Inspirasi Tanpa Batas

Mencari Kyai Desa yang Hilang

0 17

Konten Sponsor

Mencari Kyai Desa yang Hilang. Setiap sore menjelang maghrib, beberapa kyai lokal di desa itu, satu persatu berdatangan ke Masjid sejarah kemanusiaan dan paling heroik dalam melahirkan para intelektual keagamaan. Masjid yang terletak di antara apitan dua bukit sebuah kampung yang oleh para pendahulunya sering disebut sebagai kampung kaya.

Kampung ini, mirip seperti Makkah yang menjadi tempat berdirinya Ka’bah. Dalam konteks lain mungkin mirip seperti Benteng Zion di Palestina yang menjadi pemukiman masyarakat Ibrani. Posisinya sangat pojok. Orang yang baru datang ke tempat dimaksud, akan menganggap daerah tersebut bukan sebagai tempat strategis untuk melanjutkan kehidupan manusia. Tetapi, karena di situ lahir para Nabi dan para Rasul, di situ diturunkan berbagai kesucian, maka, tempat itu menjadi buruan banyak bangsa.

Jika harus disebutkan perbedaan, tentu terletak pada, jika Makkah dan Benteng Zion didirikan para Nabi dan Rasul, maka, kampung kaya itu, hanya didirikan oleh para pelaku keagamaan dan pengikut tradisi keagamaan Islam yang kolot. Hanya saja, kampung inilah, justru yang menjadi peletak lahirnya berbagai intelektual keagamaan pada tingkat kecamatan dan Kabupaten, di Jawa Barat Selatan.

Umum diketahui bahwa di kampung itu, pada setiap RT memiliki santri sendiri-sendiri dengan kyainya yang juga sendiri-sendiri. Hanya saja, para kyai-kyai itu, masih merupakan keturunan besar dari lingkungan Masjid yang diapit dua bukit tadi.

Tradisi pengajian di Pesantren

Para santri dan kyai-kyai itu, umumnya melakukan pengajian di Masjidnya masing-masing, dengan rata-rata santri antara 100 sampai dengan 150 orang. Kyai yang datang secara pelan-pelan itu, secara umum memakai peci hitam dengan pakaian Kampret. Terlihat dua Kyai memakai Jas yang agak lusuh dengan serban berwarna putih dan hijau melingkar di leher mereka. Rokok Keretek merek Gudang Garam Merah pada menempel di mulut mereka. Sandal yang terbuat dari kayu yang kemudian disebut dengan Bakiak atau Kelom dipakai dengan penuh antusias. Hanya sedikit di antara para kyai Desa itu, yang memakai Sandal merek Lily. Tidak kurang dari lima kyai yang biasa mengasah keagamaan masyarakat.

Sambil menunggu waktu maghrib, para kyai berkumpul dengan cara bergerombol dan masing-masing melingkar. Mereka persis seperti guyuban. Sayup-sayup terdengar satu sama lain mengisahkan perjalanannya sambil duduk atau berdiri seperti sedang standing party. Kadang suara tawa kecil terdengar meski tidak dalam pengertian tertawa terbahak-bahak. Cukup asyik menyaksikan mereka. Mereka persis seperti para mullah yang mewakili kelompok suci dengan segenap ketulusan yang tak ada tandingnya. Mereka tidak sedikitpun menunjukkan karakter bringas.

Sementara itu, santri dan santriwati yang terbiasa belajar sorogan al Qur’an dan menghafal beberapa surat pendek dengan kajian kitab kuning seperti Safinatunnajah, Tijan Dharuri, Jurmiah, Imrity, Sulam Munajat, Sulam Mutawfiq dan Tafsir Jalalain, Kitab Dhuratun Nasihin dan Uqud dzulijain, berjalan beriringan seperti para musafir yang kehausan. Mereka berduyun-duyun datang ke sebuah jamban untuk mengambil air untuk berwudlu. Mengantri satu sama lain dengan begitu cepat. Tidak ada antrian panjang, karena di tempat wudlu itu, tidak ada tempat untuk buang air kecil atau buang air besar.

Mereka, seperti biasanya, setiap sore bergantian mengambil air, kemudian berwudlu dengan cara yang sangat sama. Melakukan wudlu dengan cara membasuh muka, lalu tangan dan menempelkan sedikit jari mereka ke rambut dan ke telinganya, lalu membasuh alas kaki. Setelah itu menengadahkan tangan untuk berdoa kesucian.

Suasana Desa yang Selalu Menunjukkan Kebeningan

 Air tidak mengalir di pancuran. Mereka berwudlu di sebuah bak besar lebih dari 4 kullah. Suatu ukuran yang mengabsahkan kesucian air seperti mereka yakini dari kitab fiqih yang diajarkan di Pesantren.  Ke bak itu, air mengucur hanya sedikit. Tetapi pancuran kecil itu, dialirkan dari pegunungan yang masih sangat hijau. Air itu begitu dingin dan menunjukkan kebeningan yang tiada tara. Karena itu, meskipun air yang ke luar dari pancuran itu, tidak tampak terlalu besar, berapapun jumlah yang berwudlu di tempat itu, pasti masih tetap kebagian. Tetapi, air itu tetap mengalir tidak berhenti dan tidak pernah kekurangan. Cucuran air yang sangat bersih yang dialirkan dari pegunungan dengan timbunan pohon besar yang berdaun lebat, mengharuskan untuk disebut bahwa air itu suci dan mensucikan.

Meski para santri itu, berpakaian ala kadarnya, maklum mereka di kampung yang hanya mampu membeli pakaian di pasar-pasar tradisional, tetapi, tampak kerapihan terlihat didalamnya. Santri laki-laki, umum memakai sarung meski pakaian atasnya beragam. Ada yang memakai Kampret dan tidak sedikit hanya memakai kaos. Santri perempuan sama. Mereka umumnya memakai sarung yang dalam bahasa Sunda sering disebut dengan “samping”. Mereka berkerudung dengan warna hampir seragam. Kalau tidak putih, mereka menggunakan kerudung berwarna Hitam. Para santriwati yang tidak pernah memakai mik up justru tampak sangat alami dan menyembulkan cahaya ketulusan.

Di Waktu Shalat Semua Bersujud

Ketika waktu Maghrib benar-benar tiba dengan lantunan adzan di Speaker. Mereka [kyai dan santri], seperti berlari masuk masjid. Semua diam.

Saat itu, semua kyai, santri dan masyarakat setempat, termasuk para pemuda yang suka main Volly Ball berhenti semua, untuk kemudian masuk ke dalam Masjid. Mereka berlari mengambil air wudlu lalu serempak berjejer di Masjid. Tidak kurang dari 17 baris jama’ah di Masjid itu, berjejer dengan jejeran rapih yang hampir sulit bergerak. Semua yang ada di masjid sudah siap untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Setelah selesai mendengarkan adzan itu, tanpa dikomando, semua melaksanakan shalat Sunnah. Kelihatannya ada yang melaksanakan Qabla Maghrib, ada pula yang melaksanakan sunnah tahiyat al Masjid.

Setelah selesai melaksanakan shalat sunnah, Kyai paling sepuh  maju ke mimbar. Ia adalah kyai tertua dan menjadi paman bagi seluruh kyai lain yang ada di sekitar Masjid. Ia berdiri sejenak dan meminta kepada semua jama’ah untuk merapatkan barisan, meminta yang lebih tua berada di barisan terdepan dan anak-anak berada di barisan paling belakang. Lalu dengan khusu’, ia mengatakan Allahu Akbar, tanda bahwa shalat segera dimulai. Setelah membaca al Fatihah, kyai ini seperti biasa membaca surat As-Syamsu dan surat Al Kafirun. Dengan syahdunya, semua jama’ah mengiringi bacaan sang legendaris Imam Masjid, dengan keserempakan membaca kata Amiin, setiap selesai membaca surat al Fatihah.

Selesai melaksanakan shalat Maghrib, jama’ah tidak bubar. Mereka berdzikir dengan menyebut asma-asma Tuhan yang mulia dan panggilan terbaik untuk-Nya. Mereka berdo’a bersama dengan khusu’ dengan menyebut rangkaian kata amin, setiap kali Kyai membaca beberapa kalimat Arab yang artinya, tampaknya hanya sedikit di antara jama’ah itu yang mengetahui maknanya. Selesai berdo’a kemudian mereka melaksanakan shalat sunnah Ba’diyah Maghrib. Shalat sunnah ini, meskipun tidak dipimpin imam, tetapi, mereka memperlihatkan keadaan seperti jama’ah. Mereka serempak melaksanakan shalat sunnah yang dimuakadkan oleh Rasul Muhammad.

Kyai Kampung itu Kini Hilang

Hari ini, jejeran santri dan kyai itu hilang. Hanya beberapa orang saja yang datang ke Masjid bersejarah itu. Imam Masjidpun kadang bingung. Mengapa? Karena ternyata mereka bukanlah kyai. Ke mana kyai yang sebenarnya? Di mana mereka sekarang? Begitulah pertanyaan dasar yang sesungguhnya sangat sederhana.

Selidik punya selidik, ternyata para itu kyai kini beralih posisi dan profesi. Ada yang menjadi politisi ada pula yang menjadi brocker politik. Ada yang menjadi pengusaha, ada pula yang hanya membawa proposal ke setiap gang sempit pemda. Tidak sedikit pula kyai yang menjadi pengusaha di kota atau bahkan hanya menjadi guru ngaji di sebuah Masjid Kota. Tetapi, tidak sedikit juga kyai yang ternyata berakhir gelar kekyai-annya karena tidak ada santri. Akibatnya, pesantren yang pernah dipimpinnya bubar atau bahkan runtuh bangunannya.

Dalam jerit hati seorang santri yang tidak pernah mau disebut santri berkata: Ya Tuhan …. reformasi ternyata gagal menempatkan kyai sebagai kyai. Kyai kami kini pergi entah ke mana. Para santripun akhirnya lelah mencari kyai-kyai itu. Kini Masjid menjadi sepi dan kyai kini telah menjadi kenangan.  Tuhan, ampunilah kami. Dicuplik dari buku Agama tanpa Tuhan karya Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar