Home » Pendidikan » Agama » Menanti Islam Sebagai Madzhab

Share This Post

Agama / Cecep Sumarna / Filsafat / Intelektual / Organisasi

Menanti Islam Sebagai Madzhab

Menanti Islam sebagai Madzhab

Menanti Islam Sebagai Madzhab. Akankah masa depan Islam tumbuh menjadi sebuah Madzhab? Harusnya mungkin iya, meski pasti hampir mustahil! Mengapa sulit? Sebab tetap menghidupkan madzhab-madzhab dalam Islam, akan selalu memiliki muatan bukan hanya dalam kepentingan keberagaman, tetapi, juga keberagamaan. Padahal dengan menempatkan Islam sebagai suatu madzhab, maka, aliran apapun dalam Islam akan berakhir. Yang ada hanya satu yakni Islam!

Ini gagasan ideal yang pasti bakal kandas. Namun jika sedikit direfleksi, gagasan semacam ini bukan berarti tanpa makna. Gagasan semacam ini, dan tampaknya di kalangan remaja Muslim Indonesia mulai merayap bak jamur di musim hujan, akan terus berjalan seperti sebuah gelombang baru. Denyutnya, mulai terasa dan sedikit banyak mulai “mengancam” eksistensi madzhab-madzhab yang mapan.

Saat seperti itu terjadi, maka, istilah Islam ekstrem [ekslusive] versus Islam lembut [inklusive] akan hilang. Istilah Islam Sunni dan Syi’i, atau Islam liberal [mu’tazilah] dan Islam literal [jabariyah] juga akan punah. Islam tidak lagi dibelah dalam makna sekularis [kiri Islam] dan Islam puritan. Tetapi Islam tanpa madzhab ideologi sebagaimana telah dipragmentasikan dalam sejarah keislaman pra kewafatan Rasulullah.

Rekomendasi untuk anda !!   Mengukur Intelektualisme dengan Menulis| Teknik dan Cara Menulis Part - 3

Islam Indonesia

Dalam konteks Indonesia juga sama.  Mulai banyak anak muda yang tidak lagi mengidamkan Islam dalam varian-varian yang sangat fiqhiyah. Berebut siapa yang paling syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah atau Hanbaliyah. Semua berakhir dan hanya meninggalkan jejak sejarah yang hanya mampu dikenang.

Umat Islam Indonesia mungkin hanya akan mengenang, misalnya pernah ada istilah Muhamadiyah, Al Irsyad, Persis, NU, PUI dan Islam ormas lain yang lebih kecil. Mereka “bubar” bukan karena nggak ada lagi yang mengikutinya, tetapi, mereka lelah memperebutkan sesuatu yang kadang tidak produktif untuk kepentingan umat.

Indikatornya terlihat ketika ternyata mata kita mulai terbelalak menyaksikan, umat malah melahirkan organisasi-organisasi baru yang dalam bacaan tertentu, kelahirannya karena merasa aspirasi keberagamannya tidak terwadahi dalam organisasi yang telah mapan. Ormas Islam mapan, tidak lagi berada di hati banyak umat karena terjadi abrasi dan pergeseran orientasi perjuangan. Abrasi dan pergeseran itu, tentu tidak selalu bermakna negatif. Tetapi justru untuk mempertahankan eksistensinya itu sendiri.

Rekomendasi untuk anda !!   Do'a Menghadapi Fitnah | Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 6

Pergeseran ormas-ormas Islam mapan tadi, mungkin telah tumbuh menjadi koorporasi; baik dalam konteks politik, ekonomi, sosial dan budaya. Mereka tidak lagi mau membedakan dirinya, satu sama lain dalam bingkai fiqhiyah atau bingkai lain yang di awal tulisan ditulis tidak lagi produktif.

Jika benar bahwa Islam menjadi suatu madzhab, maka, Islam akan tampil secara utuh sebagai ausat manusia yang secara historis memang plural. Tetapi apa mungkin? Prof. Cecep Sumarna

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>