Inspirasi Tanpa Batas

Menata Ulang Ilmu dalam Bingkai Post Positivistik

79 706

Konten Sponsor

Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, tergeletak di Meja yang sudah lama tidak saya duduki. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), tiba-tiba menarik mata saya. Buku ini kelihatannya mencoba menarik terminologi keislaman ke dalam dunia ide, dunia realitas dan dunia ilmu pengetahuan.

Di halaman 39-40, dalam buku dimaksud, saya misalnya menemukan sebuah kalimat menarik berikut ini:

“Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme  digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”

Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.

Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.

Pentingnya Knowledge Sharing

Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.

Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di  Kualalumpur: MIT Press, 2003.

Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company]

Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian Psikoanalis

Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour)  dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997],  relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

Nah kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.

Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, system digital dan system hapalan. Padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sipatnya spiritual.

Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif). By. Prof. Cecep Sumarna

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat Nataatmadja. Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan). Bogor: Humanika, tt.
Huysman, and D. Wit. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management, Kualalumpur: MIT Press, 2003.
Berger dan Luckmann T. The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966
Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company.
Acmad Sanusi. Pendidikan Alternatif: Menyentuh Aras Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Bandung: Grafindo Media Pratama, 1998
Sigmund Freud. On Sexuality. London: Pnguin Books, 1977
Clare W. Grave. An Emergent Theory of Etichal Behaviour Based epigenetic Model. Dalam Value Memes Spiral Dynamict. USA: University of Michigan, 1959.

  1. Evi selviyana puspitasari berkata

    Menata ulang ilmu iyalah suatu kondisi dimana kita di arahkan untuk kembali melihat bahwa kita dapat belajar dari kejadian-kejadian didunia ini

  2. Nurul Faridah berkata

    Positivistik itu artinya kebenaran, pasti. Empiris adalah aliran filsafat yang menganggap sesungguhnya realitas adalah nyata
    Bahwa menata ulang ilmu dalam bingkai post positivistik adalh suatu ilmu yang kita sudah pahami dan di mengerti malah melanggar aturan yang telah kita ketahui tersebut maka perlu lah menata ulang ilmu

  3. Danty Adi Sudarno Jafar berkata

    eksternalisasi adalah suatu pencerahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktifitas fisik, maupun mentalnya. internalisasi adalah peresapan kembali ralitas tersebut oleh manusia dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia objektif kedalam struktur-struktur kesadaran subjektif. obyektifitas adalah disandangnya produk-produk aktifitas itu (baik fisik maupun mental) suatu realita yang berhadapan dengan para produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap dan yang lain dari produsen itu sendiri.

  4. Ikke nurzannah azhari berkata

    Dalam menata ulang ilmu kita memerlkukan adanya metode, prosedur, dan teknik sebagai siklus manajemen pengetahuan karena menata ulang ilmu adalah pembaharuan ilmu yg sudah ada di dalam diri manusia itu sendiri

  5. Ikke nurzannah azhari berkata

    Dalam menata ulang kita perlu adanya metode, prosedur, dan teknik dalam siklus manajemen pengetahuan. Dan hal ini berarti kita megharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan pada qnggota kelompok lain mendapatkan pendidikannya itu sendiri.

  6. Ikke nurzannah azhari berkata

    Dalam menata ulang ilmu kita membutuhkan mode, prosedur dan teknik dalam siklus menajemen pengetahuan. Hal ini berarti kita mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota kelompok lain mendapatkan pendidikannya itu sendiri. Karena mereka pasti memiliki kemauan dan kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia

  7. Rismawati berkata

    pentingnya menata ulang ilmu proses pembaharuan ilmu pengetahuan yang mana sudah ada dalam diri manusia. bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang maka bertambahlah rasa takutnya ia kepada Sang Pencipta. Jadi, puncaknya ilmu yaitu takut kepada Allah.jika ada seseorang yang menambahnya ilmu akan tetapi tidak bertambahnya rasa takut kepada Allah maka ia terlepas dari eksistensi Tuhan

  8. Siti maryatul qibthiyah berkata

    Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang di ketahui tentang objek tertebtu termasuj kedalam ilmu,ilmu hisa kita dapatkan dengan cara kita banyak membaca buku dan pengetahuan itu termasuk ke dalam kehidupan sehari-hari.pengetahuan tentang objek selalu melibatkan dua unsur yakni unsur representasi tetap dan terlukiskan serta unsur penafsiran konsep yang menunjukan respon pemikiran.interaksi antara manusia dengan manusia yang menafsirkan menjadikan pemahaman manusia.pengetahuan itu mencangkup semuanya jadi subjek yang jelas terarah dan sistematis,sehingga dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah.manusia dalam memecahkan masalah membutuhkan pengetahuan dan pengalan serta dalam memecahkan suatu masalah manusia harus bisa berfikir positif tidak boleh melihat dari satu pandangan saja.
    Menurut positivisme pengetahuan kita tidqk boleh melebihi fakta-fakta dengan demikian maka ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan.maka filsafatpun harus meneladani contoh itu.berfikir positif itu pun mengutamakan pengalaman.

  9. Fakhira Alifatunnisa berkata

    Sumber keilmuan adalah sebenarnya sesuatu yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi kelimuan seseorang maka seharusnya semakin dekat pula ia dengan Tuhannya. Ilmu yang baik yaitu ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhan. Knowledge yaitu pengetahuan, dan sharing yaitu berbagi pembelajaran yang isinya transformasi ilmu dan membtuhkan prosedur dan teknik. Dalam kelompok pendidikan seorang pendidik membagi ilmunya kepada peserta didik karena mereka memiliki kemauan dan kemampuan menangkap gelaja-gejala empiris ke dalam sebuah ide. Dalam proses membangun pengetahuan terdapat tiga momen, yaitu pertama eksternalisasi merupakan proses berfikir ilmu yang di dapat dari pertukaran ilmu antar personal, yang kedua obyektifikasi pengetahuan merupakan Variabel dalam pengetahuan tersebut dan diamalkan dan diakui oleh orang lain, dan yang ketiga internalisasi pengetahuan merupakan proses berfikir antara pengetahuan yang didapatkan dan yang tersimpan agar diimplementasikan dikehidupan sehari-hari. Terdapat 2 teori, yaitu teori psikologi (membangun ilmu-ilmu yang didapat dan mendorong kesadaran agar mengimplementasikan dalam kehidupan), dan teori psikoanalisis (orang yang mempunyai pengetahuan pasti dalam berprilaku berbeda dengan orang yang tidak mempunyai pengetahuan). Pada dasarnya manusia terlahir dalam keadaan suci, oleh karena itu manusia membutuhkan pendidikan agama agar mengantarkan manusia kembali kepada Tuhan dalam keadaan suci.

  10. Siti Mar'atul Hasanah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Internalisasi antara proses berpikir sedangkan eksternalisasi yaitu pertukaran antara ilmu pengetahuan yang di dapatkan dan tersimpan. Psikologi yaitu ilmu yang di dapatkan contohnya ilmu bersuci sedangkan psikoanalisisnya yaitu yang mempunyai kebiasaan sendiri yang sudah tertanam contohnya solat tepat waktu. Semakin tinggi keilmuan seseorang maka seharusnya semakin dekat pula dengan tuhannya

  11. Ega Sopana T.Ips A/1 berkata

    Buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor. Di halaman 39-40, dalam buku dimaksud, menemukan sebuah kalimat yang menarik berikut ini: “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”
    Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.
    Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah:
    1. Eksternalisasi
    2.Obyektifikasi
    3. Internalisasi.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah
    1. Psikoanalisis
    2. Psikologi
    Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  12. Khaeron berkata

    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.

  13. ELOK ALFAIN LUTHFIE berkata

    Assalamu’alaikum pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Dunia empiris ini adalah sumber pengetahuan itu sebabnya wilaya wilayah empiris tersebut lalu harus dilarutkan kedalam ide atau gagasan. Terimakasih

  14. Rifa awaliyah nurul islam berkata

    Assalamualaikum.
    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”
    Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.
    Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Menurut Peter L. Burger dan Luckmann dalam bukunya “The Social Construction of Knowledge” bahwa ada tiga tahapan dalam membangun pengetahuan yakni :

    1. Internalisasi yaitu suatu cara untuk berbagi ilmu pengetahuan
    2. Eksternalisasi yaitu proses pertukaran ilmu pengetahuan secara personal
    3. Objektivikasi pengetahuan adalah proses pengakuan pengetahuan oleh suatu organisasi.Menurut Loree ada dua kerangka teori dalam mengkaji internalisasi yaitu :

    1. Kajian Psikoanalisis yaitu internalisasi adalah proses transformasinilai yang dimiliki suatu kelompok kepada kelompok lain.
    2. Kajian Psikologis yaitu internalisasi adalah proses perwujudan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki.

  15. Ade Rossy Indra Pertiwi berkata

    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadhja ” pengetahuan adalah produk berfikir. Pengetahuan adalah karya penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme di gital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu,larut dalam larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia. Tulisan peter L. Berger dan luckman T (1966) yang berjudul The Social Contstrution of Know ledge London: penguin,1966. Penting untuk di baca ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelasadalah Ekstralisasi, obyektifikasi, Internalisasi.
    Pentingnya knowledge sharing.
    Hal ini mengharuska pendididk untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok , organisasi, instansi perusahaan atau anak didik.
    Kajian Psikoanalisis.
    Merupakan pengejawatahan perulaku (overt behavior) dari pengetahuan yang di miliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour).

  16. Putri Alfaniyah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Sesungguhnya dunia empiris itulah sumber pengetahuan.ide dan empiris memiliki prima kausa yakni tuhan. jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan tuhan. semakin tinggi keilmuan seseorang maka seharusnya ia semakin dekat dengan tuhan. Pendidik seharusnya selalu memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Karena peserta didik adalah mereka yang memiliki kemampuan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.
    The social contruction of knowledge tulisan dari Peter L. berger dan Luckmann T (1966). Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas, yaitu:
    1. Eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika.

  17. Rizka mawadah Apriliani berkata

    sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja terbit di bogor, tergeletak diatas meja yang sudah lama tidak saya duduki pengetahuan adalah produk berpikir. pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia alat penakluk itu sendriri adalah mekanisme digital otak yang menerima informasi dari luar melalui alat indra. Berbaga realitas disekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia. wilayah-wilayah empiris tadi kemudian harus dilarutkan dalam apa yang di sebut dengan dunia ide. ide dan empiris memiliki prima klausa, yakni tuhan. jadi perolehan ilmu dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan tuhan. semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang, maka seharusnya ia semakin dekat dengan tuhan.
    pentingnya know ledge sharing yaitu dengan keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus management pengetahuan. menurut peter L Berger dan lukman T(1966) bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk dalam proses pembelajaran ketiga momen tersebut adlah eksternalisasi obyektifikasi dan internalisasi atas nama asumsi. atas nama asumsi itu, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu cara, suatu model, suatu metode bahkan secara teknis,internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan, personal sehingga pengetahuan dikomunikasikan diantara anggota yang ada. obyektifitas pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realita obyektif sehingga pengethuan tersebut diakui organisasi (komunitas). sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu menonjol dalam mensosialisasikan sikap tertentu. internalisasi pengetahuan ini dilakukan melalui proses pencarian.

  18. Zainal Ma'arif berkata

    Pengetahuan adalah produk befikir, dan pengetahuan adalag karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat yang dimaksud ialah mekanisme otak, karena otak ialah alat yang mampu menerima informasi daei luar melalui indera.
    Dalam bukunya Peter L. Berger dan Luckman T, ada 3 momen dalam proses membangun pengetahuan, yaitu :
    1. Eksternalisasi, proses dimana terjadinya pertukaran pengetahuan personal, sehingga dapat disebar ke anggota lainnya,
    2. Obyektifikasi, proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga diterima oleh kelompok maupun individu,
    3. Internalisasi, proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertebtu dalam mensosialisasikan sikap.
    Ada 2 teori untuk mengkaji internalisasi, yaitu :
    1. Psikoanalis, merupakan perwujudan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki / harus dimiliki individu.
    2. Psikolog, merupakan aspek² yang ada di dalam diri agar terjadi internalizied yang diambil dari fungsi² eksternal.

  19. Miftabul janah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir.pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yg mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra. Ide dan empiris memilika prima kausa ,yakni Tuhan. Jadi semakin tinggi keilmuan seseorang seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan.
    Knowladge sharing yaitu hal yang mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesematan kepada suatu kelompok, organisasi, instansi atau anak didik. Dalam tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T. dengan judul buku The Social Constution of Knowladge menyebutkan bahwa ada tiga momen dalam proses pembangunan pengetahuan yaitu :
    Eksternalisasi pendidikan yaitu dimana terjadi proses pertukaran pengetahuan personal,sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    Obyektifikasi pendidikan yaitu proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif,sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi( komunitas)
    Internalisasi yaitu proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai

  20. Milha Nurseha berkata

    Referensi dari Nattan Madja Krisis, Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya, Bogor.
    “Pengetahuan adalah produk berfikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya pada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam komponen-komponen di gital otak manusia.
    Pentingnya Knowlodge Sharing. Knowlodge Sharing adalah suatu proses di mana pendidik diharuskan untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri.
    Peter L.Barger dan Luckman T (1966) yang berjudul The Sosial Construction of Knowledge menyebutkan bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan.
    1. Eksternalisasi secara konseptiual adalah dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di anggota yang ada.
    2. Objektifitas pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas objektif, sehingga pengetahuan di akui sebagai organisasi.
    3. Internalisasi adalah suatu model, suatu cara atau metode. bahkan secara teknis internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    Loree menyatakan ada dua kerangka teori dalam mengkaji teori internalisasi.
    1. Kajian Psikologi. Psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar di implementasikan dalam kehidupan.
    2. Kajian Psikoalis. Psikoalis yaitu pengejawatan prilaku dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang.

  21. ifa nurfaizah berkata

    Dari peter L.berger dan luckman T (1966) yqng berjudul the social construction of knowledge , london : penguin 1966 ,ia menyebutkan bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan , termasuk tentu dalam proses pembelajaran didalam kelas.
    Rumusan masalah keilmuan yang terbaik adalah bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh untuk membingkai terminologi ketuhanan.
    Karena itu dalam komentar nataatmaja bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan.

  22. Naufal Faruq berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir, karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme  digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”
    Dalam tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.

    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  23. Maulidiya berkata

    Pengetahuan adalah pola pikir manusia untuk penakluk dunia empiris agar dunianya berbagai fenomena terhadap manusia.dunia empiris juga harus dilarutkan dalam dunia ide,manusia sebagai alat untuk berpikir secara jernih yang digunakan untuk melakukan sesuatu hal,dunia empiris juga mengatarkan atau mendorong manusia kedalam pengetahuan.
    Peter L.berger dan luckmann T(1966),yang berjudul the social construction of know ladge ia menyebut”bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangunan pengetahuan,termasuk tertentu dalam proses pembelajaran dikelas”.diantaranya eksternalisasi,objektifikasi,internalisasi
    M.huysman,and D.wit.2003.A critical evaluation of knowledge management practices.secara konseptual
    1.eksternalisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal,sehingga pengetahuan dikomunikasikan diantara anggota yang ada
    2.objektifikasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas objektif,sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi
    3.eksternalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarcan dan menemakan kembali pengetahuan yang tersimpan.

  24. dhini apriliani berkata

    Asalamualaikum
    pengetahuan merupakan produk berfikir, pengetahuan merupakan karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan fenomenanya menyerhakan rahasianya kepada manusia
    PENTINGNYA KNOWLEDGE SHARING
    inilah makna lain dari ap yang ada dalam istilah modern disebut knowledge sharing dalam konteks pendidikan sendiri mengharuskan pendidikan untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi termasuk dengan pendidikannya sendiri. Kenapa? Karena peserta didik adalah mereka yang memiliki kemampuan sekaligus kemauan. Menurut tulisam Peter L. Berger dan Luckman T (1996) yang berjudul The Social Contruction Of Knowledge ia menyebutkan ada tiga momen dalam membangun pengetahuan yaitu:
    -eksternalisasi
    -obyektifikasi
    -internalisasi
    KAJIAN PSIKOANALIS
    dalam bahasa Achmad Sanusi (1998) internalisasi merupkan pengejawantahan perilaku (overt behaviour). Psikoanalisis yang di kembangkan oleh Sigmud Freud (1997) kajian ahli psikologi meterialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.

  25. Yossy berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyarankan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera. Berbagai realitas di sekitar alay empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia. Tulisan peter L. Berger dan luckman T (1966) yang berjudul ” The Social Construltion of Know Ledge London”. Penguin, 1966. Perlunya untuk di baca. Ia menyebutkan bahwa pengetahuan termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas ketiga moment tersebut adalah :
    1. Ekstralisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan di komukasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut di gunakan personal tertentu atau yang di sebut dengan nilai.
    Nah di atas rumusan keilmuan yang terbaik adalah bagaimana nilai-nilai yang di dapat dari dunia empiris dan dunia ide. Menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai himinologi keutuhan.

  26. Ade Rossy Indra Pertiwi berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyarankan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera. Berbagai realitas di sekitar alay empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia. Tulisan peter L. Berger dan luckman T (1966) yang berjudul ” The Social Construltion of Know Ledge London”. Penguin, 1966. Perlunya untuk di baca. Ia menyebutkan bahwa pengetahuan termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas ketiga moment tersebut adalah :
    1. Ekstralisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan di komukasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut di gunakan personal tertentu atau yang di sebut dengan nilai.
    Nah di atas rumusan keilmuan yang terbaik adalah bagaimana nilai-nilai yang di dapat dari dunia empiris dan dunia ide. Menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai himinologi keutuhan.

  27. Arul Ikhbarul Haqi berkata

    sumber pengetahuan ialah dunia empiris. empiris ahur bersatu dengan wilayah ide. ide dan empiris memiliki prima kuasa yaitu Tuhan. jadi perolehan ilmu tidak mungkin terlepas dari Tuhan. orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang ilmunya tinggi.pentingnya Knowledge haring, dalam konteks pendidikan hal ini mengharuskan pendidik untuk memberi kesempatan kepada pesrta didiknya agar berbagi termasuk dengan pendidiknya. karena peserta didik adalah mereka yang mau dan mampu untuk menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.ada tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk pembelajaran di kelas yaitu Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. eksternalisasi adalh proses berbagi pengetahuan pribadi sehingga ada komunikasi antar anggota yang ada. Obyektifitasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi relitas obyektif yang dapat diterima organisasi. dan internalisasi pengetahuan merupakan proses pengetahuan yang sudah obyektif tadi digunakan untuk bersikap oleh pribadi. rumusan kelmuan yang terbaik adalah bagaimana menyatukan nilai yang didapat dari dunia empiris yaitu ilmu alam dengan nilai yang didapat dari dunia ide yaitu ilmu manusia dalam satu kesatuan yang mendekatkan diri dengan Tuhan yang akan menyelamatkan ilmu. jika pelajaran agama disajikan seperti materi pelajaran eksak maka pendidikan gagal karena tidak terjadi adanya pendidikan.

  28. maemunah fadillah berkata

    Pengetahuan adalah suatu hal yang sangat penting bagi manusia. Karena dengan pengetahuan seseorang dapat mengetahui tentang segala fenomena yang terjadi di dunia ini. Dan salah satu alat yang dapat merekam dan menerima segala fenomena yang terjadi di dunia ini adalah otak. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia. Kemudian wilayah-wilayah empiris itu dilarutkan dalam apa yang disebut dengan ide. Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di Kualalumpur: MIT Press, 2003.

    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

  29. Lia Herliana berkata

    Pengetahuan adalah produk berfikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Ide dan empiris memiliki prima kuasa, yakni Tuhan. Jadi perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis apa yang di gambarkan pada Al-Qur’an yang menyebut “Tidak ada komunitas yang paling takut pada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Menurut Peter L Berger dan Luckman T (1966) mengatakan bahwa ada 3 momen dalam proses membangun pengetahuan. Ketiga momen tersebut yaitu: eksternalisasi, obyektifikasi, dan internalisasi. Secara konseptual yang di maksud dengan eksternalisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan diantara anggota yang ada. Sedangkan obyektifikasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). Dan yang di maksud dengan internalisasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifitas tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebut dengan nilai.

  30. Robi'atul Adawiyah berkata

    Dunia empiris itu sumber pengetahuan
    Pengertian empiris adalah suaty keadaan yang berdasarkan pada kejadian nyata yang pernah dialami. Kejadian tersebut bisa didapatkan melalui penelitian, observasi ataupun eksperimen. Didalam empiris, pengalaman (kejadian nyata) menjadi dasar yang sangat mutlak dan peran akal sangatlah sedikit.
    Menurut Jujun S. Suryasumantri dalam bukunya yang berjudul “Sumber Pengetahuan” halaman 50-54 menyatakan bahwa salah satu sumber pengetahuan yaitu; Empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya oleh akal sehat. Dalam rangka kerjanya, aliran ini mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis-premis yang digunakan dalam membuat rumusan keilmuwan harus jelas dan dapat diterima. Aliran atau paham ini sering juga disebut sebagai idealism atau realism.

  31. Iqbal ismail berkata

    assalamuakum.(T ips a/1)
    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.
    Pentingnya Knowledge Sharing
    Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.
    Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran,
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

  32. Putri Alfaniyah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Sesungguhnya dunia empiris itulah sumber pengetahuan.ide dan empiris memiliki prima kausa yakni tuhan.jadi,perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan tuhan. semakin tinggi keilmuan seseorang maka seharusnya ia semakin dekat dengan tuhan. Pendidik seharusnya selalu memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Karena peserta didik adalah mereka yang memiliki kemampuan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.
    The social contruction of knowledge tulisan dari Peter L. berger dan Luckmann T (1966). Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas, yaitu:
    1. Eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika.

  33. Luinah berkata

    Pengetahuan adalah produk berfikir atau karsa penakluk dunia empiris juga dengan dunia ide. Ide dan empiris memiliki prima kausa yaitu Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Tulisan Peter L. Berger dan luckmann T (1996) yang berjudul the social construction of knowledge. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga momen proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran didalam kelas. Yaitu :
    1. Eksternalisasi
    Proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifitas
    Proses dimana pengetahuan menjadi realitas objektif, sehingga pengetahuan tersebut di akui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi
    Proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebut dengan nilai.

  34. Bayu Hermawan berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi,perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan.
    Knowledge Sharing adalah suatu proses dimana ilmu pengetahuan dibagi kepadaorang lain.

    Menurut Peter L. Burger dan Luckmann dalam bukunya “The Social Construction of Knowledge” bahwa ada tiga tahapan dalam membangun pengetahuan yakni :

    1. Internalisasi yaitu suatu cara untuk berbagi ilmu pengetahuan

    2. Eksternalisasi yaitu proses pertukaran ilmu pengetahuan secara personal

    3. Objektivikasi pengetahuan adalah proses pengakuan pengetahuan oleh suatu organisasi.Menurut Loree ada dua kerangka teori dalam mengkaji internalisasi yaitu :

    1. Kajian Psikoanalisis yaitu internalisasi adalah proses transformasinilai yang dimiliki suatu kelompok kepada kelompok lain.

    2. Kajian Psikologis yaitu internalisasi adalah proses perwujudan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki.

  35. Muhammad Ghowtsul Alam berkata

    tulisan diatas menjelaskan sejenis yang sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan. Pengetahuan melahirkan Ide dan empiris. memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudulThe Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi
    eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadipertukaran pengetahuan personal, sehinggapengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harusdimiliki seseorang (covert behaviour). Kajianpsikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang)di dalam diri sedemikian rupa agar terjadiinternalizedyang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

  36. Fathurrakhman aji berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.(memurut buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, yang berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya)
    Tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.

    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah:
    1. Eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.

    Kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.

  37. M. Didi Wahyudi berkata

    Dunia empiris itu sumber pengetahuan, wilayah empiris harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide, empiris mempunyai prima kuasa, yakni Tuhan. Pentingnya knowledge sharing menurut L. Berger dan Luckmann T, ada tiga momen dalam proses membangun pengetahuan yaitu, Eksternalisasi, Objektifikasi, dan Internalisasi. Kajian psikoanalisis melihat internalisasi sebaga aspek-aspek dunia didalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal

  38. Nisrina Aulia berkata

    Pengetahuan adalah produk berfikir serta karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia.
    Alat penakluk itu adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra.perolehan ilmu itu sendiri di dapat dari ide dan empiris yang diatur oleh tuhan agar diri ini tidak membebaskan diri.
    Knowledge sharing makna lain dari pengetahuan yang memiliki unsur yaitu metode,prosedur dan teknik tertentu dalam siklus managemen pengetahuan.
    Peter L. Berger dan Luckmann T menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, yaitu :
    1. Internalisasi adalah pengetahuan yang dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.
    2. Eksternalisasi adalah adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    3. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

  39. khofifah rahmayanti berkata

    sebuah buku berkarya hidayat Nataatmadja.buku berjudul”global ilmu pengwtahuan dan penyembuhan(al-furqan).pengetahuan adalah produk berfikir.pengetahuan adalah kersa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenannya menyerahkan rahasiannya kepada manusia.alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalu alat indra. dalam konteks pendidikan,hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok,organisasi,instansi,perusahaan atau anak didik agar berbagai sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empire ke dalam dunia ide.internasional adalah suatu model,suatu metode bahkan secara teknis ,internasional adalah bagian dari upaya berbagai pengetahuan.secara konseptual,eksternalisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal,sehingga pengetahuan dikomunikasikan diantara anggota yang ada.objektifikasi pengetahuan adalah proses dimana adalah proses dalam pengetahuan menjadi realitas objektif,sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi(komunitas).

  40. Fifit Fitri Nur'aeni berkata

    Assalamualaikum
    Pengetahuan adalah berbagai gejala yang di temui dan di peroleh maanusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenai benda atau kejadian tertentu yang belum pernah di rasakan sebelumnya.
    Alat penakluknya adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra. Menurut Peter L. Berger dan Luckman T (1996) yang berjudul The Social Contruction of Knowledge ada tiga momen dalam proses pembelajaran didalam kelas, yaitu :
    1. Eksternalisasi, yaitu pertukaran pengetahuan antar individu.
    2. Obyektifikasi, yaitu pengetahuan menjadi realitas obyektif.
    3. Internalisasi, yaitu pengetahuan yang terobyektifikasi dapat digunakan personal dalam mensosialisasikan sikap (nilai )
    Ada dua kerangka teori yang dpt dijadikan alat analisis dlm mengkaji teori internalisasi, yaitu:
    1. Kajian Psikologi
    Psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai nilai tertentu agar di implementasikan dalam kehidupan.
    2. Kajian Psikoalis
    Pengejawatan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang.

  41. Siti hamidah berkata

    Siti Hamidah IPS A semester 1
    Pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  42. siti a'isyah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.
    Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi.
    1. Eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education.Second Edition. New York: The Rolland Press Company] Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi.
    1. Kajian Psikologis memandang internalisasi nilai ialah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan atau pendorong kesadaran kebathilan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Kajian Psikoanalisis memandang internalisasi nilai ialah transformasi nilai yang dimiliki kelompok terhadap kelompok lain. Misalnya orang tua mentransformasikan nilai kepada generasi sesudahnya dan mendorong pembentukan superego seseorang ke rumusan manusi yang paling hakiki.
    sebetapapun rumitnya cara yang harus ditempuh, maka menyatukan kembali aspek-aspek kudus (Tuhan) dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelamatkan ilmu. bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. hal itu lebih tepat disebut sebagai sistem pengajaran, sistem digital dan sistem hafalan. padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sifatnya spiritual. ia akan tersalut melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah Company] Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi.

  43. Fitria dewi berkata

    Dalam buku berjudul krisis glibal ilmu pengetahuan dan penyembuhannya (al-furqan) karya hidayat nataatmadha. Ada kalimat yang menarik yaitu pengetahuan. Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah krsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepad manusia. Alat penakluknya adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra. Menurut Peter L. Berger dan Luckman T (1996) yang berjudul The Social Contruction of Knowledge ada tiga momen dalam proses pembelajaran didalam kelas, yaitu :
    1. Eksternalisasi, yaitu pertukaran pengetahuan antar individu.
    2. Obyektifikasi, yaitu pengetahuan menjadi realitas obyektif.
    3. Internalisasi, yaitu pengetahuan yang terobyektifikasi dapat digunakan personal dalam mensosialisasikan sikap (nilai).

  44. Siti Haryanti berkata

    Dalam konteks pendidikan, pendidik diharuskan untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok / anak didik agar berbagi, termasuk pendidik sendiri . Menurut tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge, bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah:
    1. Eksternalisasi : proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi : proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi : suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah :
    1. Psikoanalisis
    2. Psikologi

  45. Dadan handriansyah berkata

    Menata Ulang Ilmu dalam Bingkai Post Positivistik
    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan). Buku ini kelihatannya mencoba menarik terminologi keislaman ke dalam dunia ide, dunia realitas dan dunia ilmu pengetahuan.
    “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak
    Pentingnya Knowledge Sharing
    Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.
    Dalam konteks pendidikan, peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan.
    Ketiga momen dimaksud adalah:
    1. Eksternalisasi
    2. Obyektifikasi
    3. Internalisasi.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah :
    1. Psikoanalisis
    2. Psikologi.
    Nah kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan.
    Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, system digital dan system hapalan. Padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sipatnya spiritual.
    Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif).

  46. Ummie Habibah (T.IPS A/1) berkata

    Sebuah buku karya hidayat Nataatmadja, buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-furqan). Di halaman 30-40, menemukan sebuah kalimat yang menarik yaitu “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indra. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” sesungguhnya dunia empiris itulah sumber pengetahuan. Ide dan empiris, memilik prima kuasa, yakni Tuhan.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah:
    1). Eksternalisasi
    2). Obyektifikasi
    3). Internalisasi
    Tulisan Peter L. Berger dan lukman T(1966) yang berjudul The social Construction of knowledge. London: penguin ,1966. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran dalam kelas.
    M. Ray lotere Psychology of education second edition. New york, the Rolland presscompany. Kores lebih lanjut menyatakan ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah Psikoanalisis dan Psikologi.

  47. Aninda fidiya sari berkata

    Assalamualaikum
    Pengetahuan adalah produk berfikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agara dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasia kepada manusia.
    Menurut peter el burger dan lukman dalam bukunya membagi 3 momen dalam proses pembelajaran yaitu:
    ○ eksternalisasi
    ○ obyektifikasi
    ○ internalisasi
    Ada 2 teori yang dikemukakan oleh lotere yaitu :
    ○ psikologi
    ○psikoanalisasi.
    Terima kasih.

  48. peggi agisna berkata

    Pentingnya Knowledge Sharing

    menurut Peter L. Berger dan Luckmant (1977) dalam bukunya yang berjudul “The Sosial Construction of Knowledge” menyebutkan bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, yaitu :
    (1) Eksternalisasi Pengetahuan yaitu proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal.
    (2) Internalisasi Pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai dilakukan dengan pencarian.
    (3) Obyektifikasi Pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi.

    Menurut Loree ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. yaitu:
    (1) Psikologi, yaitu dengan membangun, mengembangkan dimensi kejiwaan dan mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (aspek orang). (Ahmad Samsi,1998).
    (2) Psikoanalisis (Sigmund Froud 1977), yaitu bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.

  49. Sri Anisah berkata

    Manusia adalah tempat berpikir yang dimana di dalam manusia terdapat otak yang mampu menerima dan mengaplikasikan informasi yang telah diserap oleh otak sebagai pengetahuan . Melalui manusia terdapat otak sebagai alat yang digunakan sebagai tempat pemikiran , ide serta empiris yang mampu mengantarkan manusia mendapatkan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai pengambil keputusan sebagai bentuk dari keilmuan . Dari keilmuan tersebut maka terlahirlah dunia empiris yang merupakan sumber dari pengetahuan. Ide dan empiris tersebut memiliki kuasa utama yaitu Allah swt. Yang dimana semakin manusia mendapatkan ilmu yang mampu menjadikan manusia tersebut taat pada apa yang manusia ketahui maka semakin dekat pula manusia itu pada Allah swt. Sesuai dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ar-Rabi’i Rasulullah SAW bersabda :
    1. تَعَلَّمُوْاالْعِلْمَ ، فّإِنَّ تَعَلُّمُهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَتَعْلِيْمَهُ لِمَن ْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَإِنَّ الْعِلْمَ لَيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالْعِلْمُ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ .
    (الربيع)
    “Tuntutlah ilmu,sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ar-Rabii’) Dan di perkuat oleh Al – Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Di dalam pengetahuan itu sendiri membutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Manajemen pengetahuan untuk diterapkan pada konteks pendidikan . di dalaam pendidikan salah satu tujuannya adalah mendapatkkan pengetahuan, pengetahuan itu sendiri adalah produk berpikir sebagai karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia sehingga bisa menerapkan supergo, Dengan superego manusia belajar memengerti dan menindak lanjuti dengan kepala dingin. Berusaha seoptimal mungkin untuk tidak merugikan siapapun, karena ia tahu betapa sakit dan sedihnya bila dirugikan, apalagi dirugikan secara moral, sosial dan psikologi .Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk digital otak manusia.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, beliau menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. 1) eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. 2)Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). 3) internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.
    Sedangkan menurut kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal. Menurut Sigmund Freud [1997], menyebutkan bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Sehingga dapat mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.
    Rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Seberapa rumitnya cara yang harus ditempuh, maka harus dikembalikan pada aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.
    Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan. mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika . Jadi otak manusia harus terus dilatih dengan penggalian atau pendalaman akan pengetahuan ,keilmuan yang mampu membuat otak kita semakin berkembang , dengan informasi informasi yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain yang mampu menyelamatkan manusia di dunia maupun di akhirat

  50. Fariz maulana ibrahim tadris ips a/1 berkata

    Isi makalah tersebut sangat menarik dan membuat penasaran orang yang membacanya,sehingga pembaca akan lebih menggali dan terus membacanya.
    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera,kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

  51. Lenny Erdiani Choerun Nissa berkata

    Menurut Peter L berger dan Luckmann T dalam bukunya yang berjudul Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, ada tiga hal penting proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Diantara nya:
    1. Eksternalisasi,
    2. Obyektifikasi
    3. dan Internalisasi.
    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company] Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi.

  52. CAHYA HADI KUSUMA berkata

    Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), menemukan sebuah kalimat menarik yaitu: “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan. Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di Kualalumpur: MIT Press, 2003. Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company]

  53. Aji santoso T.IPS A/1 berkata

    Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), Di dalam buku dimaksud, menemukan sebuah kalimat menarik yakni: “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”
    Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan. Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide. Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    1.) internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    2.) eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    3.)Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

  54. Mukhammad Hasanudin berkata

    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, tergeletak di Meja yang sudah lama tidak saya duduki. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), tiba-tiba menarik mata saya. Di halaman 39-40, dalam buku ini saya menemukan kalimat yang menarik misalkanya:“Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi.
    1.internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    3. eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    3. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan.
    Kajian psikologi
    Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal. kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan.

  55. Mariyo Tadris IPS/A Semester 1 berkata

    Hal menarik yang saya dapat dari Artikel ini adalah mengenal tuhan atau Allah Swt itu sendiri, kenapa ? Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan Al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Jadi dengan kata lain jika anda ingin dekat dengan Tuhan, Jadilah orang yang berilmu Pengetahuan yang ahli dalam bidangnya. kenapa ? karena disitulah terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya yang hanya bisa dilihat oleh mereka para Ahli Ilmu itu sendiri.
    Sebagai salah satu contoh Anda ahli dalam Ilmu Sosial betapa kita bisa mengambil rujukan langsung dari Al-quran dan Hadist tentang Ilmu Sosial itu sendiri, yang mengatur bagaiman berhubungan dengan sesama manusia (Hablumminnas) yang didalamnya mengatur bagaimana berinteraksi dengan keluarga, tetangga, ulama, guru hingga penguasa itu sendiri.
    Atau Anda ahli dalam hal hukum maka anda akan tercengan betapa ada hikmah yang sangat besar tekait Qishash yang secara logika merupakan produk hukum langsung dari tuhan. betapa nyawa manusia itu sangat berharga dimata tuhan, dimana mata harus dibayar mata, telingah harus dibayar telingah, dan sebagainya.
    Dan masih banyak lagi produk tuhan yang telah ditetapkan oleh Islam sendiri yang telah menjaga dunia, dan memberikan solusi atas permasalahan manusia

  56. Nina Nur'aeni berkata

    ” Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan)”,( karya Hidayat Nataatmadja)
    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia
    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education.
    sedangkan menurut Achmad Sanusi (1998), internalisasi merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

  57. dedehidayatulloh berkata

    “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”( Hidayat Nataatmadja. Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan),)
    Jadi ilmu dalam nalar manusia itu tadak akan pernah jauh dari yang namanya tuhan. Inilah yang mengakibatkan bahkan sehaarusnya apabila seseorang semakin tinggi ilmuny amaka haruslah semakin dekat dengan tuhan.
    PENTINGNYA KNOWLEDGE SHARING
    Setiap intnsi pendidikan itu diperrlukan adanya hal ini agar adany akeselarasan dalam menjalankan pendidikan. Karena setiap manusia itu mempunyai pola pikir yang berbeda beda. Serta supaya dapat membangun pengetahuan yang sabanding dengan hal hal yang di inginkan.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    1. Eksternalisasi
    2. Obyektifikasi dan
    3. Internalisasi

  58. Farrin Nurul Aina berkata

    Dengan pengetahuan membuat seseorang lebih tau tentang sesuatu hal. Allah menganugerahi manusia dengan akal untuk berfikir. Gunakan akal kita untuk hal-hal yang baik, contohnya dalam. Mencari ilmu pengetahuan,. Proses mendapatkan ilmu pengetahuan dapat dilakukan di sekolah dimana guru yang memberikan materi dan siswa sebagai objek pembelajaran. Agar ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semakin tinggi ilmu seseorang sebaiknya dapat menjadikan kita lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dalam membangun pengetahuan ada 3 momen, yaitu
    1. Eksternalisasi, pertukaran pengetahuan antar individu dalam kelompok tertentu
    2. Internalisasi, upaya dalam membagi ilmu pengetahuan
    3. Obyektifikasi, yaitu proses dimana pengetahuan menjadi nyata sehingga dapat di akui.

  59. Safa amaliatussaadah berkata

    Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme  digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara, Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah
    1.Eksternalisasi, 2. Obyektifikasi dan 3.Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. 
    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour)  dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang)
    Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki
    Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika

  60. Irfan Sahroni berkata

    Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.

  61. Suyana berkata

    Asalamua’alaikum
    Dalam sebuah buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan) karya hidayat nataatmadja “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”
    Dunia empiris ini merupakan sumber ilmu pengetahuan
    Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Pentingnya Knowledge Sharing
    Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.
    Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di Kualalumpur: MIT Press, 2003
    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company]
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Kajian Psikoanalis
    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.
    Nah kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.
    Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, system digital dan system hapalan. Padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sipatnya spiritual.
    Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif).

  62. Afni Nursofiya berkata

    “Pengetahuan adalah produk berpikir.Pengetahuan bisa disebut dengan karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Realitas alat empiris yang larut dalam bentuk komponen digital otak manusia.”
    Wilayah-wilayah empiris yg dilarutkan ke dalam dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Didalam al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. menurut
    Peter L. Berger dan Luckmann T, menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen tersebut adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi.
    eksternalisasi pengetahuan adalah proses terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.Internalisasi pengetahuan adalah proses pengetahuan yang terobyektifikasi digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap atau disebut dengan nilai. Sedangkan Obyektifikasi pengetahuan adalah proses pengetahuan yg menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan diakui organisasi (komunitas). Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan.

  63. Adelia pramesetia putri berkata

    sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja yang berjudul krisis global ilmu pengetahuan & penyembuhannya (al-Furqan) hal 39-40 terdapat kalimat menarik :
    “pengetahuan adalah produk berpikir. pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. alat pebakluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. berbagai realitas di sekitar alat empiris itu,larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia”.
    tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul the social construction of knowledge : terdapat 3 moment dalam proses membangun pengetahuan, yaitu:
    a. eksternalisasi pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan di komunikasikan di antara anggota yang ada
    b. obyektifitas pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas)
    c. internalisasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialkan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai
    Loree menyatakan ada 2 teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi, yaitu psikoanalis dan psikologi
    kajian psikoanalis
    Ahmad Sanusi (1998), Internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang. Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia di dalam diri fungsi-fungsi eksternal. kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.
    rumusan keilmuan yang terbaik adalah bagaimana nilai-nilai yang di dapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan, sebetapapun rumitnya cara yang harus ditempuh, maka menyatukan kembali aspek-aspek kudus (Tuhan) dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelamatkan ilmu. bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. hal itu lebih tepat disebut sebagai sistem pengajaran, sistem digital dan sistem hafalan. padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sifatnya spiritual. ia akan tersalut melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah.

  64. Vina Rosseliana berkata

    Buku karya Hidayat Nataatmaja berjudul “Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya” yang terbit di Bogor ini sangat menarik untuk di baca. Contohnya pada halaman 39-40 yang berisikan tentang definisi pengetahuan. “Pengetahuan adalah produk berfikir,karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenannya menyerahkan rahasiannya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah Mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indera dan berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.
    Menurut Peter L. Berger dan Luckmann T dalam buku yang berjudul “The Social Construction Of Knowledge” terdapat 3 momen dalam proses membangun pengetahuan yaitu :
    1. Internalisasi adalah cara untuk berbagi ilmu pengetahuan
    2. Eksternalisasi adalah proses pertukaran ilmu pengetahuan secara personal
    3. Objektivikasi pengetahuan adalah proses dimana suatu pengakuan pengetahuan oleh organisasi.
    Loree menyatakan bahwa ada 2 kerangka teori yang dapat di jadikan alat untuk menganalisis dalam mengkaji teori internalisasi yaitu:
    1. Kajian Psikologi
    Kajian ini menyebut bahwa internalisasi tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaaan yang mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Kajian Psikoanalis
    Psikoanalis yang dikembangkan oleh Sigmud Frend [1997] menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.
    Kembali kepada persoalan Nataatmaja bahwasanya rumusan keilmuan yang terbaik adaah bagaimana nilai-nilai yang di dapat dari dunia empiris dan dunia ide itu menyatu dalam satu kesatuan yang utuh untuk membingkai terminologi ketuhanan. Jika dalam pelajaran Agama materi yang di sajikannya sama seperti mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan karena dalam Pendidikan Agama tersebut maka akan tersalurlah ilmu pengetahuan melalui otak yang mampu menyentuh kepribadian bendawi dan illahiyah-Nya.

  65. Nurmila Herdianty berkata

    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, dalam Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), Di halaman 39-40, ada sebuah kalimat yang mana “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” jadi, bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan. menurut Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan yaitu :
    (1) internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    (2) eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.
    (3) Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Menurut Loree menyatakan, ada dua kerangka teori yang dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi, yaitu :
    1. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. jadi, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Kajian psikoanalisis, materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.
    Menurut Naatmaja yaitu rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.

  66. Intan Tresna Dwi berkata

    Buku karya Hidayat Naatmadja berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-furqon) di halaman 39-40 menemukan sebuah kalimat menarik “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penakluk itu sendiri adalah mekanisme informasi dari luar melalui alat indara bagai realitas disekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia”. Bahwa sesungguhnya dunia itu empiris, itulah sumber pengetahuan. Ide dan empiris memiliki prima kausa yakni Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Tulisan Peter L. Berger dan Luckman T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London. Penguin, 1966 menyebut bahwa terdapat 3 momen dalam proses membangun pengetahuan, ketiga momen dimaksud adalah : 1) Eksternalisasi Pengetahuan adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal, 2) Internalisasi Pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan dalam mensosialisasikan sikap atau yang disebutnya dengan nilai, 3) obyektifikasi pengetahuan adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas,sehingga diakui organisasi/komunitas. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Loore menyatakan, ada 2 kerangka teori yang dapat dijadikan alat dalam mengkaji teori internlisasi :
    1. Kajian Psikoanalisis menyebutkan bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.
    2. Kajian psikologi menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan.
    persoalan Nataatmadja di atas rumusankeilmuan yang baik adalah bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam kesatuan yang utuh untuk membingkai terminologi ketuhanan. dalam komentar Naatmadja, bahwa dalam pelajaran agama materi di sajikan seperti dalam mata pelajaran eksak. hal itu lebih tepat disebut sebagai sistem pengajaran, sistem digital dan sistem hafalan. Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah.

  67. Silmy Awwalunnis
    Silmy Awwalunnis berkata

    Dunia empiris itulah sumber pengetahuan. wilayah ini harus di larutkan kedalam yang namanya dunia ide. Krisis global ilmu pengetahuan dalam penyembuhannya (hal. 39-40). Ide dan empiris memiliki prima kuasa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan.
    Moderen = Knoeledge Sharring. Peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide. Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) Menyebutkan bahwa ada tiga momen dalam proses pembangunanpengelolaan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Yaitu Eksternalisasi (proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada.), Obyektifikasi dan Internalisasi (proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.). Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. (Prof. Cecep Sumarna)

  68. Elin Yulianingsih berkata

    Dunia empiris adalah sumber ilmu pengetahuan, dunia empiris harus dilarutkan pada ide. Ide dan empiris mempunyai prima kausa yaitu tuhan. Jadi, perolehan ilmu dan nalar tidak mungkin keluar dari apa yang dikatakan Tuhan. Maka seharusnya semakin tinggi ilmu seseorang semakin dekat dengan Tuhannya.
    L Berget dan Luckmann T (1966) menyebutkan bahwa ada 3 proses membangun ilmu pengetahuan :
    1. Eksternalisasi pengetahuan yaitu proses pertukaran ilmu pengetahuan personal sehingga pengetahuan di komunikasikan antara anggota yang ada.
    2. Obyektifikasi pengetahuan ialah proses dimana pengetahuan menjadi realitas obyekti, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    3. Internalisasi pengetahuan ialah proses dimana oengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu atau apa yang disebutkannya dengan nilai. Ada 2 jenis teori untuk mengevaluasi teori internalisasi yaitu:
    1. Kajian Psikologis memandang internalisasi nilai ialah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan atau pendorong kesadaran kebathilan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Kajian Psikoanalisis memandang internalisasi nilai ialah transformasi nilai yang dimiliki kelompok terhadap kelompok lain. Misalnya orang tua mentransformasikan nilai kepada generasi sesudahnya dan mendorong pembentukan superego seseorang ke rumusan manusi yang paling hakiki.
    Rumusan keilmuan yang terbaik adalah bagaimana nilai dalam dunia ide menyatu dalam kesadaran yang utuh untuk membingkai terminologi ketuhanan. Jika dalam pendidikan agama materi yang disajikan seperti materi eksak berarti itu bukan merupakan proses pendidikan namun hanyalah proses pengajaran, karena dalam pendidikan harus ada akturasi fitrah manusia yang sifatnya spiritual.

  69. ISAH SITI KHODIJAH berkata

    “Menata Ulang Ilmu dalam Bingkai Post Positivisik”.
    Dari buku karya Hidayat Nataatmaja yang berjudul “Krisis Global Ilmu Pengetahuan & Penyembuhannya”, pada hlm 39-40 terdapat kalimat pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris, agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Dunia empiris itu sumber pengetahuan. Wilayah empiris disebut dengan ide. Ide & empiris memiliki prima kausa, yakni tuhan. Maka, semakin tinggi keilmuan seseorang, maka seharusnya ia semakin dekat dengan tuhan.
    Knowledge Sharing dalam konteks pendidikan, mengharuskan pendidik untuk selalu berbagi ilmunya.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luchman T (1996) yang berjudul The Social Contruction of Knowledge menyebutkan terdapat tiga momen dlm proses pembangunan pengetahuan, yaitu:
    1) eksternalisasi adalah proses dimana terjadi pertukaran pengetahuan personal.
    2) obyektivikasi adalah proses dimana pengetahuan menjadi realitas.
    3) Internalisasi adalah proses dimana pengetahuan yang terobyektivikasi.
    Ada dua kerangka teori yang dpt dijadikan alat analisis dlm mengkaji teori internalisasi, yaitu:
    1. Kajian Psikologi
    Psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai nilai tertentu agar di implementasikan dlm kehidupan.
    2. Kajian Psikoalis
    Pengejawatan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki atau hrs dimiliki seseorang.
    Rumusan keilmuan yang baik dari Nataatmaja adalah bagaimana nilai nilai yang didapat dari dunia empiris & ide menatyu dlm satu kesatuan yg utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan.

    Trims…

  70. MUNIRUDIN berkata

    Manusia adalah makhluk yang terlahir dengan segala keterbatasan, tanpa bisa apa-apa, hanya menangis dan menangis, dari kekurangan tersebut tuhan menciptkan akal manusia agar manusia tersebut dapat berusaha, dapat berfikir dan dapat melaksanakan pemikirannya, dari pemikiran pemikiran manusia yang semakin berkembang maka didunia ini tidak ada yang namanya tidak mungkin.
    Dunia adalah rahasia, pengetahuan adalah rahasia di dalam dunia ini jika tidak adanya pemikiran manusia mungkin hanya sebatas persinggahan sementara, namun karena manusia diciptakan oleh tuhan dengan mempunyai akal maka manusia dapat berfikir, dan pemikiran itu menimbulkan ilmu-ilmu baru yang dapat membuka sedikit demi sedikit rahasia-rahasia yang adaa di dunia ini karena manusia berfikir dengan menggunakan fikirannya.
    Di dalam pemikiran manusia tersebut menimbulkan pelaksanaan-pelaksanaan dari pemikiran tersebut yaitu dengan menggunakan indra manusia yang dapat membuka rahasia yang ada di dunia dan manusia itu sendiri akan menggunakannya. Manusia diciptakan untuk berfikir dan berusaha guna mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dengan menggunakan ilmu.

  71. Yandhika Chika Pratama berkata

    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, tergeletak di Meja yang sudah lama tidak saya duduki. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), tiba-tiba menarik mata saya. Buku ini kelihatannya mencoba menarik terminologi keislaman ke dalam dunia ide, dunia realitas dan dunia ilmu pengetahuan.
    Pentingnya Knowledge Sharing
    Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.
    Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company]
    Kajian Psikoanalis
    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.
    Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, system digital dan system hapalan. Padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sipatnya spiritual.
    Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif). By. Prof. Cecep Sumarna

  72. Muhamad Udin berkata

    Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.
    Pentingnya Knowledge Sharing
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Kajian Psikoanalis
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.
    Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif). By. Prof. Cecep Sumarna

  73. Rina Agustiana berkata

    “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di Kualalumpur: MIT Press, 2003.Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Kajian Psikoanalis

    Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour) dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

  74. Aida Nur Aisyah berkata

    Dari buku karya Hidayat Nataatmaja yang berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya, pada halaman 39-40, terdapat kalimat yang isinya bahwa pengetahuan adalah hasil dari berpikir. Pengetahuan adalah dorongan seseorang untuk mencari tahu rahasia dunia yang diolah melalui otak dengan bantuan panca indera. Dunia ide dan empiris adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan. Maka sebaiknya, semakin tinggi ilmu seseorang maka harus semakin dekat pula ia dengan Tuhan.
    Knowledge Sharing adalah suatu proses dimana ilmu pengetahuan dibagi kepada orang lain. Menurut Peter L. Burger dan Luckmann dalam bukunya “The Social Construction of Knowledge” bahwa ada tiga tahapan dalam membangun pengetahuan yakni :
    1. Internalisasi yaitu suatu cara untuk berbagi ilmu pengetahuan
    2. Eksternalisasi yaitu proses pertukaran ilmu pengetahuan secara personal
    3. Objektivikasi pengetahuan adalah proses pengakuan pengetahuan oleh suatu organisasi.
    Menurut Loree ada dua kerangka teori dalam mengkaji internalisasi yaitu :
    1. Kajian Psikoanalisis yaitu internalisasi adalah proses transformasi nilai yang dimiliki suatu kelompok kepada kelompok lain.
    2. Kajian Psikologis yaitu internalisasi adalah proses perwujudan perilaku dari pengetahuan yang dimiliki.
    Menurut Nataatmaja, rumusan keilmuan yang baik adalah bagaimana nilai-nilai yang ada dalam dunia empiris dan ide disatukan dalam aspek ketuhanan. Juga pelajaran agama harus dalam suatu proses pendidikan karena dalam proses tersebut akan tersalur melalui otak dan mampu menyentuh kepribadian bendawi dan illahiyah.

  75. malikularzak berkata

    Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, tergeletak di Meja yang sudah lama tidak saya duduki. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), tiba-tiba menarik mata saya. Di halaman 39-40, dalam buku ini saya menemukan kalimat yang menarik misalkanya: “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.

    Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Pentingnya knowledge sharingInilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan. Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
    Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan internalisasi.

    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan.
    Kajian psikologi
    Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal. kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan.

  76. siti aisah berkata

    perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuananak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).
    Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan.
    Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
    Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997], relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.

  77. KORIATUNISA berkata

    Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), karya Hidayat Nataatmadja . “Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.” Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan.
    Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi.
    Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai.
    Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya.
    Rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan.

  78. khofifah berkata

    Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”. Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966 . Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan.Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

  79. Siti Alifah berkata

    dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas). nternalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. da dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar