Fungsi Guru dalam Pendidikan | Eksistensi Pendidikan Islam Part – 5

0 74

Secara praksis, bobot masalah keilmuan yang hendak dikonstruk LPI, mengharuskan guru menjadi figur utama. Berbagai dinamika lembaga pendidikan Islam, sebagaimana telah dielaborasi sebelumnya, telah mengharuskan para pendidik pelaku kunci dalam pencapaian tujuan pendidikan.Pendapat ini setidaknya dapat dikorelasikan dengan pemikiran al-Ghazali [jilid I, tt: 231]. Ia menyebut, bahwa visi dan orientasi pendidikan Islam harus menjadi dasar bagi terbentuknya suatu pemahaman tentang siapakah guru yang diisyaratkan al-Qur’an dan Sunnah.

Guru dalam dua literatur tadi, disebut al Ghazali dengan istilah “murabbi, mu’allim dan muaddib”. Ketiga istilah ini mengisyaratkan bahwa seorang pendidik seharusnya memiliki kualifikasi rabbaniyah, alim dan ber-adab. Dengan kualifikasi dimaksud, maka pendidik akan bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Selain itu, pendidikan berperan menjadi bapak ruhani (spritual father) sekaligus menjadi bapak kognisi. Kedudukan ini dapat diilustrasi dari sabda Nabi yang menyebut: tinta seorang ulama lebih berharga ketimbang darah para syuhada“.

Pendidik dengan Sipat Ketuhanan

Pendidik yang rabbaniyah, ‘alim dan ber-adab sebagaimana dimaksud dalam kenyataan tadi, berkonsekuensi pada keharusan untuk mengukur siapakah hakikat peserta didik dalam perspektif al- Qur’an dan sunnah. Istilah peserta didik dalam perspektif qur’ani, disebut dengan murid [isim fail/ (subjek/pelaku) dari kata “arada- yuridu-iradatan-muridan”. Sebutan ini mengisyaratkan adanya iradah (kemauan, keinginan) yang harus dan pasti dimiliki peserta didik, sehingga ia tidak hanya menjadi objek, tetapi sekaligus subjek pendidikan. Dalam posisi ini, pendidik akan menjadi fasilitator dalam pengembangan potensi peserta didik dalam dimensi jasad dan ruhnya atau dalam dimensi materil dan spiritualnya.

Dalam posisi ini, LPI khususnya yang ada di Indonesia harus diakui memiliki bobot kesulitan yang cukup rumit. LPI merasa kesulitan untuk membuat rumusan yang baku dan khas, khususnya mengenai status pendidik yang dikehendaki. Terlalu banyak variabel yang menjadi barometer untuk menetapkan siapa sesungguhnya yang berhak untuk menjadi pendidik. Oleh karena itu, menjadi wajar andaikan tujuan pelaksanaan pendidikan yang dikehendaki untuk dicapai LPI menjadi sulit dimanifestasikan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.