Menanti Uluran Tangan Tuhan | Novel Filsafat Part – 1

Menanti Uluran Tangan Tuhan | Novel Filsafat Part - 1
0 336

Menanti Uluran Tangan Tuhan. Duduk seorang laki-laki setengah baya, dengan gayanya yang khas, Ia sedang melakukan aktivitas berpikir yang kelihatannya cukup serius. Merenungkan sesuatu yang khas dan berkarakter antah berantah. Ia duduk termangu menyaksikan dinamika dunia yang dilihat, didengar dan dirasakannya.

Waktu telah cukup panjang ia habiskan di kursi tua kebanggaannya. Berkali-kali nafasnya ditahan, lalu dibuang dengan keras. Dahinya ditahan telapak tangan kanan dan ia terus menerus melepaskan nafas yang kadang sengau. Pikirannya melayang ke alam antah berantah. Ia mempertanyakan suatu hakikat [ontologis] atas apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dari perjalanan hidup manusia di sekitarnya.

Maklum, negeri yang dia cintai, bernama Saba’, yang menjadi anugerah Tuhan, kini seperti sedang mempertontonkan adegan-adegan bodoh penuh kekonyolan. Suatu epik hidup yang jangankan manusia biasa, Malaikatpun dipaksa tertawa. Tertawa menyaksikan sebuah lakon manusia yang menempati gususan Syurga.

Inilah negeri yang dijanjikan Tuhan sebagai tatalaksana Syurga. Dalam anggapannya, jika manusia mampu menjaga dan melindungi negeri ini dengan baik, maka, tontonan akan suasana Syurga, terlihat jelas di sini.

Di negeri ini, seharusnya tidak ditemukan rumus kemiskinan atau apalagi kebodohan, sebagaimana penghuni Syurga kelak menjalaninya. Di tempat seperti ini, tidak mungkin ditemukan friksi sosial yang demikian mengeras hanya karena kurang terdidik atau karena kurang makan.

Fakta tidak demikian. Dalam banyak kasus, untuk negeri ini, Tuhan seperti sedang marah karena dianggap tidak mau bersyukur atas segenap nikmat yang Dia kirimkan kepada manusia Saba’.

Fakta, memang gugusan Syurga itu, kini tidak lagi menjadi syurga sebagaimana para penghuni masa lalu merasakannya. Sudah sejak ratusan tahun, negeri ini damai. Kini tiba-tiba kembali terusik. Isu kembali marak. Semuanya berawal dari isu kembalinya para gerombolan Anti Tuhan yang secara berjenjang terus berdatangan. Bergantian hadir ke berbagai titik negeri dan seolah akan menyingkirkan para penghuni Syurga. Mereka datang dengan wajah-wajah baru yang hampir sulit ditebak.

Datang Kembali Tanpa Wujud

Mereka datang seperti asap. Masuk ke dalam setiap celah dan ke dalam setiap pori-pori hidup negeri penuh ketuhanan. Membakar sebuah stigma dalam lahapan api di bawah kesadaran manusia biasa. Usaha yang dilakukan para Ksatria yang sudah lama mengurung mereka dalam sebuah lubang sempit yang gelap, seolah sia-sia. Ditimbun dengan kucuran timah yang sangat panas, dianggapnya tidak mungkin kalau tidak melelehkan mereka. Fakta, banyak anggapan menyebut bahwa mereka, kembali bangkit seperti anai-anai yang dilahirkan kembali dari kubur.

Para Ksatria yang sudah renta kaget. Mereka kini bangkit dengan penuh kekuatan dengan daya tahan banting yang cukup tinggi. Dalam kasus-kasus tertentu, mereka malah tampak sangat tangguh dan seperti bangga pernah berada dalam kurungan dengan ikatan timah panas terbekukan. Para gerombolan, malah kembali dengan tampilan kepercayaan diri yang sangat perkasa. Mereka dianggap mampu menyajikan ciri khas dengan wujud nyentrik tanpa wujud.

Mereka hadir tidak lagi dengan irama musik seriosa. Nyanyian Pop dengan tema mengurung Bulan dalam debu, menggoreng bintang dalam kwali dan membuat matahari menjadi Sate, dirubah dengan simbol tanpa form. Musiknya menjadi demikian variatif. Mencampur adukan atau masuk ke dalam irama musik, mulai dari dangdut, Jazz, Pop, Rock atau Regae.

Kondisi semakin tampak seram, karena mayoritas massa yang muda, tidak tahu dan tak lagi peduli pada apapun yang datang, sebagaimana para ksatria tua merasakannya. Termauk ketika para kstaria Tua merasa bahwa “pemberontak Tuhan”, sesungguhnya telah kembali hadir. Hanya sang Kstaria yang berani bicara, namun banyak pihak menyebutnya sebagai lawakan lama model baru. Sang Ksatria yang tugasnya menjaga dan merawat kunci rahasia Negeri Saba’, akhirnya tak kuasa untuk tak berbicara. Termasuk saat ia dikabarkan bahwa ada desain tertentu akan datangnya sumpit, panah dan perkakas perang lain, ke negeri  Saba’

Isu semakin tampak buruk karena para penerus utusan Tuhan dikisahkan seperti akan terancam. Teancam dalam berbagai dramatologi kekuasaan. Ramailah setiap mimbar membincangkan pergulatan isu dan intrik. Setiap tempat di mana orang mengobrol, isu tentang segerombolan para pemberontak Tuhan terus menyeruak. Banyak orang tidak mengerti, bagaimana mungkin manusia yang menjadi produk Tuhan harus memberontak Tuhan?

Menunggu Tuhan Marah

Tetapi isu tentang ketidakmungkinan itu segera tertepis, karena memang gerombolan itu telah datang. Benar-benar datang ke berbagai sudut negeri Saba’ dengan berbagai sajian yang cukup menjanjikan. Pembawa berita itu, datang bukan lagi dari juru kunci negara. Para gerombolan disebut datang dengan cara menyapa semua warga dengan sapaan yang sangat indah dan merdu. Mereka persis menjadi semacam Gula di mana para semut merindukan suatu makanan lezat berasa manis.

Laki-laki separuh baya yang semakin keriput itu, terus saja melamun. Sengauan nafasnya, tak mampu dibaca sipapaun. Lelaki itu dekenal dengan nama Leuxiphos. Ia tak kuasa untuk memberontak, karena kawan-kawannya, mayoritas telah pergi menjumpai Tuhan mereka.

Leuxiphos hanya mampu mempertanyakan mengapa Tuhan yang dia sembah tidak marah? Mengapa Tuhan yang dia puja tak juga turun tangan? Mengapa harus manusia yang melawan pemberontak Tuhan? Mengapa bukan prajurit tangkas yang dimiliki Tuhan itu yang melakukan perlawanan kepada para anti Tuhan? Mengapa dan mengapa? Sebab mereka yang memberontak Tuhan, seharusnya hanya Tuhan-lah yang tersinggung.  Karena itu, seharusnya Tuhan juga yang melawan.

Leuxiphos terus menerus melamun. Ia sulit membuktikan Tuhan jika Dia harus diwujudkan. Ia bingung bagaimana menampilkanNya dalam bentuk fisik. Andaikan Kau berfisik dan memiliki form sebagaimana aku memilikinya, pasti dia akan tampil dan melawan siapapun yang menolak eksistensi-Nya.

Dalam lamunan penuh pemberontakan,  Leuxiphos seperti terkena ruh kudus. Ia tiba-tiba tersenyum sendiri. Ia berkata dengan kalimat yang sangat rendah, bahwa dirinyalah justru yang menjadi panglima dan prajurit setia Tuhan. Bukankah Tuhan telah menginternalisasi diri-Nya ke dalam wujudku yang fisik? Inilah pertanyaan yang menyimpulkan hasil berpikirnya.

Bukankah “aku ini cermin Tuhan”. Bukankah Dia yang menjadi Tuhan itu, “sejatinya diwakilkan berbagai halnya kepadaku”. Leuxiphos terus menerus mengkhayati segenap dinamika dirinya.  Ia tersenyum sinis dan kemudian diam lalu berdiri, dan berkata: “Kau adalah al haq. Bagian tertentu dari sifatMu, aku lupa, ternyata telah Kau lekatkan ke dalam tubuhku”. By. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Komentar
Memuat...