Mempelajari Pertumbuhan Ekosistem Entrepreneurship di Israel

0 29

Sepanjang dekade 1990-an, ketika Silicon Valley mengalami perkembangan terpesatnya. Banyak penelitian dilakukan untuk memformulasikan rumus yang manjur dalam membangun ekosistem yang mendukung bagi pertumbuhan entrepreneur yang baru.

Jawabannya adalah berbagai hal seperti dengan peran universitas dan lembaga pendidikan tinggi sejenis yang aktif dalam mendukung kemunculan para wirausaha baru. Kedekatan dengan para investor ventura (VC), para pekerja profesional setempat seperti akuntan dan pengacara yang kompeten pada bidang mereka masing-masing. Keberadaan perusahaan berteknologi tinggi yang mampu menciptakan tenaga kerja yang berketerampilan tinggi. Dan sebuah lingkungan yang mendorong keberanian dalam mengambil risiko dan mentolerir kegagalan.

Israel tak memiliki semua hal di atas, kecuali mental pemberani yang tak peduli dengan adanya risiko. Dengan keharusan mengikuti wajib militer yang dikenakan pada setiap pemuda dan pemudi di sana, Israel menjadi bangsa yang pragmatis dan tangguh dalam persaingan karena kesederhanaannya, kegagalan dalam berbisnis tidaklah sefatal terluka atau gugur dalam berbagai pertempuran dan peristiwa kekerasan yang selalu terjadi setiap saat di sekeliling mereka.

Jika faktor-faktor di atas adalah kunci keberhasilan entrepreneurship sebuah bangsa, mengapa Negara tersebut yang tidak memiliki Ekosistem Entrepreneurship bisa melesat begitu hebat? Di tahun 1990-an, Israel mengalami sebuah keajaiban dalam entrepreneurshipnya. Di Israel, jumlah perusahaan yang sukses melantai di bursa saham AS – NASDAQ – adalah yang tertinggi di dunia, kecuali dibandingkan Silicon Valley. Bahkan di tahun 2008, Israel jika diukur secara per kapita mencetak angka investasi VC yang 30 kali lebih banyak daripada semua negara Eropa digabungkan menjadi satu, 80 kali lebih tinggi dibandingkan investasi VC di China, dan 350 kali lebih tinggi dibandingkan India. Padahal bila ditilik dari segi luas wilayah fisik, Israel hanyalah ‘secuil’ bidang tanah di Timur Tengah dan jumlah penduduk mereka hanya beberapa juta jiwa.

Selain itu, sejak tahun 1990-an, kesuksesan startup-startup Israel yang jauh di luar dugaan dan tidak bisa dipahami itu memicu pertumbuhan ekosistem entrepreneurship yang kokoh di sana. Muncul lebih dari 100 perusahaan venture capital yang beroperasi secara legal atau berinvestasi di seluruh Israel.

Kelebihan Israel:

  • Mental chutzpah (keberanian) dalam menjalani tantangan hidup (termasuk) berbisnis tertanam dalam benak warganya.
  • Disediakan sejumlah mentor bisnis yang siap sedia memberikan bimbingan pada entrepreneur muda.
  • Berdirinya pusat-pusat penelitian dan pengembangan (R and D) skala besar bahkan Israel telah memproduksi sebagian produk yang mengubah perusahaan seperti chip Pentium milik Intel. Perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Microsoft, Google, Cisco, hingga Intel memiliki pusat litbang mereka di sini.
  • Adanya kemudahan dari sisi perbankan, hukum, dan akunting dalam mendirikan startup dalam hitungan hari.
  • Dukungan yang diberikan pemerintah lokal tidak tanggung-tanggung. Sejumlah kebijakan pro-entrepreneurship dikeluarkan yang akhirnya banyak berkontribusi pada kekuatan endemis bangsa
  • Pemilihan waktu yang tepat. Israel dengan bijak dan taktis merancang semua hal dan kondisi yang diperlukan untuk memanfaatkan momentum naiknya semangat wirausaha yang ada pada warganya secara maksimal. Pasca tahun 1980-an, Negara tersebut menjalankan berbagai langkah cerdas yang menjadi pondasi bagi startup berteknologi tinggi yang menghasilkan untung besar. Yang tumbuh dengan kecepatan di atas normal di negara maju sekalipun dalam setidaknya 15 tahun terakhir. Bahkan peperangan dan teror yang berkecamuk tidak bisa menghentikan laju pertumbuhannya.

Kekurangan Israel:

  • Pasar domestik mereka sangat kecil dan terbatas dan dikelilingi oleh musuh
  • Kondisi keamanan yang hampir selalu rawan.
  • Israel tidak memiliki transaksi atau akuisisi startup yang bernilai fantastis, hanya serangkaian sukses dan kegagalan skala yang lebih kecil
  • Kegiatan investasi di Negara tersebut tidak pernah menghasilkan untung besar bahkan kalah dibandingkan Eropa yang dikenal kaku dan kolot dalam soal investasi. Eropa mencetak untung US$6,3 miliar dan di saat yang sama Israel hanya memberikan untung US$860 juta dari investasi US$10 miliar yang digelontorkan ke sana.
  • Keajaiban mereka hanya berlangsung selama beberapa tahun (sepanjang dekade 1990-an). Dikatakan oleh Saul Klein, seorang entrepreneur Israel, bahwa negerinya menghadapi risiko menjadi one-hit wonder. Negara tersebut dianggap tidak mampu mempertahankan prestasinya di masa lalu.

(Ekosistem Entrepreneurship)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.