Mencari Hikmah dalam Ayat Mãliki Yawmiddin | Tafsir Bisnis-5

0 36

Kata addȋn dalam ayat Mãliki yawmiddȋn mengandung makna bukan saja agama, tetapi juga pembalasan. Kata addȋn  yang tidak hanya diterjemahkan dalam pengertian agama tadi, mengandung makna, bahwa sesunggunya sistem keagaam hanya akan tegak ketika manusia berada dalam mahkamah Tuhan. Mahkamah akhirat di mana manusia dikumpulkan.

Karena itu, menjadi maklum jika kalimat Mãliki yawmiddȋn sering diterjemahkan dengan: “Yang Menguasai Hari Pembalasan“. Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar, disebutkan bahwa, jika kita memendekkan kata Ma, maka, ia akan hanya bermakna memiliki. Tetapi, jika kata Mã  dipanjangkan, ia mengandung makna menguasai. Apa beda antara menguasai dan memiliki? Apakah ada perbedaan makna?

Dalam analisa Buya Hamka, memiliki belum tentu menguasai. Dalam konteks ini, Hamka tampaknya ingin menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya memiliki hari pembalasan [qiyamat], tetapi, Dia juga menguasai-Nya. Pertanyaannya, boleh nggak kita tidak memanjangkan kalimat Mã dalam ayat Mãliki yawmiddȋn. 

Jika kita mengutif bnu Katsir dalam tafsir yang disusunnya, ia menyebut bahwa di kalangan para qiraah syab’ah, ada yang memanjangkan, meski tidak sedikit yang memendekkannya. Keduanya, menurut mufassir ini, sama-sama absyahnya. Artinya, dipendekkan atau dipanjangkan, memiliki kebolehan atasnya. Tergantung kita mau memilih yang mana.

Tuhan sebagai penguasa hari pembalasan, berarti Ia menjadi hakim yang menguasai hari pembalasan [qiyamat]. Karena Ia hakim, dan pasti Dia akan sangat adil, maka, Ia akan memperhitungkan semua tindakan manusia dengan cara yang sangat adil. Pembalasan tersebut baik yang bersipat baik maupun yang bersipat buruk akan diberikan Tuhan dengan cara yang sangat adil. Semuanya akan diberi pembalasan yang setimpal.

Mãliki yawmiddȋn dan Hikmah dalam Dunia Bisnis

Pertanyaan selanjutnya, mengapa ayat Mãliki yawmiddȋn itu, hadir setelah al rahman dan al rahim. Kelihatannya, ayat ini akan memberi perimbangan menyangkut sisi rasa manusia. Misalnya, meski manusia telah diliputi rasa yang penuh dengan rahmat, sebagai bentuk pancaran dari Rahman dan Rahim Allah, maka, rasa itu harus dijaga dengan baik.

Kalimat rahmat dan rahiem, disatu sisi dapat bermakna pembatasan,  tetapi sekaligus bernilai kesadaran. Kesdaran misalnya, Allah akan memberlakukan keadilan saat perhitungan kelak. Di sinilah, teori bisnis kembali kita peroleh

Ayat ini, menurut penulis memiliki relevansi dengan teori bisnis. Dalam skema bisnis, seharusnya kita dituntut memiliki rasa kasih dan sayang yang tak berbatas.termasuk kepada seluruh pegawai kita. Namun jangan lupa bahwa dalam konteks rahman dan rahim yang tak berbatas, kita juga dituntut memiliki suatu konsep dalam apa yang disebut dengan istilah reward and funisment dengan cara yang sangat ketat.

Misalnya, sebetapapun, kebijaksanaan yang mungkin diberikan pemilik perusahaan kepada seluruh karyawannya, ia tetap harus menyisakan suatu pola, sistem dan aturan yang memungkinkan memberi reward sekaligus funish terhadap mereka yang bekerja dengan baik dan benar. Atau tentu saja memberi sanksi kepada mereka yang bertindak tidak benar.

Pengusaha yang memiliki karakter dan watak yang rahman dan rahiem disertai dengan aturan yang ketat itulah, yang bukan saja memiliki perusahannya, tetapi, juga menguasai seluruh bidang yang terdapat dalam dunia usaha yang dia gelutiitu. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.