Membongkar “Kuburan” Budaya Lokal

0 10

GESEKAN dan pertemuan antar budaya akan melahirkan sebuah formula baru kebudayaan. Penetrasi inilah yang pada mulanya dipahami sebagai “dialog hadap masalah” antar budaya. Namun, ternyata perlahan berubah menjadi saling isi dan sikut satu sama lainnya. Rumusan klasik yang kemudian dimaknai pengembangannya, sebagai benturan budaya lokal dan global.  Jika dikomparasikan dengan analisa Samuel Huntington dalam The Class of Civilizations, benturan itu terjadi pula di Tanah Air, bahkan di jalur Pantura Jawa Barat sendiri. Membongkar “Kuburan” Budaya Lokal

Bertemunya budaya pertanian pada satu sisi dengan budaya industri dan informatika mulai menghasilkan gesekan-gesekan konflik yang cukup tajam. Secara sederhana, indikatornya bisa dilihat dari angka tawuran yang tinggi, baik di daerah Kabupaten Indramayu maupun Cirebon. Dalam pandangan saya kasus ini murni sebagai benturan budaya yang tidak memiliki muatan politik sama sekali. Kalaupun ada muatan politik, maka hanya sebagai ikutan yang menumpang paling belakang.

Pada masyarakat di sepanjang jalur Pantura – terutama Cirebon – masih lekat dengan kisah gegeden mereka yang perkasa, tak mempan senjata tajam apapun. Kisah-kisah semacam itu masih terus mengiang dalam pikiran mereka. Meski gegeden  itu mengalami kesenjangan waktu sekitar 550 tahun saat mereka hidup. Cuaca yang panas dan geografis yang sangat terbuka bagi siapapun merupakan sisi lain sebagai faktor penunjang terjadinya konflik budaya yang secara fisik menjadi konflik sosial. Mereka menjadi mudah tersinggung ketika ditegur kawannya secara sopan. Pemicunya bisa pada minuman keras berkadar alkohol tinggi, guyonan yang berlebihan atau apapun yang sifatnya sangat remeh-temeh. Atavisme – karakteristik yang terputus ratusan tahun lalu mendadak muncul kembali – menjadi kerinduan yang ingin diwujudkan pada masa kini.

Dimanakah Budaya Lokal Berada?

Kini budaya-budaya lokal yang pernah kita miliki telah menjadi penghuni era masa lalu. Karena yang kini muncul adalah bentuk kebudayaan yang jauh berbeda dengan masa seratus tahun yang lalu. Kuburan budaya lokal terdapat di berbagai daerah. Di atas kuburan itu tumbuh beberapa pohon yang merupakan involusi dari akar budaya yang telah mati.

Involusi budaya tersebut secara sederhana bisa dilihat dari perilaku dan cara berpikir yang berfokus pada nilai atau filosofi dasar mereka. Namun, mereka tak bisa lepas dari jeratan kebudayaan massa yang bersifat masif. Karena itu budaya lokal kita saat ini hanya merupakan involusi dari budaya yang telah ada pada masa lalu yang kini masih hidup, meskipun dengan warna yang berbeda.

Sekadar contoh, kita masih menjadi “wong Cerbon” atau apapun nama suku kita, namun sesungguhnya kita telah kehilangan makna budaya yang pernah kita miliki. Banyak “orang Cerbon” yang hidup kental dalam komunitasnya justru tidak lagi menguasa bahasai ibunya sendiri. Meski demikian penguasaan bahasa ibu itu bukan satu-satunya indikator, bahwa budaya Cerbon – dalam hal ini bahasa – masih hidup, karena mulai banyak orang-orang di luar Cirebon menguasa bahasa tersebut. Seorang yang menguasai bahasa Jawa, belum tentu ia orang Jawa. Ini sama artinya, seorang yang menguasai bahasa Inggris belum tentu ia orang Inggris. Dengan demikian bahasa tidak lagi mutlak menjadi ciri atau cerminan budaya seseorang.

Perendahan Budaya

Kelompok manusia yang merasa budayanya lebih tinggi memiliki naluri untuk selalu berusaha menaklukkan mereka yang dianggap berbudaya lebih rendah. Barat memang masih menjadi ikon budaya yang kuat. Sebagai contoh yang  biasa terjadi dalam pergaulan sehari-hari. Dalam suatu seminar atau diskusi yang diikuti lebih dari seratus orang Indonesia,  suasana tiba-tiba berubah saat tiga orang bule dari Amerika atau Inggris muncul dalam seminar. Pembicara yang semula menggunakan bahasa Indonesia segera mengubah bahasanya menjadi Inggris. Padahal, jika dibandingkan dengan jumlah peserta, pengguna bahasa Indonesia lebih banyak ketimbang Inggris. Melihat fenomena seperti itu, bisa saja kita tafsirkan, bahwa budaya kita ternyata lebih lemah ketimbang mereka.

Pada kasus lokal, orang kota selalu menganggap orang desa – dalam artian mereka yang hidup dalam lingkungan pertanian tradisional –  lebih rendah budayanya. Karena itulah “orang kota” seringkali lebih dahulu mengambil inisiatif dalam pengembangan budaya. Musik pop, celana jeans yang ketat, francaise food dan produk budaya masa lainnya memulai pasarnya dari kalangan masyarakat kota yang modern. Mereka kemudian mengembangkan selera budayanya kepada masyarakat perdesaan melalui mediamassa. Ada semacam kebanggaan ketika mereka membicarakan produk budaya impor.

Bentuk kebudayaan massal yang dikembangkan lewat media membangun keseragaman dalam gaya hidup. Meski di balik itu, masih ada tersisa karakteristik budaya asli sebagai bagian dari perilaku masyarakat sehari-hari.

Simbol Fasilitas

Perendahan budaya secara sadar, ternyata dilakukan kita sendiri. Secara struktural (politis) dilakukan melalui satu rezim yang ingin terus menerus berkuasa. Ratusan tahun pola itu ditanamkan, hingga mereka merasakan “perendahan” itu sebagai budaya asli yang harus dilestarikan. Akibatnya kini pihak pemerintah masih menganggap dirinya sebagai seorang “bapak” yang tak begitu suka dikontrol oleh pemegang kekuasaan yang sesungguhnya, yaitu rakyat. Karena dalam negara kekeluargaan, rakyat dianggap sebagai anak-anak yang harus dibina, diayomi dan tidak boleh membangkang terhadap sang bapak. Padahal rakyat dalam konteks manapun bukan anak-anak, tetapi sebagai sosok yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Pandangan Nurcholis Madjid (2001) mengenai demokratisasi Barat yang berpegang pada live, freedom and proverty (hidup, kebebasan dan kekayaan/harta) merupakan bagian dari ajaran Islam. Kebebasan bertanya (interpelasi), berpikir, mencipta, pengumpulan kapital (modal) dan bahkan memecat pemimpin yang zalim telah menjadi pergulatan politik kaum muslimin sejak era Khalifa ‘ar Rasyidin hingga abad ke-14.  

Simbol-simbol yang kini mulai akrab dalam feodalisme baru bisa dilihat, misalnya pada penyebutan jabatan Walikota/ Bupati Cirebon sebagai “E-1” atau untuk Gubernur Jabar “D-1” dan presiden “RI-1.” Tanpa terasa simbol-simbol yang mereka katakan itu sesungguhnya mengacu pada fasilitas, bukan pada kinerja. Mengapa kita tidak langsung saja mengatakan, bupati ya bupati, walikota ya walikota, presiden ya presiden, bukan dengan nomor mobil yang menjadi fasilitas kendaraan dinasnya.

Kritik tajam mengenai feodalisme baru ini dilontarkan Anderson (1999) sebagai ciri masyarakat kita yang malas berpikir. Para mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri lebih suka menghafalkan lagu-lagu pop ketimbang ilmu pengetahuan. Mereka pulang membawa sederet nama artis pop dunia, untuk dipopulerkan di negerinya. Demikian pula ketika mereka kembali ke Indonesia sebagai kalangan “menengah baru” segera membuat gerakan “pembaruan” pada nomor mobil yang disesuaikan dengan seleranya. Misalnya “D-1-AM” atau “D-1-AN” yang kemudian merebak dan ditiru para pengemudi angkot dan bahkan becak. Padahal untuk membuat nomor polisi semacam itu memerlukan  dana tambahan yang cukup besar.

Perilaku Kalangan “Menengah Baru”

Di sini kita bisa melihat perilaku kalangan “menengah baru” yang baru bergerak pada kreativitas pinggiran. Mudah meniru dan menerima produk budaya massa dari Barat tanpa harus berpikir, bagaimana kita bisa membuat dan menandingi produk mereka di tengah pasar global.  Akibatnya gampang diprediksi, Indonesia merupakan pasar terbesar dunia dari budaya dan teknologi bangsa maju.

Kekuasaan dalam terminologi masyarakat Indonesia (Timur) dipandang sebagai sesuatu yang konkret, berbeda dengan Barat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang abstrak (Anderson, Kuasa dan Kata, 2000). Karena itu kekuasaan yang dipegang seseorang selalu berhubungan dengan pulung, wahyu dan kesakten. Contoh paling dekat pada kasus ini seringkali terjadi pada saat pemilihan kepala desa.

Malam hari sebelum pemilihan, beranda depan balai desa telah dipenuhi dengan bumbungan asap kemenyan yang pengap, sesajen buah-buahan dan makanan serta lampu tempel yang menyala. Masyarakat meyakini, jika lampu tempel yang dinyalakan sang calon makin terang nyalanya, maka dialah yang berhak menduduki kursi jabatan itu. Kekuasaan benar-benar menjadi konkret dan mereka berhak menempuhnya dengan cara apapun, termasuk main uang dan mistik. Dalam pandangan masyarakat modern, model peraihan kekuasaan semacam itu sebagai bagian dari perilaku absurd yang tidak masuk akal. Kekuasaan secara rasional bisa dipegang siapa saja selama dalam perebutannya tunduk pada aturan main yang disepakati bersama.

Oleh NURDIN M. NOER

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.