Mencari Makna Kehadiran Al-Quran Bagi Manusia

0 299

Mencari Makna Kehadiran Al-Quran: Ditinjau dari kritik kesejarahan, umat Islam dapat dipandang sebagai kelompok masyarakat yang paling beruntung paling tidak jika dibandingkan dengan penganut agama samawi lainnya. Salah satu keuntungan itu adalah karena umat Islam memiliki Kitab Suci otentik yang kemudian diberi nama “al-Quran”. Otentisius kebenaran al-Quran tidak dapat diragukan lagi bukan saja karena landasan teologis, tetapi bukti empirik ilmiahpun mampu menunjukkan keoentikannya. Kenapa demikian? Sebab al-Quran ditransmisikan dari lisan Muhammad sampai dalam bentuk mushaf (tulisan) dengan kekuatan mata rantai yang sangat tinggi (mutawattir) dan akurat. Kondisi ini dianggap masyarakat Muslim sebagai pembeda yang sangat jelas antara al-Quran dengan Kitab Suci lainnya. Ditambah lagi secara teologis Allah selalu menjamin keutuhan dan keaslian al-Quran. Hal ini sejalan juga dengan firman Allah: “Sesungguhnya Kami (bersama Jibril yang diperintahnya) menurunkan al-Quran dan Kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) Yang menjaganya.”

Nama-nama Lain Dari Al-Quran

Dari sisi namanya, Allah memberikan nama lain kepada wahyu yang diturunkannya melalui Jibril kepada Nabi Muhammad itu dengan sebutan al Kitab, al Furqon dan al dzikr Ayat yang menyebutkan bahwa nama lain selain al-Quran dengan sebutan al-kitab, misalnya terlihat dari ayat berikut ini:”Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya: petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.

Ayat ini ditafsirkan oleh TM Hasby AshShiddiqy sebagai petunjuk bagi seluruh alam. Termasuk di antara yang mendapat khitab atas turunnya al-Quran menurutnya adalah Jin. Lebih lanjut TM. Hasbi AshShiddieqy menyebutkan bahwa, ketika al-Quran ini sudah turun, maka tidak ada lagi “fatroh” (kekosongan hukum sehingga lepas dosa) untuk jin dan manusia. Keduanya wajib tunduk kepada segala peraturan yang ditetapkan al-Quran.

Sedangkan ayat yang menerangkan kata al furqan (pembeda antara yang haq dan bathil) untuk nama lain al-Quran, Allah terangkan dalam firmanNya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan aI furqan (al-Quran) kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.

Sementara itu, ayat yang menerangkan kata al dzikr (pengingat), Allah menerangkan dalam firmanNya: “Sesungguhnya Kami (bersama Jibril yang diperintahNya) menurunkan al-Quran dan Kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang menjaganya”.

Nama-nama yang diberikan Allah untuk al-Quran itu, tentu mengandung makna substantif dan nilainya cukup strategis untuk umatnya. Misalnya, ketika Tuhan menyebut wahyu ini dengan sebutan al-Quran (bacaan), betapa semangat psikologis yang ditampilkan ajaran ini sebagai pro pengetahuan akan terkesan dengan jelas. Didukung lagi, ayat yang pertama kali turun, mengidentifikasi akan pentingnya pengetahuan melalui upaya pembacaan baik terhadap teks suci keagamaan, maupun terhadap ayat- ayat kawniyah.

Begitu juga ketika Tuhan menyebut “ajaran Muhammad” dengan sebutan al-furqan. Umatnya diajak untuk berdialog tentang pentingnya memberikan batas demarkasi yang tegas antara yang hak dan yang bathil. Islam melalui al-Quran mendorong betapa pentingnya menegakkan keadilan, kedamaian dan ketundukkan yangutuh kepada sang penciptanya sebagai lawan dari kedzhaliman dan ketidakteraturan. Islam menginginkan agar manusia yang menjadi khalifah Allah itu, menempatkan kebaikan sebagai sesuatu yang baik dan menempatkan yang kebathilan sebagai suatu yang bathil. Hal ini diperagakan oleh Nabi Muhammad sebagaimana yang dijelaskan sahabatnya bahwa ia sangat tegas untuk mencegah kemunkaran namun penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang shaleh, beriman dan beramal.

Untuk itu tidak salah kalau kemudian berbagai intelektual telah menempatkan al-Quran sebagai sesuatu yang penting untuk membangun peradaban manusia. Bahkan secara ekstrem, ada juga komunitas masyarakat Muslim yang menempatkan al-Quran sebagai jenisnya berbagai hal, baik pada wilayah praktis maupun psikologis sebab ia memiliki ketinggian nilai disertai ragam daya dukung kekuatan nilai otentisitas didalamnya.

Nilai Yang Terkandung Dalam Al-Quran

Makna Kehadiran Al-Quran
Makna Kehadiran Al-Quran

Tingginya nilai otentisitas yang dikandung al-Quran, tampaknya telah menjadi salah satu pendorong para pemikir baik Muslim maupun non Muslim (yang tergolong dalam Islamolog dan kaum orientalis) untuk terus mencoba mendalaminya. Al-Quran seolah-olah telah menjadi sumber mata air yang jernih yang tidak pernah kering serta kebosanan untuk terus mengalirkan airnya. Sebab dari dulu -sejak diturunkannya, ia tetap indah untuk dibaca, menggetarkan hati yang beriman jika mendengar ayatnya. Bagaikan sang guru, al-Quran selalu setia menjenguk dan selalu mengembara mengunjungi para muridnya. Bahkan ia juga rela melawan para pembangkang dan pengkritiknya yang tersebar di seluruh pelosok bumi sejak 14 abad yang lalu.

Dengan kekuatan yang ada pada dirinya, al-Quran melayani setiap pertanyaan dan sanggahan dari pembacanya yang berasal dari berbagai latar belakang kultur dan keilmuan. Quraish Shihab [1992: 1971], dalam sebuah epilog berkata: “Al-Quran adalah jamuan Tuhan”. Rugilah orang yang tidak menghadiri jamuannya, dan lebih rugi lagi yang hadir tetapi tidak menyantapnya”.

Dalam konteks lain, Al-Quran sendiri menyatakan bahwa Ia telah melengkapkan diri-Nya dan tidak ada sesuatu apapun yang tertinggal didalamNya (maa farathna min al kitabi min syai). Ia merupakan jalan hidup umat manusia yang beriman. Dalam salah satu ayat Tuhan berfirman: “…pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kamu..”.

Oleh karena itu, Kitab suci Tuhan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril ini dapat disebut sebagai penerang jalan karena Ia menjadi petunjuk (hudan). Sikap terang al-Quran sebagai hudan dikhitabkan kepada seluruh umat manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Itulah al-Quran (al Kitab) yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk (hudan) bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Berdasarkan ayat di atas, al-Quran memposisikan diri, bahkan mesti ditempatkan sebagai sentral dari segala sesuatu dalam kehidupan manusia. Al-Quran merupakan inspirator bagi terbentuknya suatu gerakan dan seluruh aktivitas yang mengimaninya. Namun demikian, sebagai kitab suci yang paten dan penuh muatan moral spritual, keabsahannya dilegitimasi Tuhan dengan fakta empirik ilmiah. Al-Quran juga mengisyaratkan arogansinya sebagai puncak kebenaran absolut dengan isyarat ayat berikut: “Aku akan palingkan (tidak memberikan) ayat- ayatKu kepada mereka yang bersikap angkuh ….”

Oleh karena itu, mendekati al-Quran adalah mendekati kesucian dan ketundukkan. Tanpa kesucian dan ketundukkan, tidak mungkin rasanya al-Quran memancarkan nilainya. Dalam istilah lain, Imam Ali, Khalifah keempat dalam nahjul balaghah menyatakan biarkan al-Quran berbicara sendiri menurut keinginannya.

Muhammad sendiri, sebagaimana Aisyah berkisah ketika ia ditanya oleh sahabat- sahabat Nabi tentang bagaimana prilakunya, ia meniawab, perilakunya adalah manifestasi al-Quran. Memanifestasikan al-Quran dengan demikian, dapat difahami sebagai menghidupkan al-Quran ke dalam seluruh aktifitas yang akan dan telah dilakukan oleh manusia yang beriman kepadanya.

Memanifestasikan al-Quran adalah jaminan terbentuknya pribadi yang utuh dan sempurna. Lakon yang dibawa Muhammad sendiri, yang ditempatkan Michael Hart sebagai manusia paling berpengaruh di dunia mengalahkan seratus tokoh lain yang ia teliti, adalah bukti keberhasilannya. Dengan demikian, memanifestasikan al-Quran adalah jaminan bahwa tidak hanya ia akan terbentuk menjadi seseorang yang berwatak, tetapi ia pasti sukses menjalani kehidupan serta kesuksesan misi yang dibawanya.

Makna Kehadiran Al-Quran

Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna”, menurut M. Quraish Shihab [1996:3] adalah suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat. Alasan kenapa disebut tepat, karena tidak ada satu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis baca Iima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi al-Quran al kariem, bacaan yang sempurna lagi mulia. Tidak ada bacaan yang jumlah kosa katanya melebihi jumlah kosakata yang dimiliki al-Quran. Di dalam al-Quran paling tidak terdapat 77.439 kosakata dengan jumlah huruf 323.015. dalam pembagian kalimatnyapun al-Quran membaginya secara seimbang baik pada jumlah katanya antara kata dengan padanannya maupun antara kata dengan lawan kata yang sepadan dengannya.

Kelengkapan substansi atau isi yang dikandung al-Quran memang tidak mungkin ada yang dapat menandinginya. Allah sendiri dalam salah satu ayatnya, menurut TM. Hasbi AshShiddieqy telah menantang orang- orang yang tidak mau beriman terhadap al-Quran dan meragukan kebenarannya untuk membuktikan satu ayat saja dan memintanya untuk dibandingkan dengan al-Quran. Meskipun mereka mengerahkan ahli sastra yang mereka miliki, Allah menjamin bahwa mereka tidak mungkin sanggup menandingi al-Quran.

Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Quran itu dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu termasuk orang- orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

Masyarakat Muslim dari berbagai generasinya terus melakukan pengkajian secara seksama. Sehingga tidak salah jika pasca wafatnya Muhammad, tradisi sentralisasi al-Quran terus dikembangkan oleh para generasi sesudahnya dengan model dan gaya yang khas sesuai dengan masing-masing zamannya untuk menjawab tantangan yang dihadapinya.

Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya harus juga diakui, khususnya pasca wafatnya Muhammad, masyarakat Muslim sering mengalami kesulitan untuk memberikan sekedar arti, apalagi menafsirkan al-Quran. Otoritas mutlak bagi penafsir al-Quran hilang bersama wafatnya Muhammad, sehingga tidak salah jika kemudian muncul keragaman pandangan dan penafsiran terhadap ayat per ayat dalam al-Quran. Kalau Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Nabi dan Rasul dapat leluasa berkomunikasi dengan Tuhan melalui ayat- ayat yang diturunkan Jibril kepadanya, maka lain halnya ketika beliau sudah wafat. Tidak seorangpun yang dapat menggantikan kedudukannya sebagai Nabi dan Rasul.Sehingga jika ada masalah yang muncul, penyelesaiannya tidak dapat langsung dipecahkan sebagaimana Nabi melaksanakannya.

Muhammad Nabiyullah dan Rasulullah adalah seorang makhluk Tuhan yang keseluruhan karakter dan prilaku aktualnya jauh lebih tinggi daripada manusia pada umumnya. Ia adalah seorang yang abinitio (dari awalnya), yakni manusia yang “tidak sabar” terhadap manusia dan bahkan terhadap sebagian besar ideal-ideal mereka dan ingin kembali membuat sejarah. Dan karena itu pula, secara teologis tidak salah jika masyarakat Muslim, menurut Fazlur Rahman [994;31-35] harus menyatakan bahwa Rasul Muhammad adalah sosok yang kebal dari kesalahan- kesalahan serius (ismah / ma’shun). lni akan sangat berbeda dengan generasi sepeninggalnya. Termasuk para sahabat yang senantiasa mengikuti dan penuh ketaatan kepadanya. Sebagian besar para ahli haditspun menolak anggapan sahabat sebagai ma’sum, pun pada persoalan- persoalan yang kecil dan tidak terlalu serius.

Perbedaan Pandangan Terhadap Al-Quran

Dengan demikian, kalau dicermati secara kritis terhadap tafsir-tafsir al-Quran yang berkembang di dunia Muslim saat ini, sebagai kepanjangan teoritisasi sejarah sejak zaman Nabi sampai sekarang, wajar jika melahirkan perbedaan dan bahkan mungkin pertentangan dalam memahami al-Quran. Tidak jarang kita menemukan berbagai perbedaan bahkan pertentangan antara keterangan satu tafsir terhadap tafsir yang lainnya meskipun dalam ayat yang sama. Perbedaan dimaksud dilatarbelakangi oleh perbedaan daya kritisisme, kecakapan intelektual dan daya dukung lain dalam memahami al-Quran. Akan semakin pelik lagi kita dibuatnya ketika dihadapkan pada pilihan tentang manakah yang paling benar dalam keragaman tafsir itu. Semua ulama tidak mungkin ada yang sanggup untuk menyatakan bahwa tafsirnya adalah yang paling benar. Sebab tadi, tidak ada satu makhluqpun, pasca wafatnya Muhammad yang sanggup berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Kondisi yang demikian itu, di satu sisi telah memberikan keuntungan terhadap umat Islam, sebab dengan kondisi ini, masyarakat Muslim dalam keragaman waktu dan tempat dapat memberikan interpretasi untuk membumikan al-Quran sesuai dengan tuntutan zaman dan tempatnya. Tapi di sisi lain, kondisi demikian dapat juga merugikan, sebab masyarakat Muslim selain akan merasa lebih memilih tafsir yang sudah mapan, juga terdapat dugaan kuat dari keragaman pandangan itu dapat melahirkan pandangan- pandangan yang parsial dan sempit dalam memahami al-Quran. Faktornya bisa karena syu’ubiyah maupun karena keterbelengguan terhadap pemikiran para ahli tafsir sebelumnya. [Komarudin Hidayat, 1991:11]. Lebih mengkhawatirkan lagi kondisi yang demikian itu, jika kita melihat masih banyaknya masyarakat yang yakin bahwa hasil penafsiran terhadap al-Quran yang dilakukan oleh para ulama terdahulu itu, sebagai berkedudukan sama dengan al-Quran itu sendiri.

Dalam konteks itu, wajar juga jika kemudian muncul berbagai aliran baik dalam bidang kajian keislaman. Termasuk di antara yang mungkin dapat melahirkan perbedaan itu adalah model tafsir terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan pelaksanaan atau impelementasi kependidikan lslam. Ada sekelompok masyarakat yang yakin bahwa pola tafsir yang paling baik adalah tafsir ayat dengan ayat lain dalam al-Quran atau tafsir ayat dengan hadits Nabi, serendah- rendahnya adalah mencari legitimasi dari prilaku sahabat dan tabi’in (tafsir bil ma’tsur). Namun ada juga pola penafsiran yang lebih cenderung kontekstual dalam memahami ayat dan “cenderung abai” menggunakan pola yang pertama. Pola tafsir yang demikian itu, pada perkembangan selanjutnya lebih dikenal dengan istilah tafsir bi al ra’yi. [Fauzan al Anshari,2003]

Baik tafsir bi al ma’tsur maupun tafsir bi al ra’yi,dalam perkembangan selanjutnya seperti telah mengisi dua pembelahan wacana masyarakat. Harun Nasution, misalnya melihat bahwa seolah telah menjadi taqdir Tuhan sendiri di mana masyarakat di belah pada kutub yang sangat berbeda. Ada kutub Makkiyyah dan juga ada kutub Madaniyyah. Dua corak ini menampilkan konfigurasi yang berbeda. AI-Quran sendiri merespons perbedaan itu dengan manampilkan wacana yang berbeda pula. Perbedaan itu terletak baik dalam konteks substansi maupun tekniknya. Teks-teks suci Makkiyyah cenderung menghentak meski pendek- pendek, padat dan tegas. Persoalannyapun lebih banyak membincangkan persoalan substantif seperti keimanan, ketauhidan dan kemusyrikan/ kedhaliman dengan keharusan menampilkan sisi keadilan. Sedangkan ayat-ayat Madaniyyah lebih cenderung sosial kemasyarakatan, lembut dan rinci karena kandungan isinya lebih bertitik tolak pada dimensi syari’ah islamiyah, termasuk menyangkut soal-soal kependidikan.

Perbedaan isi kandungan antara ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, secara simplistik dapat difahami sebagai suatu kenyataan sejarah bahwa al-Quran sangat akomodatif dengan tuntutan dan perubahan dinamika masyarakat. Mengabaikan respon terhadap tuntutan masyarakat pasti akan melahirkan ambiguitas baru di mana al-Quran akan out of date.Ini pasti sangat tidak berselera dengan prinsip- prinsip Quraniyah yang mengharuskan adanya dinamisasi itu.***Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.