Membunuh Rindu | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 4

Membunuh Rindu | Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 4
0 196

Membunuh Rindu: Alberta baru tahu kalau Santi berada dalam posisi yang sama seperti dirinya. Santi bukan hanya sekedar mencintainya, tetapi, mengalungkan hasyrat yang demikian besar kepada dirinya. Santi menyimpan tulisannya di loker khusus Mihrab cinta mereka dengan menyatakan bahwa:  “Sungguh, betapa beratnya bathinku berpaut denganmu Alberta. Aku ingin selalu mengatakan kepadamu, maafkan aku dan maafkan atas segala rasa yang kumiliki. Aku takut hal ini menjadi beban bagimu.

Alberta terbelalak membaca kalimat dimaksud. Ia berulang-ulang membacanya. Tetesan air matapun mengalir dengan pelan. Ia membayangkan mengapa dia memiliki rasa yang sama. Aku, kata bathin Alberta, sesujurnya ingin mengtakan kata yang sama. Yakni maafkanlah barangkali cintaku menjadi beban bagimu Santi.

Sejujurnya harus kukatakan, saat di mana aku mengirimkan Short Film itu, hatiku sebenarnya sedang kambuh akan semua rasa cinta yang kumiliki. Aku sangat takut kau meninggalkan aku. Hatiku bergolak dan perasaanku kembali kacau. Perasaan itu, persis seperti dulu yang membuat aku seperti menjadi manusia yang linglung. Hal pernah beberapa kali kurasakan, termasuk saat ini. Di saat seperti itu terjadi, aku jujur kacau. Kukirimkan gambar-gambar itu, sejujurnya aku merasa sedang berada dalam kesendirian dan takut kau pergi meninggalkan aku.

Inilah pengalaman ruhani beraransemen cinta. Bagaimana tidak! Short Message yang kukirimkan tidak kau balas, apalagi dengan sejumlah keinginanku untuk mendengar suaramu. Sejak itulah, pikiranku terus melayang dan hanya mampu memikirkanmu dan nasib cinta kita berdua.

Tuhan menjadi Curahan Rindu

Dalam keadaan seperti itu, aku berusaha menenangkan diri. Kala hati dan pikiranku tak mampu membendung semua rasa, jujur aku sangat resah. Aku hanya mampu mengalihkannya dengan meyebut asma-asma Allah. Aku sempat mengambil air wudlu meski aku ragu akan efentivitasnya. Aku ingin menghapus bayangan wajahmu yang selalu berada di pelupuk mataku.

Aku menghadap Tuhanku dengan cara berdzikir dan membaca ratusan ayat al Quran. Tetapi ternyata, gambaran dirimu dari alam khayalku sangat sulit kulepaskan. Kuhapus air mata kerinduanku kepadamu dengan air mata pengharapan kepada Allah. Tetapi, bayangan wajahmu tetap menggodaku. Alberta, malam itu aku berdoa. Apakah kau ingin tahu bagaimana do’aku.

“Ya ..  Allah, di kerajaan langit-Mu, mungkin namaku telah Engkau tulis dalam barisan hambaMu yangg banyak dosa. Engkau mungkin telah mempersiapkan neraka yang menjadi tempat kembaliku di sisiMu. Biarlah Kau masukkan aku ke dalamnya, meski aku berharap, Kau tetap mencintaiku. Kau telah mencatat segala amal dan perbuatanku. Aku yakin keburukan tak sebanding dengan kebaikan-Mu kepadku. Aku sadar betapa rendah dan hinanya aku di hadapanMu. Tetapi, ya Allh, Tuhanku, aku mencintainya, aku mencintainya ya Allah. Tolonglah aku, janganlah Kau uji aku dengan sejumlah perasaan seperti ini. Ampuni aku ya Allah. Aku tak sanggup karena rasa cinta ini, sering telah membuat aku abai akan cintaMu. Meski demikian, aku berharap cinta-Mu ya rabb, tetap besar, serendahnya sebandingkan cintaku kepada kekasihku”

Kau tahu ya Tuhanku, sekedar sms tak terbalas saja, betapa risaunya aku. Hanya Engkau yang mengatur segalanya. Hanya Engkau yang dapat memberi solusi terbaik bagi kami. Yang pasti, hanya Engkau yang tahu bahwa dialah sosok yang selama ini aku cari dalam hidupku. Dialah yang menentramkan jiwaku dan mendamaikan hatiku.

Cinta Santi dalam Harapan

Masih dalam tulisan yang disusun Santi, ia kembali menulis: “untukmu Alberta, aku hanya bisa berkata, jika engkau benar-benar mencintai aku, marilah kita serahkan kepada takdir, apakah cinta ini akan mampu menyatukan kita dalam mihrab nyata yang mengkonseptualisasi suatu gagasan bayty jannaty. Aku dan kamu, mungkin sudah waktunya untuk tidak lagi bermain-main atas nama cinta. Jika Allah menghendaki, kita bertemu dalam jiwa di tempat yang sama, tentu kita tidak akan bisa lari darinya. Namun jika Allah mentakdirkan untuk tidak bertemu dalam satu jiwa yang sama, kitapun harus menerima takdir yang demikian ini dengan ikhlash dan penuh rasa bangga.

Alberta, sungguh kadang aku tidak kuat menerima keagungan cintamu. Pada waktu engkau menyatakan rahasia jiwamu dalam mihrab itu, barangkali hatimu sedang berpaling atas cita-cita cintamu yang sebenarnya. Dan tanpa kau sadari, kau telah menjatuhkan cinta itu kepda diriku. Seandainya hatimu benar seperti itu, maka, aku berdoa kepada Allah semoga hatimu tidak lagi berpaling dan engkau akan menemukan wanita yang layak dan pantas untuk dicintai. Dan jika itu aku, betapa bahagianya aku.

Tak terasa air mengalir, berlinang di pipi kiri kanan Alberta. Dia terus menerus membaca surat Santi dan tanpa disadari, dia berkata Amiin jika wanita itu ternyata dirimu Santi. Charli Siera

Komentar
Memuat...