Inspirasi Tanpa Batas

Menanti Muslim Internasional Meeting di Arafah| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 20

Menanti Muslim Internasional Meeting di Arafah| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 20
0 99

Menanti Muslim Internasional Meeting di Arafah. Di pagi hari tanggal 09 Dzulhijjah, gemuruh suara takbir, tahmid dan tasbih berbunyi merdu. Suara menggema dan seolah menggetarkan langit dan bumi. Di sinilah, Crhonos terus berdzikir. Ia membaca berbagai kalimah sakti dan mustajabah menurut ukuran dirinya. Kadang ia merebah dan melamun.

Tidak lama, ia mendekati bapaknya, Shofi, yang badannya menggigil kedinginan. Padahal suhu tubuhnya sangat panas. Tidak banyak bicara. Mereka berdua hanya saling meneteskan air mata. Tetesan air mata di mana Crhonos tahu, betapa bapaknya demikian sakit parah.

Setelah beberapa waktu mendampingi bapaknya, Crhonos pamit minta idzin ke luar tenda. Ia terus menyaksikan langit yang seolah mendekati bumi. Ia mengatakan bahwa, saat inilah trilyunan Malaikat turun ke bumi. Sambil terus berdo’a menurut keinginan dan keyakinannya, Crhonos berjalan ke sana ke mari. Ia mencari suasana baru sambil bolak-balik mencari tempat, di mana kira-kira ia dapat mendengarkan khutbah haji.

Crhonos membayangkan, jutaan manusia dengan pakaian serba putih, duduk di atas batu-batu yang berbukit. Ia membayangkan seluruh jama’ah sedunia  berkumpul mendengarkan sebuah khutbah internasional yang disampaikan imam Ka’bah atau setidaknya pemimpin OKI. Tetapi, ia tidak menemukan tempat semacam itu. Semua titik sudah dipenuhi tenda. Ia heran bagaimana diri dan jama’ah haji dapat mendengarkan khutbah internasional, dan ia akan menganggapnya sebagai kebijakan internasional dunia Islam di tahun itu.

Setelah tidak menemukan tempat untuk melaksanakan khutbah, ia kembali ke tenda. Dilihatnya Shofi yang tubuhnya sudah melemah, lembab dan cenderung kebiru-biruan. Di tempat inilah, Shofi menyampaikan pesan kepadanya dengan kalimat sebagai berikut:

“Anakku, jika kita ditakdirkan dapat kembali pulang ke tanah air, betapa aku sangat bahagia. Di sini dan di tempat ini, aku memintamu, jika Allah memberi rezeki kepadamu, bantulah kyai kamu, namanya Kholid untuk mendaftar ibadah haji. Aku kasian kepadanya. Dulu ketika kamu masih kecil, ia tidak jadi berangkat haji. Ia ketipu karena menggunakan paspor hijau. Bahagia rasanya, jika kamu berkenan memberi sedikit banyak bekal untuk kepergiannya.

Anakku. Aku juga nitip adikku namanya Istiqomah. Dialah putri bapakku atau kakekmu yang hidupnya paling susah. Aku tidak memintamu untuk memberangkatkan haji, tetapi, jika dia membutuhkan sesuatu untuk keberlangsungan hidupnya, bantullah semampu kamu. Jagalah persaudaraan di antara kamu. Tidak boleh bertengkar dan jangan lupa melaksanakan shalat.”

Suara itu sangat pelan dan parau. Shofi semakin menggigil kedinginan. Crhonos demikian takut akan suasana seperti ini. Ia memeluk dan mendekapnya dengan hangat. Ia berdo’a kepada Tuhannya dengan mengatakan: “ya Allah berilah kekuatan untuk bapakku. Aku percaya hanya diri-Mulah yang pantut menjadi penjaga terbaik bagi keberlangsungan hidup bapak-ku.

Shalat dhuhurpun dimulai. Lalu jama’ah di masing-masing maktab melaksanakan shalat secara berjama’ah. Setelah itu ternyata dilangsungkan khutbah oleh salah seorang Ketua rombongan yang paling senior. Cita-cita Crhonos untuk mendengarkan khutbah seperti Nabi pernah melakukannya, yang didengarkan oleh satu khatib, ternyata tidak dapat dia lakukan. Khutbah Nabi yang terakhir kalinya di Arofah itu berkisar tentang.

Menjaga Harta dan Menjauhi Riba

Wahai manusia. Tolong dengarkanlah perkataanku. Tidak tahu, apakah aku akan menjumpaimu di tempat wukuf ini, setelah tahun ini kita lewati.  Dengakanlah, sesungguhnya darah dan harta kamu semua adalah kemuliaan. Haram hukumnya dirusak orang lain. Darah dan hartamu, sama mulianya dengan negeri ini.

Wahai umat manusia. Sejak saat ini, segala bentuk tradisi jahiliyah tidak boleh dipakai lagi. Segala bentuk perbuatan anti kemanusiaan seperti membunuh dan berperilaku dendam, semuanya batal dan tidak boleh berlaku. Pembunuhan balasan atas terbunuhnya Ibnu Rabi’ah bin Harits yang terjadi pada masa jahiliyah, sudah tidak lagi diperlukan.

Sejak hari ini, transaksi riba sudah tidak lagi berlaku. Transaksi semacam ini, pernah dilakukan Abbas bin Abdul Muthalib. Semua transaksi riba batal.

Menjauhi Syeitan dan Menghormati Bulan Suci

Wahai manusia. Syeitan telah putus asa untuk dapat disembah manusia di negeri ini. Namun haruslah diingat, syetan masih terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Syeitan baru merasa puas jika kalian melakukan perbuatan tercela. Jagalah agama-mu dengan baik.

Wahai umat manusia. Zaman akan terus berputar. Perputaran ini persis seperti berputarnya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan-bulan suci. Tiga bulan karakternya berturut-turut, yakni: Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram. Berikutnya dalah bulan Rajab yang hadir di antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban.

Menjaga Wanita

Takutlah kamu semua kepada Allah dan jagalah kaum wanita. Wanita yang kamu jadikan sebagai isteri, mengandung makna amanah Allah. Kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu semua dengan nama Allah.

Kalian memiliki kewajiban terhadap isteri-isteri kamu. Sama dengan isteri kamu yang mempunyai kewajiban terhadap diri kamu. Kewajiban mereka terhadap kamu di antaranya adalah tidak boleh memberi izin masuk orang yang tidak kamu suka ke dalam rumah kamu. Jika mereka melakukan hal demikian, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan kewajiban kamu terhadap mereka adalah memberi nafkah, dan pakaian yang baik kepada mereka.

Mengikuti Nash dan Taat kepada Pemimpin

Sungguh, aku telah meninggalkan dua hal bagi kalian. Jika kamu semua berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Kitab Allah [Al-Quran] dan sunnah nabi-Nya [Al-Hadits].

Wahai umat manusia. Dengarkan dan ta’atlah kamu semua kepada pemimpin kamu. Sekalipun kalian dipimpin seorang hamba sahaya dari negeri Habsyah yang berhidung pesek, selama dia tetap menjalankan ajaran kitabullah (Al- Quran ) kepada kalian semua, maka, wajib hukumnya kalian mengikutinya.

Lakukanlah sikap yang baik terhadap hamba sahaya. Berikanlah makan kepada mereka dengan apa yang kamu makan dan berikanlah pakaian kepada mereka dengan pakaian yang kamu pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak dapat kamu ma’afkan, maka juallah hamba sahaya tersebut dan janganlah kamu menyiksa mereka.

Wahai ummatku. Dengarkan dan perhatikanlah perkataanku. Setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Seseorang tidak dibenarkan mengambil hak milik saudara kamu itu, kecuali dia dengan senang hati memberikannya kepadamu. Janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri.

Pesan Kesaksian Kerasulan

Di saat ini, aku ingin menyampaikan pesan khusus kepada kalian semua. Kamu semuanya, ya semuanya akan menemui Allah. Setelah kepergianku nanti, janganlah kamu menjadi sesat seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Mungkin nanti orang yang mendengar berita tentang khutbah ini lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini.

Jika kamu ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat. Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad sebagaimana dieiwayatkan Imam Bukhari berkata: “Ya allah, saksikanlah pernyataan mereka ini.. Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini.. Ya Allah saksikanlah pernyataan mereka ini… Ya Allah saksikanlah pernyatan mereka ini”

Khutbah semacam ini, ternyata tidak diperoleh Crhonos. Ia agak sedikit kecewa. Mengapa bisa begini. Shofi langsung memegang tangan Crhonos dan mengatakan: “Ini bukan zaman Rasul. Ini zaman baru dan era baru. Betawakallah, karena bersikap tawakal adalah modal utama haji”.  Ia kembali diam tidak jadi berbicara. By. Charly Siera –bersambung–

Komentar
Memuat...