Mencari Hikmah dalam al Fatihah ayat 5| Tafsir Bisnis-6

Mencari Hikmah dalam al Fatihah ayat 5| Tafsir Bisnis-6
0 1.677

Ayat kelima Surat Al-Fatihah berbunyi: “Iyyãka na’budu wa iyyãka Nasta’ȋn. Terjemah bebas dari ayat ini adalah “Hanya Kepada-Mu [Allah] kami menyembah dan hanya kepadaMu [Allah] kami memohon pertolongan”. Ayat ini mendorong manusia untuk berada dalam puncak spiritual ketuhanan [ilahiyah]. Pengakuan monoteism murni yang meletakkan Tuhan di atas apapun yang ada di sekitar manusia.

Ayat ke lima ini, juga sekaligus menegaskan dan melambangkan bahwa manusia bukan saja dituntut patuh dan tunduk, tetapi, ia dengan sendirinya dituntut melepaskan seluruh dimensi kemanusiannya yang kadang sombong. Ayat ini mendorong kesadaran manusia [beriman], untuk mengakui bahwa Allah bukan sekedar ada dan tunggal, tetapi, juga menguasai apapun yang terdapat dalam diri dan di sekitar dirinya.

Berdasarkan ayat ini, kita akan dituntut menempatkan Tuhan sebagai prima causa dan penentu segala apapun yang menimpa manusia. Tidak ada sesuatu yang mampu memberi pertolongan sebagaimana Allah memberinya. Konsekwensinya, karena itu, tidak ada wujud apapun yang dapat disembah kecuali Allah. Hanya Allah yang Tunggal.

Melalui nalar atas ayat ini, jika kita mengutip tafsir Buya Hamka, maka, Allah adalah Tuhan Yang Mencipta dan Memelihara. Dia adalah Rabbun. Mengapa disebut Rabbun? Sebab, Dia adalah IIahi. Tidak ada Rabb yang lain, selain Dia. Ayat sebelumnya dari surat al Baqarah ini juga menyatakan bahwa Allah adalah Dzat Yang Mencipta dan Memelihara. Karena itu, wajar jika hanya Dia yang patut disembah. Menjadi tidak wajar karena itu, jika Allah yang menjadikan dan memelihara seluruh makhluknya, lalu manusia malah menyembah sesuatu selain Allah. Inilah dalam tafsir Hamka, yang menyebabkan harus menyebut bahwa ayat ke 5 ini, kembali memperkuat ayat kedua surat al Fatihah.

Mencari Nalar Bisnis Surat al Fatihah [1: 5]

Di mana letak teori bisnis yang dapat diperoleh umat Islam dari nalar ayat kelima surat al Fatihah ini? Saya melihat bahwa nalar bisnis melalui ayat ini adalah teori kemandirian.Ketika manusia hanya menyebut Allah sebagai wujud yang harus disembah sekaligus satu-satunya wujud yang dapat memberi pertolongan, maka, kepada selain Tuhan, tidak ada sesuatu apapun yang layak menjadi sandaran. Termasuk kepada orang tua, pimpinan, kakak atau saudara serta kerabat lain yang dianggap kita memiliki keunggulan.

Ayat ini mengilustrasi bahwa sedikit saja, manusia memiliki rasa ketergantungan kepada selain diri-Nya, maka, ia dapat disebut musyrik. Yang musyrik past akan bergerak dari kecahayaan menuju kegelapan. Dengan demikian, ayat ini dapat pula disebut sebagai teori pembebasan. Teori yang membebaskan manusia dari segala jenis dan bentuk ketergantungan. Jika manusia berada dalam titik ini, maka, manusia pasti akan memperoleh kebahagiaan.

Mungkin karena faktor ini, Rasulullah secara khusus memberi gambaran tentang surat al Fatihah. Misalnya hadits yang diriwayatkan Musa al As’ari disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dijadikan imam untuk diikuti. Jika imam takbir, maka, ikutilah dia untuk melakukan takbir. Jika imam membaca surat al fatihah dan surat lain dalam al Qur’an, maka simaklah]. Dalam hadits lain, sebut misalnya, hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda: “Tidak ada shalat bagi mereka yang tidak membaca surat al fatihah”

Dengan bahasa lain, sejatinya umat Islam, yang menjadikan al Qur’an sebagai pedoman, akan mengawali hidupnya dari sikap kemandirian. Suatu model perilaku yang menyerahkan segala bantuan atau apapun hanya kepada Tuha. Karena dia yakin bahwa Tuhan itu ada, maka, konsekwensinya, adalah dia akan bekerja tanpa mengenal lelah. Mengapa? Karena ia yakin, bersama seluruh pekerjaannya, di situ Tuhan ada. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...