap tegar, tetap mengambil bagian dalam pengabdian untuk menunjukkan daya juang dan potensinya.

Visi yang dirumuskan tersebut, diharapkan dapat mewujudkan kegiatan yang bernilai, sebagai wahana aktualisasi diri  sekaligus ibadah bagi para komunitas janda.

Spiritualitas Gerakan Komunitas Janda

Secara mendasar, gerakan komunitas janda diupayakan untuk membimbing kaum wanita pada umumnya, khususnya warga komunitas janda ke arah kesadaran beragama dan berorganisasi dengan memperteguh iman, menyemangatkan dan menguatkan ibadah serta mendorong beramal shalih dengan hati yang tulus. Upaya tersebut ditempuh melalui pembudayaan tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan sehingga tumbuh kesadaran akan pentingnya meningkatkan usaha mencari bekal hidup, baik yang berupa materi maupun non materi.

Usaha-usaha yang dilakukan oleh komunitas janda ini sepintas hanya berorientasi pada pembinaan mental. Namun usaha inilah yang harus dilakukan untuk menumbuhkan semangat dan menggairahkan jiwa. Ketika semangat telah tumbuh dan jiwa telah bergairah kembali, baru akan muncul dinamika dan kreatifitas. Dalam hal ini, sentuhan agama bukan hanya sekadar membeberkan konsep-konsep yang abstrak, metafisik yang seolah-olah tidak terjangkau oleh akal. Keyakinan yang mendalam terhadap ajaran agama serta kepasrahan yang total terhadap perintah agama, tidak identik dengan pemasungan jiwa dari kebebasan berfikir dan berbuat. Konsep agama yang dirasa abstrak yang dibutuhkan kepercayaan yang kuat, bukan dikehendaki untuk menjadikan manusia berkhayal di langit yang inggi dari bumi. Akan tetapi keyakinan yang pasti tersebut justeru diharapkan manusia mampu melaksanakan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan tanpa semangat dan dorongan hal-hal yang dirasa abstrak selama ini.

Pembimbingan kesadaran jiwa untuk menghadapi kematian, bukan untuk melemahkan semangat hidup. Konsep kematian justeru diharapkan dapat menyadarkan konsep kehidupan. Kehidupan yang ada harus diterima dan dijalani. Adapun kehidupan yang akan daang harus dipersiapkan melalui kehidupan sekarang ini. Dengan kesadaran ini, orang akan tumbuh kembali semangat hidupnya. Umur yang sudah lanjut bukan mengendorkan kreativitas. Kematian yang dirasa sudah dekat bukan mematahkan semangat hidup, tetapi justeru memacu untuk memanfaatkan sisa umur yang telah ditunggu oleh kamatian seoptimal mungkin untuk berbuat kebajikan sesuai dengan kemampuan. Selanjutnya Gerakan Komunitas Janda Dalam Pemberdayaan Kaum Lemah.

Oleh. Dr. Ahmad Munir, M.Ag (Dosen Ushuluddin STAIN Ponorogo)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.