Membangun Rumah Islam yang Luas

0 39

Adang Djumhur S; Membangun relasi harmonis antar pemeluk agama dalam suatu bangsa, merupakan suatu tantangan teologis terbesar dalam kehidupan beragama saat ini. Banyak negara di belahan dunia ini, gagal melakukannya. Yang jadi persoalan, adalah bagaimana seorang atau satu komunitas pemeluk suatu agama dapat mendefinisikan dan memposisikan dirinya di tengah penganut agama-agama lain, yang sama-sama eksis dan punya keabsahan untuk hidup. Dengan kata lain, bagaimana beragama dalam konteks agama-agama yang plural.

Bagaimana berislam dalam keragaman agama dan keagamaan. Bagaimana orang Kristen dapat beragama di tengah-tengah umat Islam, atau sebaliknya. Kemampuan memposisikan diri, baik dalam konteks pemeluk agama yang berbeda, maupun dalam suatu agama yang sama, diperlukan dalam rangka menciptakan harmoni di antara sesama umat beragama, baik sebagai sesama warga bangsa atau pun sebagai warga dunia. Karena, keharmonisan umat beragama akan berkontribusi dan memberi dampak signifikan bagi terwujudnya kedamaian dunia.

Dalam konteks Indonesia, ikhtiar ke arah harmonisasi umat beragama masih dirasakan penting, bahkan harus digarap secara serius, karena di banyak tempat masih sering terjadi berbagai konflik atas nama agama. Walaupun alat picunya bisa ekonomi, politik atau lainnya, tetapi sentimen keagamaan masih ditengarai sebagai unsur yang dapat memacu adanya konflik tersebut.

Di antara latar masalahnya, adalah karena bagi kalangan tertentu, keragaman dan kewarna-warnian agama dan ajarannya, maknanya adalah keruwetan dan kebingungan. Tidak kecuali adanya realitas wajah Islam yang bermacam-macam.

Ada kesulitan pada banyak orang untuk memahami dan menentukan pilihan, dari sekian ragam pandangan dan wajah Islam yang ada itu, mana yang benar atau lebih benar? Dari sekian ragam agama dan keagamaan itu, manakah yang boleh atau harus menjadi pilihan? Umumnya, orang bingung karena masing-masing agama dan ragam aliran keagamaan menawarkan kebenarannya sendiri-sendiri.

Lebih penting dari itu, adalah bagaimana agar setiap orang dapat beragama dan berkepercayaan, tanpa harus menyinggung atau mengganggu pemeluk agama dan aliran keagamaan lain yang berbeda? Penjelasan soal seperti ini penting, karena banyak orang atau kelompok keagamaan yang memiliki klaim kebenaran. Bahkan, menuduh yang lain salah, yang dalam batas tertentu klaim-klaim kebenaran tersebut dapat menggiring ke arah konflik.

Dalam konteks keragaman wajah Islam, saya ingin mengibaratkan Islam sebagai sebuah bangunan rumah. Bangunan rumah itu banyak tipenya, ada yang tipe kecil dan ada yang tipe besar. Rumah tipe besar biasanya memiliki ruangan yang luas-luas, termasuk luas tanahnya. Sebaliknya, rumah tipe kecil, maka ruangan-ruangannya pun kecil dan terasa sempit.

Bagaimana pun tipenya, standar rumah biasanya memiliki beberapa ruang: ada ruang tamu, ruang kamar tidur, ruang dapur serta ruang kamar mandi dan WC. Rumah yang tidak ada ruang tamu, atau kamar mandi dan WC-nya, tentu akan dianggap tidak lengkap dan dirasakan tidak nyaman.

Membangun Rumah Islam yang Luas

membangun-rumah-islam-yang-luas12
Bangunan Islam juga ada yang kecil dan sempit, ada yang besar dan luas. Luas dan sempitnya bangunan Islam tergantung persepsi dan perspektif orang, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pendidikan dan lingkungan keagamaannya. Ibarat sebuah bangunan, Islam memiliki beberapa ruang. Di antaranya ruang aqidah atau kalam, ruang akhlak, ruang tashawuf, dan ruang fiqh atau hukum.

Bangunan Islam juga ada yang kecil dan sempit, ada yang besar dan luas. Luas dan sempitnya bangunan Islam tergantung persepsi dan perspektif orang, yang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pendidikan dan lingkungan keagamaannya. Ibarat sebuah bangunan, Islam memiliki beberapa ruang. Di antaranya ruang aqidah atau kalam, ruang akhlak, ruang tashawuf, dan ruang fiqh atau hukum.

Di dalam bangunan Islam itu, juga ada ruang NU, ruang Muhammadiyah, Persis, Ahmadiyah, MUI, FUI, dan lain-lain. Sebagaimana layaknya sebuah rumah, bangunan Islam dapat dianggap tidak lengkap bila tidak ada ajaran aqidah atau akhlaknya; dan akan dirasakan tidak menarik bila di rumah Islam tidak ada NU atau Muhammadiyahnya.

Ketika orang memasuki sebuah rumah, ia akan melihat banyak hal dalam bangunan bernama rumah itu, tergantung ruang mana yang dimasukinya. Ketika berada di ruang tamu, maka yang akan terlihat adalah fasilitas yang ada di ruang itu, seperti kursi dan meja tamu serta beberapa aksesoris yang ada di sana.

Ketika di ruang tengah pasti yang terlihat akan lebih banyak lagi, demikian seterusnya ketika memasuki ruang-ruang lain yang ada dalam bangunan itu, maka yang terlihat adalah benda-benda yang ada pada masing-masing ruang tersebut. Untunglah bila orang berkesempatan melihat seluruh ruangannya, sebab ia akan melihat hampir seluruh benda yang ada dalam bangunan itu. Orang itu boleh jadi akan menyatakan bahwa bangunan itu sangat luas, dan banyak hal di dalamnya.

Tentu akan berbeda kesan dan komentarnya, dengan orang yang hanya masuk dan berada di ruang tamu saja, atau yang masuk kamar tidur saja. Orang ini hanya bisa menyebut beberapa benda yang ada di dua ruang itu, yang luas pandangan dan jumlah benda yang dilihatnya terbatas beberapa jenis saja.

Ilustrasi itu dapat digunakan untuk menggambarkan tentang luas dan sempitnya pandangan orang tentang Islam. Orang bisa berbicara tentang Islam seluas atau sesempit pengetahuannya, tergantung seberapa banyak ruang Islam yang dimasukinya, bidang keislaman yang dipelajarinya, dan seberapa lama berada di masing-masing ruang dan bidang kajiannya itu.

Ketika orang masuk wilayah kajian fiqh, maka yang nampak itu adalah kitab-kitab dan masalah-masalah fiqh. Sehingga, apa pun akan dilihat dari perspektif fiqh. Akhirnya, mungkin saja orang itu akan berkata bahwa Islam itu tak lain adalah fiqh. Substansi Islam yang paling penting adalah fiqh. Maka, pelajarilah fiqh, sebab fiqhlah yang akan menjadi jalan keselamatan manusia di dunia dan di akhirat. Orang yang masuk bidang aqidah dan tashawuf, tentu akan lebih banyak bertemu dengan kitab-kitab dan guru-guru tashawuf.

Ia pun akan menyatakan bahwa subtansi Islam itu adalah tashawuf. Tashawuflah yang akan mengantarkan manusia pada kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat, bahkan yang dapat mengantarkan pada puncak kebahagiaan yang sejati. Begitulah seterusnya dengan orang yang masuk pada bidang-bidang Islam lainnya.

Orang yang sejak lahir hidup dan dibesarkan di lingkungan NU misalnya, tentu yang terlihat adalah Islam NU. Kitab dan buku-buku yang dibacanya hanyalah kitab dan buku-buku NU. Ia pun memperoleh pelajaran dari guru-guru dan para kiayi NU. Maka, tata cara beribadah, ritual dan aktivitas keagamaannya sesuai dengan tradisi yang hidup dan berkembang di lingkungan jamaah NU. Wajarlah bila kemudian orang itu berpandangan bahwa NU adalah Islam, dan Islam adalah NU. Wajar pula jika kemudian ia berkeyakinan bahwa Islam yang benar adalah Islam NU, bahwa NU-lah satu-satunya jalan keselamatan, maka ia pun berani mati untuk membelanya.

Demikian pulalah sikap orang yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi Muhammadiyah dan Persis. Islam menurut mereka adalah Muhammadiyah dan Persis. Itulah Islam yang benar; dan itulah satu-satunya jalan keselamatan. Maka, pantaslah bila mereka berseru: “masuklah Muhammadiyah”, kata si Muhammadiyah; dan kata si Persis, “masuklah Persis. Janganlah keluar darinya”. Maka, pantas pula bila kemudian mereka pun melakukan sosialisasi, merekrut anggota dan melakukan pembinaan, bahkan rela berkorban untuk membela dan mempertahankan aqidah dan eksistensi organisasinya itu. Demikian seterusnya dengan orang yang ada pada organisasi keagamaan Islam lainnya.

Persoalannya sekarang, betulkah bahwa Islam itu adalah fiqh? Islam itu adalah akhlak dan tashawuf? Benarkah bahwa Islam itu adalah NU. Islam itu adalah Muhammadiyah dan Persis, atau ormas keagamaan lainnya? Tentu Anda akan menjawab, bahwa Islam tidaklah identik atau sama sebangun dengan fiqh dan akhlak tashawuf, atau bidang kajian Islam lainnya. Islam pasti diyakini lebih luas dari sekedar masing-masing bidang itu. Islam terdari atas berbagai-bagai aspek, di antaranya adalah fiqh dan akhlak tashawuf.

Pertanyaan berikutnya, benarkah Islam itu sama dengan NU, Muhammadiyah, Persis atau ormas Islam lainnya? Tentu Anda pun akan menjawab, bahwa Islam tidak identik dengan NU atau Muhammadiyah. Islam lebih luas dari sekedar NU, Muhammadiyah, dan Persis. Islam terdiri atas NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Matla’ul Anwar, MUI, FUI dan sebagainya. Ahmadiyah boleh jadi termasuk di dalamnya.

Setidaknya, menurut para pengikutnya. Betul, bahwa semua ormas yang disebutkan tadi adalah Islam, tapi bukan sebaliknya. Islam tidaklah identik dengan NU. Islam bukanlah hanya NU, Muhammadiyah, Persis dan seterusnya itu. Maka, seseorang tetap disebut Islam atau Muslim ketika ia masuk atau tidak masuk NU, Muhammadiyah dan Persis, atau yang lainnya.

Orang pun bisa masuk Islam melalui atau tidak melalui pintu NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya itu. Orang pun boleh berada atau tidak berada di dalamnya, baik sebentar atau berlama-lama, boleh masuk dan boleh keluar, tanpa harus merasa berdosa atau bersalah, apalagi menyalahkan orang lain.

Kalau fiqh atau tashawuf didakwa sebagai bagian dari Islam, maka Islam fiqh atau Islam tashawuf bisa disebut sebagai Islam sempit. Demikian pula dengan Islam NU, Islam Muhammadiyah, atau Islam PUI, itu pun merupakan Islam sempit. Karena, Islam luas di dalamnya meliputi segenap unsur ajaran yang bukan sekedar fiqh dan tashawuf, dan mencakup Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam PUI, dan sebagainya.

Luas dan sempitnya Islam itu tergantung perbandingan dan perspektif yang digunakan untuk melihatnya. Makna Islam itu ibarat lingkaran-lingkaran, mulai dari lingkaran yang kecil sampai lingkaran besar. Ibarat pepatah di atas langit ada langit. Maka, seluas apapun pandangan Islam seseorang atau sejumlah orang bisa tetap disebut sebagai Islam sempit, ketika dibandingkan dengan Islamnya Rasul Muhammad dan Gusti Allah yang sangat luas, bahkan mahaluas.

Kata Gusti Allah,”Wama utitum minal ilmi illa qalila..”, Tidaklah Aku berikan ilmu kepadamu, kecuali sedikit saja. Termasuk ilmu tentang keislaman. Dengan demikian, maka saya dan Anda, juga yang lainnya, masing-masing hanya memiliki pengetahuan Islam yang sedikit, dan karenanya Islam kita adalah Islam sempit, yang tidak seyogyanya diklaim sama dengan Islamnya Kangjeng Nabi dan Gusti Allah.

Yang ingin dikatakan dalam tulisan ini adalah bahwa Islam itu sangatlah luas. Karenanya, jangan dipersempit dengan kesempitan pandangan seseorang atau sejumlah orang saja. Islam itu luas, jangan direduksi menjadi bidang-bidang kajian tertentu saja. Islam itu luas, maka janganlah dipersempit menjadi organisasi keagamaan tertentu saja.

Janganlah pemahaman seseorang atau sejumlah orang tentang Islam didakwa sama persis dengan Islam yang dikehendaki oleh Gusti Allah dan Rasul-Nya. Pemahaman orang atau sejumlah orang tentang Islam, hanyalah salah satu kemungkinan benar tentang Islam yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jelasnya, Islam yang luas adalah Islam yang meliputi bidang ibadah dan muamalah, bidang aqidah dan syariah, bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Islam yang luas adalah Islam yang meliputi ajarannya, kitab sucinya, penganutnya, organisasinya, sejarahnya, pemahaman umatnya, dan seterusnya. Islam yang luas adalah Islam yang meliputi NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Matla’ul Anwar, dan sebagainya. Islam yang luas adalah Islam yang pelangi dan warna warni, yang mengakomodasi semua nilai benar, segala kebajikan, keadilan, kemaslahatan, keselamatan dan kedamaian.

Marilah kita membangun rumah Islam yang besar dan luas, agar bisa menampung semua orang yang berminat tinggal di dalamnya, dan kita tidak lagi harus berdesakan dan gulat di ruang sempit. Terhadap mereka yang sudah berada di dalam dan telah menghuni rumah Islam itu selama ini, biarkanlah menikmati suasana kedamaian dan kenyamanannya sendiri, tak perlu kita mengusir-ngusir mereka, hanya karena selera makan kita berbeda.

Dalam konteks IAIN, marilah kita jadikan kampus ini juga sebagai rumah besar. Semua keragaman yang ada di dalamnya diakomodasi secara profesional dan proporsional. Semua sivitas akademika, apa pun latarbelakangnya, adalah keluarga besar, pemilik sah kampus ini. Tidak boleh ada diskriminasi di dalamnya, apalagi marjinalisasi atas dasar sentimen primordial apapun.

Sejarah kampus ini tumbuh dan berkembang dalam keragaman. Itulah pula yang diperlukan untuk kemajuannya di masa depan. Dalam bidang keilmuan, kampus ini harus diformat seperti supermarket. Ya, supermarket keilmuan. Berbagai ragam keilmuan disajikan secara transparan. Berbagai perspektif dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa prasangka.

Mahasiswa dan para pencari ilmu diberi ruang yang cukup untuk memilih dan memilahnya. Dengan cara itulah kita bisa berharap, bahwa kampus ini akan tumbuh dan berkembang menjadi pusat ilmu dan peradaban Islam, yang maju dan bermartabat di masa yang akan datang. Wallahu a’lam. ** Prof. Dr. H. Adang Djumhur S

Komentar
Memuat...