Menanti Uluran Tangan Tuhan | Novel Filsafat Part – 1

55 271

Menanti Uluran Tangan Tuhan. Duduk seorang laki-laki setengah baya, dengan gayanya yang khas, Ia sedang melakukan aktivitas berpikir yang kelihatannya cukup serius. Merenungkan sesuatu yang khas dan berkarakter antah berantah. Ia duduk termangu menyaksikan dinamika dunia yang dilihat, didengar dan dirasakannya.

Waktu telah cukup panjang ia habiskan di kursi tua kebanggaannya. Berkali-kali nafasnya ditahan, lalu dibuang dengan keras. Dahinya ditahan telapak tangan kanan dan ia terus menerus melepaskan nafas yang kadang sengau. Pikirannya melayang ke alam antah berantah. Ia mempertanyakan suatu hakikat [ontologis] atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari perjalanan hidup manusia di sekitarnya.

Maklum, negeri yang dia cintai, bernama Saba’, yang menjadi anugerah Tuhan, kini seperti sedang mempertontonkan adegan-adegan bodoh penuh kekonyolan. Suatu epik hidup yang jangankan manusia biasa, Malaikatpun dipaksa tertawa. Tertawa menyaksikan sebuah lakon manusia yang menempati gususan Syurga.

Inilah negeri yang dijanjikan Tuhan sebagai tatalaksana Syurga. Dalam anggapannya, jika manusia mampu menjaga dan melindungi negeri ini dengan baik, maka, tontonan akan suasana Syurga, terlihat jelas di sini.

Di negeri ini, seharusnya tidak ditemukan rumus kemiskinan atau apalagi kebodohan, sebagaimana penghuni Syurga kelak menjalaninya. Di tempat seperti ini, tidak mungkin ditemukan friksi sosial yang demikian mengeras hanya karena kurang terdidik atau karena kurang makan.

Fakta tidak demikian. Dalam banyak kasus, untuk negeri ini, Tuhan seperti sedang marah karena dianggap tidak mau bersyukur atas segenap nikmat yang Dia kirimkan kepada manusia Saba’.

Fakta, memang gugusan Syurga itu, kini tidak lagi menjadi syurga sebagaimana para penghuni masa lalu merasakannya. Sudah sejak ratusan tahun, negeri ini damai. Kini tiba-tiba kembali terusik. Isu kembali marak. Semuanya berawal dari isu kembalinya para gerombolan Anti Tuhan yang secara berjenjang terus berdatangan. Bergantian hadir ke berbagai titik negeri dan seolah akan menyingkirkan para penghuni Syurga. Mereka datang dengan wajah-wajah baru yang hampir sulit ditebak.

Datang Kembali Tanpa Wujud

Mereka datang seperti asap. Masuk ke dalam setiap celah dan ke dalam setiap pori-pori hidup negeri penuh ketuhanan. Membakar sebuah stigma dalam lahapan api di bawah kesadaran manusia biasa. Usaha yang dilakukan para Ksatria yang sudah lama mengurung mereka dalam sebuah lubang sempit yang gelap, seolah sia-sia. Ditimbun dengan kucuran timah yang sangat panas, dianggapnya tidak mungkin kalau tidak melelehkan mereka. Fakta, banyak anggapan menyebut bahwa mereka, kembali bangkit seperti anai-anai yang dilahirkan kembali dari kubur.

Para Ksatria yang sudah renta kaget. Mereka kini bangkit dengan penuh kekuatan dengan daya tahan banting yang cukup tinggi. Dalam kasus-kasus tertentu, mereka malah tampak sangat tangguh dan seperti bangga pernah berada dalam kurungan dengan ikatan timah panas terbekukan. Para gerombolan, malah kembali dengan tampilan kepercayaan diri yang sangat perkasa. Mereka dianggap mampu menyajikan ciri khas dengan wujud nyentrik tanpa wujud.

Mereka hadir tidak lagi dengan irama musik seriosa. Nyanyian Pop dengan tema mengurung Bulan dalam debu, menggoreng bintang dalam kwali dan membuat matahari menjadi Sate, dirubah dengan simbol tanpa form. Musiknya menjadi demikian variatif. Mencampur adukan atau masuk ke dalam irama musik, mulai dari dangdut, Jazz, Pop, Rock atau Regae.

Kondisi semakin tampak seram, karena mayoritas massa yang muda, tidak tahu dan tak lagi peduli pada apapun yang datang, sebagaimana para ksatria tua merasakannya. Termauk ketika para kstaria Tua merasa bahwa “pemberontak Tuhan”, sesungguhnya telah kembali hadir. Hanya sang Kstaria yang berani bicara, namun banyak pihak menyebutnya sebagai lawakan lama model baru. Sang Ksatria yang tugasnya menjaga dan merawat kunci rahasia Negeri Saba’, akhirnya tak kuasa untuk tak berbicara. Termasuk saat ia dikabarkan bahwa ada desain tertentu akan datangnya sumpit, panah dan perkakas perang lain, ke negeri  Saba’

Isu semakin tampak buruk karena para penerus utusan Tuhan dikisahkan seperti akan terancam. Teancam dalam berbagai dramatologi kekuasaan. Ramailah setiap mimbar membincangkan pergulatan isu dan intrik. Setiap tempat di mana orang mengobrol, isu tentang segerombolan para pemberontak Tuhan terus menyeruak. Banyak orang tidak mengerti, bagaimana mungkin manusia yang menjadi produk Tuhan harus memberontak Tuhan?

Menunggu Tuhan Marah

Tetapi isu tentang ketidakmungkinan itu segera tertepis, karena memang gerombolan itu telah datang. Benar-benar datang ke berbagai sudut negeri Saba’ dengan berbagai sajian yang cukup menjanjikan. Pembawa berita itu, datang bukan lagi dari juru kunci negara. Para gerombolan disebut datang dengan cara menyapa semua warga dengan sapaan yang sangat indah dan merdu. Mereka persis menjadi semacam Gula di mana para semut merindukan suatu makanan lezat berasa manis.

Laki-laki separuh baya yang semakin keriput itu, terus saja melamun. Sengauan nafasnya, tak mampu dibaca sipapaun. Lelaki itu dekenal dengan nama Leuxiphos. Ia tak kuasa untuk memberontak, karena kawan-kawannya, mayoritas telah pergi menjumpai Tuhan mereka.

Leuxiphos hanya mampu mempertanyakan mengapa Tuhan yang dia sembah tidak marah? Mengapa Tuhan yang dia puja tak juga turun tangan? Mengapa harus manusia yang melawan pemberontak Tuhan? Mengapa bukan prajurit tangkas yang dimiliki Tuhan itu yang melakukan perlawanan kepada para anti Tuhan? Mengapa dan mengapa? Sebab mereka yang memberontak Tuhan, seharusnya hanya Tuhan-lah yang tersinggung.  Karena itu, seharusnya Tuhan juga yang melawan.

Leuxiphos terus menerus melamun. Ia sulit membuktikan Tuhan jika Dia harus diwujudkan. Ia bingung bagaimana menampilkanNya dalam bentuk fisik. Andaikan Kau berfisik dan memiliki form sebagaimana aku memilikinya, pasti dia akan tampil dan melawan siapapun yang menolak eksistensi-Nya.

Dalam lamunan penuh pemberontakan,  Leuxiphos seperti terkena ruh kudus. Ia tiba-tiba tersenyum sendiri. Ia berkata dengan kalimat yang sangat rendah, bahwa dirinyalah justru yang menjadi panglima dan prajurit setia Tuhan. Bukankah Tuhan telah menginternalisasi diri-Nya ke dalam wujudku yang fisik? Inilah pertanyaan yang menyimpulkan hasil berpikirnya.

Bukankah “aku ini cermin Tuhan”. Bukankah Dia yang menjadi Tuhan itu, “sejatinya diwakilkan berbagai halnya kepadaku”. Leuxiphos terus menerus mengkhayati segenap dinamika dirinya.  Ia tersenyum sinis dan kemudian diam lalu berdiri, dan berkata: “Kau adalah al haq. Bagian tertentu dari sifatMu, aku lupa, ternyata telah Kau lekatkan ke dalam tubuhku”. By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

  1. siti maryatul qibthiyah berkata

    Jadi kesimpulannya novel diatas menceritakan tentang leuxiphos dia sedang memikirkan antara kehidupan yang dia jalanny,tuhan dan sang penciptanya,dia memikirkan nasibnegaranya dengan kedatangan sang pemberontak dewa itu,dalam lamunan dia seperti dia menyadari bahwasannya dia yang menjadi panglima prajurit dewa tersebut. Hakikatnya tuhan itu ada dan sudah menciptakan semuanya sesuai dengan ketentuannya,karena tuhan telah menciptakan semua itu dengan sebaik-baiknya,namun mengapa manusia masih saja memberontak menyatakan diri anti tuhan karena ketidak percayaannya bahwa tuhan itu ada pemberontak inilah yang akan menghambat suatu negara,karena dahulu indonesia pernah kedatangan pemberontak dari negerinya sendiri yakni PKI.

  2. M fatkhurizqo MPI B SMT 3 berkata

    Novel ini menceritakan laki-laki paru baya yang dimana di negaranya mengalami perubahan karena manusia itu tidak luput dari sedih, bahagia. Laki-laki si paru bayu itu sangat sedih karena negaranya dipemberontak. Dewa,kesatria pun sampai marah tapi dari novel tersebut bisa kita ambil hikmahnya dalam kehidupan kita itu harus berusaha dengan maksimal,bersikap sabar atas cabaan yang diterimanya.

  3. Peggi Agisna berkata

    assalamualaikum..
    kalau menurut saya, jadi novel dalam part 1 ini menceritakan bahwa lelaki separuh baya itu atau disebut dengan leuxiphos harus merubahnya negeri saba’ yang sekarang sedang mengalami kemiskinan atau kebodohan yang diakibatkan dengan kedatanganya para gerombolan anti dewa terus berdatangan ke berbagai titik negeri saba’, mereka masuk ke dalam celah pori-pori hidup dengan wajah yang sulit ditebak dan mampu menyajikan ciri khas wujud nyentrik tanpa wujud. terimakasih

  4. Koriatunisa IPS A/1 berkata

    Assalamualaikum…
    seorang laki laki separuh baya itu merenungi negara yang ia pijaki kini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya dengan datangnya kekelompok orang yang menjajah negrinya dengan perlahan lahan tanpa di sadari oleh orang lain mereka mampu menarik perhatian orang orang yang ada di negrinya yang mengakibatkan mereka menjadi budak di dalam negrinya sendiri mereka tidak sungguh tidak adil mereka mengambil hak dengan cara yang sangat tidak berperi kemanusiaan .
    laki laki separuh baya itu hanya bisa memberontak kepada tuhan mengapa tuhan diam saja melihat apa yang telah terjadi di dalam negrinya yang menurutnya tidak adil dia pun diam sejenak dan berfikir bahwa tuhan tidak marah …ia pun melamun dan ternsenyum tuhan tidak akan menampilkan fisiknya seperti dirinya sehingga dirinya lah yang dapat mampu melawan penjajah yang ada dalam negrinya dan dia percaya bahwa Allah telah menurunkan salah satu sifatnya kepada dirinya sebagai wujud bahwa Allah itu ada dan bersamanya…
    terima kasih

  5. Siti alifah. Ips A/1 berkata

    Assalamualaikum wr. Wb menurut saya novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang setengah paruh baya dengan gaya perenungan yang waktunya ia habiskan dikursi tuanya.ia pikirannya melayang ke alam antah beranta dan ia memikirkan Negeri yang kini masih banyak kemiskinan dan adegan adegan bodoh penuh kekonyolan dll. Mungkin hanya itu menurut saya kurang lebihnya saya mohon maaf. Trimakasih.wassalamualaikum wr. Wb

  6. ELOK ALFAIN LUTHFIE berkata

    Assalamu’alaikum setelah saya membaca novel menanti uluran tangan tuhan ini, bahwa ada sebuah negeri yang bernam saba’ sedang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan pasalnya di negeri tersebut sedang kedatangan para pemberontak dewa, dan mereka mempertontonkan kekonyolan dan kebodohan, ada seorang paruh baya yang bernama leuxiphos yang sedang mamikirkan bagaimana nasib negaranya itu, dia merenunginya terus akan tetapi akhirnya diapun tak bisa melakukan apa-apa selain memberontak. Dia berfikir dan membayangkan bagaimana seorang dewa yang dia sembah itu dan akhirnya diapun mengaku bahwa dirinya adalah dewa. Terimakasih

  7. lia rosita dewi berkata

    Assalamuallaikum.. di dalam novel filsafat part 1 ini_seorang laki”yg memikirkan dan mengharapkan negerinya seperti surga. Dan tak segampang itu seperti surga. Tatkala ujian datang_seperti halnya ketidak baikan hadir d negeri itu.Ketika itu ia mempertanyakan kenapa tuhan tak tersinggung akan ketdk baikan itu_dan iapun sadar bahwa diciptakannya ia oleh tuhan_untuk memperbaiki yg tidak baik itu. Semoga kita bisa seperti sosok laki” itu_ yg memikirkan masa depan anak cucu kita nanti.Seperti hanyya mencintai negeri ini sebagian dari iman.

  8. Arul Ikhbarul Haqi berkata

    Saat ini perkembangan zaman semakin pesat sehingga dapat memudahkan segala sesuatu karena sudah menjadi zaman global yang penuh dengan keterbukaan. seorang Leuxiphos yang dulu pernah merasakan kedamaian di negeri saba’ yang sekarang dipikirkannya akan hancur karena telah tiba kembali gerombolan orang anti tuhan. Padahal para pahlawan sudah menghilang gerombolan itu yang dipikirnya tidak akan ada lagi yang menunjukan diri di daratan negeri ini. salah karena gerombolan tersebut sudah nampak kembali dan tidak mungkin mereka menampakan diri tanpa ada yang melindunginya yaitu juru kunci negara sedangkan juru kunci itu bisa disebut PEMIMPIN. ya pemimpin negara. para anti tuhan ini muncul bahkan dengan lebih aktif dari berbagai sisi dengan segala kemudahan yang sudah ada pada zaman ini. Membuat para penerus bangsa bertingkah konyol yang jauh dari norma norma nilai keagamaan.
    Kita sebagai penerus bangsa harus bisa membangun negeri jangan malah menghancurkan negeri. kita harus siap dengan gempuran gempuran dari luar dengan meningkatkan keimanan kita kepada Tuhan. Senantiasa meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Menambah wawasan dan mawas diri agar tidak terbawa arus radikal yang merusak persatauan dan kesatuan.

    1. Dede hidayatulloh berkata

      bukan hanya menambah wawasan pada siswa tapi bagaimana siswa dapat menghindari dan dapt mempertahankan negara dan aqidah nya

  9. Anny Musta'inah berkata

    Assalamu’alaikum wr wb
    Saya Anny Musta’inah
    Prodi PAI Semester 1
    Menurut saya pemberontak dewa /gerombolan anti Dewa yang diceritakan di dalam novel Menanti Uluran Tangan Tuhan Part-1 adalah faham komunis yang kondisi arusnya sangat kuat kuat dan digambarkan seperti asap yang masuk ke dalam nafas dan pori-pori yang sulit untuk dihindari. Gerombolan tersebut ada tapi tanpa nama berarti mereka adalah gerakan terselubung yang mengancam negeri ini, gerombolan tersebut dulu dikurung, tapi usaha ksatria itu seakan sia-sia karena kini mereka kembali dengan wajah baru yang mungkin baru di kenal orang padahal dahulu mereka adalah musuh. Tapi sepertinya penduduk negeri ini terlena sehingga tidak peduli dengan kedatangan gerombolan perusak aqidah ini.

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Mantap sekali kau ini

  10. Anny Musta'inah berkata

    Assalamu’alaikum wr wb…
    Nama Saya Anny Musta’inah
    Prodi PAI Semester 1
    Menurut saya Allah kasih sayangnya Maha Sempurna dan Allah Maha suci dari maksud buruk kepada mahluk-NYa. Kemiskinan, kelaparan, kebodohan, permusuhan, pertumpahan darah yang sekarang jadi fenomena akibat manusia-manusia dzalim yang berbuat fasad diantaranya semakin banyak faham anti Tuhan.

  11. Fariz maulana.i T.ips A/1 berkata

    Assalamualaikum wr.wb
    Didalam novel tersebut ada seorang paruh baya yg bernama leuxiphos,dia merenung,merasa sedih negerinya seakan hancur oleh pemberontak yang kuat bahkan tak tertandingi oleh penduduk negeri tersebut,Pikirannya melayang ke alam antah berantah. Ia mempertanyakan suatu hakikat atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari perjalanan hidup manusia di sekitarnya.dia menanti sang dewa marah,akan tetapi yang dia harapkan seakan tidak tercapai,namun dia merasa bahwa ruh sang dewa masuk kedalam dirinya sehingga dia tersenyum sinis bahkan merasa dirinya menjadi seorang dewa.andaikan saja dewa berfisik pasti akan membantu,akhirnya pria si paruh baya tidak bisa berbuat apa2 meskipun dia merasa jiwa dewa masuk kedalam dirinya.
    Saya akan mengomentari apa yang dikatakan malikul arzak (t.ips a/1).memang benar apa yg dikatakan malik,namun malik tidak lengkap berkomentar,dia hanya menceritakan kejadian pertama sehingga si pembaca merasa bertanya tanya puncak konflik tersebut.terima kasih
    Wassalamualaikum wr.wb

    1. Cahya Hadi Kusuma ( T.IPS A/1 ) berkata

      Assalamu’alaikum
      Dari novel tersebut menceritakan seorang paruh baya yang bernama leuxipus yang sedang merenungi atas kejadian yang menimpa negrinya yang hancur dengan penuh kebodohan dan kekonyolan. Ia mempertanyakan suatu hakikat atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dari perjalanan hidup disekitarnya.
      Leuxiphos akhirnya memberontak. Ia menantikan Dewa dihadapanya tapi tidak bisa diwujudkan. Andaikan Dewa berwujud seperti saya pasti dia akan tampil dan melawan siapapun yang menolak eksistensi-Nya. Ia merasa bahwa telah merasuk dalam dirinya.Ia tersenyum sinis dan kemudian diam lalu berdiri, dan berkata: “Kau adalah al haq. Bagian tertentu dari sifatMu, aku lupa, ternyata telah Kau lekatkan ke dalam tubuhku”.
      Saya akan mengomentari pendapat Fariz Maulana Ibrahim, menerutku cara penyamapaian sih Fariz singkat, padat,dan jelas.
      Saya akan mengomentari Malikul Arzak benar apa yang dikatakan Fariz pendapatnya memang bagus cuman belum lengkap. Jadi membuat bertanya-tanya sipembaca tersebut apa sih puncak konflik tersebut dan akhirannya. Terimaksih
      Wassalamu’alaikum

    2. Aji santoso (T.IPS A/1) berkata

      Assalamualaikum. Langsung saja agar tidak bertele-tele dalam komentar tersebut saya menyimpulkan bahwa novel yg berjudul menanti uluran tangan tuhan menceritakan seorang laki² paruh baya bernama leuxiphos yang sedang memikirkan negri yang dicintainya. Kini kembali isu bahwa para gerombolan anti dewa datang kembali, leuxiphos terus melamun dan kemudian tiba-tiba leuxiphos diam lalu berdiri dan berkata kau adalah al-haq bagian dari tertentu dari sifat mu , aku ternyata telah kau letakan ke dalam tubuhku.
      Komentar saya apa yang di katakan malik saya sependapat dengan fariz dan cahya bahwa malik berkomentar dari cerita tersebut hanya pada satu titik cerita tidak menyeluruh mungkin menurut saya malik perlu membaca ulang novel tersebut .
      Sedangkan fariz berkomentar dari novel tersebut sudah cukup benar tetapi ada sedikit koreksi yaitu fariz hanya mengatakan cerita awal dan tengahnya saja tidak dengan ending dari akhir cerita tersebut jadi masih belum bisa mengatakan inti dari novel di atas itu seperti apa . Selanjutnya komentar sya tentang apa yang di katakan cahya menurut saya kurang detail dalam pehaman novel tersebut . Terimakasih mohon maaf wassalamualaikum.

  12. Ahmad Hisni berkata

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Setelah saya membaca buku Filsafat Ilmu karya guru saya Prof. Cecep tentang Metafisika, beberapa tahun yang lalu saya mendengar terminologi ini dengan penjelelasan bahwa metafisika adalah sesuatu yang terjadi di luar nalar manusia, yang berperan adalah masalah keimanan masing-masing orang. Dari pengetahuan saya sebelumnya dipadukan dengan penjelasan yang ada di buku Filsafat Ilmu karya syaikhina Cecep, ternyata tidak begitu jauh, artinya punya kesamaan persepsi. Tapi ketika syaikhina Cecep menjelaskan metafisika dalam perkuliahan, menceritakan proses terjadinya isra mi’raj, yang beliau jelaskan justru bersebrangan dengan apa yang beliau tuangkan dalam bukunya, itupun pendapat para ahli di buku tersebut. Tapi memang statemen beliau menyikapi kronologi isra mi’raj sangat beda dengan yang lain, beliau lebih mengedepankan peranan nalar pada kejadian tersebut. Bagi saya hal tersebut no problem, artinya syaikhina berhak berpendapat, toh kebenaran hakiki hanya milik Tuhan. Dari buku tersebut sebenarnya mengajak kita untuk berpikir lebih jauh tentang menyikapi permasalahan apa pun, agar pemikiran kita tidak stagnan. Itu saja mungkin yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya, mohon ma’af.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Mantap2 … aku suka membaca komentarnya

  13. Ahmad Hisni berkata

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Setelah saya membaca novel dengan judul “Menanti Tangan Tuhan”, secara pribadi saya sangat tertarik hanya dengan membaca judulnya saja, ternyata ketertarikan saya menjadi lebih jelas dan nyata dengan menelusururi bahasanya yang indah, rangkaian kalimat yang tertata begitu rapi, terlebih angan saya yang seakan-akan diajak novel itu masuk kedalamnya, seakan-akan Leuxyphos merasuk dalam jiwa dan raga saya, sungguh sangat hebat novel ini. Dari novel tersebut saya hanya bisa memberi kesan :
    مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
    Terima kasih Pak Cecep atas karya jenengan yang begitu hebat. Semoga jenengan menjadi :
    خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

    Wasssalamu’alaikum Wr. Wb.

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      Amiiin … kita terlahir sejatinya dengan utamanya tunggal. Yakni mengenal dan mencoba memahami, apa sesungguhnya missi yang dibawa kita mengapa akhirtnya kita dilahirkan ke muka bumi

  14. Irfan Sahroni berkata

    Ada sebuah negeri saba yang dijanjikan oleh tuhan sebagai talaksana syurga, tetapi sekarang negeri saba tersebut malah menjadi negeri yang buruk, hilangnya moral banyak ditemukan kemiskinan dan kebodohan bahkan lebih buruknya lagi sekarang muncul pemberontakan. Nah kita sebagai warga negara Indonesia yang merdeka tidak mau disamakan dengan negeri saba, oleh sebab itu kita harus menjaga NKRI dari fajtor internal maupun eksternal

    1. Dede hidayatulloh berkata

      Ya itu benar makanya kita harus menjaga keislaman kita dan menjaga negara kita dan tegakan terus pancasila

  15. Anny Musta'inah berkata

    Assalamu’alaikum.wr wb
    Menanti Uluran Tangan Tuhan Part-1

    Negeri ini adalah negeri yang subur makmur diibaratkan seperti tanah syurga. Sebagai gugusan syurga seharusnya tidak ditemui kemiskinan, kebodohan, permusuhan dan lain-lain, tetapi faktanya fenomena yang ada justru sebaliknya, mungkin Tuhan marah akibat kerusakan-kerusakan akibat tangan-tangan manusia, diantaranya ketusakan aqidah yaitu dengan muncul dan berkembangnya faham-faham anti Tuhan/komunis.

  16. Alamul Yaqin berkata

    Assalamu’alaikum wb. wb.
    Mohon maaf sebelumnya saya Alamul Yaqin dari semester 1 program Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati.
    Segala sesuatu Allah yang menciptakan dan hakiakatnya tidak ada sesuatu tanpa campurtanganNya.
    Manusia adalah makhluq Allah yang diciptakan beserta rizqinya masing-masing, maka manusia sudah sepantasnya untuk bersyukur kepada-Nya.

  17. Malikul arzak (IPS A/1) berkata

    assalamu’alaikum
    novel ini bercerita tentang pria paruh baya yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan pemberontak dewa. bukan hanya itu ksatria yang kuat pun hanyut dalam dramatugi pemberontak, lelaki paruh baya itu akhirnya tak kuasa kecuali memberontak. ia bertanya-tanya kenapa dewa yang ia sembah tidak marah. leuxiphos terus melamun ia sulit membuktikan dewajika harus diwujudkan, seaindainya ia punya fisik pasti dia akan melawan siapapun yang yang menolak eksistensi-nya

  18. Casworo berkata

    Assalamu’alaikum wr, wb
    Saya CASWORO NIM 1708603006
    MAHASISWA PASCASARJANA IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

    Setelah membaca buku berjudul Filsafat Ilmu karya Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, bagian Metafisika, saya menyimpulkan bahwa kegunaan metafisika itu salah satunya mengajarkan cara berfikir yang cermat dan tidak kenal lelah dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
    Dan menilik Novel karangan Prof. Dr. H. Cecep Sumarna yang berjudul Menanti Uluran Tangan Tuhan bagian 1, bahwa ada seorang tokoh bernama Leuxiphos, seseorang yang berdiam diri sambil merenungkan nasib umatnya. Proses penyendiri ini tidak lain untuk menentukan dan mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan. Karena umat di zaman saat itu tidak lagi bermoral, maka Dia bertanya-tanya dalam dirinya. Kemanakah Tuhan itu? Yang mengaku-ngaku sebagai pencipta makhluk, makhluknya berbuat semena-mena tetapi tuhan tidak bertindak apapun. Kemanakah Tuhan? Sampai pada proses berfikir yang paling tinggi, dia beranggapan bahwa Tuhan itu harus berwujud, seperti halnya manusia.
    Dan beberapa kali disebutkan kata Negeri Saba’ (Negeri yang makmur), teringat pada sebuah buku berjudul Sejarah Borobudur karangan KH. Fahmi Basya (Dosen Matematika Islam UIN Jakarta), dalam bukunya menerangkan dan membuktikan bahwa Indonesia itu adalah Negeri Saba’, dengan didukung bukti-bukti dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan membuktikannya secara langsung artefak-artefak yang ada pada Borobudurs sendiri dan disekitarnya.
    Menurut saya kajian ini harus bisa di perdalam lagi, karena sangatlah menarik bila memang Indonesia ini adalah Negeri Saba’.
    Itu saja yang saya bisa sampaikan. Terima kasih
    Wassalamu’alaikum,

    1. Ali Alamsyah
      Ali Alamsyah berkata

      Mantap kau ….

  19. Khoiron Alkaromah berkata

    Bismillahirrahmanirrahim…
    Novel ini menceritakan tentang orang yang bisa dikatakan pendidik yang dulu merasakan hidup yang damai tetapi kini kehidupan yang laksana surga itu berubah menjadi kehidupan yang amat tidak menyenangkan, dia berfikir bagaimana cara mengembalikan kehidupan syurga yang dulu pernah dia rasakan, dan hanya dengan berdoa ia berharap pertolongan Tuhan akan datang untuk negerinya…

    1. Arul Ikhbarul Haqi berkata

      Betul sekali, kita sebagai hamba Tuhan harus senantiasa berdoa dan terus memohon pertolongan kepadanya karena tiada lagi tempat bagi kita untuk memohon sesuatu selain kepada-Nya

  20. Mang Agus Saefullah berkata

    Bismillah
    AGUS SUSILO SAEFULLAH
    PASCASARJANA PAI SEM-1 T.A 2017/2018

    Kesimpulan dari Novel “Menanti Uluran Tangan Tuhan” :
    1. Leuxiphos seorang pribadi yang hebat karena sebagai manusia sosial dia sudah peka dan peduli terhadap fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan negaranya.
    2. Kesadaran akan adanya Dzat dan Eksistensi tuhan tertuang dalam lamunannya yang mengaharapkan adanya “uluran tangan tuhan” membuktikan bahwa Leuxiphos beriman kepada sebuah Dzat Yang menciptakan alam raya ini.
    3. Hanya saja kesadaran tentang “adanya eksistensi tuhan” diharapkan ulurannya tangannya sebagai tuntutan hamba kepada tuhannya yang tertanam dalam diri Leuxiphos tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa tuhan itu tidak Materialis melainkan Metafisis yang tentunya Af’al-Nyapun akan metafisis. Namun beruntung pada akhirnya Leuxiphos menyadari kemetafisisan tuhan dalam ungkapnya bahwa “dirinyalah justru yang menjadi panglima dan prajurit setia Dewa. Bukankah Dewa telah menginternalisasi diri-Nya ke dalam wujudnya yang fisik.”
    4. pelajaran yang bisa kita ambil bahwa mari kita meginternalisasi sifat-sifat ketuhanan sebisa kita di dalam diri kita baik itu berupa Maha Rahman (kasih sayang), Maha Nashir (penolong), Maha Pemberi, Maha Pemaaf dan lain-lain sebagainya.

  21. Atiq Nur Dianti berkata

    Assalamua’laikum.
    Ketika saya mencoba untuk mengaji novel 1 ini, dan mencoba menemukan hakikat di balik sesuatu yang digambarkan dari novel ini saya berpendapat bahwa substansi dari cerita tersebut adalah bahwa Leuxiphos mengakui keberadaan Sang Pencipta dan mengakui Al haq atau kebenaran ada pada Sang Pencipta yang di anugerahkan kepada ciptaannya untuk bisa memilih jalan kebenaran menurutnya serta mengakui bahwa dunia ini di ciptakan dan di anugerahkan Sang Pencipta kepada ciptaannya untuk di jaga dan di lestarikan karena alam semesta ini di ciptakan hanya untuk menjadikan ciptaannya sebagai Khalifah fil Ard dan agar bersyukur kepada Sang Pencipta dan agar mengakui Sang Pencipta dari ciptaannya. Namun manusia sebagai ciptaannya kini hanya bisa merusak dan menghancurkan semua itu. Krisis keImananpun kini di jajah dengan sedemikian rupa bentuknya hingga tak heran jika zaman sekarang tidak sama dengan zaman dahulu saat keimanan benar benar dijadikan pedoman dalam hidup.
    Wassalam

  22. Yeni Rosnaeni berkata

    Asslkm wrwb…..
    Sebelum membaca dan memeberikan komentar pada salah satu dari tiga novel yang disuguhkan di lycum oleh Professor kita, Prof Cecep Sumarna, kami disarankan untuk membaca terlebih dahulu penjelasan tentang teori “metafisika” dalam buku karangan beliau, “Filsafat Ilmu”. Di situ dijelaskan bahwa metafisika adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu di balik yang fisik atau sesuatu setelah yang fisik. Lebih dalam lagi metafisika mengkaji tentang hakikat Pengada segala yang ada.
    Sepintas, novel part 1, 2 dan 3 mengisahkan seorang Leuxiphos yang tengah memikirkan keberadaan Tuhannya. Leuxiphos adalah salah satu dari dua tokoh berfaham materialisme yang memberikan pengajaran bahwa segala sesuatu yang bersifat material harus nampak wujudnya. Dan jika tidak berwujud,maka keberadaannya ditolak.
    Pada novel part 1 berkisah bahwa Leuxiphos tengah memikirkan Tuhan dan Penviptaan-Nya. Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta, namun manusia yang diciptakan malah memberontak kepada pencipta-Nya dan menyatakan diri Anti Tuhan atau Anti Dewa. Pantaskah demikian? Sungguh manusia yang tidak tahu terima kasih atau bersyukur. Menurut Leuxiphos, mestinya Tuhan tersinggung dan memebrantas saja para pemberontak tersebut tanpa harus manusia lain yang mberantas. Mudah kan?
    Menurut saya, jika memang harus Tuhan yang langsung turun tangan, hal itu sangat mudah bago-Nya. Namun mari kita coba berilustrasi, apakah seorang dalang harus memukul gatot gaca, semar, atau salah satu dari wayangnya?
    Tuhan menciptakan manusia dan alam dengan skenario-Nya. Dan Tuhan pun memberikan dua pilihan melalui utusan-Nya, yaitu surga dgn segala kenikmatamnya dan neraka dgn segala bentuk kesengsaraannya. Manusia hanya disuruh memilih demi keselamatan manusia itu sendiri.
    Kaitannya dengan negeri Saba’ yang diilustrasikan pada novel tsb, bisa jadi yang digambarkan afalah negara Indonesia yang dahulu terkenal dengan kekayaam keindahan alamnya, dikenal juga ttg keramahtamahan rakyatnya dengan budaya ketimurannya. Namun itu dulu, setelah negara ini terbebas dari belenggu penjajahan dan kebengisan gerombolan anti Tuhan alias PKI. Kini kenyamanan itu terusik kembali dengan hadirnya segerombolan anti Tuhan yang hadir dengan wajah baru, bersikap manis, ramah dan menampilkan harmoni yang indah dalam setiap aspek kehidupan manusia, yang tentunya mengancam kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
    Leuxiphos yang digambarkan dalam novel tersebut, dapat berupa aeorang manusia paruh baya atau dapat pula berupa aebuah organisasi yang berusia lampau yang tenggah memikirkan nasib bangsanya. Hanya penulis yang tau 🙂. Terimakasih. Wasaalam. Yeni Rosnaeni, mahasiswi pasca PAI – 1.

  23. Maulidiya berkata

    Assalamua’laikum
    Setelah saya baca novel menanti uluran tangan tuhan part 1 ini,bahwasannya novel ini menceritakan sebuah negri saba.dimana negri saba ini sedang terjadi kabar yang masih simpang siur seperti kabar tentang adanya pemberontakan terhadap dewa.tetapi semua itu memang benar adanya dan ada beberapa orang yang memikirkan negeri ini salah satunya adalah leuxiphos ia seorang laki-laki paru bayah yang selalu memikirkan negerinya.ia sejenak merenungkan nasib negeranya dia berfikir dialah yang akan melawan para pemberotak itu sendiri.

  24. Intan Tresna Dwi (T.IPS 1/A) berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb
    “Menanti uluran tangan Tuhan” dalam novel filsafat part satu ini bahasa yang digunakan terlalu tinggi dan mendalam sehingga ada kata-kata yang tidak mudah untuk kita pahami sehingga pembacaannya pun harus dilakukan secara berulang-ulang. Disini menceritakan tentang seorang laki-laki paruh bayar yang bernama Leuxiphos yang sedang memikirkan negerinya yang kedatangan seorang pemberontak dewa, misalkan bangsa Saba itu di ibaratkan bangsa Indonesia kenapa? karena Indonesia pernah kedatangan pemberontak dari negerinya sendiri yakni PKI pemberontak inilah yang akan menghambat kemajuan suatu negara. Memang benar menurut Leuxiphos bahwasanya sulit untuk membuktikan dewa dalam bentuk fisik karena Tuhan itu ada didalam hati dan pikiran manusia bukan untuk diwujudkan secara fisik, karena itu kita sebagai manusia harus mempercayai dan meyakini nya dengan penuh keimanan.
    Terimakasih
    Wassalamualaikum wr.wb

    1. Ummie Habibah (T.IPS A/1) berkata

      Assalamualaikum..
      Saya setuju dengan pendapat saudari intan tresna dwi (A/1)yang mengatakan kalau bahasa yang digunakan di novel filsafat part 1 ini bahasanya terlalu tinggi sebagai, pembaca yang awam banyak kata-kata yang tidak mudah dipahami akan tetapi saya mau menanggapi bahwa tidak masalah banyak kata- kata yg belum kita ketahui karena kita sedang belajar berfilsafat.
      “”Menanti uluran tangan Tuhan” part1
      Menurut saya novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki setengah baya yang bernama leuxiphos yang sangat mencintai negerinya. Bernama negri sabda Padahal negri ini dulunya negri yang damai tapi sekarang tiba-tiba kembali terusik oleh segerombolan manusia yangyang anti dewa seperti pemberontak,namun seorang lakilaki-laki setengah baya ini mau tidak mampu untuk melawan para pemberontak.
      Terimakasih
      Wassalamualaikum

    2. Ummie Habibah (T.IPS A/1) berkata

      Assalamualaikum.
      Saya s e tuju dengan pendapat anda tentang bahasa yang digunakan itu terlalu tinggi akan tetapi saya mau memenanggapi sedikit karena tidak ada salahnya kita belajar belajar dengan bahasa yang seperti ini karena kita juga sedang belajar berfilsafat..
      “Menanti uluran tangan Tuhan” part1
      Menurut saya novel ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai negerinya yang bernama negri saba, karena negri ini dulunya damai tapi sekarang tiba-tiba kembali terusik oleh segerombolan manusia yang anti dewa seperti pemberontak,namun laki-laki setengah baya itu tidak mampu untuk melawan para pemberontak tersebut
      Terimakasih
      Wassalamualaikum

    3. Ummie habibah Ips A/1 berkata

      Assalamualaikum..
      Saya setuju dan ingin menambahkan pendapat dari saudari intan tresna dwi tentang novel filsafat menanti uluran tangan tuhan part1 ini yang menyatakan diibaratkan negri saba itu sebagai negri indonesia dan pemberontaknya itu sendiri sebagai pki karena pki itu penghianat di indonesia dia membunuh para pejuang kemerdekaan. Karena pki itu tidak mengenal tuhan maka mereka ingin memecah belah negri kita ini.. Hanya dengan pertolongan Allah kita bisa memberantas para penerus pki
      Terimakasih
      Wassalamu’alaikum

    4. Rizka mawadah / T. IPS A semester 1 berkata

      Assalamualaikum saya tidak setuju karena seorang laki-laki setengah paruh baya tersebut tidak selalu memikirkan tentang adanya para pemberontak anti dewa dan menurut saya kejadian ini sangat berbeda dengan pemberontakan pki, memang benar bahwa tuhan itu tidak dapat di wujudkan secara fisik tetapi tuhan itu tetap berada di hati dan fikiran manusia, tapi seorang yang mengaku dirinya punya tuhan itu harus bisa membuktikan

      1. Nurmila Herdianty / T. IPS A Semester 1 berkata

        Assalamualaikum…
        Menurut saya, memang benar apa yang dikatakan oleh saudari Rizka yang dimana Tuhan itu tidak dapat diwujudkan secara fisik tetapi tuhan itu berada di hati dan fikiran manusia dan juga harus dibuktikan. Namun saya akan menambahkan, Tuhan tidak hanya berada di hati dan fikiran manusia tetapi kita sebagai manusia harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada tuhan dan itulah bukti kita mengaku adanya Tuhan.

    5. Nurmila Herdianty / T. IPS A Semester 1 berkata

      Assalamualaikum…
      Menurut saya, setelah saya membaca novel ini tentang “Menanti Uluran Tangan Tuhan” yang dimana disini menceritakan seorang laki-laki paruh baya yang bernama leuxiphos yang merenungkan datangnya para gerombolan anti dewa dengan wajah baru dan mereka pun datang seperti asap yang masuk kedalam setiap celah pori-pori kehidupan . Akhirnya leuxiphos seperti terkena ruh Dia merasa bahwasannya dirinya yang justru menjadi panglima atau prajurit dewa. Maksud dari cerita tersebut yaitu adanya faham komunis disekeliling kita atau masyarakat dimana kondisi tersebut sangat kuat atau cepat menyebar ditengah masyarakat sehingga sulit dihindari. Sekelompok tersebut hadir dengan gerakan secara diam-diam sehingga dapat mengancam negara. Namun masyarakat tersebut tidak peduli dengan sekelompok perusak negaranya sendiri.

      Saya akan mengomentari pendapat Intan Tresna Dwi. Saya setuju dengan saudari intan. Karena apa yang intan utarakan sama dengan apa yang saya tangkep setelah saya membaca novel tersebut, yang dimana hadirnya seorang pemberontak yang dapat mengancam negrinya sendiri.

      terima kasih.
      Wassalamualaikum wr. wb.

  25. Elin Yulianingsih berkata

    Assalamu’alaikum..
    Novel ini mengisahkan seorang pria paruh baya bernama leuxiphos yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan para pemberontak dewa, bukan hanya itu para kesatria yang dipercaya kuat dan dapat mengalahkan para pemberontak mereka malah hanyut dalam dramatugi para pemberontak sehingga membuat kegundahannya semakin menjadi. Demikian itu membuatnya berfikir bahwa dia sendiri yang akan melawan para pemberontak itu karena dia merasa dalam dirinya terdapat dzat dewa yang bisa mengalahkan para pemberontak itu.
    Niatnya memang baik untuk melawan para pemberontak, namun saya kurang setuju mengenai pemkirin dia yang menganggap bahwa dirinya adalah dewa.

  26. Elin Yulianingsih berkata

    Assalamu’alaikum..
    Novel ini mengisahkan seorang pria paruh baya bernama leuxiphos yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan para pemberontak dewa, bukan hanya itu para kesatria yang dipercaya kuat dan dapat mengalahkan para pemberontak mereka malah hanyut dalam dramatugi para pemberontak sehingga membuat kegundahannya semakin menjadi. Demikian itu membuatnya berfikir bahwa dia sendiri yang akan melawan para pemberontak itu karena dia merasa dalam dirinya terdapat dzat dewa yang bisa mengalahkan para pemberontak itu.
    Niatnya memang baik untuk melawan para pemberontak, namun saya kurang setuju mengenai pemkirin dia yang menganggap bahwa dirinya adalah dewa.

  27. Fatlikha Wati berkata

    Bismillah..
    Assalamualaikum..
    Sungguh cerita yg begitu indah dan bermakna. Sastra bahasa yg digunakan begitu tinggi dan sangat dalam smpai ketika membacanya saya harus fokus dan berulang-ulang.
    Saya tidak ingin menyamakan negeri saba dg Indonesia, Gerombolan anti dewa dg PKI, para ksatria dg TNI atau bahkan Leukxipos dg Panglima TNI Indo.
    Namun apapun itu kebenarannya adalah bahwa Tuhan itu ada, dan senantiasa menolong umatnya yg sedang kesusahan. Tuhan itu ada di setiap hati dan pikiran manusia yg mempercayainya dan meyakininya. Dan Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut mau berusaha.
    Mungkin itu amanat yg saya tangkap dari cerita tersebut. Terima kasih

    1. Elin Yulianingsih berkata

      Saya setuju dengan pendapat anda bahwasannya memang kisah novel ini bak kisah di negeri kita sendiri ketika para kaum anti tuhan atau pki menjadi ancaman bagi kita semua penghuni negeri ini dan semua itu menjadi pr besar bagi kita para pemuda untuk melawan mereka mempertahankan negeri kita tercinta karena memang jika bukan kita siapa lagi yang akan mempertahankannya.

      1. Maulidiya berkata

        Saya setuju dengan pendapat fatlikha bahwa Sanya, kisah tersebut mirip dengan yang ada di Indonesia.
        Kalau bukan para kaum muda yang memajukan bangsa ini siapa lagi?

  28. Elin yulianingsih berkata

    Assalamu’alaikum..
    Novel di atas mengisahkan tentang seorang pria paruh baya bernama leuxiphos yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan para pemberontak dewa, bukan hanya itu para kesatria yang dipercaya kuat dapat melawan mereka ternyata malah hanyut dalam dramatugi para pemberontak. Sehingga dia berpikir dialah yang akan melawan para pemberontak itu karena dia merasa dalam dirinya terdapat dzat dewa yang menurutnya bisa mengalahkan mereka. Niatnya memang baik untuk melawan para pemberontak itu namun saya kurang setuju mengenai pikirannya yang menganggap bahwa dirinya adalah dewa yang mempunyai sifat yang dewa letakan padanya seakan dia merasa dia adalah dewa.

  29. Elin yulianingsih berkata

    Assalamu’alaikum..
    Novel ini mengisahkan tentang seorang pria paruh baya bernama leuxiphos yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan para pemberontak dewa, bukan hanya itu para kesatria yang dipercaya kuat dapat melawan mereka ternyata malah hanyut dalam dramatugi para pemberontak. Sehingga dia berpikir dialah yang akan melawan para pemberontak itu karena dia merasa dalam dirinya terdapat dzat dewa yang menurutnya bisa mengalahkan mereka. Niatnya memang baik untuk melawan para pemberontak itu namun saya kurang setuju mengenai pikirannya yang menganggap bahwa dirinya adalah dewa yang mempunyai sifat yang dewa letakan padanya seakan dia merasa dia adalah dewa.

  30. Elin yulianingsih berkata

    Assalamu’alaikum..
    Novel ini mengisahkan tentang seorang pria paruh baya bernama leuxiphos yang sedang merenungkan nasib negaranya yang kedatangan para pemberontak dewa, bukan hanya itu para sang kesatria yang dipercaya kuat dapat melawan mereka ternyata malah hanyut dalam dramatugi para pemberontak. Sehingga dia berpikir dialah yang akan melawan para pemberontak itu karena dia merasa dalam dirinya terdapat dzat dewa yang menurutnya bisa mengalahkan mereka. Niatnya memang baik untuk melawan para pemberontak itu namun saya kurang setuju mengenai pikirannya yang menganggap bahwa dirinya adalah dewa yang mempunyai sifat yang dewa letakan padanya seakan dia merasa dia adalah dewa.

  31. Suyana berkata

    asalamu’alaikum
    setelah saya membaca novel menanti uluran tangan tuhan terdapat makna yang saya pelajari dari tokoh Leuxyphos yang memikirkan negeri dan tuhannya karna yang kita ketahui negeri kita ini juga perlu di fikirkan oleh kita sebagai generasi penerus akan di bawa kemana negeri indonesia ini apakah akan di bawa ke pada kemajuan? atau bahkan kehancuran semua itu tergantung oleh kita sebagai generasi penerus,dan saya memaknai kata kutipan novel yang di sana tertulis ” negeri yang dia cintai, kini seperti sedang mempertontonkan adegan-adegan bodoh penuh kekonyolan” miris sekali memaknai kata ini karna sadar ataupun tidak di negeri kita ada sebagian yang mempertontokan hal hal yang mungkin bisa di bilang konyol dan bodoh contoh hal kecil saja seorang koruptor dengan percaya diri dan bahkan tersenyum saat di wawancarai oleh media ironis sekali,seolah olah dia benar,
    kemudian makna yang saya ambil dari tokoh Leuxyphos mengenai cara dia menemukan tuhan atau dewanya itu sangatlah benar karena tuhan kita pun tak bisa di wujudkan dalam bentuk fisik tapi ada di dalam hati kita sendiri yang kita harus yakin kita memang tak bisa melihat tuhan kita namun kita dapat melihat kebesaran ciptaanya.
    sekian dan terimakasih.

    1. Dede hidayatulloh berkata

      Iya bagus
      maka dari itu kita sebagai pemuada sesuai kata bung karno pemuda jaman sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang.
      Nah kita berada di negara indonesia negaya kaya akan alam nya tapi kita tidak dapan mengelola dan mempertahankan negara kita. Kita mau jadi apa di negara kita sendiri.
      maka jangan biarkan mereka membodohi kita

    2. Arul Ikhbarul Haqi berkata

      adegan penuh kekonyolan yang miris dipertontonkan di negeri yang dahulu damai… ini terjadi karena negeri ini belum siap dengan keterbukaan yang tidak dibarengi dengan nilai keimanan terhadap tuhannya. Maka dari itu sebagai penerus bangsa kita harus siap dengan segala keterbukaan dan memilih mana yang buruk atau yang baik yang bisa meneruskan kelangsungan negri ini.

  32. Dede hidayatulloh berkata

    Jadi di dalam novel filsafat part satu ini menggunakan bahasa yang sangat sulit tetapi kalo saya pahami di dalam novel ini,mengisahkan seseorang yang bernama leukxipos yang merenung dan merasa bersedih terhadap sesuatu hal yang terjadi di suatu bangsa.
    Bangsa tersebut dapat dikatakan seperti bangsa indonesia yang kedatangan kembali bangsa pki yang menyusup ke bangsa idonesia ini untuk menghancurkan bangsa ini.
    Kenapa saya sebutka pki?
    Karena dalam novel tersebut dikatakan “kembalinya gerombolan anti dewa”
    Nah jelas kan bawasanya pki juga para pemberontak anti tuhan .
    Setelah sekian lama para pejuang bangsa idonesia ini mengusir dan mempertahankan negaranya dari para pki, dan sekarang bangsa yang merusak tatanan negara dan pemberontak tuhan itu kembali lagi untuk menghancurkan negara yang sebur.
    Dan sekelompok orang tersebut menghambat kemakmuran negara ini.
    Semoga dengan novel ini kita dapat mengantisipasi pergerakan sekelompok anti tuhan tersebut dan menjaga negarakita agar tepat baik dan menjaga akidah kita agar tidak terombangambing sehigga tidak terseret ke dalam jurang yang dalam.

    1. Suyana berkata

      saya setuju atas komentarnya memang sekarang lagi buming akan bangkitnya pki ,dan menambah makna yang belum saya temukan tentang arti golongan yang tak bertuhan itu terimakasih.semoga dasar dan keimanan kita semua tetap kuat tidak tergoyahkan oleh aliran aliran yang buruk.serta kita harus bisa memajukan negri kita ini.

      1. Khoiron Alkaromah berkata

        Saya juga setuju dengan [email protected] Hidayatullah dan @Suyana bahwasanya negeri ini adalah milik Kita nasib dan tanggung jawab dan pada kita generasi muda, kita tidak boleh lengah dengan adanya sekelompok anti dewa yang mungkin akan mengusir kita dari negeri ini…

    2. Arul Ikhbarul Haqi berkata

      saya sependapat dengan dede bahwa nengri ini sedang diguncang kembali dengan isu bahkan sudah ada yang berani menunjukan diri akan kebangkitan partai Laknat PKI yang akan meruntuhkan negri dengan segala propaganda yang dibuatnya

  33. Fakhira Alifatunnisa berkata

    Sesungguhnya allah menciptakan segala sesuatu nya itu berpasang-pasangan..
    Dalam cerita tersebut sosok alberta adalah sosok lelaki yang tidak kenal kata pantang menyerah terutama dalam mencintai sosok wanita spesial bagi dirinya. Ia juga rela mengorbankan perasaan untuk tidak mengungkapkan rasa Cintanya,, semua itu ia lalukakan agar wanita yang dicintainya itu tetap tersenyum dan bahagia. Walaupun dalam keinginannya memiliki wanita tersebut hanyalah sebuah angan semata tetapi ia tetap bahagia.. Karena ia tahu Cinta tak selamanya harus memiliki

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.