Menata Ulang Ilmu dalam Bingkai Post Positivistik

Menata Ulang Ilmu dalam Bingkai Post Positivistik
0 770

Sebuah buku karya Hidayat Nataatmadja, terbit di Bogor, tergeletak di Meja yang sudah lama tidak saya duduki. Buku berjudul Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan), tiba-tiba menarik mata saya. Buku ini kelihatannya mencoba menarik terminologi keislaman ke dalam dunia ide, dunia realitas dan dunia ilmu pengetahuan.

Di halaman 39-40, dalam buku dimaksud, saya misalnya menemukan sebuah kalimat menarik berikut ini:

“Pengetahuan adalah produk berpikir. Pengetahuan adalah karsa penakluk dunia empiris agar dunia dan berbagai fenomenanya menyerahkan rahasianya kepada manusia. Alat penaluk itu sendiri adalah mekanisme  digital otak yang mampu menerima informasi dari luar melalui alat indara. Berbagai realitas di sekitar alat empiris itu, larut dalam bentuk komponen-komponen digital otak manusia.”

Tentu saja, kalimat ini sangat menarik perhatian, siapapun yang mengkaji dunia filsafat dan pengetahuan temporer. Mengapa? Karena tulisan sejenis ini sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah lakon keilmuan yang menyudutkan bahwa sesungguhnya dunia empiris, itulah sumber pengetahuan.

Wilayah-wilayah empiris tadi, kemudian harus dilarutkan dalam apa yang disebut dengan dunia ide. Ide dan empiris, memiliki prima kausa, yakni Tuhan. Jadi, perolehan ilmu, dalam nalar ini, tidak mungkin membebaskan diri dari apa yang disebut dengan Tuhan. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka, seharusnya ia semakin dekat dengan Tuhan. Hal ini persis seperti apa yang digambarkan al Qur’an yang menyebut: “Tidak ada komunitas yang paling takut kepada Tuhan, kecuali mereka yang memperoleh kedudukan ulama”.

Pentingnya Knowledge Sharing

Inilah makna lain, dari apa yang dalam istilah moderen disebut dengan knowledge sharing. Untuk keperluan dimaksud, dibutuhkan metode, prosedur dan teknik tertentu dalam siklus Managemen pengetahuan.

Dalam konteks pendidikan, hal ini mengharuskan pendidik untuk selalu memberi kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi, instansi, perusahaan atau anak didik agar berbagi, termasuk tentu dengan pendidiknya sendiri. Mengapa? Sebab peserta didik adalah mereka yang memiliki kemauan sekaligus kemampuan dalam menangkap gejala empiris ke dalam dunia ide.

Tulisan Peter L. Berger dan Luckmann T (1966) yang berjudul The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966, penting untuk dibaca. Ia menyebut bahwa terdapat tiga momen dalam proses membangun pengetahuan, termasuk tentu dalam proses pembelajaran di dalam kelas.

Ketiga momen dimaksud adalah: Eksternalisasi, Obyektifikasi dan Internalisasi. Atas asumsi seperti itu pula, penulis memandang bahwa internalisasi adalah suatu model, suatu cara, suatu metode bahkan secara teknis, internalisasi adalah bagian dari upaya berbagi pengetahuan. Pendapat seperti ini, dapat pula dibaca misalnya dalam tulisan M. Huysman, and D. Wit. 2003. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management. Buku ini terbit di  Kualalumpur: MIT Press, 2003.

Secara konseptual, eksternalisasi pengetahuan adalah proses di mana terjadi pertukaran pengetahuan personal, sehingga pengetahuan dikomunikasikan di antara anggota yang ada. Obyektifikasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan menjadi realitas obyektif, sehingga pengetahuan tersebut diakui organisasi (komunitas).

Sedangkan internalisasi pengetahuan adalah proses di mana pengetahuan yang terobyektifikasi tersebut digunakan personal tertentu dalam mensosialisasikan sikap tertentu atau dari apa yang disebutnya dengan nilai. Internalisasi pengetahuan dilakukan melalui kegiatan pencarian dan menemukan kembali pengetahuan yang tersimpan. [Lihat M. Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company]

Loree lebih lanjut menyatakan, ada dua kerangka teori yang dapat dijadikan alat analisis dalam mengkaji teori internalisasi. Kedua teori dimaksud adalah psikoanalisis dan psikologi. Kajian psikologi, menyebut bahwa internalisasi, tidak lebih dari sebuah cara membangun dan mengembangkan dimensi-dimensi kejiwaan. Dengan bahasa lain, psikologi mendorong kesadaran kebathinan terhadap nilai-nilai tertentu agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian Psikoanalis

Dalam bahasa Achmad Sanusi (1998), internalisasi tidak lain merupakan pengejawantahan perilaku (overt behaviour)  dari pengetahuan yang dimiliki atau harus dimiliki seseorang (covert behaviour). Kajian psikologi melihat internalisasi sebagai aspek-aspek dunia (khususnya aspek orang) di dalam diri sedemikian rupa agar terjadi internalized yang diambil dari fungsi-fungsi eksternal.

Psikoanalisis, yang dikembangkan oleh Sigmund Freud [1997],  relevan untuk dijadikan landasan dalam mengkaji soal ini. Kajian ahli psikologi materialisme ini menyebut bahwa internalisasi adalah transformasi nilai yang dimiliki kelompok tertentu kepada kelompok lain. Hal ini, misalnya dapat dilihat dari bagaimana orang tua melakukan transformasi nilai kepada generasi sesudahnya. Internalisasi model demikian, akan mendorong pembentukan superego seseorang ke dalam rumusan kemanusiaan yang paling hakiki.

Nah kembali ke persoalan Nataatmaja di atas, rumusan keilmuan yang terbaik adalah, bagaimana nilai-nilai yang didapat dari dunia empiris dan dunia ide, menyatu dalam satu kesatuan yang utuh, untuk membingkai terminologi ketuhanan. Sebetatapun ruimitnya cara yang harus ditempuh, maka, menyantukan kembali aspek-aspek qudus [Tuhan] dalam bingkai pengetahuan, ia akan menjadi cara untuk menyelematkan ilmu.

Karena itu, dalam komentar Nataatmaja, bahwa jika dalam pelajaran agama, materi disajikan seperti dalam mata pelajaran eksak, maka sesungguhnya, pendidikan tidak pernah menjadi lembaga pendidikan. Hal itu lebih tepat disebut sebagai system pengajaran, system digital dan system hapalan. Padahal pendidikan mengharuskan adanya aktuasi fitrah manusia yang sipatnya spiritual.

Ia akan tersalur melalui mekanisme otak sebagai wahana digital yang mampu menyentuh kepribadian bendawi sekaligus ilahiyah. Dalam bahasa Albert Einstein, otak manusia harus dilatih melakukan kegiatan pengetahuan melalui verifikasi empiris dari suatu teorema pada jalur ekstra logika (intuitif). By. Prof. Cecep Sumarna

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat Nataatmadja. Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (al-Furqan). Bogor: Humanika, tt.
Huysman, and D. Wit. A Critical Evaluation of Knowledge Management Practices: Sharing Expertise – Beyond Knowledge Management, Kualalumpur: MIT Press, 2003.
Berger dan Luckmann T. The Social Construction of Knowledge. London: Penguin, 1966
Ray Loree. Psychology od Education. Second Edition. New York: The Rolland Press Company.
Acmad Sanusi. Pendidikan Alternatif: Menyentuh Aras Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Bandung: Grafindo Media Pratama, 1998
Sigmund Freud. On Sexuality. London: Pnguin Books, 1977
Clare W. Grave. An Emergent Theory of Etichal Behaviour Based epigenetic Model. Dalam Value Memes Spiral Dynamict. USA: University of Michigan, 1959.

Komentar
Memuat...