Membeli Kemuliaan dengan Kehinaan

Membeli Kemuliaan dengan Kehinaan
0 60

Membeli Kemuliaan dengan Kehinaan. Di kalangan para ahli shufi, sering dikenal suatu ungkapan yang mungkin tidak populer di telinga manusia biasa. Ungkapan itu bahkan cenderung aneh dan terkesan mengada-adakan. Misalnya, ungkapan yang menyatakan: hiasilah diri kita dengan kehinaan, kebodohan dan kemiskinan.

Kalimat-kalimat tadi adalah rangkaian ungkapan yang dalam kaca mata tertentu, tampak sangat sulit dirasionalisasi. Tetapi, itulah menurut para salikin jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Mereka yang memiliki watak-watak sebagaimana digambarkan di alinea pertama, justru dapat mendorong dirinya tumbuh menjadi manusia yang mulia.

Apa tujuan di balik keharusan manusia untuk memahami ungkapan-ungkapan di atas. Ternyata, setelah ditelisik, tujuannya yang sangat mendalam, ungkapan di atas diungkapkan untuk menata mental kehidupan manusia. Tujuan dimaksud, misalnya, agar kita tidak selalu merasa menjadi manusia yang mulia, menjadi manusia yang pintar dan tentu tidak merasa menjadi manusia yang kaya. Jika manusia memiliki rasa sebagaimana dijelaskan di atas, maka, ia akan menjadi “Gumede” ketika berhadapan dengan orang lain.

Kehinaan itu adalah Kemuliaan

Secara teologis, sipat-sipat di atas, adalah milik Tuhan. Manusia tidak memiliki ruang untuk merasa bahwa dirinya harus dianggap mulia, harus dianggap pintar dan harus dianggap kaya. Semua itu adalah sipat Tuhan. Tidak pantas, jika kita sebagai manusia harus mengambil alih takhta Tuhan. Mengapa? Karena kita tidak mungkin menandingi-Nya apalagi mengalahkan-Nya. Jangankan menandingi atau mengalahkannya, berada dalam “lingkarannya” pun akan sangat sulit kita raih.

Dalam kacamata kehidupan sosial, larangan itu juga dimaksudkan agar manusia mampu membangun simetri kemanusiaan. Manusia yang merasa dirinya pintar, kaya dan mulia, secara umum justru malah akan tampil menjadi manusia yang hina di mata manusia lain. Dalam perspektif lain, sebut misalnya ada orang yang merasa dirinya kaya. Maka, dapat dipastikan, berkemungkinan ia malah tumbuh menjadi manusia yang miskin.

Karena itu, secara sosiologis. siapapun yang memiliki rasa sebagaimana dijelaskan di atas, hidupnya hanya akan terus berupaya menghinakan, membodohkan dan memiskinkan manusia lain.Sipat dan watak ini, tentu saja malah akan menjerumuskan manusia menuju kehinaan.

Jika pada akhirnya, ternyata kita menjadi manusia yang pintar, mulia di mata yang lain dan mempunyai kekayaan lebih dibandingkan dengan manusia lain itu, maka, semua itu, lebih hanya karena Tuhan menitipkan-nya. Namanya titipan, semua, pada akhirnya pasti sirna. Hanya satu hal yang mungkin dapat mempertahankan apa yang dititipkan Tuhan. Yakni kita harus merasa masih berada dalam posisi yang masih serba kurang. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...