Pendidikan Membentuk Manusia Ideal

0 217

Al-qur’an sebagai pedoman hidup ummat manusia mengatur berbagai aspek kehidupan, mulai dari aspek sosial, ekonomi, ibadah, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam aspek pendidikan, Al-qur’an menegaskan pentingnya menuntut ilmu, tujuan pendidikan, metode pengajaran sampai dengan pentingnya seorang peserta didik dalam dunia pendidikan. Pendidikan merupakan bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada peserta didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian yang islami. Dari satu segi terlihat bahwa pendidikan itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam berbagai kegiatan ummat manusia di muka bumi, tidak sedikit orang yang melakukan itu semata- mata untuk memenuhi kewajibannya di bumi. Atau mungkin melakukan kegiatan itu dengan terpaksa dan tak selaras dengan hati nurani. Pendidikan dilakukan hanya untuk sesuatu yang bersifat duniawi. Padahal, pendidikan merupakan suatu hal yang sangat urgen dan boleh dibilang fardlu bagi setiap orang. Pendidikan merupakan sebuah perjalanan spiritual yang dilakukan oleh seorang manusia dalam jenjang formal. Ibadah yang dilakukan secara formal di dunia untuk mencapai maqom teringgi.

Jalal (1988) menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah haji dan mengucap syahadat, diluar itu bukanlah ibadah. Sebenarnya, ibadah mencakup semua amal, fikiran, perasaan yang diharapkan (disandarkan) kepada Allah. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala sesuatu yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah. Dalam Al-qur’an, dijelaskan bahwa semua perilaku kita diniatkan semata- mata karena Allah semata. Hal ini misalnya, tersirat dalam Surat Al-an’am ayat 162-163 yang artinya:

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (162). Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (163).

Dalam tafsir Jalalain , ayat ini menjadi sebuah bukti ajakan beliau (Muhammad saw) kepada umat manusia agar meninggalkan kesesatan dan memeluk islam. Hal ini tidak dimaksudkan untuk meraih keuntungan secara pribadi dari mereka karena seluruh aktifitas beliau hanya demi karena Allah semata (Jalalain, 2002). Dalam tafsir lain, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. yang berpegang pada agama Ibrahim, secara kuat pada talinya, dan menyeru manusia kepada-Nya baik dengan ucapan maupun perbuatan sesempurna mungkin. Dan dialah orang yang pertama- tama ikhlas dan paling khusu’. Dialah yang telah melengkapi agama ini setelah terjadinya penyimpangan semua umat. Allah menerangkan pula bahwa pembalasan disisi Allah adalah didasarkan pada amal, dan tidak seorang pun yang menanggung dosa orang lain. Bahwa tempat kembali hanya kepada Allah semata-mata, dan Allah mempunyai sunah dalam mengangkat umat sebagai khalifah dan menguji mereka dengan kenikmatan dan kesengsaraan. Bahwa Allah semata- mata yang mengatur hukuman terhadap orang-orang yang berbuat jahat, dan merahmati orang- orang yang berbuat baik. (Ahmad Musthafa, 1983).

Konsep Manusia Ideal

Konsep peserta didik dalam islam, memiliki karakteristik tersendiri yang sesuai dengan ajaran islam. Untuk mengetahui peserta didik ideal yang sesuai dengan islam, tentu semuanya tidak terlepas dari pedoman umat islam sendiri, salah satunya Al-qur’an. Perkembangan peserta didik tentunya akan lebih terkesan menawan seandainya tinjauan perkembangan dilakukan sejalan dengan apa yang ada dalam isi kandungan Al-qur’an berdasarkan kemampuan pemahaman komprehensif manusia.

Peserta didik sebagai salah satu komponen pendidikan di dalamnya, merupakan salah satu faktor terpenting dalam terlaksananya proses pendidikan (Ramayulis, 2002).

Manusia adalah pelaku pendidikan, sehingga kedudukannya dalam proses kependidikan menempati posisi paling urgen sebagai syarat terjadinya proses pendidikan. Berangkat dari urgensitas pendidikan dalam membangun sebuah peradaban, maka banyak para kaum intelektual yang mencoba mengkajinya lebih dalam sampai ke akar permasalahannya. Misalnya, pemikir muslim Ibnu Khaldun dan Al-Ghazali, sebagian pemikir yang menjadikan manusia sebagai bahan kajian dalam dunia pendidikan, salah satunya menusia sebagai peserta didik.

Al-Ghazali menjadikan transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan  merupakan sarana utama untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara jiwa, dan taqarrub ila Allah. Lebih lanjut dikatakan, bahwa pendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat (Samsul Nizar, 2002). Dalam kaitannya dengan peserta didik, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali dengan potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengan kejadian manusia yang tabi’at dasarnya adalah cenderung kepada agama tauhid (islam) (Nizar, 2002)

Ibnu Khaldun memandang manusia sebagai makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya. Manusia, dalam pandangan Ibn Khaldun adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu, ia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi (Nata, 1997). Dalam pemikirannya mengenai anak didik, ia mengaitkannya dengan aspek sosial yaitu hubungan anak didik dengan lingkungan dan masyarakat disekitarnya. Lebih lanjut diterangkan, Ibnu Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya sebagaimana yang acapkali dibicarakan para filosof, baik itu filosof dari golongan muslim atau non-muslim. Ia lebih banyak melihat manusia dalam hubungan dan interaksinya dengan kelompok- kelompok yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah ia sering disebut sebagai salah seorang pendiri sosiolog dan antropolog. Manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya, akan tetapi, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan adat istiadat. Karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggungjawab dan sekaligus memberikan corak perilaku seorang manusia. Hal ini memberikan arti, bahwa pendidikan menempati posisi sentral dalam rangka membentuk manusia ideal yang diinginkan (Nizar, 2002).

Manusia, sebagai pelaku pendidikan harus memahami apa yang seharusnya dilakukan dalam menghadapi tantangan sosial, namun tidak meninggalkan nilai yang sebenarnya urgen dalam pendidikan. Seperti halnya manusia dalam posisi peserta didik yang selalu ingat bahwa dalam melakukan segala sesuatu di dasarkan semata- mata ibadah kepada Tuhan semesta alam. *** Iwan Ridwan Maulana, S.Pd.I

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.