Membentuk Emosi Positif dalam Pembelajaran

0 626

Membentuk Emosi Positif dalam Pembelajaran. Guru dan siswa memiliki emosi masing–masing dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Emosi yang dibawa oleh guru akan memberikan dampak besar pada kesuksesan belajar dan prestasi belajar siswa. Ketika siswa merasa nyaman dan tenang di dalam kelas, ia akan cenderung rajin belajar dan memiliki motivasi tersendiri. Brand dan Powell mengungkapkan bahwa emosi positif yang diberikan oleh guru akan meningkatkan siswa untuk giat belajar, karena merasa nyaman dan tenang.

Sebaliknya, emosi negatif akan melemahkan keterlibatan siswa dalam belajar. Pendapat diatas didukung oleh temuan Sutton (2005) yang menyatakan bahwa emosi positif lebih efektif untuk berinteraksi dengan siswa ketika di kelas, lebih banyak ide, dan lebih efektif mengatasi stress terkait pekerjaanya. Lebih lanjut Triplett (2004) mengemukakan bahwa emosi senang dan bangga secara personal menimbukan interpretasi positif terhadap pembelajaran, berkontribusi terhadap kesempatan memilih, berpartisifasi dan keberhasialan siswa dalam pembelajara. Sementara emosi negatif akan merugikan situasi belajar.

Makna Emosi

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan emosi? Secara etomologi Emosi berasa dari kata “Movere” yang berarti bergerak atau menggerakan. Lalu ditambahkan “e” pada awal kata tersebut. Definisi ini kemudian berkembang untuk memberikan arti “bergerak menjauh”. Tentu istilah psikologi yang dimaksud sangatlah berbeda dengan apa yang sering digunakan kebanyakan orang.

Sayyid dan Az-Zabalawi (2007) mengatakan bahwa emosi adalah luapan perasaan yang berkembang sebagai reaksi psikologis – fisiologis dan surut dalam waktu yang singkat. Emosi ada yang bersifat positif dan negatif. Emosi memiliki pengaruh yang besar terhadap kesehatan mental dan fisik manusia, bahkan pada interaksi yang kita lakukan terhadap orang lain. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa emosi memiliki pengaruh besar terhadap aspek kepribadian individu, luar dan dalam. [1]

Jenis-jenis Emosi

Sedangkan menurut ahli psikologi yakni Daniel Goleman, emosi merujuk pada suatu perasaan dan fikiran yang khas untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak melakukan sesuatu hal. [2] Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa emosi gejala psiko – fisiologi yang menimbukan efek pada persepsi, cara pandang, sikap maupun tingkah laku. Emosi dikeluarkan dalam bentuk ekspressi tertentu.

Berdasarkan jenis emosi, Lazarus (1991) dalam bukunya menyampaikan bahwa emosi dibagi menjadi dua kelompok yaitu positif dan negatif. Pertama yang tergolong emosi positif yakni segala perasaan senang, bahagia dan cinta. Sedangkan emosi negati meliputi perasaan marah, takut – cemas, bersalah, malu, sedih, iri hati dan jijik. Ia menjelaskan bahwa emosi negatif ini muncul dari lingkungan yang tidak sesuai dan tidak sama dengan apa yang diharapkan. Lingkungan dianggapnya sebagai alat yang menunda, menghalangi, menentang bahkan mengancam apa yang ia cita – citakan (angankan). [3]

Berdasarkan pemaparan diatas sudah konsekuensi logis bagi guru dalam melaksanakan tugasnya, ia dituntut untuk senantiasa berkomunikasi dan berinteraksi dengan murid – muridnya di sekolah. Guru pula harus memegang teguh keprofesionalnya sebagai pendidik dan pengajar di Sekolah. Untuk itu  perasaan emosi yang dibawakan oleh guru akan menjadi kunci kesuksesan peserta didik. Ada pepatah mengatakan bahwa jika anak diajarkan oleh seorang yang pemarah, maka anak tersebut akan mejadi sosok yang keras hati.

Merujuk pada tugasnya, Undang – undang nomor 14 tahun 2005 dengan tegas mengungkapkan bahwa guru adalah tenaga profesional yang berkewajiban untuk senantiasa menjunjung tinggi kode etik guru, agara kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesiannya dapat terpelihara. Kode etik guru ini berisi tentang prinsip, moral dan etika dalam melaksanakan tugas keprofesionalanya sesuai dengan nilai agama, pendidikan, sosial dan kemanusiaan. Tugas utama seorang guru adalah mengembangkan segenap potensi anak didiknya dengan maksimal, agar mandiri dan cerdas baik secara fisik, intelektual, sosial, emosional, moral dan spiritual. [4]

Dalam Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 12 – 19 dan Surat ‘Abasa Ayat 1 -10, Allah SWT menyampaikan bahwa seorang guru seharusnya memiliki kompetensi – kompetensi (sifat dasar seorang pendidik) antara lain bijaksana, penuh kasih sayang, demokratis, mengenal murid, dan memahami kejiwaannya, berpengetahuan luas, memahami materi, sabar dan ikhlas.

Membentuk Emosi Positif

Kini tiba saatnya kita menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah membentuk emosi yang positif antara guru dan siswa dalam pembelajaran. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan manusiawi yang menampilkan kedua belah secara utuh termasuk aspek emosinya. Hubungan ditandai dengan sikap guru yang berkualitas penuh kasih sayang dan bimbingan yang menggairahkan sehingga akan tercipta iklim wiyata mandala lebih menyenangkan.

Suasana negatif didalam kelas yang menakutkan, penuh ancaman, banyak hukuman dan tindakan kasar bukanlah menjadi harapan bagi peserta didik. Guru haruslah menghargai siswanya dan perlunya bersabar dalam segala proses bimbingan bersama siswa. Ajak murid – murid anda untuk bertanya, berilah sekali – kali ruang untuk mereka mengeluarkan segala keluh kesahnya dihadapan anda. Tunjukanlah perilaku yang optimis serta penuh keyakinan didapan siswa, tularkan aura positif yang ada didalam diri anda sebagai guru.

Bimbinglah mereka menjadi manusia yang utuh dan demokratis didalam kelas. Ali bin Abu Thalib mengatakan bahwa ada orang yang utuh (rajul), setengah orang (nisf rajul) dan ada orang tidak berarti (la syai’). Orang utuh merupakan orang yang memiliki pendapat yang benar, ia selalu bermusyawarah. Sementara setengah orang (nisf rajul) adalah orang atau mereka yang memliki pendapat, akan tetapi tidak suka bermusyawarah dengan teman-temannya. Kemudian orang tidak berarti adalah (la syai’) adalah orang yang tidak memiliki pendapat dan tidak mau bermusyarah. Tugas guru adalah menjadikan siswa menjadi orang yang utuh dan membimbingnya.

Emosi positif yang ditularkan oleh guru akan berdampak praktis bagi keprofesionalan guru. UU Sisdiknas (2003) dan UU No. 14 tentang guru dan dosen guru harus menciptakan iklim pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas keterlibatan dan prestasi siswa. Dalam jangka panjang akan membentuk nuruting effect yang menyehatkan mental dan menoptimakan perkembangan siswa, terutama dari sisi kesehatan emosi. nuruting effect yang hendak dibentuk harus sengaja dituangkan atau di desai dalam rencana pembelajaran.

Pentingnya Guru Menguasai Emosi

Guru sudah selayaknya memiliki keterampilan emosi untuk memahami dan mengendalikan emosi diri dan emosi siswa tentunya. Keterampilan ini merupakan wawasan kependidikan guru yang pada akhirnya akan menentukan aura positif terhadap situasi pembelajaran, khusunya perilaku siswa. Hal ini akan menentukan tindakan guru menjadi positif yakni penuh kasih sayang dan saling menghargai.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membentuk hubungan yang potitif antara guru dan orang tua melalui berbagai kegiatan misalnya out bond, karya wisata, jalan santai dan sejenisnya. Ini penting dilakukan oleh sekolah, untuk melepaskan ketegangan yang telah diperoleh didalam dari berbagai situasi pembelajaran. Kegiatan diatas bisa menjadi bacground emotion yang positif : rileks, tenang, kalem dan perasaan sejahtera, Inilh bukti bahwa emosi positif lebih efektif daripada negatif untuk mencapai tujuan pembelajaran,

Menurut Atmoko (2008) ada beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :[5]

  • Mengenali norma – norma masyarakat yang menjadi rujukan bagi para guru.
  • Memaknai hakikat perilaku siswa dan pembelajaran sebagai sebuah proses perkembangan dan wahana aktualisasi diri.
  • Mengenali emosi yang muncul terkait dengan nilai norma yang diyakini oleh guru, yang sering kali tidak disadari telag tercermin pada tujuan pribadi guru.
  • Membongkar kemudia mengubah emosi negatif menjadi positif.
  • Memanufulasi ekspresi negatif menjadi positif dalan bentuk tindakan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Simpulan

Pada akhrinya penulis menutup bahwa guru perlu melatih keterampilan mengendalikan emosinya dalam rangka pemahaman terhadap siswa dan pelaksanaan pembelajaran yang secara sengaja menggunakan aspek positit manusia. Harapanya, program – program untuk mendukung emosi positif guru perlu terus ditingkatkan dan digiatkan. Aldy Nurcahya. Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon

[1] Muhammad Sayyid M. Az-Zabalawi. (2007). Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa. Jakarta : Gema Insani.

[2] Goleman, Daniel. (2002).

[3] Lazarius, S. (1991). Emosi and Adaptation. New York : Oxford Univeristy Press.

[4] Undang – undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen.

[5] Atmoko. (2008). Hubungan Manusiawi Guru dan Murid. Malang : Pasca Sarjana Univ. Negeri Malang.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.