Inspirasi Tanpa Batas

Membantah Perspektif Islam Sebagai Agama Teroris

0 184

Konten Sponsor

Mengapa Islam Dituduh Sebagai Agama Teroris? Teror dan terorisme adalah dua kata yang hampir sejenis yang dalam hampir satu dekade ini menjadi sangat populer. Atau tepatnya sejak peristiwa serangan 11 September 2001 ke gedung kembar WTC (World Trade Center) di New York. Peristiwa tersebut seakan mengintimidasi Islam sebagai agama ‘Teroris’, dan dituduh sebagai agama yang mengajarkan anarkisme (kekerasan), radikalisme dan terorisme.

Kedua hal ini sering terjadi kesalahpahahaman yaitu mengenai konsep islam yang sering dikaitkan dengan kasus-kasus terorisme yang terjadi di dunia. Meninjau keterlibatan tentang hal itu islam sendiri mengenal adanya jihad yaitu berjuang di jalan Allah, makna inipun kadang disalah artikan sebagai suatu tindakan yang tidak memiliki konsep hak asasi manusia, karena secara keyaknan berjuang untuk merealisasikannya dengan cara membunuh atau mebinasakan yang dianggap sah dan diperbolehkan.

Anggapan yang seperti inilah yang sering dikaitkan denga gerakan terorisme, justru sebenarnya terorisme adalah isu yang sengaja dikaitkan dengan isu keyakinan islam yang benar. Isu tersebut dimanfaatkan untuk merusak dan menghancurkan keyakinn islam, yaitu bahwa islam adalah agama radikal yang keras dan tidak menghargai demokrasi dan kebebasan-kebebasan lainnya.

Islam memang mengatur tentang kehidupan di dunia, kebebasan tidak digunakkan secara salah dan berlebihan, hal ini untuk kebaikan manusia itu sendiri. Maka dari itu islam mempunyai hukum yang ketat dan aturan yang tidak bisa ditawar secara logika. Karena semuanya telah diatur dalam Al-Qur’an sebagai wahyu yang sempurna. Jihad pun dalam islam sudah ada aturan dan ketentuan yang harus dipatuhi, bukan semata-mata tindakan menghancurkan yang sering dikaitkan dengan terorisme.

Akar Dan Sejarah Terorisme

  • Sejarah Terorisme

Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.

Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.

Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair pada tahun 50an, dilakukan oleh FLN (Front de Liberation Nationale) atau Front pembebasan Nasional yang memopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist.

Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas. Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.

Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota, kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.

  • Akar Terorisme

Tumbuhnya terorisme karena ketidakadilan sosial. Berbagai aksi terorisme dan radikalisme seringkali disematkan pada orang-orang muslim, sementara realitas ketidakadilan yang menjadi latar belakang aksi terorisme tidak pernah diungkap. Kebanyakan aksi terorisme dilakukan sebagai reaksi atas hegemoni negara-negara Barat di dunia Islam.

Salah satu contoh nya, negara-negara Barat menguasai atau menghegemoni sumberdaya alam negara-negara Islam.  Mereka bebas mengeksploitasi kekayaan negara-negara Islam, sebagaimana yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Bahkan terorisme juga dilakukan sebagai respon atas tindakan AS yang melampaui batas dalam mengacak-acak dan mengadu domba negara-negara teluk sehingga memupuk rasa benci kepada AS dengan melakukan aksi terorisme.

Pendorong aksi terorisme adalah pemberhalaan terhadap uang. Berbagai aksi  terorisme yang dilakukan oleh umat Islam tidak sepenuhnya murni menegakkan jihad atau untuk memperjuangkan penegakan syariat Islam tetapi lebih banyak untuk memperoleh kekayaan atau uang. Bukan rahasia umum bahwa perjuangan yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) bukan semata-mata untuk memperjuangkan dan berjihad melawan AS tetapi semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi.

Kalau memang benar-benar untuk menegakkan khilafah Islamiyah, semestinya pertama kaliyang diserang adalah rezim Suriah yang jelas-jelas melakukan pembunuhan terhadap muslim Sunni. Semestinya ISIS juga akan menyerang Rusia, yang jelas-jelas identitasnya sebagai non muslim dan banyak membunuh warga Suriah. Namun semua itu tidak dilakukan oleh organisasi yang dibentuk organisasi yang banyak disinyalir dibentuk oleh AS. Bahkan perilaku sadis dan kejam yang ditunjukkan ISIS, dalam membunuh lawannya, sangat jauh dari nilai-nilai dan dan akhlaq Islam.

Islam Bukan Agama Teroris

Terorisme memang sengaja disematkan dan dipaksa untuk dilekatkan pada Islam. Berbagai peristiwa pembunuhan yang dilakukan seseorang atau sebuah komunitas, baik secara terbuka maupun samar, pasti akan diarahkan tuduhannya kepada Islam. Bahkan fakta-fakta pembunuhan, yang dilakukan oleh mereka yang jauh dari dari atribut Islam sekalipun, terus saja dipaksakan pada orang Islam.

Namun wacana ini seolah terbantahkan dengan pengakuan seorang petinggi agama Katolik yang menyampaikan pikirannya secara jujur bahwa tindakan terorisme bukanlah hak milik umat Islam, namun juga ada dan dilakukan oleh orang-orang berbagai latar belakang agama, termasuk Nasrani.

Pernyataan ini diungkapkan secara jujur oleh pemimpin keagamaan Katolik, Paus Fransiskus, yang menyebut bahwa tidak adil jika mengaitkan terorisme dengan agama Islam. Menurutnya, penyudutan Islam dengan ajaran teror tidaklah benar dan tepat. Paus menyebut bahwa ketidakadilan sosial dan pemberhalaan uang adalah penyebab utama terorisme. Terkait dengan penyudutan agama tertentu dengan pemikiran terorisme, Paus juga menyebut bahwa dalam agama Kristen pun ada yang memiliki pemikiran tersebut, dan hal ini terjadi pada hampir semua agama selalu ada kelompok kecil fundamentalis.

Dia menyatakan tidak suka membahas kekerasan Islam. Karena setiap hari dia juga membaca surat kabar tentang aksi kekerasan di Italia, ada yang membunuh pacarnya atau mertuanya. Mereka semua umat Katolik yang terbaptis. Menurutnya kalau ada yang membicarakan tentang kekerasan Islam, maka seharusnya ia juga membicarakan kekerasan dalam agama Katolik. “Andai saya berbicara soal kekerasan Islam, saya juga harus membicarakan kekerasan Katolik. Tidak semua muslim keras,” katanya. (Fokusislam.com.1/82016)

Fundamentalisme tidak hanya ada dalam Agama Islam

Fundamentalisme bukan hanya ada dalam agama Islam. Fundamentalisme juga ada pada setiap agama, seperti juga pada agama Nasrani yang menghabisi dan membunuh pengikut agama lain serta menginginkan agamanya saja yang berdiri tegak. Pikiran fundamentalisme ini mendorong untuk melakukan pembunuhan terhadap penganut agama lain. Fundamentalisme juga ada di dalam agama Yahudi, yang tidak berbeda dengan fundamentalisme agama lain.

Fundamentalisme Yahudi juga mengangankan agamanya yang paling benar dan menginginkan pemusnahan terhadap agama lain. Apa yang terjadi di Palestina, dimana orang-orang Israel bukan hanya ingin merebut tanah Palestina, tetapi juga ingin memusnahkan warganya. Sayang sekali perilaku Israel  yang terus menerus membunuh penduduk Palestina tidak dikategorikan sebagai aksi terorisme.

Kesalahpahaman tersebut menjadikan jihad dimaknai dalam bentuk kemasan agama. Para pelaku teroris tidak memperhatikan dengan baik unsur sosial didalamnya, sehingga menimbulkan anggapan bahwa mereka dan agama merekalah yang benar. Inilah yang kemudian menciptakan impian untuk membentuk negara Islam yang hakiki menurut intepretasi mereka (pelaku teroris).

Stigma Islam yang melahirkan kekerasan terus dimunculkan setiap hari di berbagai belahan dunia. Hingga umat pun perlahan-lahan mulai percaya bahwa Islam mengusung kekerasan seperti itu, padahal tak sedikitpun agama ini menganjurkan kekerasan. Dalam berperang, Islam telah mengajarkan syarat dan ketentuan seperti tidak sembarangan, tidak boleh membunuh non-kombatan, tidak boleh berlebihan, dan sebagainya. **Siti Khotimah

Sumber:

Prof. Dr. Nasarudin Umar, Ma. 2008. Kumpulan Khutbah Jum’at, Islam dan Terorisme, Pustaka Cendekiamuda

Eramuslim

Kompasiana

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar