Inspirasi Tanpa Batas

Mempertahankan Sesuatu yang Telah Terpilih| Problem Pilihan Part 2

0 2

Konten Sponsor

Mempertahankan Sesuatu yang Telah Terpilih. Suatu hari, saya ditanya, mengapa anda kuliah di IAIN? Mengapa anda tidak memilih kampus lain yang menurut ukuran tertentu, jauh lebih baik dibandingkan dengan kampus dimaksud? Dijawab, saya tidak tahu! Yang pasti, inilah kampus terbaik menurut ukuran waktu dan tempat tertentu dalam perpektif saya.

Banyak guru yang mengajar pada tingkat SLTA, berlatar belakang pendidikan tinggi di IAIN. Mereka tampak lebih cerdas, lebih cekatan dan lebih adaftif dibandingkan dengan guru lain. Mereka rata-rata menjadi idola bagi murid-murid seperti kami. Diskusi apa saja, mereka dapat memberi solusi yang sangat solutif bagi masalah yang kami hadapi.

Ketika saya mulai kuliah, tidak ada pikiran menjadi guru PNS. Saya ingin menjadi pengusaha besar. Karena itu, saya terpikir bagaimana mengumpulkan modal untuk usaha. Berbagai aktivitas diskusi dan pertemuan dalam skala lokal, regional maupun nasional, saya ikuti. Tujuannya sederhana, bagaimana membangun relasi. Sebab dengan relasilah, semua pengalaman dapat diperoleh. Melalui relasi pula, pilihan menjadi pengusaha akan mungkin terwujud.

[irp posts=”18816″ name=”Filosofi Perubahan | Problem Pilihan Part 1″]

Hasilnya? Ternyata saya menjadi dosen PNS. Dan ketika saya berprofesi sebagai dosen, banyak teman-teman aktivis bertanya, ko kamu memilih menjadi PNS? Mengapa tidak menjadi politikus? Kalau menjadi politikus, rasanya anda sudah menjadi anggota DPR. Saya menjawab, memang menjadi anggota DPR lebih baik daripada menjadi PNS?

Tidak Ideal tetapi Itu yang Terbaik

Di tengah perjalanan karier yang dilalui, rasa jenuh sering muncul. Sering pula terpikir untuk mengakhiri karier di dunia akademik. Hanya orang yang mencintai saya secara tulus, yang tahu betapa saya jenuh menjalani semua dinamika yang kadang konyol. Menyarankan agar bertahan saja. Nikmatilah dinamika yang ada.

Saran itupun, kadang di waktu tertentu tak mampu membendung apa yang dirasakan. Saya tetap jenuh dan kadang semakin mendera. Mengalihkan berbagai kejenuhan itu, dibukalah aktivitas lain yang lebih produktif. Bisnispun kami rintis sebagai tempat artikulasi lain selain sebagai akademisi. Jadilah pengusaha dalam skala makro. Inilah yang mengiringi hari-hari saya, dalam profesi yang sebelumnya tidak pernah diimpikan. Tidak pula diidealkan.

[irp posts=”18950″ name=”Problem Hermeneutika dalam Peralihan Bahasa”]

Jadi yang tidak ideal dalam nalar itu, ternyata membawa hoki tertentu untuk diri saya. Dan ternyata, pilihan itu terbaik. Buktinya, melalui PNS dosen pula, saya menjadi Guru Besar. Bertemu kembali dengan ragam aktivis di dunia akademik. Melalui pergaulan itu pula, saya dinobatkan menjadi opponent ahli di beberapa kampus besar di Indonesia. Tentu selain profesi saya yang lain, yakni menjadi pengusaha.

Dalam tujuh tahun terakhir, saya membebaskan diri dari ketergantungan dengan dunia akademik. Di Kampus, saya merasa hanya ingin mengabdikan diri dan mengembangkan ilmu. Di luar itu semua, saya menjadikan dunia usaha sebagai mainan lain.

Dari nalar itu, cara mempertahankan pilihan pertama, sebetapapun telah menjenuhkan, sebetapapun terasa berat dan rumit, terasa tidak lagi menarik, terasa tidak lagi menggairahkan adalah dengan membuat tambahan konsentrasi. Konsentrasi kita kepada sesuatu yang baru, meski mungkin dapat menghilangkan konsentrasi pada pilihan lama, sesungguhnya dalam konteks tertentu, adalah cara mempertahankan pilihan lama kita.

Merawat kedua pilihan, menjaganya dan mengembangkannya, akan menjadi bagian dari cara mempertahankan rasa kasih sayang Tuhan kepada kita. By. Prof. Cecep Sumarnato be continues

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar