Kumpulan Puisi Agama Kemanusiaan | Kumpulan Puisi Prof. Dr. H. Cecep Sumarna Part – 9

Kumpulan Puisi Agama Kemanusiaan
0 12.301

lyceum.id kembali menerbitkan kumpulan puisi yang disusun Prof. Dr. Cecep Sumarna. Jika beberapa edisi lalu, puisi tentang spiritualisme, maka, puisi yang kami upload saat ini, lebih mengedepankan aspek-aspek kemanusiaan, yang team lyceum sebut dengan istilah kumpulan puisi agama kemanusiaan  yang berjudul Kepasrahan, Segalanya Berubah, Kedirianku, Jika Bukan Karena Engkau, Irama Kaki dan Jalan-ku. Menurut kami, puisi-puisi ini penuh warna dan dapat mendorong para pembaca untuk kembali dihidupkan jiwa kemanusiaannya. Selamat membaca

Kepasrahan

Berdiri dalam remang penuh cahaya
Tak lagi mampu mendorongku untuk kembali hidup manja
Menatap kelam dan pekatnya alur cerita
Tak lagi mampu membuat aku hidup penuh bijaksana

Aku hanya dapat berharap bahwa pesan Tuhan
akan hadir dalam juntaian air penuh warna
Aku hanya yakin bahwa Tuhan dapat memberikan sesuatu yang kuperlukan,
meski Ia tidak dapat memberi sesuatu yang kuinginkan

Jika perjalanan yang berliku ini disusun atas alur skenarioku
Aku pasti akan mempersingkat alur ceritanya
Di balik semuanya, aku selalu meyakinkan diri
bahwa aku hanya berjalan di atas taqdir butaku

Tak mungkin aku menjadi pemberontak
sama seperti tidak mungkin aku tunduk dalam kelemahan
karena aku yakin …. Tuhan telah membuat jalan terhebat
yang kedudukannya tinggi meski diuji segalanya atas namaku.

Itulah absolutisme Tuhan yang tidak mungkin kulawan
yang membuat diriku dituntut untuk selalu bertahan
meski dengan derai air mata dan keringat yang bercucuran
bak air jamban yang bening di kampung halaman

Jalan-ku

Jalan menujumu
Sulit terbuka lebar
Akhirnya kucari selembar kertas
Tuk kutulis sebuah kata yang  kau nantikan

Selembar kertas-pun
Ternyata tetap sulit kutemukan
Akhirnya,hanya lorong kecil ditubuhku
Kusimpan segala hal penuh misteri

Biarlah semuanya hanya menjadi milikku
Tak boleh siapapun mengetahuinya
Apalagi memilikinya

Irama Kaki

Kupandang jalan ini seperti terjal dan berliku
Tetapi ternyata tidak ….
Jalan ini terbentang lebar dan lurus
Rerumputan dan pohon besar berjejer melindungi

Andai kutahu sebelumnya ….
Mungkin dari dulu aku akan menjalaninya
Andaikan kutahu sejak aku menjadi “manusia”
Maka mungkin tak kubiarkan jalan ini kosong tanpa langkah kakiku

Kini irama kakiku mulai terasa indah
Semilir angin mengabarkan segalanya
Bahwa telah datang dia yang dinanti
Yang bertugas mengisi celah-celah kosong penuh irama

Jika Bukan Karena Engkau

Jika bukan karena Engkau
Aku tidak mungkin menikmati perjalanan
Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin aku dapat hidup dengan sejumlah kenikmatan

Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin kakiku dapat kugerakkan
Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin aku asyik dalam setiap perubahan

Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin aku hidup dalam penuh kesabaran
Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin aku menjajaki semua kesempatan

Jika bukan karena Engkau
Tidak mungkin aku mampu membaca peluan

Kedirianku

Duniaku ternyata bukan duniamu.
Sama seperti duniamu, ternyata bukan duniaku
Tetapi ada satu yang pasti bahwa ternyata
Syurgamu adalah syurgaku juga

Aku adalah aku
Aku yang akan merengkuh dunia dalam bahuku
Aku tidak mungkin melawan taqdirku
Karena kini aku mulai menjalani jalan pilihanku

Aku bukan hanya sedang berlatih mendaki gunung yang terjal
Bukan hanya sedang bermain sky dalam arus gelombang yang diam
Bukan hanya sedang menanti giliran takdir Tuhan dalam heningnya malam
Tetapi, aku sedang berlatih berlayar di lautan penuh gelombang

Di luar itu, aku juga yakin bahwa mimpiku untuk menjadi pengubah dunia
Akan mudah terwujud karena di kiri kananku, selalu ada
Dua Malaikat yang selalu berkata Amin ….
Dalam setiap doa yang kulantunkan pada setiap detak nafas

Segalanya Berubah

Semakin lama hidup di alam yang provan ini
semakin sering orang-orang yang mencintai
dan dicintai pergi meninggalkan diri
secara perlahan dan berurutan hingga aku menjadi sepi

Kubaca seluruh fenomena alam,
Dan terus menerus memikirkan berbagai alasan
Kenapa aku harus hidup
Dan bertahan

Patut disayangkan bahwa gejala alam
selalu berubah secara dinamis
Dan hampir tidak mungkin dapat dipikirkan
Ia persis seperti pikiran manusia yang tidak pernah jelas

Kenapa mesti berpikir
Ketika pikiran tidak mampu memberi bantuan
dari mana asalnya pikiran
dan kenapa pikiran datang dengan sembarangan

Adakah benar apa yang dikatakan Sigmund Freud dengan Psikoanalisisnya,
Bahwa semua terjadi karena mekanika kimiawi otak manusia
Aku …. tampaknya harus meragukan semua ….
ya harus meragukan itu semua.

Sebab otak tidak identik dengan pikiran
dan bahkan pikiran bukan merupakan otak.

Di upload Ali Alamsyah

Komentar
Memuat...