Membangun Ukhuwah dalam Nalar Cinta Nabi Muhammad

0 72

Membangun Ukhuwah dalam Nalar Cinta Nabi Muhammad. Muhammad, itulah nama Nabi dan rasul yang terakhir. Ia bukan hanya Nabi dan Rasul terakhir bagi pengikutnya, tetapi, juga bagi seluruh umat manusia. Namanya memang pendek. Sama pendeknya dengan kebanyakan nama nabi-nabi lain selain dirinya. Ayahnya Abdullah, seorang eksportir Timur Tengah yang menjual barang dagangannnya, jika diukur hari ini, setidaknya melampui 9 negara.

Abdullah meninggal dalam perjalanan pulang sehabis melakukan perniagaan dari Syam. Ia meninggal, saat umur Muhammad masih delapan bulan dalam kandungan ibunya, Aminah. Keturunan bangsawan dan aristocrat Arab ini, silsilahnya sampai kepada Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim alaihi salam baik dari bapaknya [Abdullah] maupun dari ibunya [Aminah].

Muhammad sering juga disebut sebagai cincinnya para Nabi. Karena itu tidak heran kalau Ia bukan hanya ditetapkan sebagai pemimpin para Nabi dan rasul, tetapi, juga pemimpin nabi-nabi khusus yang disebut dengan ulul azmi. Inilah sosok yang jika mengutip salah satu hadits qudsi disebut sebagai Nur limpahan yang menjadi sebab kehadiran makhluk Tuhan lain. Hal ini dapat direkam dalam salah satu hadits Qudsi berikut ini:

Law laka law laka ya Muhammad, ma khalaqta hada al aflak”, Jika Aku (Tuhan) tidak menciptakan Nurmu Muhammad, maka, Aku tak menciptakan seluruh makhluk atau alam ini”.

Hadits Ini pula yang menjadi konsep al Jilli dalam merumuskan kajiannya dalam apa yang disebut dengan “mirar al Allah”. Teori ini, dalam nalar Ibnu Sina, al Farabi dan Al Razi kemudian disebut dengan alfayd (pancaran) sebagai bentuk penjabaran dari teori emanasi (pancaran) yang digagas Plato di Yunani Kuna. Lepas dari berbagai teori tadi, ia memang menjadi imam bagi Nabi-nabi lain. Inilah kehebatannya, sehingga banyak ahli sejarah menyebut dirinya sebagai sosok utama kemanusiaan.

Masa Kelahiran Kontroversial

Masa Kelahiran Kontroversial
Negosiasi itu, dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi, karena Abrahah merampas seluruh kekakayaan Abdul Muthalib, untuk menjadi jaminan sekaligus garansi baginya, agar Abdul Muthalib menutup Ka’bah atau bahkan menghancurkan Ka’bah.

Muhammad lahir bertepatan dengan datangnya serangan yang dilakukan Raja Abrahah dari Afrika yang bersemangat ingin menghancurkan Ka’bah di Mekkah. Inilah yang dikenal dengan tahun gajah karena serdadu yang didatangkan raja Abrahah menggunakan alat angkut Gajah. Tuhan masih melindungi Ka’bah dengan cara “mendatangkan” burung-burung yang diutusnya dengan membawa bara api dari neraka. Inilah yang menyebabkan seluruh bala tantara Abrahah mati sebelum mampu mendekati Ka’bah sekalipun.

Cerita awal soal kedatangan raja Abrahah ini, terjadi ketika dia merasa heran mengapa Ka’bah banyak dikunjungi masyarakat dunia dalam jumlah yang sangat banyak. Akibat dari banyaknya kedatangan tamu, maka, Ka’bah bukan hanya sekedar menjadi pusat spiritual dunia, tetapi, tumbuh menjadi pusat ekonomi yang sangat strategis pada kelas dunia juga.  Arab tumbuh menjadi macan ekonomi dan mengalahkan kekuatan ekonomi lain di sekitar kawasan Timur Tengah.

Dalam Analisa Abrahah, salah satu faktor yang menjadi penyebab terjadinya situasi semacam itu, karena Arab memiliki tempat suci yang menjadi pusat peribadatan masyarakat dunia. Akhirnya ia membangun gereja yang sangat besar dan bahkan lebih besar  dan lebih indah dibandingkan dengan besar dan megahnya Ka’bah di awaktu itu.

Namun setelah bangunan ini berhasil ia selesaikan, masyarakat dunia tetap saja datang ke Ka’bah, tidak ke geraja yang dia bangunnya. Geraja yang demikian dan besar itu tetap sepi dan jauh dari keramaian. Dari situlah iri dengki Abrahah muncul, dan berniat untuk menghancurkan Ka’bah. Ia datang bersama ribuan prajuritnya untuk menghancurkan Ka’bah. Saat pertama kali dia datang, ia melakukan negosiasi dengan pengurus Ka’bah, yakni Abdul Muthalib (Kakek Nabi Muhammad) yang sangat disegani di Jazirah Arab.

Negosiasi itu, dilakukan dengan cara yang tidak manusiawi, karena Abrahah merampas seluruh kekakayaan Abdul Muthalib, untuk menjadi jaminan sekaligus garansi baginya, agar Abdul Muthalib  menutup Ka’bah atau bahkan menghancurkan Ka’bah.

Setelah beberapa hari, seluruh kekayaannyadirampas Abrahah, Abdul Muthalib meminta seluruh warga yang ada di sekitar Ka’bah untuk pergi meninggalkan kampung halamannya karena akan diserang Abrahah. Dan setelah penduduk di sekitar Ka’bah kosong, maka, Abdul Muthalib mendatangi Abrahah dan ia mengatakan:

“Wahai Abrahah … Ka’bah adalah milik Allah. Aku hanya sekedar diperintah untuk menjaga dan memeliharanya. Sedangkan kambing-kambing dan binatang lain serta kekayaan yang kau rampas adalah milikku. Cara apapun yang kau minta agar aku menutup atau apalagi menghancurkan Ka’bah, sedikitpun aku tak memiliki kuasa kerana pemiliknya adalah wujud yang sangat Kuasa, yakni Tuhan. Karena itu, kembalikanlah kekayaanku karena itu adalah hak milikku. Terkait dengan Ka’bah, terserah kamu mau melakukan apa. Hanya pemiliknya yang memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberikannya kepadamu.”

Kekayaan Abdul Muthalibpun dikembalikan semuanya tanpa kecuali. Lalu Abdul Muthalib bersama keturunannya, tentu bersamanya Aminah yang sedang hamil tua, pergi meninggalkan Ka’bah. Dan setelah itu, terjadilah gerakan penyerbuan yang dilakukan Abrahah menuju Ka’bah. Sebelum sampai ke Ka’bah, burung-buru yang diutus Tuhan telah menyerbu terlebih dahulu. Matilah mereka. Saat genting seperti itulah, Nabi Muhammad, yang diperkirakan terjadi pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 12 tahun sebelum Hijriyah, tepatnya pada tahun 571 Masehi, Nabi yang sangat luar biasa ini lahir, dari perut seorang ibu bernama Aminah. Sementara itu, Abdullah tidak menyaksikan kelahirannya, karena ia meninggal dalam usia kandungan Aminah kurang lebih 8 bulan.

Perawatan Spesial Nabi Muhammad

Perawatan Spesial Nabi Muhammad
Nabi Muhammad kecil tumbuh di sekitar Ka’bah di bawah perlindungan para Mullah Quraisy yang mengurusi Ka’bah

Nabi Muhammad kecil tumbuh di sekitar Ka’bah di bawah perlindungan para Mullah Quraisy yang mengurusi Ka’bah. Ia ditetein seorang wanita shalehah bernama Halimah. Ia adalah perempuan yang banyak menyaksikan kejadian-kejadian aneh yang menimpa perjalanan Muhammad bayi dan kecil.

Ia bukan hanya sekedar memperoleh keberlimpahan air susu untuk diminum Muhammad, tetapi, kambing yang diurus anak-anak Halimah-pun bertambah dalam jumlah yang relative patut untuk dianggap tidak wajar.

Ketidakwajaran itu, terlebih saat ia berumur empat tahun yang menyaksikan ada dua “manusia” yang “membelah dadanya” dan membersihkannya dengan air yang sangat suci dan berada pada tempat yang sangat suci pula. Karena takut terjadi apa-apa, Halimahpun mengembalikan Muhammad kecil kepada Aminah dan keluarga besarnya.

Muhammad diasuh ibunya selama kurang lebih dua tahun. Pada usianya yang ke enam tahun, ia diajak Aminah –ibunya– untuk berkunjung ke makam bapaknya di batas antara Kota Mekkah dan Medinah. Sepulang dari kunjungan itu, Aminah meninggal dunia karena sakit kelelahan. Lalu dia diurus kakeknya, Abdul Mutahalib, sampai berumur delapan tahun. Kakeknya meninggal dunia juga. Ia kemudian dirawat pamannya, bernama Abu Thalib yang menjadi bapaknya Ali bin Abi Thalib dalam durasi waktu yang sangat panjang.

Bersama pamannya ini, ia mulai dilatih dan merintis bisnis. Sampai kemudian bergabung dalam perusahaan multi nasional yang dimiliki Khadijah di usianya yang ke 18 tahun, dan diangkatnya sebagai Direktur Utama yang melakukan eksportir ke 16 negara jika ukurannya hari ini. Iapun menikah dengan Khadijah pada usia yang ke 25 tahun dengan perkawinan yang sangat mewah. Dari sini ia melahirkan tujuh orang anak, semuanya meninggal dalam usia kecil, kecuali Fatimah binti Muhammad.

Perkawinan ini telah melahirkan prinsip-prinsip nubuwah yang penuh cinta kasih. Keluarga ini mirip seperti Adam dan Hawa, yang telah melahirkan Iklima dan puluhan saudaranya yang lain. Cinta Ibrahim kepada Sarah melahirkan Ishak dan Ya’kub serta keturunannya. Cinta Ibrahim pada Hajar melahirkan Ismail yang dalam periode tertentu melahirkan Muhammad. Cinta Muhammad pada Khadijah melahirkan Fatimah dan enam anak calon penghuni syurga. Inilah keluarga penuh cinta yang tidak berhingga.

 Dalam perjalanan pedagangan yang dilakukan Muhammad, ia bukan saja selalu menghabiskan seluruh barang dagangannya, tetapi, beberapa aspek misterius sering terjadi. Misalnya, ia selalu dilindungi awan sehingga ia tidak merasa panas yang berlebih saat panas itu harusnya menyengat tubuhnya. Sampai kemudian suatu hari, seorang pendeta Yahudi, memberitahu kepada Abu Thalib –dalam suatu perjalanan perniagaan—untuk menjaganya dengan baik, karena anak yang selalu dibawanya itu adalah calon seorang Nabi.

Ia menunjukkan beberapa Irhas yang dimiliki anak dimaksud, sehingga perlu dikhawatirkan adanya sekelompok manusia syirik yang membunuhnya.  Dan betul, dalam usianya yang ke 40, Muhammad diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul, setelah melakukan khalwat selama kurang lebih 40 hari 40 malam, di sebuah gua yang disebut Hira dan gunung yang disebut dengan Jabal Nur

Cinta adalah Modal Keberhasilan Nabi Muhammad

Cinta adalah Modal Keberhasilan Nabi Muhammad
Cinta itulah yang menyebabkan Muhammad berhasil menyiarkan Islam dalam waktu yang sangat singkat

Muhammad adalah Nabi dan Rasul dengan tingkat presisi keberhasilan paling tinggi dibandingkan dengan Nabi dan Rasul lain. Ia hanya menghabiskan waktunya selama kurang lebih 23 tahun di Mekkah dan di Madinah. Keberhasilan perjuangan Muhammad itu, dalam Analisa saya, bukan hanya karena ia hebat memainkan pedangnya, atau karena strateginya dalam mengalahkan musuh dalam bentuk peperangan. Keberhasilannya adalah karena ia memiliki cinta yang tidak biasa kepada umatnya. Cinta Muhammad melebihi cinta apapun yang ada di muka bumi yang dipertunjukkan manusia.

Cinta itulah yang menyebabkan Muhammad berhasil menyiarkan Islam dalam waktu yang sangat singkat. Bayangkan, selama 23 tahun perjalanan kenabian dan kerasulan Muhammad, bukan saja ia berhasil menjadikan Islam sebagai agama resmi Mekkah dan Madinah, tetapi, bahkan sampai ke jazirah Arab.

Agak kurang tepat berbagai tampilan yang menunjukkan sosok Muhammad sebagai tukang perang, pecinta darah kematian orang, gladiator pembunuhan manusia dan tokoh gnoside yang tidak tertandingi.  Ia adalah sosok suci yang menampilkan bukan saja gejala kenabian sejak ia dilahirkan, tetapi, sosok penuh aroma magnetik sebagai wujud yang dicintai dan memiliki karakter kecintaan yang dalam terhadap sesama manusia.

Ia laksana wahyu Tuhan yang terus berjalan. Seluruh hidupnya diilustrasi sebagai ekspresi rasa cinta Tuhan kepada hambaNya. Cinta Muhammad begitu ekspresif seekpresif kesan cinta Tuhan kepada umatnya. Karena itu, dalam anggapan saya, bagaimana mungkin seorang manusia tidak mampu mengekspresikan cinta, jika Tuhan sendiri telah mengekspresikan cinta-Nya secara total kepada seluruh ciptaaNya.

Jika dunia dibangun atas dasar cinta, dan kita jauh dari rasa benci, maka tidak mungkin dunia ini diliputi prahara. Dan apapun yang didesain atas nama cinta, pasti abadi. Minimal abadi dalam kenangan bathin. Bathin tak mungkin menghapus semua nokhtah hidup yang didasari atas nama satu kata, yakni kata cinta.

Muhammad itulah pecinta sejati. Kecintaan dia terhadap manusia dapat ditelusuri sejak dia masih kecil. Sejak kecil, remaja dan dewasa ia begitu baik memperlakukan sahabat-sahabat terdekatnya. Ia selalu berada di garis tengah ketika menyelesaikan setiap konflik yang lahir di tengah-tengah umat manusia. Ketokohannya sebagai pecinta sejati, telah mendapat gelar sebagai sosok terpercaya (al amiin) di usia yang relatif muda yakni 35 tahun.

Wawasan kemanusiaan Muhammad sangat tidak tertandingi. Ia membangun keluarga kecilnya sebagai keluarga nubuwah bersama istri tercintanya yakni Khadijah. Sosok kaya nan cantik jelita. Demi cintanya kepada Khadijah, ia tidak pernah berani mengetuk pintu rumahnya, saat larut malam tiba dan ia baru datang dari perniagaannya di berbagai negara. Ia memilih tidur di serambi rumahnya, dan baru diketahui Khadijah justru pada saat hari suatu mulai tiba. Padahal Muhammad baru pulang untuk mencari nafkah guna menafkahi anak istrinya.

Khadijah yang begitu mencintainya, menyapa Muhammad dengan kalimat-kalimat yang terbata-bata dan penuh penyesalan yang sangat kuat. Lalu ia bertanya kepada Muhammad ..  kenapa engkau tidak membangunkan aku? Tanya Khadijah kepada Muhammad. Muhammad menjawab, aku khawatir mengganggu lelapnya tidurmu. Tidur adalah bagian terindah dalam hidup, kata Muhammad …..  Dan … aku kata Muhammad tidak ingin menghancurkan bagian terindah dalam hidupmu itu di malam ini.

BACA JUGA: Meniru Cinta Sejati Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah

Simpulan

Dengan nalar-nalar semacam itu, maka, wajar jika banyak umat Islam sampai hari ini, termasuki mereka yang tidak pernah menyaksikan perjuangannya, selalu merayakan kelahirannya, mengingatnya dan mengambil contoh atas apa yang dilakukannya. Ia memiliki sipat luhur kemanusiaan sebagai ekspresi rasa cinta Tuhan kepada dirinya yang ia pantulkan kepada manusia. Marilah kita mengambil contoh atas karakter dimaksud dalam kepentingan kehidupan kita di dunia, dengan maksud agar bumi dihiasi berbagai keindahan kemanusiaan. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.