Take a fresh look at your lifestyle.

Menanti Semar Bangun | Mencari Nalar Kemanusiaan dalam Pewayangan Part – 3

0 134

Menanti Semar Bangun. Istilah Punakawan, bukanlah kalimat asing. Kalimat ini, akan sangat mudah dimengerti untuk siapapun yang memiliki sikap bersahabat dengan dunia pewayangan. Suatu model seni dan sastra yang pernah mengharu birukan Nusantara. Ia juga menjadi satu-satunya media transformasi Islam di Nusantara melalui para wali yang suka dengan dunia sastra.

Kata Punokawan mengandung arti kawan yang mengiringi. Terstruktur dari kata Puno [memahami, terang, jelas, cermat, mengerti, cerdik] dalam memahami hakikat di balik kejadian-peristiwa alam dan manusia. Dan kawan berarti teman. Secara filosofi, cerita Punokawan adalah cerita metafisis yang merumuskan pentingnya pemahaman atas berbegai dimensi hakiki dari berbagai fenomena yang tampak baik dalam konteks alam maupun dalam konteks kemanusiaan.

Inilah kisah Wayang Nusantara. Cerita ini merupakan gubahan [adaftasi] sastrawan Jawa atas kisah Mahabrata yang berkembang di India. Cerita wayang ini, telah menampilkan empat lakon manusia misterius melalui sosok Semar [bapak angkat] bagi Gareng, Petruk, dan Bagong.

Kisah kesetiaan dan kejujuran yang ditampilkan Punakawan ini begitu lama berlangsung. Ia membentang sejak Purwacarita dalam tokoh Harjunasasra sampai setelah kejayaan Parikesit runtuh. Saking lamanya cerita kesetiaan Punokawan kepada kerjaan ini, akhirnya, tidak ditemukan secara jelas kapan dan bagaimana mereka mati.

Hanya perlu dicatatakab bahwa, khusus untuk Semar, digambarkan bahwa dia akan bangkit kembali setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Kebangkitan kedua Semar, akan menjadi penolong atau juru selamat ketika para Ksatria yang tulus membela negara [Nusantara] berada dalam keadaan bahaya. Apakah sekarang Nusantara berada dalam bahaya. Saya tentu tidak tahu.

Substansi Cerita Semar

Cerita Semar di Punakawan adalah kisah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ia memilki kedudukan yang sangat istimewa karena bukan saja dianggap memiliki wawasan yang tinggi dan luas tentang makna dan hakikat kehidupan. Dalam sisi lain,  karakternya juga mendorong manusia untuk mau bertuhan. Melalui sosok ini pula, keputusan membuang sipat duniawi seperti; mengejar pangkat, kedudukan dan kekayaan tercermin dengan jelas.

Semar [Ki Sabda Palon atau bisa juga disebut Ki Nayagenggong], adalah figure kunci Punokawan. Sosok yang secara apik digambarkan Kalijaga dengan Simar [paku] ini, menjadi simbol bapak manusia bagi masyarakat Jawa. Ia sering ditahbiskan sebagai sosok misterius di antara dunia nyata dan maya.

Semar adalah Sabdapalon dan Nayagenggong [Dahyang]. Ia adalah Begawan dan symbol masyarakat bawah. Inilah manusia setengah Dewa yang dianggap akan tampil ketika kerajaan mengalami bahaya. Wataknya sangat tenang, rendah hati, tulus dan tidak memiliki watak yang munafik.

Semar sangat matang dalam mengelola emosi kemanusiaannya. Karena ketenangannya pula, ia menjadi symbol kejeniusan dan ketajaman bathin. Ia menjadi pemilik wajah ganteng yang menawan. Karena itu, dia disebut badra [rembulan] naya [cahaya]. Konsep manunggaling kawula Gusti, sering dipersonifikasi kepadanya. Karena itu, sosok ini tidak kasat mata. Ia menjadi hakikat guru sejati setiap manusia. Kapankah sosok Badranaya ini kembali bangkit … Hanya Tuhan yang tahu. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar