Menakar Resonansi Finansial Guru

0 27

Menakar Resonansi Finansial Guru – Ributlah guru Indonesia, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) baru, Muhadjir Effendi, yang berlatar belakang Muhamadiyah itu, mengumumkan penghentian sertifikasi guru dan merencanakan merumuskan kebijakan baru dalam apa yang disebutnya dengan resonansi finansial guru. Menteri yang menyelesaikan pendidikan S1 di IKIP Malang ini, tentu tidak diragukan kepakarannya dalam dunia pendidikan.

Ia menjadi Rektor tiga periode suatu Universitas Ternama Swasta di Indonesia, yakni Universitas Muhamadiyah Malang. Tentu ia bukan tokoh sembarangan dalam konteks pendidikan dan pasti memiliki rencana positif dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. Ia tidak berlatar belakang politikus dan tidak dilantik atas usulan Partai Politik.Karena itu, kebijakannya, diharap tidak muncul atas kepentingan politik atau untuk asumsi politik.

Apa Sesungguhnya Resonansi Finansial Guru

Kata resonansi, sebenarnya lebih banyak digunakan ilmuan dalam dunia fisika. Wikipedia misalnya, menerjemahkan kata resonansi sebagai suatu kejadian yang dapat menggetarkan sesuatu akibat adanya benturan atas dua atau lebih objek orbit yang sedang mengorbit (berjalan). Orbit yang sedang mengorbit ini, satu sama lain saling memengaruhi. Ketika terjadi benturan atau dentuman dari orbit dimaksud, maka, terjadilah getaran hebat. Benturan dimaksud alam bahasa lain, sering juga diterjemahkan dengan chaos.

Kata finansial, dalam bahasa Inggris diperkenalkan dengan kata finance. Umum diketahui bahwa kata ini mengandung makna keuangan yang didalamnya mencakup aspek bisnis yang mengungkap tentang bagaimana seseorang atau sekelompok orang meningkatkan, mengalokasikan, menggunakan sumber moneter tersedia dengan cara menghitung potensi keuntungan sekaligus resiko kerugian didalamnya. Definisi ini mengasumsikan bahwa kata finansial, mengandung makna nilai benefit dari suatu produk yang akan dipasarkan.

Sedangkan kata guru, secara harfiyah berarti berat. Kenapa diterjemahkan berat? Karena siapapun yang memilih berprofesi sebagai guru, ia akan menanggung beban kerja yang sangat berat. Ia dituntut menjadi sosok atau individu yang harus menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik, pengajar, pebimbing, pengarah, pelatih dan penilai peserta didik baik dalam konteks kognitif, afektif, psikomotorik maupun konatif. Inilah profesi yang mulia dan berat dipikul sebenarnya

Makna dan Semangat Resonansi Finansial Guru

Pilihan kata resonansi terhadap produk pemerintah berkaitan dengan sertifikasi guru, yang dikemukakan Muhadjir ini, menjadi menarik, karena ia sadar bahwa soal sertifikasi guru selalu menjadi persoalan unik sekaligus seksi untuk dikaji. Kajian atas dimensi ini sering kali direlevansikan dengan tuntutan atau keharusan pemerintah untuk meningkatkan hasil pendidikan, namun di sisi lain, pendidikan di negeri seringkali dianggap, yang salah satu faktornya karena rendahnya insentif guru. Untuk meningkatkan kualifikasi lulusan peserta didik Indonesia ini, pemerintah kemudian mengeluarkan suatu kebijakan baru dalam apa yang disebut dengan evaluasi kinerja guru, melalui suatu program yang disebut dengan sertifikasi guru. 

Undang-undang yang mengatur soal sertifikasi ini, sebenarnya dapat diterjemahkan sebagai balas jasa pemerintah atas apapun atau siapapun yang menjadi pendidik yang memenuhi standar kelulusan dan kelayakan untuk disebut guru. Fakta menunjukkan bahwa program sertifikasi ini, tidak sejalan dengan semangat pemerintah. Karena itu, penilaian atas kinerja program pemerintah melalui produk sertifikasi ini, serendahnya dipandang tepat untuk dianalisa lebih jauh.

Fakta di lapangan, ditemukan masih banyak tersedia guru yang seharusnya mendapatkan sertifikasi, malah tidak karena antrian yang demikian panjang untuk disertifikasi. Karena itu, dihapusnya program sertifikasi, bukan berarti tunjangan pemerintah atas mereka yang mengambil profesi ngajar itu hilang, Muhadjir tampaknya sadar, bahwa daripada dipakai untuk membiayai pelatihan dalam bentuk sertifikasi, UKG dan pelatihan-pelatihan susulan lainnya, lebih baik dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan itu sendiri.

Karena itu, melalui pemikirannya yang seperti ini, mata rantai untuk mendapatkan tunjangan pemerintah ini menjadi lebih mudah. Karena itu, tunggu saja bagaimana mekanismenya. Yang pasti tampaknya akan lebih simple. Selamtlah khususnya buat guru yang belum disertifikasi karena sebentar lagi mereka akan sama-sama mendapatkan tunjangan pemerintah. By. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.