Membumikan PERS yang Religius

0 12

MEMBUMIKAN Pers yang Religius. Siapakah yang pertamakali mengajarkan membaca dan menulis? Dan siapa pula yang pertamakali mengajarkan ilmu pengetahuan kepada manusia ?  Jawaban yang pasti adalah Allah Azza wa Jalla, Dzat yang Maha Pandai dan Maha Mengetahui. Allah pulalah yang mengajarkan manusia berkomunikasi dengan manusia lainnya dan manusia dengan Tuhannya.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (4) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5). (QS. Al ‘Alaq 1 – 5).

Sebagai orang yang menjadi bagian dalam dunia komunikasi, saya berpendapat surat Al ‘Alaq tidak lain merupakan praktik komunikasi yang diajarkan Allah kepada manusia pada fase kedua dan ketiga, yakni membaca dan menulis. Sedangkan fase pertama berupa komunikasi verbal (bersifat langsung), yaitu berbicara secara lisan diajarkan Allah swt mengenai benda-benda kepada Nabi Adam as – manusia pertama yang beradab/berbudaya – yang diciptakanNya dari tanah.

Berbicara (speaking), membaca (reading), menulis (writing) dan menyimak (mendengar) merupakan unsur dasar paling penting dalam berkomunikasi. Sedangkan media atau alat yang digunakannya adalah bahasa. Karena Allah berbicara – dalam bentuk firman- maka Adam as mendengar (hearing) dan memahami apa-apa yang diajarkannya. Inilah rumusan dasar dalam ilmu komunikasi yang jika dijabarkan dalam teori komunikasi modern menjadi satu tesis (pandangan) yang memukau, yakni “komunikasi yang baik adalah jika sang komunikan (penerima komunikasi) memahami secara penuh apa yang disampaikan sang komunikator (penyampai informasi).”

Keutuhan komunikasi ini sesungguhnya hanya ada pada ajaran Islam. Ketika wahyu diturunkan, maka penerima wahyu – Nabi Muhammad saw – segera memerintahkan sekretarisnya Zaid bin Tsabit untuk menuliskan wahyu tersebut pada media yang sangat sederhana, seperti kulit hewan, batu, pelepah kurma dan sebagainya. Baru pada masa Khalifah Utsman bin Affan (23 – 35 H/644 – 654 H) Al Quran dibukukan dalam bentuk mushaf hingga sekarang.  Dengan penulisan dan pembukuan dan kontrol yang sangat ketat dari para ulama sangat tidak mungkin Al Quran mengalami pembiasan.

Hal ini berbeda dengan kitab-kitab lain yang diturunkan Allah swt, seperti Taurat, Zabur (kini disebut Mazmur) dan Injil yang banyak mengalami pembiasan, sehingga mereka perlu membuat satu kesepakatan yang termuat dalam Perjanjian Lama (berisi Taurat dan Zabur) serta Perjanjian Baru (Injil). Ketiga kitab itu kemudian dirangkum menjadi satu buku yang disebut dengan Bibel.

Melihat kasus tersebut, faktor utama terjadinya pembiasan adalah karena tidak dituliskannya ayat-ayat tersebut sejak wahyu itu turun. Sementara otak manusia sangat terbatas untuk menghafal – kecuali orang-orang yang menjadi pilihan Allah – membuat kekaburan kitab itu sendiri. Karena itu antara firman Allah, sabda Rasulullah (Musa, Dawud dan Isa as), pandangan para sahabatnya (dalam kasus Injil di antaranya Barnabas dsb), pendapat penyebarnya (dalam kasus Injil Paulus) dan penulis kitab tersebut, seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes bercampuraduk menjadi satu serta ditulis dengan gaya bahasa yang berbeda-beda.  Banyak kalangan mereka, baik Yahudi maupun Nasrani, merasa heran ketika mendalami kitabnya yang tidak masuk akal.  Pada akhirnya mereka berpendapat, bahwa kitab-kitab tersebut hanya merupakan dongengan turun temurun dan dianggap sebagai buah kebudayaan manusia semata.

Keadaan semacam itu berbeda dengan Al Quran. Di samping Allah swt sendiri berjanji untuk menjaganya hingga hari kiamat, juga Allah swt menurunkan rahmat dengan mengajarkan kepada umat Nabi Muhammad saw berupa fungsi utama komunikasi, yakni bentuk komunikasi verbal – mendengar dan berbicara – serta membaca dan menulis. Rahmat yang sempurna inilah yang pada masa kini kurang dipahami sebagian besar  kaum muslim sendiri yang ditugaskan Allah sebagai khalifatullah fil ardhi (wakil Allah di muka bumi).

Membaca merupakan pintu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Tanpa membaca, maka selamanya akan menjadi  kelompok masyarakat yang selalu merasa rendah diri (inferior) dan introvert (kurung batok).  Sedangkan menulis (menuangkan pikiran secara tertulis) – termasuk berbicara secara lisan merupakan sarana untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dalam arti yang luas.  Medianya bisa dalam bentuk kesenian – seperti yang pernah dilakukan Sunan Kalijaga – media cetak (suratkabar, majalah, bulletin, lembaran dan selebaran), media elektronik (radio dan televisi) dan gabungan antara media cetak dan elektronik (cybernet).

Al Quran merupakan induk ajaran dan ilmu pengetahuan Islam wajib dibaca secara integral (kaffah) bagi kaum muslimin. Sedangkan bacaan-bacaan lainnya, seperti buku, suratkabar dan sebagainya merupakan alat penunjang informasi untuk memberikan tafsir kekinian tentang ilmu pengetahuan yang ada dalam Al Quran. Karena itu saya sering memberikan kritik yang tajam terhadap para mubalig yang dengan latah mengatakan : “Lebih baik membaca Al Quran daripada koran (suratkabar) .”

Jika kalimat “sang mubalig” itu dipahami secara luas, maka pesan tersebut merupakan pengingkaran terhadap firman Allah dalam QS. Al ‘Alaq ayat 1 – 5.  Gejala-gejala tersebut diperkuat hadits Nabi yang berbunyi :

 597 Hadits Sahl bin Hunaif r.a: Diriwayatkan dari Yusair bin Amr katanya: Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif: Adakah engkau pernah mendengar Nabi s.a.w menceritakan tentang Khawarij؟ Sahl menjawab: Aku mendengarnya sambil menunjuk dengan tangannya ke arah timur. Suatu golongan yang membaca al-Quran dengan lidah mereka, tetapi tidak sampai ke otak mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah menembusi binatang buruan (HR. Bukhari)

Dalam kasus ini saya berpendapat secara ekstrem dan menyatakan : “Lebih baik membaca Al Quran dan koran daripada melakukan kejahatan.”  Sebab salah satu faktor terjadinya kemunduran umat Islam pada masa kini di antaranya, malas untuk melakukan penggalian terhadap ilmu pengetahuan. Gejala yang bisa dilihat secara kasat mata adalah malas membaca dan menulis.

Kultural dan spiritual

Suatu bangsa mungkin kaya di bidang sumber-sumber alam, tetapi jika ia tidak cukup menggalinya, ia akan tetap miskin  dan melarat sepanjang masa. Demikian juga, suatu bangsa yang tidak cukup mampu mengenal dan menemukan kembali sumber-sumber kultural dan spiritualnya, mengarunginya dan mengubahnya menjadi kekuatan energi yang kreatif, bangsa itu tidak akan dapat melenyapkan masalah-masalah kebodohan, kebutahurufan, dan kemiskinan intelektual (Ali Shariati, Man and Islam, 1982).

Dr. Ali Shariati adalah ulama besar Syiah dari Republik Islam Iran yang sangat dikenal dengan pikiran-pikirannya yang kerapkali menjadi antitesa – pandangan yang berbeda – terhadap pemikir-pemikir Barat.  Ia mengajak kepada seluruh umat Islam untuk melihat kekuatan dirinya sendiri. Islam memiliki budaya (kultur) yang mampu mengubah kekuatan dunia dan Islam memiliki kekuatan spiritual (illahiyah) yang berbeda pula dengan agama-agama lainnya.

Budaya sebagai buah dari akal (aqliyah) manusia dan spiritual sebagai bagian dari keillahian (naqliyah) merupakan kesempurnaan bagi manusia Islam yang ingin memenangkan masa depannya. Dua kekuatan ini bisa dipertemukan dalam satu lingkungan, yakni masjid. Pengertian masjid harus dimaknai secara luas, baik fungsi, sifat  maupun bentuk fisiknya selaras dengan apa-apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw.

Masjid  merupakan bagian dari diri kita yang tak terpisahkan, baik untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat ubudiyah maupun muamalah. Produk – yang dihasilkan – masjid saat ini sudah mengalami  pengikisan dibanding dengan masa Rasulullah saw dan para sahabatnya masih hidup. Masjid hanya untuk ibadah shalat Jumat saja, karena untuk shalat lima waktu hanya diikuti sedikit jamaah, bahkan kosong sama sekali. Hanya sesekali saja digunakan untuk pendidikan, seperti ceramah keagamaan, diskusi ilmu pengetahuan, musyawarah masyarakat dan sebagainya. Itu pun setelah melampaui perdebatan panjang dengan kalangan tokoh masyarakat yang sama sekali tak berpijak pada ajaran Islam itu sendiri. Sebagian di antara mereka “melarang” masjid digunakan untuk musyawarah, diskusi, proses belajar-mengajar dan sebagainya.

Melihat dalam diri kita sendiri saat ini menjadi sangat penting, karena selama ini kita telah melupakan diri kita yang sebenarnya.  Kita telah menjadi hamba bagi “ampas kebudayaan” bangsa lain yang kita comot  dengan sembarang.  Salah satu gejalanya adalah memisahkan masjid dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Pers Masjid

Pers masjid sebenarnya merupakan istilah yang saya kembangkan sendiri, berkaitan dengan pentingnya dakwah Islamiyah melalui mediamassa. Jangan harap istilah “pers masjid” bisa ditemui dalam teori komunikasi modern pada saat ini. Karena perkembangan pers yang ada saat ini selalu merujuk kepada sistem pers yang berkembang di dunia, yakni autoritarian (sistem pers otoriter), libertarian (sistem pers liberal/bebas), communism (sistem pers Komunis), dan development (sistem pers pembangunan  yang banyak dianut negara-negara berkembang, termasuk Indonesia pada masa Orde Baru).

Di sini para ahli komunikasi massa tak pernah melihat sistem pers yang merujuk pada agama, baik Islam maupun agama-agama lainnya. Para pakar komunikasi, terutama Barat, beranggapan bahwa pers tak diajarkan dalam agama manapun termasuk Islam. Mereka umumnya  melihat Islam dari permukaan saja. Padahal Islam memiliki kekayaan tatanan (sistem) muamalah yang lengkap. Dari mulai ideologi, politik, sosial. ekonomi, dan budaya. Pers sebagai bagian dari budaya manusia tidak lahir begitu saja, tetapi lahir  setelah melalui proses yang panjang. Sepanjang peradaban manusia itu sendiri.

Pers sebagai penyebar informasi

Secara umum pers memiliki fungsi sebagai penyebar informasi, pendidikan dan hiburan. Karena fungsinya itu, maka wajah pers selalu berbeda-beda sesuai zamannya. Pada masa Rasulullah saw, sesungguhnya fungsi pers cetak  – dalam bentuk cetakan – telah ada. Misalnya informasi-informasi yang ditulis dalam bentuk puisi melalui media yang sangat sederhana, seperti kulit dan tulang hewan, pelepah kurma, dinding sebuah bangunan dan sebagainya. Namun pada saat ini penyebaran informasi ajaran Islam lebih efektif disampaikan dalam bentuk dakwah verbal (lisan) yang bersifat langsung.

Baru pada masa Utsman bin Affan, penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan peristiwa bersejarah ditulis di atas kertas yang memang pada saat itu mulai diproduksi secara besar-besaran oleh kalangan Islam. Praktik-praktik penulisan buku-buku ilmu pengetahuan mencapai puncaknya pada abad delapan hingga empatbelas. Saat itu dunia Islam banyak melahirkan para pemikir besar yang hingga kini dianggap sebagai “bapak ilmu pengetahuan” di dunia Barat, seperti Ibnu Sinna (kedokteran),  Ibnu Rush (filsafat dan fiqih), Ibnu Taimiyah (sosial dan politik), Imam Syafi’i (fiqih), Gazali (filsafat) dan sejumlah nama besar lainnya. Cetak mencetak mengalami perkembangan pesat setelah Johannes Guttenberg dari Jerman pada 1450 M menemukan mesin cetak.

Suatu sebab yang menjadikan Islam dapat menghasilkan ilmu pengetahuan begitu banyak dalam waktu singkat, kemudian menjadi steril sedemikian cepatnya, dapat diketahui melalui sifat dasar skolatikisme (sistem logika, filsafat dan teologi – pen) Islam itu juga. Bersifat kreatif dan dinamis di satu sisi, tetapi juga reaksioner dan finalistik di sisi lain (Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, penerbit Risalah Gusti 1996).

Mengapa pemikiran Islam hancur?.

Salah satu sebab yang dikemukakan Mehdi Nakosteen adalah lantaran unsur-unsur  dinamis dan liberal (kebebasan berpikir) menyerah kepada kepatuhan total pada ortodoksi (fanatisme buta) dan berganti menjadi kepasrahan pada konsep-konsep takdir dan nasib, serta mengalahkan semangat investigasi (pendalaman terhadap ilmu pengetahuan), berinovasi dan mencipta, maka obor tersebut telah diserahkan dari Islam kepada Renaisans (pembaharu) Eropa (yang Kristen).

Sikap ortodok, pasrah pada nasib  yang dibangun dalam kemasan kepentingan politik tertentu sempat memunculkan fatwa-fatwa yang menyesatkan dari kalangan umat Islam sendiri. Salah satu “fatwa” itu di antaranya menyatakan, bahwa pintu ijtihad telah ditutup.  Karena segala hukum dan temuan dalam Islam dianggap telah cukup.

“Fatwa” semacam inilah yang membuat sebagian umat Islam menjadi malas dalam melakukan pencarian (ijtihad) dalam berbagai bidang. Tanpa disadari, bahwa “fatwa” tersebut merupakan pula bentuk pengingkaran terhadap firman-firman Allah yang berkaitan dengan masalah-masalah muamalah.

Masjid sebagai pusat informasi

Kembali pada pers masjid. Masjid sebagai pusat informasi sesungguhnya bukanlah gagasan yang baru. Seperti dijelaskan di muka, pada masa Rasulullah saw masjid benar-benar difungsikan secara optimal. Sebagai pusat informasi pada masa kini, layaklah kiranya masjid memiliki sebuah mediamassa, betapapun sederhana bentuknya.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al Hujuraat ayat 6).

Berita-berita bohong, seperti yang difirmankan Allah dalam Al Quran, kerapkali dijadikan acuan orang-orang yang tak memahami praktik komunikasi. Pers masjidlah yang bertugas untuk melakukan “hak jawab” terhadap kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Pers masjid mutlak melayani kepentingan seluruh umat Islam dalam menangkal  berita-berita bohong yang dilancarkan kaum fasik (kaum yang ingkar terhadap Allah). Pada QS. Hujuraat ayat 6, kaum muslimin wajib melakukan check and recheck (mencek ulang) secara teliti terhadap suatu berita. Ayat inilah yang seharusnya dijadikan pegangan para wartawan muslim.

Artinya : Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui  (QS. Al An’aam 67).

Merujuk surat ini, para rasul adalah pewarta (wartawan) yang agung yang diangkat keberadaannya oleh Allah yang Maha Mengetahui. Tugas utamanya menyampaikan kebenaran yang datang dari Allah. Mereka – para rasul – itu tak memiliki hak untuk menambah maupun mengurangi pesan-pesan suci dalam bentuk ayat yang terhimpun dalam Kitab Suci.

Pers Penghubung antarmasyarakat

Di samping sebagai pewarta, mereka juga bertugas sebagai public relations (hubungan antarmasyarakat) yang mengurai pesan-pesan itu dalam bentuk hadits. Ini terjadi pada Nabi terakhir Muhammad saw.  Nabi Muhammad saw menyampaikan pesan-pesan Allah dilakukan terlebih dahulu secara pribadi pada kalangan terdekat, seperti istri, keluarga dan kerabat.

Penyampaian pesan semacam ini selaras dengan teori ilmu komunikasi modern yang digambarkan sebagai “gelombang air.”  Bermula kecil dan secara bertahap menjadi gelombang besar. Dengan demikian ia pun telah melakukan teori “kedekatan” yang disebut sebagai proximity (kedekatan dengan penerima pesan). Sistem komunikasi inilah yang ternyata berhasil dan bisa diterima secara cepat oleh masyarakat. Dalam kontek kekinian, praktik komunikasi yang berhasil adalah mereka yang melakukan cara-cara yang pernah dilakukan Rasulullah saw. Kajian teori komunikasi modern mengindikasikan bahwa amanah yang disampaikan Rasulullah saw menunjukkan akurasi yang tak terbantahkan. Komunikasi antarpribadi dan tatap muka, seperti dinyatakan Leah A. Lievrouw  : In every society, humans have developed spoken and written language as a means of sharing messages and meanings. The most common form of daily communication is interpersonal—that is, face-to-face, at the same time and in the same place. (Leah A. Lievrouw on the Reference Library 2003).

Dalam setiap masyarakat, manusia telah mengembangkan bahasa lisan dan tulisan sebagai sebuah arti membagi pesan dan makna. Bentuk yang lazim bagi sebagian besar komunikasi sehari-hari antarpribadi – seperti tatap muka, pada saat dan di tempat yang sama.

Fungsi pendidikan

Pers masjid, jika didefinisikan secara sederhana merupakan  media pers yang diterbitkan masjid, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik ataupun cybernet (internet). Beberapa masjid di kota-kota besar, seperti Bandung dan Jakarta kini mulai memanfaatkan gelombang radio dan cetak untuk menyebarluaskan dakwahnya. Karena fungsinya sebagai alat didik, maka pers tersebut harus mampu mempengaruhi pikiran-pikiran jamaah dan masyarakat di sekitar masjid tersebut. Tujuannya adalah untuk melakukan perubahan-perubahan, dari yang kurang baik menjadi baik dan dari yang baik menjadi lebih baik.

Jamaah masjid sudah tentu terdiri dari masyarakat Islam yang heterogen (campuran)  dengan latarbelakang pendidikan, status sosial dan ekonomi yang berbeda. Jamaah tersebut biasanya terdiri dari orang-orang yang berada di sekitar masjid. Meski demikian pada masjid-masjid besar yang berada di pusat kota, lingkup jemaah memiliki skala yang lebih luas lagi. Bukan hanya dari penduduk sekitar saja, tetapi juga para musafir dari berbagai kota bahkan negara. Karena itu mereka membutuhkan berbagai informasi tentang masjid dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Dari sudut ekonomi, jamaah yang sesungguhnya merupakan sekumpulan orang-orang yang membutuhkan pula informasi tentang kebutuhannya sehari-hari. Artinya pers masjid bisa dimasuki iklan (advertising) untuk membiayai produksi dan operasionalnya. Kaum muslimin selama ini selalu menjadi objek bisnis berbagai kalangan, termasuk kalangan nonmuslim, sementara mereka sendiri belum mampu mengambil keuntungan secara ekonomis dari bisnis tersebut.*** Nurdin M. Noer wartawan senior dan pemerhati masalah kebudayaan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.